Kenapa Jokowi Dikagumi? - TULARIN >

13 Juli 2019

Kenapa Jokowi Dikagumi?

Kenapa Jokowi Dikagumi?

Sosok bapak beranak tiga ini mungkin tidak setampan mantan pacarmu, Mbak. Ia juga tidak sekekar suamimu, Bu.
Jokowi yang acap dilecehkan dengan panggilan sebagai "Jae" hingga "Ngaciro" pun bukan orang yang gemar memamerkan mata melotot dan urat leher menegang.
Bahkan saat ia tahu sebagian rakyatnya melecehkannya, istrinya, anaknya, sampai ibunya, ia hanya menatap dengan mata teduhnya. "Mereka semua tetap saudara satu bangsa dengan saya," katanya, lirih.
Ya, dia sama sekali tidak tertarik untuk unjuk kuasa. Tidak mentang-mentang, "Gue orang nomor satu di negara ini!" Tidak! Ia tidak begitu.
Ia meneladani Muhammad, pembawa ajaran Islam yang saat dilempari tahi unta pun masih mendoakan dengan kebaikan. Baginya, memimpin adalah memberi teladan.
Sebagai manusia, ia bisa merasakan sedih, kecewa, dan terluka. Sudah berpikir keras, bekerja keras, masih saja diremehkan dan dilecehkan.
Bahkan, ada saja yang menganggap orang yang cuma bisa menjual nama besar keluarga dan--bisa dibilang-- belum menunjukkan kerja apa-apa sebagai orang lebih baik sebagai penggantinya.
Ada saja yang memilih memuja orang yang baru sekadar lihai bicara, baginya tidak apa-apa. Ia tetap memilih berbicara dengan apa adanya, seadanya, dan menolak mengada-ada. Baginya ada yang jauh lebih penting daripada sekadar lihai berbicara, yakni bagaimana bisa lihai bekerja.
Ia tahu, negerinya pernah dimuncrati ludah banyak pemimpin yang lihai bicara saja. Maka itu, ia memilih tidak perlu lagi memamerkan gaya pemimpin yang mengandalkan mulut, tapi benar-benar mengandalkan keringat.
Ia paham, bahwa yang perlu ditularkan kepada rakyatnya bukan lagi sekadar bicara. Sebab, satu rumah saja takkan bisa terbangun hanya dengan mulut saja, apalagi membangun sebuah negara.
Ia mengerti, untuk bisa membangun sesuatu membutuhkan pikiran yang tepat, yang bisa dikerjakan, dan bisa diukur, hingga bisa direalisasikan. Terlalu banyak berkata-kata hanya akan mengurangi kesempatan bekerja. Maka kalaupun ia berbicara, maka yang ia bicarakan adalah bagaimana bekerja.
Sebab, ia memaklumi, di negerinya banyak yang polos mencerna makna cerita dongeng pengantar tidur; ada candi yang semalam langsung jadi, atau perahu raksasa yang bisa selesai sebelum subuh. Alhasil, banyak yang melupakan arti keringat, makna kerja, dan bagaimana melihat jelas sebuah proses.
Banyak yang memilih mencibir, melecehkan, menghina karena ia tidak bisa menyulap negeri ini menjadi "raksasa" hanya dalam semalam. Ia memilih bekerja dalam cibiran hingga hinaan.
Tidak mudah. Jangankan membangun negara, tukang bangunan saja takkan mudah bekerja jika pemilik rumah selalu saja merecoki dan terlalu banyak bicara. Bisa jadi, mereka akan memilih mengambil cangkul dan melempar ke muka orangnya, "Sudah! Kaubangun saja sendiri! Mulutmu lebih besar daripada upahku!"
Tidak. Ia justru tidak begitu.
Ia cuma meminta supaya orang-orang di negaranya, jika ingin memberikan kritik, silakan. Berikan kritikan sesuai porsinya.
Masalahnya, mereka menghina dirinya sampai ibunya juga diklaim sebagai kritikan. Padahal, ibunya sama sekali tidak bermewah-mewah meskipun anaknya seorang presiden.
Mereka juga menghina anak-anaknya. Padahal, jangankan memanfaatkan fasilitas negara dan kekuasaan bapaknya, mereka lebih memilih jualan kopi, martabak, hingga pisang goreng.
Mereka berdalih bahwa itu adalah kritik. Entah bagaimana isi kepala mereka, dan siapa yang mengisi begitu ke dalam kepala mereka.
Syukurlah orang-orang berkepala aneh itu tidak sampai terlalu banyak. Jika mereka paling banyak menghuni negeri ini, bisa jadi kekuasaan hanya jatuh ke tangan orang yang punya isi kepala sama dengan mereka.
Tuhan masih menyelamatkan negeri ini dari kepala-kepala yang berisi pandangan bahwa pemimpin adalah yang cukup dengan lihai bicara saja. Pemimpin cukup dengan berbadan gagah saja.
Tidak. Tuhan mengatur semuanya. Lewat kehadiran seorang Jokowi yang kerap dihina dan dicaci maki, Dia memberi pesan: "Mau menjadi bangsa besar takkan cukup hanya dengan mulut besar. Mau jadi negara besar, tidak cukup dengan sesumbar. Negaramu butuh pemimpin yang lebih mampu menunjukkan kerja daripada bicara!"
Syukurnya, negeri ini masih lebih banyak yang lebih menghargai kerja daripada sekadar bicara. Maka kenapa, pemimpin yang mau bekerja, bisa menunjukkan hasil kerja, lebih dipercayakan untuk menangani negeri ini.
