Saat Kebun dan Sawah Menunggu Petani Muda Turun Tangan - TULARIN >

21 Mei 2019

Saat Kebun dan Sawah Menunggu Petani Muda Turun Tangan

Saat Kebun dan Sawah Menunggu Petani Muda Turun Tangan


Sawah dan kebun sempat dipandang sebagai tempat bekerja yang tidak bergengsi. Pekerjaan sebagai petani dan berkebun pernah dipandang sebagai profesi yang kurang "wah" dibandingkan pekerjaan lainnya. Belakangan, mulai terlihat adanya perubahan sudut pandang terhadap dua lahan kerja dan profesi ini.

Sudah mulai muncul kecenderungan bahwa sawah dan kebun pun merupakan lahan bekerja yang tidak kalah berkelas dibandingkan lahan kerja lainnya. Juga, kegiatan atau profesi sebagai petani dan pekebun pun tak kurang berharga dibandingkan profesi lainnya.

Tentu saja, perubahan positif ini pun tidak lepas dari perubahan pola pikir dalam melihat lahan pekerjaan. Di samping, ada juga pertemuan antara inisiatif di kalangan masyarakat, hingga kebijakan di tingkatan pemerintah.

Tak bisa ditampik, Kementerian Pertanian menjadi salah satu "sayap" pemerintah yang terbilang cukup berperan dalam perubahan sudut pandang tersebut. Kebijakan yang dilahirkan, hingga "campaign" yang dibangun, mampu mengukuhkan bahwa lahan kerja yang berhubungan dengan pertanian dan perkebunan memang tak kalah menjanjikan dibandingkan bidang pekerjaan lainnya.

Tak hanya itu, jika di masa lalu sempat bermunculan anggapan bahwa pertanian adalah profesi yang tertinggal, kuno, dan hanya diminati orang-orang desa, pun kini mulai berubah. Di samping para petani pun kian gencar menunjukkan bahwa mereka juga berhubungan dengan teknologi dalam pekerjaannya, pemerintah lewat Kementan pun mengukuhkan itu dengan berbagai kebijakan.

Kebijakan berupa mekanisasi pertanian pantas dilihat sebagai terobosan. Pasalnya, kebijakan ini kian meyakinkan dan mengukuhkan bahwa pertanian memang bukanlah pekerjaan yang identik dengan pekerjaan warisan baheula. Namun lahan kerja ini juga dapat menyelaraskan diri dengan zaman, dan perkembangan zaman pun masih sangat memperhitungkan sektor ini.

Ini juga terungkap lewat salah satu pejabat di Kementan dalam konferensi pers baru-baru ini. "Perlu mekanisasi pertanian. (Sebab langkah ini) mengubah pola mindset petani dari tradisional ke modern," kata Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian Kementan Sarwo Edhy.



Ia juga membeberkan fakta berdasarkan pengamatan di lapangan, apa saja yang menjadi pemicu sehingga--misalnya--kalangan muda enggan bersentuhan dengan profesi sebagai petani. Salah satunya adalah anggapan bahwa pekerjaan di sawah dan kebun hanya identik dengan kecenderungan kotor, bermain dengan tanah dan lumpur yang becek, hingga memaksa harus berpanas-panasan di bawah matahari.

Di masa lalu, hal-hal ini ditengarai menjadi bagian pemicu hingga terjadinya penyusutan tenaga kerja di ranah pertanian.

Belum lagi berkaitan dengan penghasilan yang didapatkan dari profesi sebagai petani, pun sempat dirasakan masyarakat terlalu kecil. Bahkan pernah ada masa di mana profesi petani sempat diyakini hanya dapat menjanjikan penghasilan yang pas-pasan. Ini juga menjadi pemicu lainnya, sehingga kalangan muda pun kurang memiliki dorongan untuk ikut terjun ke dunia pertanian.

