Kivlan Zen dan Pesan Permusuhan untuk Demokrat - TULARIN >

11 Mei 2019

Kivlan Zen dan Pesan Permusuhan untuk Demokrat

Kivlan Zen dan Pesan Permusuhan untuk Demokrat


Nama Kivlan Zen terbilang semakin sering menghiasi berbagai media massa. Terutama di media daring, sosoknya terbilang terpampang hampir setiap hari. Pertanyaannya, sebagai mantan petinggi Tentara Nasional Indonesia, semangat apa yang ingin ia hadirkan?

Baru-baru ini, lagi-lagi ia mengundang kehebohan. Selain menyerang petahana Joko Widodo telah melakukan kecurangan di pemilihan presiden (Pilpres) 2019, ia juga menyerang kalangannya sendiri.

"Orang Demokrat enggak jelas kelaminnya. Susilo Bambang Yudhoyono enggak jelas kelaminnya," kata purnawirawan yang berpangkat terakhir sebagai mayor jenderal (bintang dua) tersebut.

Kalimatnya tersebut tak pelak menjadi viral, baik melalui video atau meme yang beredar di berbagai media termasuk media sosial.

Tentu saja, sikap Kivlan semakin memanaskan suasana. Jika sebelumnya suhu pasca-Pilpres memanas antara kubu Prabowo Subianto dan Joko Widodo saja, kini semakin membesar karena di dalam kubunya sendiri pun turut memanas.

Salah satu mantan petinggi, Agum Gumelar pun menunjukkan rasa gerahnya atas sikap Kivlan. "Tidak bisa dong dicaci maki seperti itu," katanya. "Jangan malah melampiaskannya dengan cara-cara di luar etika."

Publik tentu saja hanya dapat mengamati dari kejauhan, ada apa dengan elite-elite yang sebelumnya terlihat sangat kompak membela Prabowo. Tak terkecuali elite Demokrat, hingga pekan-pekan awal seusai Pilpres masih kencang menunjukkan pembelaan terhadap Prabowo.

Sebut saja Rachlan Nashidiq, Ferdinand Hutaean, atau Jansen Sitindaon, terbilang figur-figur kepercayaan SBY yang sangat militan membela Prabowo. Mereka hampir selalu tampil di berbagai media untuk menegaskan sikap Demokrat yang menginginkan kemenangan Prabowo.

Sayangnya, bagaimana pihak-pihak yang selama ini sangat dekat dengan Prabowo sendiri terlihat justru saling sikut di antara sesama kalangan sendiri. Kivlan menjadi simbol dari kekisruhan yang berkembang di internal pendukung capres bernomor 02 tersebut.

Tentu saja, dengan pemandangan ini, semakin merepotkan pihak Prabowo. Satu sisi mereka masih terus berupaya supaya diakui sebagai pemenang dengan apapun hasil hitungan Komisi Pemilihan Umum (KPU), di sisi lain mereka pun direpotkan oleh masalah internal.

Tidak berlebihan jika akhirnya publik justru mensyukuri bahwa Prabowo menelan kekalahan di Pilpres 2019. Pasalnya, dengan kekuasaan yang belum mereka raih saja, mereka gontok-gontokan dengan kalangan sendiri, bagaimana berharap mereka bisa memimpin negeri ini dengan damai jika saja sempat berkuasa.

Mungkin itu juga yang terbetik di benak Anda. Dan, itu tentu logis-logis saja. Sebab dari sana sangat tercium kentalnya persaingan hingga menjurus permusuhan di dalam kalangan mereka sendiri.

Apalagi, menurut pernyataan Kivlan sendiri, kondisi itu tidak terbangun begitu saja. Namun antara Prabowo dengan SBY sendiri sudah berseteru sejak lama. Keduanya bersaing ketat saat sama-sama masih di militer, "Dia (SBY) mau mencopot Prabowo supaya jangan menjadi presiden dengan gayanya segala macam," kata Kivlan.

Jadi, mari membayangkan, bagaimanakah negara ini jika jatuh ke tangan kalangan ini?

(Tim Redaksi)



Read other related articles

Also read other articles

© Copyright 2019 TULARIN | All Right Reserved