Sebab, bekerja membutuhkan lebih banyak tenaga. Butuh pikiran yang benar-benar terlatih baik. Butuh otot-otot yang kuat. Butuh konsentrasi yang teruji.
Mereka yang terbiasa bekerja terbiasa mengasah tenaga. Dengan begitu, mereka membuat negara bebas dari perasaan lemah.
Mereka yang terbiasa bekerja, terbiasa melatih pikiran untuk melihat apa yang sudah dilakukan dan apa yang akan dilakukan, agar semakin baik daripada apa yang pernah dilakukan.
Dengan begitu, otak mereka pun terlatih untuk berfungsi lebih baik. Teruji untuk menyelaraskan apa yang dipikirkan dengan apa yang bisa dilakukan.
Mereka yang terbiasa melatih ototnya untuk bekerja, membentuk otot-otot itu semakin kuat. Dari sanalah mereka menguatkan "otot-otot" sebuah bangsa, hingga bisa bertarung dengan kepala tegak di panggung dunia.
Dengan bekerja juga mereka berlatih bagaimana berkonsentrasi. Semakin rajin mereka bekerja, semakin baik mereka mengasah konsentrasi; fokus pada apa saja yang penting, yang benar-benar bisa menghasilkan sesuatu.
Mereka yang terlatih berkonsentrasi takkan gemar menciptakan keributan. Mereka seperti akar-akar pepohonan besar, menegakkan pohon-pohon dengan kekuatan akar yang tersembunyi di balik tanah. Kala ada hujan besar hingga banjir dan badai, justru membuat akar-akar itu semakin menguat agar pohon-pohon tetap berdiri di tempat.
Semakin akrab negeri ini dengan budaya kerja, semakin jauh dari ribut-ribut. Sebab, mereka akan terpacu hanya fokus pada apa yang bisa dikerjakan. Terlebih di negara sebesar ini, ada banyak hal yang bisa dikerjakan, dan selalu bisa melihat apa yang mesti dikerjakan. Mereka akan jauh dari keluhan bisa bekerja di mana dan mengerjakan apa. Sebab mereka sendiri sudah terbiasa bekerja hingga menciptakan pekerjaan.
Semangat itu yang juga ditunjukkan anak-anaknya Kahyang yang bahkan gagal jadi aparat sipil negara. Gibran dan Kaesang yang dengan gembira bekerja sebagai tukang martabak dan tukang pisang.
Sebab, bekerja bukanlah aji mumpung. Bekerja bukanlah kebiasaan mengandalkan tangan orang lain; melainkan apa yang bisa dikerjakan tangan sendiri.
Jadi, siapa yang selama ini lebih banyak memilih dan mendukung Jokowi tetap berkuasa bukanlah orang yang gila kekuasaan. Mereka adalah orang-orang yang percaya, negara ini hanya akan benar-benar besar di tangan orang yang mau bekerja. Bukan bicara saja.
Kenapa Jokowi dikagumi oleh mereka? Karena ia mau bekerja, menyatu dengan rakyat yang mau bekerja. Ia mengagumi keringat, dan gemar bersentuhan langsung dengan tangan-tangan yang akrab dengan bekerja.
Sebab ia percaya, tangan-tangan itulah yang akan bersamanya membangun tapak, dinding, hingga atap negeri ini agar bebas dari ancaman hujan kebodohan, bebas dari terjangan badai kemiskinan.
Bahwa masih ada yang memilih mengeluh, meratap, dan menyalahkan nasib buruk seolah kesalahan orang lain, itu adalah pilihan mereka yang tidak ingin melihat ke dalam diri sendiri. Meskipun, kitab suci saja menegaskan, takkan ada yang bisa mengubah nasib seseorang, kecuali ia mengubah dengan tangan sendiri. Ya, tangan-tangan cekatan itu akan berjabat erat dengan sesama tangan yang terbiasa bekerja. Sebab tangan-tangan itulah yang akan saling menguatkan, bukan melemahkan.
Dalam beberapa kesempatanku berjabat tangan langsung dengan Jokowi, aku bisa merasakan tangan yang lembut namun cukup kokoh. Inilah tangan yang meyakinkanku, bahwa tangan ini bukanlah tangan orang-orang manja.
Saat orang manja melamun kenapa orang bisa lebih baik, orang yang bekerja menolak lamunan kecuali membiasakan berpikir dan bekerja saja dengan segala yang ia bisa.
Inilah nilai dari Revolusi Mental yang selama ini kudapat sepanjang berdiri di barisan anak bangsa yang acap dilecehkan sebagai "kecebong" hingga "IQ 200 sekolam". Nilai tentang bagaimana bekerja selaras dengan masa, zaman, dan kondisi kekinian. Bukan nilai yang hanya mengajak meratap dan mengeluhkan masa lalu dan takut masa depan. Nilai ini mengajak belajar dari masa lalu, mensyukuri hari ini, dan optimistis melihat masa depan.
Kemauan belajar, mental yang selalu bersyukur, hingga optimisme, memberikan banyak tenaga untuk kembali bekerja dan bekerja. Seraya berharap kelak negara ini pun dikagumi dunia, dan tak lagi diremehkan dengan status sebagai "negara dunia ketiga" sebab akhirnya bisa menjadi bagian negara kelas satu di pentas dunia.* (Zulfikar Akbar)

Read other related articles

Also read other articles

© Copyright 2019 TULARIN | All Right Reserved