Seorang Lelaki Tanpa Uban, Seabrek Cerita Literasi Seorang Maman - TULARIN >

31 Mei 2019

Seorang Lelaki Tanpa Uban, Seabrek Cerita Literasi Seorang Maman

Seorang Lelaki Tanpa Uban, Seabrek Cerita Literasi Seorang Maman

Ia sering wara-wiri di televisi. Juga, ia aktif di berbagai media sosial. Terkadang ia bisa hadir di acara lawakan, namun ia adalah figur yang termasuk sangat serius membahas soal-soal serius. Pun, dia mampu menemukan sisi humor dari setiap keadaan serius.

Dialah Maman Suherman, yang sekilas terlihat masih berusia 40-an. Entah karena ia rajin tertawa dan selalu menunjukkan wajah ceria, atau karena ia memang terbantu kondisi yang bebas dari uban!

Ya, lelaki kelahiran Makassar, 10 November 1965, memang terlihat lebih muda dari usia sebenarnya yang sudah melewati kepala lima. Bukan sekadar terlihat, namun memang isi pikirannya pun tidak kalah dengan dunia anak muda.

Dalam urusan canda tawa, ada sisi khas yang juga ia tampilkan. Ia lebih gemar menertawakan dirinya daripada menertawakan orang-orang. Bahkan orang-orang yang berseberangan politik dengannya pun, takkan ia tertawakan. "Ya, kalau misal di media sosial ada yang ngeyel, atau nyinyir, cukup diblok saja," katanya, enteng.

Ya, lulusan kriminologi dari Universitas Indonesia ini berbicara banyak hal seputar isu kekinian saat bukberan di lantai bawah Senayan City, Kamis (30/5/2019). Ia berbicara banyak seputar tren di media sosial, di dunia televisi, hingga perjalanannya dari kota ke kota di seluruh Tanah Air.

"Saya bermedia sosial itu juga untuk bisa berbagi terutama seputar literasi," kata sosok yang juga merupakan penulis aktif tersebut. "Saya lakukan itu lewat media sosial, dan tak cukup di situ, namun saya juga ke daerah-daerah karena inilah yang bisa saya lakukan untuk membantu perkembangan literasi."

Menurut dia, kenapa banyak masyarakat gemar berita-berita sensasional, hasutan, hingga hoaks, karena masih ada masalah literasi yang belum tertangani dengan cukup baik. Baginya, daripada menunggu, misalnya, hanya kepada pemerintah atau kepada orang lain, memilih terjun sendiri untuk menyampaikan pemahaman seputar literasi akan jauh lebih baik.

Maka itu, bagi dia, bergerak itu selalu menyehatkan. Dari rumah ia sudah membiasakan diri bergerak, setidaknya berjalan-jalan saat pagi hari. Sedangkan di luar rumah, ia juga gemar bergerak dari satu tempat ke tempat lain. Hal-hal inilah, menurutnya, membantu pikiran tetap bergerak, terasah, dan semakin terlatih.

Sebab, pikiran yang sehat adalah pikiran yang juga sering bekerja. Semakin ia aktif bergerak, maka pikiran akan bekerja dengan lebih baik. Dari sanalah, menurut pengakuannya, akan ada saja sisi baik yang bisa dibawa kepada banyak orang.

"Jangan tertumpu pada pikiran bahwa kita cuma manusia yang banyak salah dan kekurangan, lalu memilih tidak melakukan apa-apa," kata dia. "Justru karena kita manusia yang rentan salah dan keliru, perlu terus belajar melatih diri untuk lebih baik, dan hasil belajar ini kemudian bisa dibagi kepada banyak orang."

Itu juga alasannya saat mendapatkan tawaran beberapa televisi yang menjanjikan bayaran lumayan, tidak lantas diterima begitu saja. Ia lebih mempertimbangkan, ada kebaikan apa yang bisa dia sampaikan kepada publik. Jika ia tidak yakin ada hal baik yang bisa lahir dari sana, tidak segan-segan ia menolaknya. Sebab, menurutnya dalam mengambil keputusan tidak melulu harus mengacu pada seberapa besar bayaran didapatkan, tetapi seberapa besar kebaikan bisa ditularkan.

"Juga dalam berpolitik, sih," kata figur yang juga pernah menjadi pemimpin redaksi salah satu media di bawah Kompas Gramedia tersebut. "Ya, dalam berpolitik, saya tidak akan mau mengikuti begitu saja kebiasaan banyak orang dalam membahas atau berbicara politik. Saya berusaha, terlepas kecintaan besar terhadap satu sosok, misalnya, tetap menunjukkan dengan cara-cara tidak berlebihan."

