Studi Microsoft, Ingatkan Soal Ancaman Siber atas Perusahaan Besar Asia Pasifik - TULARIN >

16 Mei 2019

Studi Microsoft, Ingatkan Soal Ancaman Siber atas Perusahaan Besar Asia Pasifik

Studi Microsoft, Ingatkan Soal Ancaman Siber atas Perusahaan Besar Asia Pasifik


- Lebih dari 50 persen organisasi manufaktur di Asia Pasifik pernah mengalami masalah keamanan siber. Parahnya lagi, bahkan ada di antaranya yang tidak mengetahui apakah mereka pernah menghadapi masalah kemanan siber. 
- Mendekati tiga dari lima organisasi (59%) menunda perjalanan transformasi digital karena khawatir dengan serangan siber. (Studi Microsoft dan Frost & Sullivan)

Studi Frost & Sullivan yang digagas oleh Microsoft menemukan berbagai potensi ancaman yang dapat terjadi dari serangan siber. Salah satu di antaranya, serangan siber dapat merugikan organisasi manufaktur berskala besar di Asia Pasifik dengan kerugian ekonomi rata-rata US$ 10,7 juta.

Tak hanya itu, pelanggan pun tak luput dari konsekuensi ekonomi terbesar dari pelanggaran siber. Pasalnya dapat menimbulkan kerugian tidak langsung senilai US$ 8,1 juta.

Maka itu, untuk organisasi manufaktur menengah, kerugian ekonomi senilai rata-rata US$ 38.000. Selain itu juga dilaporkan bahwa insiden keamanan siber juga menyebabkan hilangnya pekerjaan di berbagai fungsi di lebih dari tiga dari lima (63%) organisasi manufaktur.

Hasil studi itu juga melaporkan bahwa dampak dari kerentanan dan pelanggaran data dapat merugikan secara materi dan merusak organisasi manufaktur.

Tak hanya itu, fenomena itu juga berpengaruh terhadap rantai pasokan dan konsumennya.

Studi ini juga menemukan bahwa setengah (51%) dari organisasi manufaktur di Asia Pasifik telah mengalami insiden keamanan atau tidak yakin jika mereka pernah mengalami insiden keamanan karena mereka tidak melakukan penilaian forensik atau pelanggaran data yang tepat.

Hal lain yang juga terungkap dari studi tersebut adalah kurangnya antisipasi dari organisasi terkait. Pasalnya, alih-alih mempercepat transformasi digital untuk meningkatkan strategi keamanan siber untuk bertahan melawan serangan siber di masa depan, hampir tiga dari lima (59%) organisasi manufaktur di seluruh Asia Pasifik telah menunda kemajuan proyek transformasi digital karena khawatir akan serangan siber.

Menurut studi tersebut, sikap sebagian besar organisasi manufaktur yang menunda transformasi digital juga membawa dampak besar lainnya. Hal ini tidak hanya membatasi kemampuan organisasi manufaktur untuk bertahan melawan ancaman siber yang semakin canggih, tetapi juga mencegah mereka memanfaatkan teknologi canggih.

Sebut saja kecerdasan buatan (AI), komputasi awan (cloud computing), dan Internet of Things (IoT), serta secara signifikan meningkatkan produktivitas, memberdayakan tenaga kerja mereka dan membuka lini layanan baru.

Temuan ini adalah bagian dari “Understanding the Cybersecurity Threat Landscape in Asia Pacific: Securing the Modern Enterprise in a Digital World”  yang diterbitkan pada Mei 2018.

Pihak Microsoft melaporkan, bahwa temuan ini bertujuan untuk memberikan insights atau wawasan baru bagi pelaku usaha dan pengambil keputusan di sektor manufaktur. Terutama berkaitan dengan imbas ekonomi serangan siber dan untuk membantu mengidentifikasi celah dalam strategi keamanan siber mereka.

Studi awal menyurvei total 1.300 pengambil keputusan bisnis dan TI (Teknologi Informatika) mulai dari organisasi berskala menengah (250 hingga 499 karyawan) hingga organisasi berskala besar (> dari 500 karyawan), di mana 18% merupakan industri manufaktur.

Dalam menghitung imbas serangan siber, Frost & Sullivan menciptakan model kerugian ekonomi berdasarkan insight dari para responden. Model kerugian ini bergantung pada dua jenis kerugian yang bisa dihasilkan dari pelanggaran keamanan siber.

Kerugian langsung di antaranya adalah kerugian finansial terkait dengan insiden keamanan siber termasuk hilangnya produktivitas, denda, biaya perbaikan, dan lain-lain. Selain itu, kerugian tidak langsung mencakup biaya peluang organisasi seperti hilangnya pelanggan karena kerusakan reputasi.

 Kenny Yeo, Industry Principal, Cyber Security,  Frost & Sullivan membeberkan persoalan tersebut. Menurutnya, frekuensi dan tingkat keparahan serangan siber yang menargetkan organisasi manufaktur telah meningkat secara signifikan. Terutama, dalam beberapa tahun terakhir.

Menurut Kenny, ini mempertegas kebutuhan untuk melindungi volume data yang terus tumbuh, yang dihasilkan oleh dan diperuntukkan bagi organisasi manufaktur.  “Dengan mengintegrasikan keamanan ke dalam setiap proses digital dan perangkat fisik, organisasi manufaktur tidak hanya dapat mengurangi hilangnya kekayaan intelektual (IP) dan data pelanggan tetapi juga meminimalkan waktu henti (downtime) serta biaya perbaikan akibat dari serangan siber,” ujarnya, menegaskan.

Studi bertajuk “Understanding the Cybersecurity Threat Landscape in Asia Pacific: Securing the Modern Enterprise in a Digital World” dilakukan lewat survei yang melibatkan 1,300 responden dari 13 negara.

Studi ini juga dilakukan di Australia, China, Hong Kong, Indonesia, India, Japan, Korea, Malaysia, New Zealand, Philippines, Singapore, Taiwan and Thailand. Menyasar responden dari kalangan pebisnis dan IT yang memiliki pengaruh dalam kebijakan digital, mencakup CEO, COO, dan direktur perusahaan, sebanyak 44 persen.

Selain itu, terdapat 56 persen dari pengambil kebijakan di bidang IT termasuk CIO, CISO, dan Direktur IT.  Di samping juga ada sebanyak 29 persen dari partisipan berasal dari perusahaan skala menengah, dan 71 persen dari perusahaan skala besar.***



Read other related articles

Also read other articles

© Copyright 2019 TULARIN | All Right Reserved