Saat Lobster Bikin Menteri Edhy Berwajah Monster - TULARIN --> >

17 Desember 2019

Saat Lobster Bikin Menteri Edhy Berwajah Monster

Saat Lobster Bikin Menteri Edhy Berwajah Monster


Nama Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) Edhy Prabowo belakangan terlihat bak monster. Pemicunya tak lain adalah gagasannya seputar ekspor benih lobster. Tak pelak, perlawanan atas gagasannya pun semakin santer.

Tidak tanggung-tanggung, penentangan atas gagasan Edhy bahkan datang langsung dari mantan menteri KKP sendiri, Susi Pudjiastuti.

Terlebih lagi lantaran Edhy belakangan memang terlihat condong untuk menerapkan kebijakan yang memicu kontroversi tersebut. Bahkan untuk membenarkan rencana itu, ia mengajak melihat persoalan lobster tidak bedanya dengan ekspor bijih nikel.

"Banyak komoditas lain yang dilakukan seperti itu, kayak nikel, kan dilakukan seperti itu," kata Edhy. "Awalnya (nikel) boleh diekspor, tapi pengusaha harus bikin refinery. Ini--soal lobster--juga seperti itu, tapi masih dalam taraf kajian."

Hal ini langsung mendapatkan reaksi keras dari Susi, yang menolak menyamakan antara lobster yang notabene adalah makhluk hidup dengan nikel sebagai benda mati.

"Nikel adalah sumber daya alam yang tidak renewable (bisa diperbarui), yang bisa habis," kata Susi. "Lobster adalah sumber daya alam yang renewable, yang bisa terus ada dan banyak kalau kita jaga!"

Suara penentangan Susi tersebut, tentu saja tidak hanya terhadap sudut pandang Edhy terhadap lobster. Namun sinyal bahwa rencana mengekspor benih lobster semakin kuat, menjadi hal paling disorot oleh Susi.

Penolakan keras dari Susi tersebut tampaknya berangkat dari kegelisahannya jika benih lobster tersebut diekspor besar-besaran. Setidaknya itu terlihat dari video yang beredar pada 10 Desember 2019 lalu, di mana Susi menyampaikan pandangannya seputar lobster.

Di video itu, Susi menegaskan sikapnya bahwa lobster tidak boleh punah. "Lobster yang bernilai ekonomi tinggi tidak boleh punah hanya karena ketamakan kita menjual bibitnya," katanya, tegas.

Alasan Susi pun terlihat cukup penuh perhitungan. Menurutnya jika benih lobster diekspor, maka harganya akan turun jauh. "Seperseratusnya pun tidak (sampai)," kata Susi di video itu.

Ia juga mencontohkan dengan lobster di tangannya yang memiliki ukuran 400-500 gram. Menurutnya, lobster dengan ukuran itu memiliki harga per kilogram mencapai Rp600-800 ribu. Jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan bibitnya yang cuma seharga Rp30 ribu per kilogram.

"Sudah berapa rugi kita (jika dijual bibitnya)?" Susi mempertanyakan rencana itu.

Ia juga menjelaskan tentang lobster jenis mutiara. Menurutnya, untuk lobster jenis ini, bisa memiliki harga sampai Rp4 juta dan bahkan Rp5 juta per kilogram. Maka itu ia mengajak melihat ulang, apakah pemerintah mau menjual bibit lobster ke Vietnam dengan harga yang hanya berada di kisaran Rp100-130 ribu per kilogram?

Jika rencana ekspor itu terjadi, menurutnya, akan ada banyak pihak yang dirugikan; dari pemerintah sampai dengan nelayan sendiri.

"Bukan pemerintah saja yang rugi, tapi masyarakat juga rugi," katanya lagi. "Kita akan rugi kalau itu (rencana ekspor benih lobster) dibiarkan."

Pendapat ekonom
Sampai saat ini Edhy Prabowo memang masih memperlihatkan kecenderungannya untuk mencabut larangan ekspor benih lobster. Dalih menteri dari Partai Gerindra itu adalah bahwa upaya pembebasan ekspor benih lobster secara terstruktur akan membantu peningkatan nilai tambah masyarakat yang hidupnya bergantung pada penjualan komoditas ini.

Di sisi lain, suara penolakan atas gagasannya itu pun bergaung di mana-mana. Tak terkecuali ekonom kenamaan, Faisal Basri, pun mengajak melihat ulang rencana tersebut dan bahkan menegaskan penentangan kerasnya atas gagasan itu.

Menurut Faisal, jika keran ekspor benih lobster benar-benar dibuka, maka laut Indonesia justru akan tereksploitasi dan kembali hancur. "Cobalah untuk hitung-hitungan. Tidak perlu hitung-hitungan rumit, cukup dengan hitungan anak SD saja--akan terbaca berapa kerugian jika benih lobster diekspor," dia menegaskan.

Di pihak lain, Edhy Prabowo bersikukuh dengan pandangan bahwa ada masyarakat yang bergantung hidup pada penangkapan benih lobster. Jika ini tidak ditanggulangi dengan membuka keran ekspor benih lobster, ia mengkhawatirkan justru akan tetap terjadi penyelundupan ekspor benih lobster ini sendiri.

Edhy juga menegaskan bahwa dia juga setuju bahwa jangan sampai merusak lingkungan. Namun di sisi lain, ia juga terkesan menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi lebih penting dari sekadar urusan lingkungan. "Memang tidak boleh lingkungan rusak karena ambisi. Tetapi, juga jangan karena alasan lingkungan saja, pertumbuhan ekonomi justru tertunda."

