Bupati Taher dan Mimpi Orang Kei dari Timur Indonesia - TULARIN >

13 Oktober 2019

Bupati Taher dan Mimpi Orang Kei dari Timur Indonesia

Bupati Taher dan Mimpi Orang Kei dari Timur Indonesia


Apa yang sering Anda bayangkan tentang kawasan timur Indonesia selama ini? Tentang orang-orang yang akrab dengan laut, berotot dan berbadan kekar, dan gaya bahasa yang khas, mungkin menjadi bagian yang terbetik di pikiran Anda. Tidak keliru, namun lebih dari itu, dari timur Indonesia juga Anda bisa menemukan semangat untuk berada di tempat terdepan.

Inilah yang terbetik di pikiran saya saat berkesempatan berbincang-bincang panjang lebar dengan warga yang terdapat di Kepulauan Kei, Maluku Tenggara, hingga orang nomor satu di sana.

Ya, sosok Muhamad Taher Hanubun, kini memimpin kabupaten yang berbatasan dengan Australia dan Timor Leste tersebut. Di usia menginjak 61 tahun, ia menunjukkan semangat tidak kalah dengan kawula muda.

Salah satu bukti dari semangatnya tersebut tercermin dari kemampuannya menggowes. Bukan sekadar mengayuh sepeda dalam jarak terbilang jauh untuk usianya, sekitar 30 kilometer. Namun juga ketika ia berbicara tentang daerah yang baru setahun ia pimpin tersebut.

"Saya membayangkan, dalam dua-tiga tahun ini, Kepulauan Kei, Maluku Tenggara, bisa melesat dan maju," katanya, saat saya ajak berbincang-bincang di sisi Pantai Ngurbloat.

Minggu (10/13/2019), saya mendapatkan kesempatan mengikuti rombongan bupati berkeliling ke beberapa titik wisata andalan di kabupaten tersebut. Saat saya dan teman-teman dari Jakarta berkendara dengan mobil, beliau memilih bersepeda saja.

Usianya yang tak lagi bisa dikatakan muda, tidak menjadi penghalang baginya untuk mengayuh sepeda dengan tenaga yang tidak kalah dari anak muda. Ia mampu mengayuhnya tanpa merasakan kelelahan, walaupun jarak kediamannya di Tual ke Ngurbloat tidak bisa dikatakan mudah.

Benar, jalan-jalan di kabupaten ini terbilang sudah sangat mulus. Namun kemulusan aspal bukan satu-satunya hal yang membuat sosoknya terlihat enteng dalam mengayuh sepedanya. Semangatnya untuk memamerkan perubahan positif di daerah ia pimpin membuatnya tidak kenal lelah.

Bukan sekadar memamerkan, namun ia juga menegaskan kecintaan besarnya terhadap tanah leluhurnya tersebut. "Kepulauan Kei bisa maju dan berkembang dengan cepat karena cinta. Kabupaten ini harus disentuh dengan cinta," katanya.

Maka itu, kata Taher, ketika ia berkontestasi di pemilihan bupati, apa yang memotivasinya adalah kecintaan terhadap daerah kepulauan tersebut. "Sebab, ketika satu daerah dipimpin dengan cinta, maka ia bisa dikembangkan tanpa merasa terbeban. Pun, masyarakatnya akan mengikuti apa saja imbauan dari pemimpinnya karena cinta," katanya lebih jauh.

Memang kiprahnya di daerah tersebut sudah dilakukan sejak ia masih berkarier di Jakarta, dan terkenal sebagai sosok yang membantu mengangkat olahraga basket untuk kalangan siswa menengah atas. Meskipun di Jakarta, namun pikiran dan hatinya terpaut kuat ke kampung asal leluhurnya.

Maka itu saat konflik Ambon meletus, dia menjadi salah satu figur yang mau pontang-panting berusaha merajut persaudaraan terutama di kawasan Kepulauan Kei. Taher turun tangan menemui berbagai pihak, dari warga di Kepulauan Kei hingga para petinggi negara di Jakarta.

Alhasil, jika di belahan Maluku lainnya berlangsung konflik bertahun-tahun, maka di Kepulauan Kei hanya sempat meledak dalam hitungan bulan. Ia datang menemui tokoh-tokoh adat dan pemuka agama yang ada untuk mengajak melihat Kei sebagai tanah leluhur yang tidak boleh hancur oleh perbedaan.

Sekalipun ia beragama Islam, dan ia tahu konflik saat itu bermotif agama, tak menjadi penghalang baginya untuk menemui langsung tokoh-tokoh agama Kristen. "Saya masih meyakini bahwa kami orang Kei adalah orang-orang yang terbiasa dengan perbedaan. Saya mencintai semua orang Kei, apa saja agama mereka, hingga tidak takut bertemu yang berbeda agama saat konflik," kisah Taher.

