Manahan Sitompul dan Karier Putra Pendeta dari Bandara hingga MK - TULARIN >

22 Juni 2019

Manahan Sitompul dan Karier Putra Pendeta dari Bandara hingga MK

Manahan Sitompul dan Karier Putra Pendeta dari Bandara hingga MK

Nama Manahan Malontinge Pardamean Sitompul menjadi salah satu nama yang belakangan semakin jadi perhatian publik. Dialah salah satu yang berada di jajaran hakim Mahkamah Konstitusi yang saat ini menangani sengketa pemilihan presiden (Pilpres) 2019.

Di luar gonjang-ganjing Pilpres, hakim yang juga anak seorang pendeta bernama Ds S.M.S Sitompul ini juga memiliki perjalanan yang menginspirasi. Berangkat dari keluarga dengan 10 bersaudara, banyak bergiat di kerohanian gereja, ia menuai buah karena kegigihannya.

Ia menginspirasi karena saat kuliah pun ia harus membiayai pendidikannya dengan tangannya sendiri. Manahan muda harus bekerja banting tulang agar dapat menempuh pendidikan, karena berangkat dari keluarga dengan 10 bersaudara, ia tak leluasa berharap orang tua bisa membiayai pendidikannya.

Maklum, anak kedua dari 10 bersaudara ini hanya mampu dibiayai ayahnya yang bekerja di jawatan agama hanya sampai Sekolah Menengah Atas. Setelahnya, ia harus berpikir sendiri bagaimana menempuh pendidikan, dan bisa mengejar kariernya.

Manahan mengawali kariernya dari dunia yang jauh dari profesi yang kini dijalaninya. Berawal dari kesempatan belajar Bahasa Inggris selama tiga bulan, berbekal sertifikat itu ia mendaftar di Lembaga Pendidikan Perhubungan Udara. Manahan diterima di Jurusan Flight Service Officer.

Selama dua tahun ia menjalani diklat di Curug, Tangerang, ia sempat bertugas di Unit Keselamatan Penerbangan di bandara lama di Kota Medan, Pelabuhan Udara Polonia, dengan status PNS Golongan II A, dengan ikatan dinas selama tiga tahun.

Ia tak menampik bahwa kesadaran melanjutkan pendidikan lebih jauh karena membaca kemungkinan bahwa akan sulit untuk kariernya berkembang jika hanya mengandalkan ijazah SMA. "Karier saya hanya akan mencapai Golongan III B bila hanya mengandalkan ijazah SMA dan FSO," katanya. "Maka timbul niat untuk kuliah, memperoleh ijazah S1 dan satu-satunya pilihan adalah Fakultas Hukum USU kelas karyawan."

Maka itu akhirnya ia melanjutkan kuliah dan harus mengatur waktunya. Selain, ia juga harus cermat untuk mengatur keuangan dengan gaji terbilang kecil untuk golongan dan pangkatnya saat itu sebagai PNS. "Akhirnya kuliah S1 bisa diselesaikan juga hingga 1982," kata pria kelahiran Tarutung 8 Desember 1953 tersebut.

Dari dunia yang berhubungan dengan penerbangan, akhirnya ia pun beralih ke dunia hukum. Pengadilan Negeri Kabanjahe, Sumatra Utara, menjadi tempat pertamanya bergelut dengan dunia hukum, dengan peran sebagai hakim pada 1986.

Sejak di sana, ia sudah berpindah tugas hingga ke beberapa tempat. Di sela-sela itu ia juga menyempatkan diri menjalani pendidikan S2, sampai kemudian dipercayakan sebagai Ketua PN Simalungun pada 2002.

Sekitar setahun di sana, ia lantas dipercayakan sebagai hakim di PN Pontianak, hingga diangkat sebagai Wakil Ketua PN Sragen pada 2005.

Baru pada 2007, ia kembali dipercayakan menjadi Ketua PN Cilacap. Tiga tahun kemudian, ia diangkat menjadi Hakim Tinggi PT Manado (2010), di samping ia juga mengajar di Universitas Negeri Manado, tepatnya di pascasarjana dan mengampu mata kuliah Hukum Administrasi Negara.

Namun pada 2012 ia kembali ke kota asalnya dan menjadi hakim di PT Medan. Selain, ia juga diminta kembali mengajar di Universitas Dharma Agung dan Universitas Panca Budi, untuk mengampu mata kuliah Hukum Kepailitan dan Hukum Ekonomi Pembangunan.

Sedangkan pada 2013, ia menjalani tes calon hakim agung, dan sempat gagal di tahap akhir fit and proper test di DPR RI.

Pada tahun itu juga, ia dipanggil ke Mahkamah Agung untuk menjalani fit and proper test kembali, hingga menjadi pimpinan Pengadilan Tinggi dan sempat ditempatkan sebagai Wakil Ketua Pengadilan Tinggi di Pangkalpinang, Bangka Belitung.

Baru kemudian pada 2015 ia menyasar hakim konstitusi. "Saya memberanikan diri untuk mengajukan diri sebagai hakim konstitusi," kenang Manahan. "Dan, ternyata lulus, untuk menggantikan senior saya, Bapak Alim."

Manahan menggantikan Muhammad Alim, hakim MK sebelumnya, yang memasuki purna jabatan pada April 2015. Maka itu ia pun dilantik di Istana Negara dan mengucapkan sumpah jabatan di depan Presiden Joko Widodo pada hari Selasa 28 April 2015.

Ia berterus terang bahwa tidak seluruh keluarganya bisa mencapai karier seperti dirinya. Bahkan dari 10 saudaranya, hanya tujuh di antaranya yang berhasil menjadi sarjana. Itu juga, menurut dia, karena orang tuanya menekankan prinsip yang kemudian menjadi pegangannya, yakni berdoa dan berusaha.***  (DBS)

Editor: Zulfikar Akbar

Read other related articles

Also read other articles

© Copyright 2019 TULARIN | All Right Reserved