Fenomena "Ustaz Dajjal" dan Keterbelakangan Kita - TULARIN >

13 Juni 2019

Fenomena "Ustaz Dajjal" dan Keterbelakangan Kita

Fenomena "Ustaz Dajjal" dan Keterbelakangan Kita


Sejak 20 tahun lalu, saya sendiri memang sudah begitu tertarik pada berbagai cerita seputar Dajjal. Berbagai buku seputar Dajjal, dan obrolan tentangnya, selalu saja menarik perhatian saya. Rupanya, setelah 20 tahun itu, orang-orang yang tergila-gila dengan isu ini semakin marak saja.

Kalau boleh saya sederhanakan, rupanya memang masih sangat banyak orang yang gemar melihat hari ini dengan kacamata masa lalu. Bahkan seorang "Ustaz Dajjal" naik daun dan menjadi buah bibir, karena getol berbicara tentang Dajjal, tanpa peduli itu berlawanan dengan dalil sebenarnya atau tidak.

Ia sama sekali tidak peduli apakah itu membawa kebaikan kepada umatnya atau tidak. Ia pun tidak menggubris apakah landasan pikirannya ketika membicarakan itu benar atau tidak. Sang Ustaz Dajjal ini hanya mengajak membayangkan bahwa ada orang bermata satu, pekerjaannya mendustai manusia dan menjauhkan manusia dari Tuhannya, dan itulah diangkat olehnya di mana-mana.

Ia sama sekali tidak menunjukkan "simbol" lain dari mata satu, yakni kecenderungan orang mudah tertipu jika hanya mau melihat satu sisi, dan malas untuk melihat dari berbagai sudut pandang. Ia tidak tergerak untuk menunjuk bahwa kesesatan yang melahirkan tindakan-tindakan konyol, cenderung lahir dari kebiasaan melihat dari satu sudut saja. Bahaya-bahaya semacam ini nyaris tidak pernah ia bicarakan.

Baginya, apa yang jauh lebih berbahaya dibandingkan kesempitan pikiran adalah orang akhir zaman yang bermata satu dan benar-benar punya satu mata saja, dan apa saja yang menunjukkan gambar mata satu.

Dalam Islam, konsep "Ittaqillaaha haitsuma kunta" atau takutlah hanya kepada Allah di mana saja, justru jadi bagian yang tidak digubris oleh Ustaz yang populer di media sosial tadi.

Hasilnya, alih-alih membantu umat takut kepada Allah; takut tidak bermanfaat, takut tidak membawa kebaikan, takut tidak mampu membawa misi ketuhanan untuk mengangkat derajat manusia dengan kemanusiaan, justru akhirnya dibuat takut hanya pada lambang segitiga.

Terbukti, belum lama "Ustaz Dajjal" ini dengan pongah hadir ke acara yang juga melibatkan Majelis Ulama Indonesia Jawa Barat. Ia berbicara panjang lebar dan berbusa-busa, dan jika diamati dengan kaca pembesar mungkin liurnya muncrat ke mana-mana, namun yang dibicarakannya hanya membenarkan penyesatan ia lakukan.

Ia pun berhasil membuat ribuan orang pendukungnya yang hadir di lokasi diskusi ini terkesima, bermuka tegang, dan terlihat waspada seolah mereka saat itu juga siap meluluhlantakkan Dajjal. Sementara kebanyakan yang hadir itu nyaris tidak menyadari jika apa yang diucapkan "Ustaz Dajjal" tadi justru membawa misi Dajjal itu sendiri; mengecoh manusia agar merasa paling benar tanpa menggubris benar tidaknya sudut pandang dan ilmu yang jadi pegangan atau acuan.

Ridwan Kamil (Emil), arsitek yang juga sekarang jadi gubernur di Jawa Barat, terlihat bersusah payah agar dapat berbicara dengan keilmuwannnya, dengan ilmu ia punya, dan berupaya menjelaskan duduk perkara sebenarnya. Bahkan ia menunjuk, jika persoalan segitiga saja dipersoalkan, banyak masjid di Indonesia hingga masjid di Madinah yang terkenal sebagai "Kota Nabi" pun memiliki simbol segitiga.