Di sinilah pihak Kementan di bawah kepemimpinan Amran Sulaiman menunjukkan perhatian khusus agar realitas yang pernah ada tersebut dapat terjawab. Pemerintah menginginkan agar lahan kerja di bidang pertanian pun dapat dipandang setara dengan pekerjaan-pekerjaan berkelas lainnya.

Pengamatan atas realitas itu juga, diakui pihak Kementan, mendorong pemerintah untuk melahirkan kebijakan yang bisa mengubah sudut pandang negatif atas profesi petani. Mekanisasi pertanian menjadi salah satu terobosan yang lahir di era Menteri Amran.

Pihak Kementan pun meyakini bahwa langkah ini mampu memastikan regenerasi di ranah pertanian. Sebab, dengan begitu, pilihan profesi sebagai petani takkan lagi dipandang sebagai pilihan mereka yang tak punya pilihan. Kalangan muda bisa melirik profesi ini, dan terjun ke bidang pertanian, sehingga masalah penyusutan tenaga kerja di bidang tersebut pun dapat terjawab.

Ya, tampaknya regenerasi pertanian telah menjadi kata kunci yang menjadi pegangan Kementan era Amran Sulaiman. Mekanisasi pertanian, jika ditilik lebih dalam, lahir tidak lepas dari perhatian atas keniscayaan bahwa sektor pertanian memang membutuhkan regenerasi.

Di sisi lain, kalangan milenial, tentu saja menjadi tumpuan harapan. Maka itu, Kementan terbilang sangat gencar melakukan kampanye ke daerah-daerah, agar dapat memunculkan kesadaran baru bahwa bidang pertanian mesti menjadi lahan kerja yang dapat dipertahankan. Di samping, supaya kalangan muda pun teryakinkan bahwa sektor ini memang tak kalah menjanjikan dibandingkan sektor lainnya.

Di sisi lain, seperti juga dijelaskan Sarwo Edhy dalam konferensi pers baru-baru ini, keberadaan alat mesin pertanian (alsintan) pun secara kalkulasi ekonomi pun memang sangat membantu menekan biaya produksi.

Ia memberikan contoh sederhana jika melakukan pengolahan tanah dengan cangkul seperti yang jamak dikerjakan petani masa lalu. Cara ini, menurut dia, membutuhkan tenaga kerja hingga 30-40 orang. Belum lagi dalam hal waktu pengerjaan, pun membutuhkan hingga 400 jam dalam per hektarenya. Ditambah lagi biaya produksi, bisa menelan biaya sampai Rp 2,5 juta.

Mekanisasi pertanian membantu mempermudah sekaligus menekan biaya pengeluaran tersebut. Pasalnya, dengan cara menggunakan traktor, misalnya, maka tenaga yang dibutuhkan lebih sedikit, waktu kerja pun akan lebih hemat. Sebab dengan mesin traktor, lahan seluas satu hektare dapat dituntaskan dalam waktu sekitar 16 jam. Begitu juga dalam hal biaya, pun yang harus dikeluarkan hanya di kisaran Rp 1 juta.

Ia juga memberikan contoh lainnya berupa power weeder untuk penyiangan. Penggunaan mesin ini pun menguntungkan secara waktu dan pengeluaran biaya. Pasalnya, untuk menggarap lahan satu hektare, misalnya, cuma membutuhkan waktu antara 15 atau 27 jam setiap hektarenya. Juga secara biaya yang mesti dikeluarkan, hanya kisaran Rp 400 ribu.

Tentu saja, itu lebih hemat jika dibandingkan cara berupa penyiangan secara tradisional. Selain membutuhkan tenaga kerja sampai 20 orang untuk satu hektare, pun waktu yang dibutuhkan jauh lebih lama. Sebab, dalam satu hektare dapat menghabiskan waktu hingga 120 jam.

Sekarang, lebih jauh lagi, pertanian juga sudah memasuki tahap digitalisasi. Pasalnya, alat pertanian semisal traktor kini ada yang sudah dapat dikendalikan melalui remote control. Mengacu pada perkembangan itu juga, tak pelak, ranah pertanian bukanlah lahan kerja yang identik dengan ketertinggalan, namun juga mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman.