Disambut tagar #TenggelamkanEdhyPrabowo 
Sampai pukul 11.21, Selasa 17 Desember 2019, tagar #TenggelamkanEdhyPrabowo berada di daftar tiga besar trending topic di Twitter. Tak kurang dari 9,6 ribu cuitan muncul dengan menyertakan tagar #TenggelamkanEdhyPrabowo.

Tentu saja, kemunculan tagar ini cukup terlihat sebagai penentangan serius atas rencana menteri dari Partai Gerindra tersebut.

Lewat tagar #TenggelamkanEdhyPrabowo juga muncul fakta lain dari lapangan. Lantaran tidak sedikit warganet yang akrab dengan kehidupan nelayan justru membantah narasi-narasi dibangun Menteri KKP Edhy Prabowo.

"Bohong," ujar salah satu warganet menanggapi pandangan Edhy bahwa nelayan bergantung pada benih lobster. "Saya berinteraksi langsung dengan nelayan, tidak ada yang bergantung pada benih lobster untuk dijual." Komentar tersebut juga menjadi salah satu dari ribuan cuitan bertagar #TenggelamkanEdhyPrabowo.

Bantahan atas pernyataan Edhy Prabowo melalui tagar tersebut juga muncul terkait klaim bahwa pemerintah bisa membangun infrastruktur, dan menunggu itu terbangun maka KKP bisa memberikan kuota ekspor benih lobster.

"Untuk membesarkan sendiri kan harus dibangun infrastrukturnya," pernyataan Edhy Prabowo kepada pers beberapa waktu lalu. "Sambil menunggu ini (terbangun), kita kasih kuota (untuk ekspor). Sampai waktu tertentu dia boleh ekspor."

Heru Cahyono, salah satu eksportir, membeberkan bahwa kenyataannya tidak begitu. Sosok yang sudah berkiprah di ranah ekspor sea-food selama 15 tahun ini membeberkan pengalamannya terkait lobster tersebut.

Menurut Heru, lobster yang jadi sorotan belakangan adalah lobster benur kecil. "Makanya disebut lobster seed, biji masih transparan, dengan panjang cuma beberapa sentimeter," katanya.

Jadi, benur tersebut, menurutnya jelas jauh di bawah aturan yang mengharuskan panjang karapas minimal 8 sentimeter, atau dalam berat sekitar 200 gram.

"Benih itu adanya di laut, tidak bisa di-deder kayak udang, bandeng, ataupun lobster air tawar (crayfish)," katanya lagi. "Ini diambil dari laut atau pantai langsung secara alami."

Heru juga membantah pandangan yang menyebut bahwa cuma satu persen yang bisa tumbuh dewasa jika lobster dibiarkan tuumbuh di alam. Menurutnya, dari zaman Nabi Adam pun sudah begitu--tumbuh dan berkembang di alam--tetapi tidak punah. Sebab alam memiliki cara tersendiri untuk menjaga keseimbangan.

Maka itu, Heru menolak jika pertambakan justru mengambil lobster seed tersebut. "Karena survival rates untuk adapted ke lingkungan baru lebih besar dibandingkan yangs udah gede, misalnya, ukuran 100 atau 200 gram tadi."

Ia juga menegaskan bahwa belum ada teknologi advance untuk budidaya aquaculture yang lain--untuk lobster seed. 

"Ini hal sangat umum dan diketahui oleh semua pembudidaya lobster, baik di Indonesia ataupun Vietnam," kata dia lagi.

Ia juga menegaskan bantahannya atas pandangan Edhy Prabowo. "Yang namanya budidaya lobster, jangan dipikir (sama) seperti budidaya udang, lele, bandeng, kerapu," katanya lagi. "Lobster ini rentan mati. Sampai sekarang saya tahu, belum ada yang berhasil memindahkannya ke darat terus dibuat ekosistemnya persis seperti habitatnya di laut."

Terkait harga lobster seed tersebut, kenapa harganya bisa melambung tinggi dan terlihat menggiurkan, menurut Heru, juga cuma karena larangan itu sendiri. "Sehingga cost-nya membengkak di urusan non-komersil. Harganya antara 20-30 sampai 50 ribu seekor, tergantung jenis dan cara pembeliannya. Ada yang root, dan ada yang dipisah berdasarkan jenis," ia menambahkan.'

Belum lagi untuk pengiriman. Heru menjelaskan bahwa satu kiriman memang mencapai puluhan ribu.

"Karena barangnya kecil, di-packing pun juga lebih banyak jumlahnya," katanya lagi. "Paling mahal itu jenis lobster mutiara, paling murah lobster bambu. Transaksinya, gelap. Transporternya, gelap. Transitnya, Singapura--karena di sini saja yang legal.

Selain itu, terkait pembudidayaan itu sendiri, Heru menegaskan, sama sekali tidak mudah. Ia bercerita bagaimana temannya bahkan harus merekrut orang Vietnam sampai lima orang cuma untuk bisa menangani kolam apung. Sebab pekerjaannya memang berat, lantaran harus menyelam lama sampai beberapa kali dalam sehari.

Untuk memberi makan saja, peternaknya harus menyelam lebih dulu. "Kalau ditebar begitu saja dari atas, ya nggak dimakan, buang pakan. (Sebab lobster ini) punya ketergantungan terhadap alam masih sangat tinggi." Nah! Nggak gampang toh, Pak Edhy?*** (R1)

Editor: Zulfikar Akbar
Sumber Foto: Antara


Read other related articles

Also read other articles

© Copyright 2019 TULARIN | All Right Reserved