Ia mengajak waras. Ridwan Kamil mengajak melihat dengan ilmu, dan mengajak menatap realitas secara apa adanya, bukan lewat angan-angan. Namun suaranya memang tidak berapi-api seperti "Ustaz Dajjal" yang sudah memfitnahnya. Ia berbicara jelas namun tidak kencang.

Namun jamaknya kebenaran, seperti halnya nurani, suaranya memang acap lebih halus dan pelan dibandingkan suara ambisi dan nafsu yang seringkali menggebu-gebu. Suara Emil kalah lantang dibandingkan suara Sang Ustaz, dan ternyata sebagian besar yang datang lebih tergiur dengan suara mana yang lebih lantang. Bukan mencari kebenaran.

Ada kesan kuat, menyimak media sosial milik "Ustaz Dajjal" tadi, pengikutnya tidak membutuhkan kecerdasan, sebab bagi mereka tanpa itu saja sudah bisa mendapatkan ridha Tuhan. Mereka tidak membutuhkan pengetahuan yang benar, sebab tanpa itu saja sudah bisa membuat mereka merasa sangat dekat dengan Tuhan.

Inilah masalah dihadapi Ridwan Kamil walaupun ia sudah susah payah mengacu pada berbagai literatur dan landasan ilmu yang berkaitan langsung dengan bidang disorot: seni arsitektur, seni rancang merancang, dan simbol-simbol dalam dunia matematika dan sains. Di samping, ia pun tidak lupa mengutip landasan agama yang bersentuhan langsung dengan ilmu tersebut.

Lagi-lagi, suara Emil terlalu pelan. Sangat pelan. Seperti kebenaran nurani yang memang cenderung lebih pelan dibandingkan suara ambisi dan nafsu. Alhasil, setelah diskusi yang memakan waktu dan menjadi perhatian media dan publik nasional itu, justru semakin banyak yang menunjukkan keberpihakan kepada "Ustaz Dajjal".

Isi ceramah si Ustaz sudah begitu memesona mereka, seperti saya alami di masa lalu, 20 tahun silam. Terkesima, hingga membuat pikiran malas, enggan mencari referensi dan sudut pandang lainnya, persis saya alami dua dekade lalu itu.

Heran, keterbelakangan saya di masa lalu, justru dijadikan masa kini oleh orang-orang itu. Jika pikiran terbelakang seperti ini terus saja mendapatkan tempat dan semakin menarik perhatian, sulit saya bayangkan, kapan orang-orang di negeri ini mau melihat ke depan, memetakan kebutuhan umat manusia di masa depan, dan meskipun belum cukup berguna hari ini, kelak bisa berguna di masa depan.

Sebab, semakin banyak orang dibuat keasyikan dengan pikiran-pikiran tidak penting, atau pikiran yang pantas dikategorikan sebagai pikiran sampah. Padahal jelas, hanya aroma sampah yang dibawa bagi siapa saja yang bermain di tempat sampah. Begitu juga, hanya ada jejak sampah pada pikiran siapa saja yang membuang waktunya dengan pikiran-pikiran sampah.

Akhirnya di tengah pengaruh besar "Ustaz Dajjal" saya yang penuh dosa ini mencoba tetap berdoa, "Jangan sampai, Tuhan, sampah-sampah pikiran itu semakin menyampahi pikiran hamba-hamba-Mu. Sebab, neraka-neraka-Mu hanya untuk tempat membakar sampah. Merdekakan kami dari pikiran sampah, supaya bumimu tidak semakin sesak oleh sampah yang menghalangi kami menghirup aroma wangi tangan penuh kasih-Mu."***

Penulis: Zulfikar Akbar

Read other related articles

Also read other articles

© Copyright 2019 TULARIN | All Right Reserved