Jangan Gampang Tergiur - TULARIN --> >

28 Juli 2020

Jangan Gampang Tergiur

Jangan Gampang Tergiur

Saham paling bagus. Reksadana layak dipilih. Obligasi dong. Beli rumah. Emas. Tanah, dll. Bagus semua, ya, kalau masing-masing pakar yang bicara.
Investasi apa yang paling bagus? Sebelum ingin investasi, pastikan dulu mengenal benar-benar dirimu. Selain memastikan uangnya ada. Semua 'pakar' investasi akan bicara sesuai 'kepakarannya'

Jauh sebelum memutuskan investasi, pahami dulu risiko. Jangan merasa bahwa untungnya besar, kita masukkan duit. Apalagi bekalnya cuma percaya 'tembung jare' (katanya ini, katanya itu).

Pahami diri dulu. Ini penting. Berapa pendapatan, berapa pengeluaran, berapa yg bisa ditabung. Perkiraan kebutuhan jangka pendek, menengah, panjang. Disusun dengan rapi sesuai kebutuhan (dalam angka dan waktu).

Menabung menurut saya lebih penting. Simpan di bank risikonya sangat rendah (pilih bank yang benar tentunya) walau memang nyaris tidak ada pendapatan dari bunga. Rendah banget. Kecuali menyimpan uangnya ratusan miliar atau triliun.

Oiya, menabung tuh di depan ya. Bukan sisa belanja bulanan. Menabung dulu 10-20%, baru hidup dengan 80%. Ada yang ekstrem menabung 30-40% bahkan 50% pendapatan.

Kalau tabungan sudah mencapai 6-12x pengeluaran bulanan, baru berpikir investasi. Coba dikit-dikit dulu. Investasi atau bikin usaha, pastinya menjiwai dan mengerti benar barang itu. Jgn ikut2an atau tergiur omongan orang. Jangan pula berdasar rasa kasihan. 

Saya ulangi, pahami dan jiwai 'barang' yg anda ingin investasi atau 'usaha' yg akan anda jalani. Dalam perjalanan hidup, kadang ada 'durian runtuh' kita terima. Dapat warisan, dapat pasangan hidup yang pendapatannya bagus, dll. 

Jangan terbuai juga dengan hal-hal ini. Jangan bagai 'kere munggah bale'. Dapat warisan, apa saja dibeli. Semua tawaran investasi yang nggak masuk akal ikutan, dll.

Kecuali anda dapat warisan sebagai anak konglomerat atau menikah dengan "crazy rich", tabungan untuk kebutuhan sesuai waktu penuhi dulu. 

Waspadai gold digger di sekitar Anda. Belajar untuk berkata tidak pada orang yang tiba-tiba mendekat untuk berutang dan menawarkan investasi yg kita tdk mengerti itu apaan.

Kalau marah jika uang berkurang karena ada risiko, menabung saja. Jangan ambil investasi saham apalagi trading harian, beli reksadana dgn harapan seperti deposito. Di-redeem saat kebutuhan anak sekolah, eh, harganya lagi jelek. Rugi akhirnya. 

Boleh investasi saham, asal tahu risikonya. Beli emas juga sama. Tidak selalu untung. Apalagi belinya nyicil karena ada komponen bunga yang kita tanggung. Kecuali kita tahu benar kegunaan sesuai kebutuhan, tentu saja emas bisa jadi pilihan. 

Emas sangat likuid. Cepat bisa jadi tunai. Beli rumah juga sama. Untung dalam jangka menengah-panjang terbuka. Problem biaya bunganya cukup lumayan bikin sesak nafas walau bisa tertutup gain dari harga properti. Namun saat jangka pendek butuh uang atau susah mengangsur, kadang menjualnya dengan harga terbaik butuh waktu.

Buka usaha juga sama. Kenalilah usahamu baik-baik. Kenali potensi dan risikonya. Jangan cuma modal percaya dengan mitra bisnis. Saat melihat banyak uang, orang bisa berubah.

Tidak semua orang harus buka usaha. Jika sudah berkarier bagus, punya pendapatan bagus, fokus berkarir juga tidak ada salahnya. Jangan mudah terpikat keluar dari kuadran tanpa perhitungan matang. Orang gampang ngomong ayo resign trus bikin usaha, mikir out of the box dong, pindah kuadran yuk, kita harus punya usaha agar mencapai financial freedom.

Ngebacot mah gampang. Sekali lagi. Kenali dirimu dgn sungguh-sungguh. Investasi di apa yang Anda benar-benar ngerti potensi dan risiko. Yang akan Anda investasikan untuk hasil jerih payah bertabur keringat, air mata dan darah. Jangan sampai hilang begitu saja.

Apalagi kalau sudah punya anak. Setiap investasi yang Anda lakukan dengan tidak hati-hati, apalagi karena terpikat mulut manis marketing dan gimmick pemasaran nan karikatif, (berisiko) Anda menghilangkan uang untuk masa depan anak-anak Anda.

Risiko Anda pikul. Mereka yang ajak-ajak, di otaknya cuma ada komisi. Demikian juga yang ajak-ajak investasi dan kemudian menipu, ingatlah yang Anda rampas adalah hasil kerja keras orang lain. Masa depan anaknya bisa terganggu. Kelakuan jahat, cepat atau lambat pasti ada balasannya.*** (Penulis: Kokok Dirgantoro | CEO Opal)

Sumber gambar: iedunote.com


Read other related articles

Also read other articles

© Copyright 2019 TULARIN | All Right Reserved