Google Trends dan Tren Koperasi Digital di Jagat Internet - TULARIN >

09 Oktober 2019

Google Trends dan Tren Koperasi Digital di Jagat Internet

Google Trends dan Tren Koperasi Digital di Jagat Internet


Koperasi digital. Itulah kata kunci yang coba saya masukkan ke kolom penelusuran Google Trends, hari ini, Rabu (9/10/2019). Tak lain, cuma untuk memastikan sejauh mana animo publik terhadap isu ini.

Hasilnya, dalam 12 bulan terakhir, hanya pada tanggal 15-21 September 2019, tercatat paling banyak banyak dicari. Itu juga hanya mencapai 31 kali, tertinggi sejak periode 14-20 Oktober 2019.


Tidak hanya itu, juga saya berusaha mengintip bagaimana "koperasi dan generasi milenial" sebagai salah satu kampanye terkait digital. Hasilnya, cuma muncul bendera putih, karena Google menilai tidak ada data memadai untuk itu.

Sama halnya juga dengan "koperasi zaman now", pun Google angkat tangan. Ringkasnya, belum mampu menjadi tema yang mencuri perhatian, berdasarkan Google Trends.

Sedangkan jika dilihat dari kolom searching-nya sendiri, kata kunci koperasi zaman now mencatat angka 251 ribu hasil. Sedangkan koperasi dan generasi milenial mencatat 295 ribu.

Berbeda halnya dengan ketika "koperasi" menjadi kata kunci di Google Trends, tampaknya lebih punya pengaruhnya di ruang pencarian Google. Pasalnya, periode 30 Juni-6 Juli 2019, mencatat rapor tertinggi, dengan 100 kali pencarian.


Menariknya, pencarian di Google terkait dengan koperasi, dikuasai oleh lima provinsi, dan empat dari lima provinsi tersebut berada di luar Pulau Jawa. Dari Aceh sampai dengan Riau.

Tak pelak, dari sana cukup jelas terlihat, bahwa isu terkait koperasi punya pengaruh yang tak dapat diremehkan. Walaupun, jika membandingkan dengan daerah-daerah di Pulau Jawa, hanya Banten yang terlihat paling punya pengaruh, berdasarkan laporan Google Trends teranyar ini. Terutama jika dilihat spesifik berdasarkan news search dan business & industrial. 

Belum lagi jika dilihat berdasarkan kolom pencarian Google sendiri. Dengan kata kunci "koperasi" saja, memberikan hasil sebanyak 18,4 juta.

Kata kunci terkait lainnya, semisal UKM, mencatat hasil sebanyak 30,1 juta. Sementara di Google Trends, kata kunci UKM menempati tempat tertinggi, 100, pada periode 1-17 Agustus 2019.

Apa perlunya penelusuran ini dari Google sampai dengan Google Trends? Tidak lain, untuk mencermati bagaimana pengaruh dari "isu khusus" yang dibutuhkan pengambil kebijakan seperti Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Kemenkop-UKM).

Lebih jauh terkait urgensi pengamatan atas tren di jagat internet ini, tentu saja dapat disimak dari berbagai buku. Misal saja buku "Digital Wars"-nya Charles Arthur, jauh-jauh hari sudah menekankan bagaimana efek Google terhadap apa saja yang digaungkan, tak terkecuali oleh korporasi hingga lembaga-lembaga pemerintah.

Sebab, Google telah menjadi "nabi" bagi pengguna internet, karena dari sanalah mereka bisa mendapatkan banyak jawaban hingga kehausan terhadap berbagai informasi. Tak terkecuali, tentu saja, terkait bagaimana publik pun jadi lebih aware dengan informasi-informasi yang benar atas sesuatu isu.

Terpenting lagi, Google--seperti dikutip dari buku Digital Wars--tidak lagi sekadar sebuah merek yang menyatu dengan internet. Namun Google telah menjadi semacam kata kerja. Ada kekuatan yang mampu menggerakkan banyak orang dari mesin yang awalnya hanya dikenal sebagai mesin pencari semata. | Zulfikar Akbar - Founder Tularin, Editor Cyberthreat.id

Read other related articles

Also read other articles

© Copyright 2019 TULARIN | All Right Reserved