Mengintip DAAI TV, Wajah Lain Dunia Televisi - TULARIN --> >

23 Desember 2019

Mengintip DAAI TV, Wajah Lain Dunia Televisi

Mengintip DAAI TV, Wajah Lain Dunia Televisi

Tularin | Jakarta - Pantai Indah Kapuk tidak hanya menjadi tempat banyak pengusaha besar untuk bertempat tinggal. Di sana juga terdapat sebuah bangunan besar berisikan banyak cerita besar, dari Yayasan Tzu Chi yang terkenal dengan misi kemanusiaan mereka, hingga DAAI TV yang selama ini menularkan ide-ide dan inspirasi besar.

DAAI TV pantas disebut sebagai TV yang mengundang rasa penasaran yang juga besar. Inilah kenapa saya bersama salah satu rekan yang selama ini mengelola Tularin, Tuhombowo Wau, mendatangi markas televisi yang kerap mengangkat cerita-cerita kemanusiaan tersebut.

Di sana, Tularin mendapatkan sambutan hangat dari Mika Wulan sebagai salah satu pengelola DAAI TV. Ia banyak bercerita tentang sepak terjang TV tersebut, selain juga bagaimana mereka mendedikasikan diri untuk mengangkat isu-isu seputar kemanusiaan.

"Kami di sini memang memiliki keharusan untuk tidak terlalu mengejar profit atau kepentingan komersial. Kita ingin terus bisa menciptakan konten berupa tayangan yang bisa memberikan inspirasi untuk banyak orang, dari lintas-agama, budaya, etnis," kata Mika, bercerita.

Menurutnya, memang tidak mudah untuk mengelola TV yang mengedepankan prinsip-prinsip yang mementingkan manfaat untuk pemirsa.

Patut digarisbawahi, saat sebagian TV mendapatkan keuntungan dari beragam tayangan, entah gosip sampai dengan bermain di isu-isu panas, DAAI TV justru lebih memilih menayangkan konten yang terkonsentrasi pada upaya mengubah sudut pandang dan pola pikir yang lebih mendamaikan, menenangkan, dan menyejukkan.

Di saat TV lain menayangkan figur-figur yang sedang naik daun dan mampu memantik perhatian publik, tanpa peduli figur ini membawa manfaat apa kepada publik, DAAI TV masih mampu menjaga warna berbeda.
"Di kami, saat ingin memunculkan satu sosok pun, maka kami mesti menelaah betul, siapakah orang tersebut, punya afiliasi ke mana, dan berbagai hal yang lebih detail. Sebab, kita ingin lewat figur ini bisa membawa pesan baik kepada banyak orang," kata Mika, lebih jauh. "Sebab, kita khawatir juga, jika mengangkat satu figur--hanya berdasarkan keterkenalan--justru tidak sesuai dengan nilai yang selama ini kami usung."

Di sisi lain, Mika juga menegaskan bahwa DAAI TV, terlepas mesti mengikuti serentetan aturan yang mesti selaras dengan prinsip-prinsip dalam organisasi Tzu Chi, namun tetap terus berupaya untuk berinovasi.

Beberapa kali, kata dia, pihaknya berusaha terus menciptakan program-program yang lebih menarik perhatian orang, meskipun tetap mengacu pada prinsip yang dianut Tzu Chi sebagai induk dari DAAI TV sendiri.

"Kami juga terus berusaha mengembangkan diri, menghadirkan tayangan-tayangan menarik, agar penonton pun tidak jenuh," kata Mika lagi. "Jadi, ada beberapa program yang sudah kami gulirkan, lalu kami ganti, dan itu sering kami lakukan setelah mencermati juga manfaat dari program-program itu sendiri."

Ia menggarisbawahi bahwa DAAI TV tidak sekaku dibayangkan sebagian orang. Sebab, pihaknya masih terus mencari bentuk lebih baik, sambil terus merangkul berbagai pihak untuk saling belajar dan bekerja sama.

Di sisi lain, DAAI TV juga masih terus berusaha mencermati berbagai realitas di lapangan, termasuk kehidupan-kehidupan masyarakat pinggiran untuk dapat diangkat.

