Studi Microsoft Tantang Indonesia Soal Kecerdasan Buatan dan Keamanan Siber - TULARIN >

17 Mei 2019

Studi Microsoft Tantang Indonesia Soal Kecerdasan Buatan dan Keamanan Siber

Studi Microsoft Tantang Indonesia Soal Kecerdasan Buatan dan Keamanan Siber

“Kemajuan teknologi dan inovasi-inovasi dalam manufaktur cerdas memberikan terobosan yang mengubah sistem untuk bisnis terkemuka di setiap sektor,” kata Scott Hunter, Regional Business Lead, Manufacturing, Microsoft Asia, April lalu. 

Scott berpandangan bahwa ada persoalan serius terkait dengan kejahatan siber. Pasalnya, kelompok penjahat siber terus mengintai.

Organisasi manufaktur menjadi salah satu sasaran. Pasalnya, mereka fokus pada peningkatan produk dan layanan berbasis data untuk membedakan diri mereka dalam ekonomi global.

Selain itu, ia juga melihat bahwa perusahaan-perusahaan tersebut membangun dan mempertahankan kepercayaan dalam ekosistem mitra dan pelanggan menjadi prioritas yang lebih besar.

“Pelaku kejahatan siber terus mencari peluang," Scott, menegaskan. "Sehingga semakin banyak pelaku bisnis yang memahami teknik dan cara kerja mereka, semakin siap mereka untuk membangun pertahanan dan merespon dengan cepat."

Menurut Scott lagi, membangun ketahanan organisasi dan mengurangi risiko dengan mengadopsi pendekatan keamanan yang mencakup pencegahan, deteksi, dan respons dapat membuat perbedaan besar dalam kesehatan keamanan siber secara keseluruhan dari organisasi manufaktur.

Di tengah kondisi itu, kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence, AI) diyakini berperan penting dalam organisasi manufaktur. Sebab mau tak mau, mereka semakin bergantung pada otomatisasi Machine Learning untuk meningkatkan efisiensi dan output berdasarkan skala.

Di sisi lain, juga dapat mengurangi biaya dan downtime melalui proteksi prediktif. AI  juga merupakan perangkat yang ampuh yang memungkinkan organisasi manufaktur mempertahankan diri terhadap serangan siber yang semakin canggih.

Itu merupakan temuan  dari sebuah penelitian yang juga bagian dari “Understanding the Cybersecurity Threat Landscape in Asia Pacific: Securing the Modern Enterprise in a Digital World” yang diterbitkan pada Mei 2018.

Studi ini mengungkapkan bahwa 67% organisasi manufaktur di Asia Pasifik telah mengadopsi atau sedang mempertimbangkan pendekatan berbasis AI  untuk meningkatkan prinsip langkah keamanan mereka.

Solusi keamanan siber yang digabungkan dengan AI dan Machine Learning dapat secara mandiri mempelajari perilaku normal untuk perangkat yang terhubung di jaringan organisasi. Selain itu, juga dapat dengan cepat mengidentifikasi ancaman dunia siber dalam skala melalui deteksi anomali perilaku.

Tim keamanan siber juga dapat menerapkan aturan yang memblokir atau mengarantina perangkat yang tidak berperilaku seperti yang diharapkan sebelum mereka berpotensi merusak lingkungan.

Mesin keamanan siber bertenaga AI  ini memungkinkan organisasi manufaktur untuk mengatasi salah satu tantangan keamanan terbesar dan paling kompleks saat mereka mengintegrasikan ribuan atau bahkan jutaan perangkat IoT ke dalam teknologi informasi (TI) dan lingkungan teknologi operasional (OT).

Studi bertajuk “Understanding the Cybersecurity Threat Landscape in Asia Pacific: Securing the Modern Enterprise in a Digital World” dilakukan lewat survei yang melibatkan 1,300 responden dari 13 negara.

Studi ini juga dilakukan di Australia, China, Hong Kong, Indonesia, India, Japan, Korea, Malaysia, New Zealand, Philippines, Singapore, Taiwan and Thailand. Menyasar responden dari kalangan pebisnis dan IT yang memiliki pengaruh dalam kebijakan digital, mencakup CEO, COO, dan direktur perusahaan, sebanyak 44 persen.

Selain itu, terdapat 56 persen dari pengambil kebijakan di bidang IT termasuk CIO, CISO, dan Direktur IT.  Di samping juga ada sebanyak 29 persen dari partisipan berasal dari perusahaan skala menengah, dan 71 persen dari perusahaan skala besar.

Tentu saja, studi itu sendiri menjadi sebuah temuan penting bagi Indonesia. Sebab, perhelatan Hannover Messe bertemakan “Driver of Industrial Transformation” baru-baru ini memang dapat dikatakan tonggak sejarah baru bagi Industri di Indonesia, terutama manufaktur.

Terlebih, Indonesia pun dinobatkan sebagai salah satu negara mitra Hannover Messe 2020. Dengan begitu, Indonesia menjadi negara pertama dari ASEAN yang menjadi mitra acara manufaktur tahunan di dunia tersebut.

Dengan mandat tersebut, tak pelak Indonesia dapat menjadikannya sebagai referensi untuk selekas mungkin menjalankan transformasi menyeluruh.

Terlebih lagi, di tengah potensi besar di ranah ekonomi digital, mau tak mau Indonesia perlu memberikan perhatian serius terhadap transformasi digital. Di sanalah, ancaman terhadap keamanan siber menjadi sebuah masalah serius yang menuntut perhatian serius.*** (TIM/DBS)

Editor: Zulfikar Akbar
Sumber Foto: LinkedIn, Gasworld.com

Read other related articles

Also read other articles

© Copyright 2019 TULARIN | All Right Reserved