Alhasil, kemampuannya berdiplomasi dan bernegosiasi, membuahkan hasil. Masyarakat Kei bisa kembali bersatu meskipun di belahan Maluku lainnya masih berlangsung konflik. Walaupun begitu, ia tetap turut andil menyuarakan damai, agar Ambon yang menjadi sentra konflik pun turut reda.

Ia menegaskan bahwa sikapnya itu sendiri tidak lepas dari ruh leluhur masyarakat Kei sendiri. "Kami di sini meyakini bahwa darah yang mengalir di tubuhmu adalah juga darah yang mengalir di tubuhku. Apa saja agamamu, jabatanmu, statusmu, kita adalah satu, dan semangat inilah yang saya jaga dan sampaikan kepada masyarakat Kei," kata Taher lebih jauh.

Menurutnya filosofi itulah yang dipegangnya, dari masa ia masih berkarier di Jakarta, menyelesaikan konflik, hingga terjun ke dunia politik dan kini menjadi orang nomor satu di tengah masyarakat Kei.

Saya mencoba menanyakan, apa yang inginkan untuk masyarakat Kei dalam lima tahun ini? "Bukan lima tahun, tetapi saya mengejar agar bagaimana dalam dua atau tiga tahun ini bisa membuat Kei bangkit, tidak kalah dari daerah lain," Taher menjelaskan prinsipnya.

Ia terus berupaya keras agar dapat mengundang investor masuk ke Kepulauan Kei. Maka itu, ia pun rajin melakukan diplomasi, dan mengerahkan anak-anak muda untuk turut membangun kawasan itu dengan kualitas mereka masing-masing.

Tak jarang, sebagian anak muda yang awalnya merantau ke Jakarta, ia ajak untuk pulang ke kampung halaman. Sebab ia meyakini, Kepulauan Kei bisa dibangkitkan tidak hanya lewat tangannya, namun ia butuh banyak tangan anak muda. Di samping, diplomasi kelas atas terus-menerus ia lakukan, selain juga terjun ke tengah masyarakat tanpa kenal libur.

Ya, Bupati Taher sama sekali tidak memiliki cerita berlibur. Ia lebih senang memanfaatkan hari libur untuk berbaur bersama masyarakatnya. Dari sana ia bisa mendengar langsung suara warganya, dan bisa mencari tahu apa saja yang paling dibutuhkan masyarakat.

Maka itu, hingga kini, warga setempat sudah merasakan perubahan serius kawasan tersebut sejak dipimpin olehnya. Hal ini juga diakui oleh Alif (30 tahun), yang melihat adanya perkembangan signifikan sejak Maluku Tenggara tersebut dipimpin olehnya.

"Dulu tidak ada cerita bisa melihat jalanan sebaik sekarang dan upaya pembangunan sudah ada di mana-mana. Baru sejak Pak Taher memimpin, sekarang Maluku Tenggara mulai bisa menegakkan kepala sebagai kabupaten yang mampu berkembang cepat," kata pria yang sempat merantau ke Jakarta tersebut.

Hal senada juga meluncur dari beberapa teman wartawan yang saya temui di lokasi tersebut. "Dia memiliki gaya memimpin yang memang berbeda. Mungkin karena sebelumnya pun beliau sering mengamati daerah lain saat masih di luar daerah. Jadi ada acuan bagaimana mengembangkan daerahnya," salah satu wartawan yang tidak mau disebutkan namanya, bercerita.

Mencari acuan dalam membangun daerah memang diakui juga oleh Bupati Taher. Ia kerap memantau, misalnya, bagaimana wisata di daerah-daerah lain bisa berkembang dan maju hingga mampu menjadi sumber pendapatan daerah dan menyejahterakan masyarakat.

"Saya juga melihat Kepulauan Seribu sampai dengan Christmast Island, dan saya belajar banyak dari sana bagaimana bisa mengembangkan wisata di sini," katanya.

Saat ditanyakan apa saja yang menjadi kunci dalam membangun daerahnya ini, Taher menegaskan bahwa ia selalu menekankan konektivitas. "Sebab, ini adalah kunci untuk bisa mengembangkan daerah yang terdiri dari puluhan pulau ini," kata sosok yang mulai menjabat sejak 31 Oktober 2018 tersebut.

Ia juga meyakini ada keseiramaan prinsipnya dengan Presiden Joko Widodo, yang mengedepankan konektivitas untuk meningkatkan pembangunan Tanah Air. Maka itu, ia punya impian agar daerahnya itu bisa mendapatkan kesempatan didatangi oleh Presiden Jokowi.

"Sebab, dengan kehadiran beliau, maka akan lebih banyak mata yang mau menatap kami di sini, hingga kami bisa bangkit lebih cepat," katanya.* (Zulfikar Akbar)




Read other related articles

Also read other articles

© Copyright 2019 TULARIN | All Right Reserved