Hal itulah, menurut Mika, terkadang membawa dampak juga kepada sosok-sosok atau komunitas masyarakat yang mereka angkat lewat tayangan di televisi tersebut.

"Sekali waktu, ada program kami yang ternyata ditonton oleh salah satu petinggi Indofood. Di luar dugaan, tayangan kami ini disukai oleh beliau, hingga mengajak bekerja sama, hingga kami pun bisa membantu masyarakat yang kami angkat di TV kami," Mika bercerita.

Ia meyakini bahwa terlepas TV yang menyasar daerah Jabodetabek dan Medan ini belum setenar berbagai TV yang lebih menasional, namun masih ada hal-hal unik sekaligus bermanfaat yang bisa dibagi oleh pihaknya kepada para pemirsa.

Sebab, ia juga mengaku sepakat bahwa publik tidak selalu menginginkan tayangan sekadar seputar hal-hal yang lagi tenar saja. Tak sedikit juga yang masih menginginkan tayangan yang mengedukasi dan mengilhami untuk turut menebar manfaat lebih luas.

Inilah nilai-nilai yang juga diusung oleh Master Cheng Yen yang mengotaki organisasi Tzu Chi. Bahwa kebaikan memang membutuhkan banyak tangan, agar kebaikan dapat tersebar ke lebih banyak kalangan. Nilai ini juga yang ingin terus dikembangkan melalui DAAI TV.

Mika juga mengajak tim Tularin berkeliling sebuah ruangan yang lebih mirip museum, yang menunjukkan berbagai replika hingga foto-foto seputar apa yang sudah dilakukan Tzu Chi. Di samping, juga menonjolkan kreasi-kreasi masyarakat pinggiran yang selama ini didampingi oleh organisasi Tzu Chi.

Tentu saja, di sekeliling gedung Tzu Chi itu sendiri kental dengan bambu, tak terkecuali di hall yang juga menjadi museum lembaga tersebut.

Bagi warga Tzu Chi, atau relawan yang bergabung dengan organisasi ini sendiri, bambu tidak semata menjadi simbol. Namun juga bambu merupakan simbol dari tanaman yang bisa membawa banyak manfaat, bisa dikreasikan untuk banyak hal.

Di samping, bambu juga menjadi tempat atau wadah bagi para ibu-ibu yang turut andil menggerakkan Tzu Chi di masa lalu. Pasalnya, dulu, menurut Mika, melalui bambu-bambu itulah para ibu mengumpulkan beras dan sejenisnya, untuk ditabung, dan didermakan untuk membantu orang-orang yang lebih membutuhkan.

Inspirasi dari bambu itu juga mengalir pada prinsip yang diterapkan dalam tayangan DAAI TV sendiri. Agar tayangan-tayangan di televisi tersebut juga dapat membawa nilai positif bagi masyarakat, agar saling peduli kepada sesama, dan peka terhadap kondisi di sekeliling.

Sebagai catatan, DAAI TV sendiri mengusung tagline yang tidak jauh dari organisasi yang memayungi mereka, Tzu Chi, yakni "Televisi Cinta Kasih". Maka itu, tayangan yang mereka miliki tidak jauh dari nilai cinta kasih sebagaimana juga diangkat oleh organisasi Tzu Chi sendiri dalam membantu banyak masyarakat di berbagai belahan dunia.

"Kami senang dan menikmati bekerja begini, yang bisa membawa inspirasi dan nilai kebaikan kepada masyarakat. Meskipun kami juga mengamati perkembangan TV lain, namun kami juga terus berupaya menjaga warna kami, sambil terus berusaha memperkaya program kami juga," kata Mika yang juga menegaskan bahwa pihaknya juga acap bekerja sama dengan stasiun TV lain.

Ya, semoga saja, DAAI tetap memiliki warna tersendiri, dan bisa mewarnai Indonesia dengan nilai kebaikan yang juga diusung Tzu Chi. Terlebih lagi, dari sisi visi yang mereka miliki, tampaknya cukup tercermin lewat tayangan merekak selama ini; "Menjernihkan hati manusia, mencerahkan dunia."

Read other related articles

Also read other articles

© Copyright 2019 TULARIN | All Right Reserved