Maka itu, terobosan pemerintah melalui Kementan yang sejauh ini sudah mencatat bantuan sebanyak 350 ribu unit alat dan mesin pertanian, pantas diapresiasi. Pasalnya, dengan langkah ini, para petani dan kalangan muda pun dapat semakin teryakinkan bahwa ranah pertanian memiliki gengsi tersendiri.

Di samping, efisiensi yang dapat dilahirkan dari mekanisasi pertanian, pun dapat memacu kalangan muda untuk menumbuhkan ketertarikan terhadap pertanian. Terlebih, jika menelusuri apa saja alsintan yang jadi bantuan pemerintah mencakup traktor (roda dua dan roda empat), rice transplanter, cooper, cultivator, exavator, hand sprayer, pompa air, sampai dengan implemen alat tanam jagung.

Jika merunut ke belakang, Kementan sudah gencar melakukan kebijakan yang mendukung mekanisasi pertanian dari tahun 2015. Saat itu, Kementan telah menyalurkan 54.083 unit alat dan mesin pertanian.

Kemudian pada tahun 2016, Kementan pun sudah menyalurkan 148.832 unit alsintan. Sedangkan pada 2017 mencapai 82.560 unit. Teranyar, pada 2018 lalu, Kementan telah menyalurkan 112.560 unit alsintan ke berbagai pelosok Tanah Air.

Menurut Sarwo Edhy, selama ini, dalam penyaluran alsintan tersebut, pihaknya memberikan kepada kelompok tani hingga gabungan kelompok tani sampai dengan brigade alsintan.

Pengaruh Menteri Amran
Menteri Amran Sulaiman sendiri menunjukkan keyakinan besarnya bahwa langkah mekanisasi pertanian tersebut akan berdampak positif untuk pertanian masa depan Indonesia.

Melansir situs Kementan, menteri asal Makassar tersebut menegaskan bahwa mekanisasi pertanian takkan hanya dapat mengubah Tanah Air menjadi lebih baik, tetapi juga dapat mengubah dunia.

Pandangan tersebut sempat dicetuskan Menteri Amran saat berbicara di salah satu acara launching inovasi teknologi mekanisasi modern holtikultura, Agustus 2017 silam.

"Yang bisa mengubah Indonesia adalah peneliti. Yang bisa mengubah dunia adalah teknologi. Dan, yang bisa mengubah pertanian adalah mekanisasi," kata Mentan Amran, saat itu.

Terkait regenerasi pertanian, Amran pun menegaskan keyakinannya bahwa hal itu bukanlah hal mustahil dapat terjadi. Ia menggambarkan hal itu bahwa sekarang mulai banyak kalangan muda yang menjadi petani. "(Sebab) sambil bawa traktor pun bisa teleponan," katanya. "Jika pemuda bergerak, kita optimistis wujudkan Indonesia menjadi lumbung pangan dunia, dan merealisasikan nawacita yakni membangun negara dari pinggiran."

Mentan juga sempat bercerita bagaimana ia berusaha keras dapat memastikan bahwa pertanian Tanah Air dengan kemajuan zaman dapat saling menguatkan. Salah satu langkahnya adalah memastikan penelitian yang berhubungan dengan pertanian pun dapat gencar dilakukan.

Menurut catatannya, sebelumnya Indonesia hanya memiliki peneliti sebanyak 1.128 orang. Tugas mereka adalah bagaimana agar jangan sampai membiarkan impor alsintan masuk. Hasilnya, kini Indonesia mampu memproduksi sendiri traktor roda empat dan alat panen.

Amran menyebutkan jika di awal kedatangannya di kementerian yang kini dipimpinnya, ia sempat menemukan realitas di mana peneliti pun seakan merasa kehilangan harapan. Pasalnya, saat itu mereka yang sudah melahirkan teknologi luar biasa namun kurang mendapatkan perhatian layak.

