Aku, Dewi di Pulau Dewata - TULARIN >

07 September 2019

Aku, Dewi di Pulau Dewata

Aku, Dewi di Pulau Dewata


Pantai menjadi tempat paling mewakili segala cerita tentangku. Terkadang tenang, hingga jadi incaran banyak orang yang mencari ketenangan. Tak jarang juga mengganas, hingga banyak yang tenggelam hingga sulit untuk menepi.

Selayaknya pantai, kuakui, banyak wajah telah kuusap dengan kesejukan belaianku. Seperti halnya pantai, telah banyak tubuh kurangkul dalam hangat pasir-pasirku. Juga, sebagaimana pantai, telah banyak teriakan kepuasan hingga ketakutan di sisi tubuhku. 

Aku perempuan. Ya, aku perempuan yang jatuh cinta pada pantai, tapi mampu bikin banyak orang justru jatuh cinta kepadaku. Terkadang kubikin mereka menangis, tapi tak jarang justru aku sendiri yang terpaksa harus menangis. Terkadang kubikin mereka tertawa, tetapi sering juga aku sendiri yang justru tak bisa tertawa. 

Saat mereka menangis, gundah, resah, mereka mencariku. Sedangkan ketika aku yang menangis, gundah, atau resah, aku justru cuma bisa mencari pantai. Terkadang aku hanya duduk saja di berbagai pantai untuk menikmati suara persetubuhan air laut dengan pasir, hingga tercipta irama serupa desahan. 

Seperti halnya di pantai, terkadang dalam desahan yang tercipta dari persetubuhan air laut dan pasir, juga membawa onggokan sampah. Ya, banyak yang melempar sampah ke laut, namun sampah-sampah itu dibawa kembali oleh laut ke pantai, dan pantai menyimpannya di balik pasir. Duri-duri pun banyak tersembunyi, hingga ada juga yang tak sengaja menginjaknya. Berdarah. Teriak, hingga ada yang merutuk-rutuk tidak jelas. 

Sama juga sepertiku, yang kerap menyembunyikan banyak cerita di sana. Dari bagaimana aku jatuh cinta hingga bercinta, hingga aku berpura-pura lupa segala cerita. 

"Halo, aku lagi di pantai," kataku sekali waktu di salah satu pantai di Pulau Dewata. Di sana, aku sebenarnya tidak peduli apakah benar-benar bersemayamnya para dewa, namun di sanalah aku bisa tetap diperlakukan siapa saja bak dewi.

Seperti di hari ketika aku menelepon kekasihku, maksudku, aku bisa meyakinkannya bahwa dia adalah kekasihku, sebenarnya aku tidak sendiri. Aku memiliki seseorang yang mampu memperlakukan aku benar-benar tidak ubahnya seorang dewi. Ia tidak mengajakku banyak berbasa-basi, tapi ia mampu bikin aku melayang berkali-kali. 

Ini yang tidak leluasa kudapati dari lelaki yang kusebut kekasih tadi. 

Oya, ceritaku kuawali dari sini, dan nanti akan ada banyak cerita kusambung lagi. Sementara kuakhiri di sini, untuk memperkenalkan bagaimana aku menulis cerita hidupku selayaknya buih-buih melukis di bibir pantai berpasir. 

Apakah kelak aku adalah pantai itu sendiri atau aku hanya sekadar pasir, tidaklah terlalu kupusingkan.

Sebab, apa yang paling kupentingkan adalah aku bisa bercerita, berkata-kata, menuangkan apa saja, dari tawaku dari pantai ke pub atau klub malam, atau desahanku di bibir pantai hingga ke hotel berbintang sampai hotel-hotel termurah. Tunggu sebentar, nanti aku kembali.***

Penulis: Zulfikar Akbar
Foto: Pixabay

Read other related articles

Also read other articles

© Copyright 2019 TULARIN | All Right Reserved