Toko Kue Tolak Menulis "Happy Birthday", Kesalehan Bisnis atau Sensasi? - TULARIN >

13 Desember 2019

Toko Kue Tolak Menulis "Happy Birthday", Kesalehan Bisnis atau Sensasi?

Toko Kue Tolak Menulis "Happy Birthday", Kesalehan Bisnis atau Sensasi?


Beredar di media sosial tentang kabar sebuah toko kue di sekitaran Depok, di mana karyawannya menolak membuat tulisan "Happy Birthday" di atas kue hadiah ulang tahun yang ingin dibeli pelanggan (pembeli). Karyawan menolak lantaran dilarang oleh pihak manajemen. Begitulah pengakuannya.
Saya sengaja tidak menuliskan nama tokonya, karena di samping sudah viral, saya tidak mau terbawa perasaan (baper) gara-gara itu, misalnya marah-marah atau menghujat si pemilik toko dan karyawan. Kalau penasaran, sila cari di medsos (bagi yang punya akun), atau di-gugling saja.
Ketika si pembeli bertanya pilihan tulisan apa yang diperbolehkan, si karyawan menjawab hanya boleh menulis "Selamat Hari Lahir", "Happy Bornday", atau "Barrakallah fii umrik". Ya, ketiga jenis ucapan itulah pilihannya, padahal arti dan maknanya sama.
Karena merasa aneh dengan kebijakan toko, akhirnya si pembeli tidak jadi memesan kue. Ia menilai pemilik atau pihak manajemen sentimen dengan hal-hal berbau suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA). Meluapkan kekesalannya, ia membagikan kisah itu di akun medsos pribadinya.
Jika dicermati, peristiwa di Depok tersebut sebenarnya mirip dengan yang pernah terjadi di toko kue Tous Les Jours beberapa waktu yang lalu, yang mana berujung pada klarifikasi dan permintaan maaf dari pihak manajemen sebab menuai hujatan bahkan ancaman boikot.
Saya di sini tidak berlagak bijak, namun menurut saya karena terlanjur viral, ya sudah, dibiarkan saja. Ambil posisi seperti saya tadi, tidak perlu marah dan menghujat. Lagipula apa untungnya mempersoalkan kebijakan manajemen toko.
Saya dan para pembaca mungkin tidak berlokasi di Depok, tidak suka diberi hadiah ulang tahun dalam bentuk kue, atau jadwal perayaan hari ulang tahun masih cukup jauh.
Amat disayangkan memang, seorang pembeli batal membawa pulang kue ulang tahun yang ia butuhkan cuma masalah tulisan. Pihak toko mestinya paham, keinginan pembeli, selama tidak melanggar aturan yang berlaku umum, wajib dipenuhi.
Saya memutuskan membuat tulisan ini karena kebetulan baru selesai membaca status "retweet with comment" atas link artikel oleh seorang teman di akun Twitter-nya yang isinya "mengutuk" si pemilik toko beserta para karyawannya.
Usai membaca statusnya, saya lantas membalas bahwa seandainya keberatan dengan kebijakan toko, maka langkah terbaik adalah tidak usah mampir ke sana dan berbelanja. Sesederhana itu.
Menyebarkan status-status buruk di medsos tidak hanya "merusak" profil akun pribadi, tetapi juga berpotensi memunculkan konflik sosial. Para pemilik akun lain bisa kemudian menambahkan tanggapan yang semakin liar dan nihil manfaat.
Bagaimana pun, si karyawan tidak salah, dia hanya melaksanakan perintah yang barangkali bertentangan juga dengan logika dan hati nuraninya. Biarlah pemilik toko dan pihak manajemen yang memberi klarifikasi. Mereka yang punya hak untuk itu.
Sembari menunggu klarifikasi (semoga betul disampaikan), hal yang perlu diketahui oleh saya dan pembaca bahwa terdapat dua kemungkinan mengapa pihak manajemen membuat kebijakan demikian. Bisa sebagai wujud kesalehan dalam berbisnis ataupun tengah tertular penyakit "sensasi".
Kemungkinan yang pertama tidak usah dipersoalkan, itu adalah hak pemilik dan pihak manajemen. Mereka yang paling tahu mau membawa ke mana arah bisnis kue ulang tahun olahan mereka.
Dan bila kemungkinan kedua yang jadi motivasinya, maka wajib dipahami, terkadang dalam menjalankan sebuah bisnis sekali-lagi butuh penciptaan "konflik", yang efeknya belum jelas juga, apakah berakhir baik atau buruk.
Akan tetapi keuntungan minimalnya yaitu eksistensi toko kue didapat, semua orang membicarakannya walaupun kisahnya negatif. Yang penting nama toko terangkat dulu ke permukaan supaya orang tahu keberadaannya.
Sebelumnya toko tidak dikenal, akhirnya terkenal. Asal jangan sering-sering dan bablas saja menggunakan trik (tes pasar) seperti itu, efeknya dipastikan buruk. Artinya mesti pintar manajemen konflik.
Lalu saya dan pembaca yang emosi tak karuan dapat apa? Tidak ada! Yang ada malah menambah dosa. Orang lain yang punya kebijakan, kita yang repot luar biasa. Jangan sampai kita menciptakan konflik. Betul, ndak?
Supaya tidak menuai polemik berkepanjangan, alangkah baiknya pihak toko memberi klarifikasi jelas yang dapat diterima oleh masyarakat, terutama para pelanggan.
***
Ilustrasi | klikpositif.com

Read other related articles

Also read other articles

© Copyright 2019 TULARIN | All Right Reserved