Sebab, sikap-sikap seperti inilah, menurutnya, menjadi gambaran sejauh mana seseorang memiliki penguasaan yang baik terhadap literasi. Lantaran, kata dia, literasi bukan sekadar seberapa bagus seseorang dalam berkata-kata, tetapi bagaimana ia mengolah kata-kata dengan baik, menyampaikan dengan baik, dan ada kebaikan yang bisa lahir dari sana.

"Saya pun memberikan dukungan politik kepada kelompok tertentu, misalnya, sama sekali bukan karena dibayar. Itu murni karena pilihan sendiri," kata dia. "Saya merasa seseorang ini pantas didukung, jadi saya tunjukkan dukungan itu sewajarnya. Tidak perlu juga melecehkan atau menyerang siapa-siapa."


Ia juga menyayangkan pemandangan di media sosial, lantaran tak sedikit yang gemar menebar hawa negatif alih-alih melakukan sesuatu yang bermanfaat untuk banyak orang. Padahal media sosial itu adalah sebuah dunia yang tidak ada batasnya, dan berpotensi membawa kebaikan tidak terbatas. "Sayangnya ada saja yang bermedia sosial cuma untuk merusak. Semestinya merekatkan, bukan meretakkan. Seharusnya menyatukan, bukan memisahkan," kata dia lebih jauh.

Ia sempat menyebut beberapa tokoh politik, yang setiap tampil di media sosial, lebih sering memantik diskusi panas dan sumpah serapah alih-alih menebar semangat damai yang menyejukkan. Padahal, kata dia, banyak orang sudah lelah dengan keseharian dan kesibukannya, namun ada saja figur publik yang hanya gemar memantik perdebatan tidak penting.

Namun ia menegaskan selalu berusaha keras tidak larut dalam irama yang dibangun oleh banyak tokoh atau figur-figur ternama dalam interaksi media sosial. Ia lebih gemar menyesuaikan diri, dan tetap menunjukkan gayanya sendiri. Bukan untuk berpura-pura santun, namun tetap apa adanya, termasuk menegur ketika ada yang dinilai pantas ditegur.

Maka itu, ia berprinsip, lebih suka melakukan sesuatu berdasarkan inisiatif sendiri alih-alih hanya mengikuti dikte pihak-pihak tertentu. Sebab, dengan melakukan sesuatu dengan inisiatif, maka kita bisa bebas untuk bergerak sampai mana dan berhenti di mana. Ketika sesuatu dirasa berlebihan, ia bisa mengerem sendiri, dan ketika dinilai perlu bergerak lebih jauh, maka dapat kembali bergerak.
Maman (paling depan), Zulfikar Akbar (kiri) dan Aji Santoso dalam obrolan separuh malam

Dia juga menggarisbawahi, bahwa dirinya tetap saja manusia biasa yang ada kelemahan dan kekurangan. Namun melihat itu, ia mengajak melihat jujur saja pada diri masing-masing.

"Di tubuh kita saja ada bagian yang mendapatkan tempat teratas, atau sekadar di tengah, dan di bawah. Ketika menghadapi seseorang, sisi mana yang mau kita lihat? Sederhana saja," kata sosok yang akrab disapa dengan Kang Maman ini. "Jadi itu juga yang menjadi pegangan saya."

Termasuk dalam mendidik anak, ia memberikan contoh, Maman lebih gemar menerapkan pola didik yang lebih menghargai bakat anak. Saat ia berperan sebagai seorang ayah, ia takkan begitu saja memanjakan mereka. Ia ingin anak-anak tersebut mampu memahami kemauan sendiri dan belajar memenuhi keinginan itu.

Ketika akhirnya ia sudah melihat usaha keras sang anak, dan menilai memang masih ada yang perlu dibantu, barulah ia memberikan bantuan. Sebab, menurutnya, dengan cara inilah anak-anak akan terbiasa mengenali kekuatan sendiri dan menemukan kelebihan kekuatan mereka sebagai bekal menjadi seorang manusia.

Tentu saja, ada cerita panjang bersama pria yang juga pernah berkarier sebagai jurnalis ini. Namun saat jam menunjukkan pukul 22.00, ia minta pamit dan menenteng sekresek pizza untuk anak tercintanya. "Beginilah cara sederhana seorang ayah menunjukkan cinta kepada anaknya," kata dia seraya tersenyum, semringah.*





Read other related articles

Also read other articles

© Copyright 2019 TULARIN | All Right Reserved