Indonesia Muda, Organisasi Legendaris dan Bakti yang Belum Habis - TULARIN --> >

18 Desember 2019

Indonesia Muda, Organisasi Legendaris dan Bakti yang Belum Habis

Indonesia Muda, Organisasi Legendaris dan Bakti yang Belum Habis


Tularin | Jakarta - Bumi Perkemahan Cibubur akan kembali dipadati belasan ribu remaja dari berbagai daerah, Jumat (18/12/2019). Pengurus Besar Indonesia Muda (PB IM) mengadakan Jambore Nasional dan Rapat Kerja Nasional yang akan berlangsung hingga 22 Desember 2019.

"Sejak kami ditunjuk untuk memimpin organisasi PB IM pada 2016, salah satu rencana yang ingin kami lakukan adalah kegiatan ini, jambore nasional dan rapat kerja nasional," kata August Pramono, Ketua PB IM, Rabu (18/12). "Jadi, kami mengadakan ini kali ini sekaligus untuk konsolidasi organisasi, maka itu melibatkan para pengurus dari berbagai daerah, dari Aceh sampai dengan Papua."

Hal senada juga diamini Cyril Raul Hakim, sebagai sekretaris organisasi tersebut, yang menegaskan rekam jejak PB IM yang bersejarah. Terlebih organisasi yang bergerak di bidang olahraga dan kesenian tersebut sudah berkiprah sejak 1930.

"Perlu juga dilihat lagi bahwa PB IM merupakan organisasi yang paling banyak melahirkan atlet nasional, terutama di bidang olahraga basket dan sepak bola," kata sosok yang akrab disapa sebagai Chico ini. "Ini bisa ditelusuri sejak era galatama pada 1980-an, ada jejak Indonesia Muda di sana."

Ia menunjukkan data bahwa di era tersebut sebagian besar atlet IM adalah pemain di tim nasional.

"Dari 18 orang pemain kita, sebanyak 12 orang adalah pemain di timnas," kata Chico lebih jauh. "Jadi, itulah alasan kenapa saya berani katakan bahwa IM merupakan organisasi paling banyak melahirkan atlet nasional."

Jadi, menurutnya, kegiatan jambore yang diadakan kali ini tidak lepas dari misi tersebut, untuk dapat lebih memacu bakat muda yang ada. Dengan begitu, menurutnya, dunia olahraga di Tanah Air akan tetap memiliki talenta yang diperhatikan di tingkat nasional dan juga internasional. 

Menanggapi hal itu juga, August sebagai ketua organisasi ini menggarisbawahi bahwa dalam kegiatan ini pihaknya juga terbantu dengan animo dari pengurus di daerah-daerah. "Sebab mereka bisa berangkat dan ikut kegiatan ini dari biaya masing-masing. Sementara kita di sini hanya mengatur akomodasi dan konsumsi," ia menjelaskan. 

Menurut August, ini juga yang menjadi kelebihan dari IM sejak awal berdirinya di era 1930-an. Kekuatan swadaya di dalam organisasi sudah terbangun sangat kuat, sehingga dalam melakukan kegiatan apa saja tidak harus bergantung kepada bantuan dari pemerintah atau pihak manapun. 

Sebagai catatan, organisasi IM sendiri memang pernah memiliki seabrek tokoh nasional dan para pahlawan yang pernah mengelola organisasi tersebut. 

Sebut saja Abdulrahman Saleh (pahlawan nasional sekaligus tokoh radio nasional), Amir Hamzah (sastrawan), Ani Idrus (wartawati pendiri Harian Waspada), Armijn Pane (pendiri Poedjangga Baroe).

Tak hanya itu, tokoh-tokoh seperti Assaat yang pernah menjadi pemangku jabatan presiden Indonesia di Yogyakarta pun pernah jadi bagian dari organisasi tersebut. Selain juga terdapat Roeslan Abdulgani yang pernah menjadi menteri luar negeri periode 1956-1957. 

Tak pelak, tradisi di era kemerdekaan, termasuk dalam sapaan sesama anggota organisasi acap menggunakan kata "Bung" sebagai penanda keakraban. 

"Inilah kenapa, sampai sekarang kami berusaha keras agar dapat menjaga organisasi ini bisa berjalan dengan semangat seperti diperlihatkan pahlawan nasional yang pernah ikut mengurus IM," kata Chico. "Jadi, sampai sekarang pun, kami terus berusaha melahirkan bibit-bibit di dunia olahraga sampai kesenian, agar bisa memberikan kontribusi terhadap Indonesia."*** (R1)

Editor: Zulfikar Akbar
Foto: Para pengurus PB Indonesia Muda

Read other related articles

Also read other articles

© Copyright 2019 TULARIN | All Right Reserved