Antara Jakarta dan Gubernur Ngelantur - TULARIN >

07 November 2019

Antara Jakarta dan Gubernur Ngelantur

Antara Jakarta dan Gubernur Ngelantur


Jakarta tidak berhenti gaduh. Bukan sekadar suara klakson di jalanan, atau teriakan kondektur di terminal-terminal. Bukan juga teriakan mengarah kepada copet yang berlari dengan napas tersengal-sengal. Sekarang kegaduhan itu lahir dari wajah-wajah santun yang berbakat menjadi begal.
Anies Baswedan. Sebuah nama yang semakin melekat saja dengan berbagai media. Hampir tiada hari tanpa berita tentangnya. Sebagaimana tidak kenal kata berhenti pula ia menciptakan gagasan yang mengundang keributan. 
Eh, saya bukan sedang menghakiminya memiliki bakat begal. Namun cuma meluapkan secuil rasa kesal, kenapa Jakarta semakin ke sini terlihat seperti karung uang yang dipercayakan ke tangan-tangan begal, sementara warganya semakin terbalut dalam nasib sial?
Kenapa saya mesti kesal? Ya, kenapa, ya?
Namun yang jelas, jauh-jauh hari, saya termasuk yang bersuara kencang, entah di artikel demi artikel atau bahkan media sosial agar kota ini tidak jatuh ke tangan pembawa sial. 
Sejak itulah saya kencang bersuara lewat media yang memberi tempat untuk saya bicara, sekitar dua tahun lalu, ketika narasi yang berkembang adalah semestinya kota ini berada di tangan orang-orang yang sopan santun, lembut, dan tetek bengek yang akhirnya beneran bikin Jakarta seperti menderita penyakit bengek. 
Tahu kan penyakit bengek? Ya, itu adalah sebutan untuk penyakit yang bikin sulit bernapas karena saluran pernapasan yang terhambat lantaran adanya penyempitan di saluran tersebut. Udara yang dibutuhkan oleh tubuh tidak leluasa masuk dan keluar sebagaimana mestinya.
Kira-kira beginilah Jakarta hari ini. Saat daerah-daerah tetangganya muncul ke media dengan gagasan dan ide untuk berkembang, Jakarta hanya muncul dengan berita-berita timpang. Gubernurnya sendiri sering bicara ketimpangan, sementara ia sendiri adalah pemicu ketimpangan. 
Sialnya Jakarta, punya pemimpin yang terlalu jeli melihat kesalahan di luar, namun tak pernah terlihat mampu melihat kesalahan di dalam dirinya sendiri.
Diibaratkan sopir ugal-ugalan, inilah yang diperlihatkan sopir bernama Anies Baswedan. Ketika penumpang teriak-teriak, kendaraan disopirinya terguncang-guncang, ngerem dan ngegas sesukanya, ia memilih memarahi penumpang, kondisi jalan, sampai dengan menyalahkan mobil lain. 
Ia tidak merasa sedang menyupiri dengan cara ugal-ugalan. Hingga setengah perjalanan pun, ia menolak mencari kesalahannya dalam melihat penumpang yang butuh ketenangan, atau mobil yang berjalan mengikuti tangan di balik kemudi, dan kaki yang menguasai gas dan rem. 
Baginya cuma ada kesalahan di luar dirinya. Di dalam dirinya, baik-baik saja, karena punya pengalaman jadi menteri, punya pengalaman jadi rektor, jadi sudah cukup untuk mengklaim diri sebagai "sopir" berpengalaman yang tidak pantas disalahkan.
Sekarang tinggal menunggu, apakah sopirnya bisa berubah, atau membiarkan kendaraan terguling, penumpang terpental, atau supirnya sendiri yang diturunkan di tengah jalan? 
Warga Jakarta tentu saja pemilik kendaraan itu sendiri, bukan sekadar penumpang. Kalaupun sempat salah memilih sopir, masih bisa menentukan, memaksa sopir mengubah cara menyetir, atau mengusir sang supir untuk sopir lain yang lebih baik lagi.***
Penulis: Zulfikar Akbar
Sumber Foto: Merdeka

Read other related articles

Also read other articles

© Copyright 2019 TULARIN | All Right Reserved