Maka itu, ia berterus terang, bagaimana dirinya langsung bertindak, menyurati Kementerian Keuangan, dan meminta supaya para peneliti tersebut bisa mendapatkan royalti.

Dari sana, akhirnya pemerintah pun memberikan royalti kepada para peneliti tersebut, dan mereka mendapatkan Rp 3,5 miliar. Amran sendiri berharap agar para peneliti juga bisa mendapatkan royalti lebih banyak, dan dalam waktu dekat mereka bisa mendapatkan hingga Rp 100 miliar.

Menteri Amran menilai, peneliti bahkan pantas mendapatkan Rp 1 triliun. "Kalau perlu 1 triliun," kata dia. "Begitu caranya memajukan pertanian. Harus dengan mimpi besar."

Sosok lulusan Universitas Hasanuddin tersebut menegaskan optimismenya bahwa dengan langkah ini juga maka kalangan muda dapat terdorong untuk mau terjun ke sawah dan menjadi petani.

Menurutnya, ketika kalangan muda semakin banyak yang akrab dengan pertanian, maka masa depan pertanian pun akan menjanjikan. Di samping, peluang anak muda untuk tetap berkembang dan hidup layak pun dapat tercapai. Sebab, Amran menilai bahwa kalangan muda memiliki kelebihan khusus, karena mampu melahirkan inovasi dan terobosan baru.

Tak berlebihan jika belakangan sosok menteri tersebut dinilai oleh tokoh pertanian Tanah Air sebagai sosok revolusioner.

Melansir Okezone.com, pimpinan Kelompok Tani Nelayan Andalan yang juga tokoh tani nasional, Winarno Tohir, menegaskan keyakinannya bahwa Amran Sulaiman bisa membawa banyak perubahan.

"Sejak awal Pak Amran menjadi Mentan, saya sudah prediksi, Kementan pasti berubah," kata Winarno, Senin (21/5/2019). "Saya hanya melihat beliau sebagai sosok yang memiliki tekad dan keinginan keras, serta sangat memerhatikan kepentingan petani."

Satu sisi sangat dapat dimaklumi, lantaran menteri ini sendiri tercatat, sejak menempuh jenjang sarjana hingga doktoral, seluruhnya berkaitan dengan pertanian. Jauh sebelum menjadi menteri, ia juga pernah diganjar Tanda Kehormatan Satyalancana Pembangunan Bidang Wirausaha Pertanian dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, pada 2007 silam.

Tak pelak, saat Amran menjabat sebagai menteri pertanian ke-27 ini, ia terbilang sangat gencar melakukan terobosan demi terobosan yang berhubungan dengan pertanian.

Prestasinya pun sudah diperlihatkan sejak awal ia menjabat. Salah satu hasil menonjol adalah, dalam skala nasional, sejak 2015, pangan Indonesia mencatat inflasi paling rendah.

Ini terbilang sebagai "pekerjaan rumah" awal yang dilakukannya lantaran sebelum kedatangannya, persoalan pangan pernah menjadi masalah karena sektor pangan sempat mencatat inflasi tinggi, terutama periode 2013-14.

Jika pada 2014 inflasi mencapai 10,57 persen, per 2015, ia mampu menurunkan inflasi di sektor pangan hingga 4,93 persen. Bahkan pada 2017, Kementan mencatat sejarah karena mampu menurunkan inflasi hingga 1,26 persen.

Paling tidak dengan torehan-torehan ini semakin meyakinkan bahwa pertanian Indonesia memiliki potensi besar untuk berkembang. Bukan sekadar memiliki menteri berprestasi, namun juga dapat mengejawantahkan gairah berprestasi di lingkup pertanian Tanah Air. Bukan mustahil, kalangan muda yang kelak terjun ke ranah pertanian pun terpacu untuk berprestasi.*** (Z)

Editor: Zulfikar Akbar
Sumber Foto: bulelengkab.go.id, Kementan, Tribun Timur.

Read other related articles

Also read other articles

© Copyright 2019 TULARIN | All Right Reserved