Keberadaan FPI: Berkah atau Musibah? - TULARIN >

09 Mei 2019

Keberadaan FPI: Berkah atau Musibah?

Keberadaan FPI: Berkah atau Musibah?

Sebenarnya ini adalah artikel tahun 2016, yang ditulis oleh Zulfikar Akbar di Kompasiana.com dengan judul asalnya Eksistensi FPI: Berkah atau Musibah? 
Belakangan tema seputar FPI masih bergema kencang, dan Tularin memutuskan untuk menayangkan artikel ini kembali di sini. Selamat membaca dan mencernanya.
Gerah. Itulah yang sejujurnya saya rasakan, setiap kali menyimak sepak terjang sebuah organisasi bernama garang; Front Pembela Islam. Terlebih ketika harus melihat wajah Habib Rizieq Shihab di berbagai media, yang seakan menitipkan pesan; jadilah pemarah maka berhadiah surga. 
Beberapa hari belakangan, mau tak mau, lagi-lagi harus menyaksikan wajah yang jauh dari ekspresi cerah sang imam besar organisasi tersebut.
Ia berteriak-teriak, memaki-maki, dan membentak-bentak, seolah ingin menegaskan, "Hei kalian, Tuhan sedang marah, dan saya sedang mewakili-Nya."
Ada kebingungan panjang, yang menjadi alasan saya juga ikut marah atas keberadaan organisasi tersebut. Kenapa mereka harus ada?
Lalu telusur punya telusur, saya dapati beberapa catatan, konon mereka lahir karena terpanggil oleh banyaknya pelanggaran Hak Asasi Manusia dan sebagian besar korbannya adalah masyarakat muslim. Konon lagi, adanya kemungkaran di mana-mana berikut kemaksiatan, memanggil mereka. Mereka merasa terpanggil.
Di sini saya terpikir, keterpanggilan itu nyaris tak berdampak apa-apa yang positif, entah untuk pendidikan publik atau sesuatu yang benar-benar bermanfaat.
Si Habib berdalih, media saja yang jarang mengangkat sisi lain mereka yang jauh dari marah-marah. Toh, di musibah tsunami di Aceh sampai Padang, mereka juga terjun dan berperan banyak membantu korban. Katakanlah itu benar, sejak 1998 mereka berdiri, apakah itu cukup untuk menunjukkan bahwa ini adalah sebuah organisasi yang baik dan dibutuhkan publik?
Saya tidak tahu, apakah sudah ada survei terkait apakah organisasi ini sebaiknya ada ataukah tidak? Atau, apakah keberadaan mereka memberikan lebih banyak manfaat atau tidak? Tapi jika mencermati bagaimana reaksi publik dari jejaring sosial, terlihat kesan kuat, tidak adanya mereka jauh lebih baik dibandingkan mereka ada.
Ini pendapat subjektif, mungkin iya, toh saya sedang beropini. Persoalannya, justru pada subjektivitas mereka yang terasa jauh lebih berbahaya, karena itu melibatkan lintas pribadi dan berkelompok.
Bagaimana tidak, sekarang, seperti apa arogansi yang mereka perlihatkan. Mereka terkesan mengangkangi aparat penegak hukum, tak hanya polisi, baru-baru ini lembaga pemberantasan korupsi (KPK) pun jadi sasaran makian mereka.
Pemandangan ini terang saja tidak elok. Selain tidak mendidik karena tentu saja aksi-aksi mereka terlihat oleh anak-anak dan remaja, tapi juga membodohi publik. 
Lihat saja, seperti apa mereka begitu haqqul yaqin justru pada prasangka mereka saja, berpijak pada data yang entah dari mana, dan meyakini data mereka jauh lebih kuat dibandingkan KPK. 
Aroma politis lebih tercium di sana. Sebab, aroma dari aktivitas mereka kali ini justru bagaimana mencoreng wajah pemimpin Jakarta saat ini, Basuki Tjahaja Purnama, dengan tuduhan maling, misalnya.
Sedangkan keputusan hukum sama sekali belum jatuh, palu hakim belum terketuk, apa yang melatarbelakangi mereka merasa lebih benar daripada para penegak hukum?
Itu hanya sekadar satu contoh keburukan dari organisasi yang dengan berat hati saya sebut sebagai "penjual" nama Islam hanya agar terlihat suci dan mampu membius masyarakat muslim yang mereka yakini masih bisa mereka recoki.
"Persoalannya, justru pada subjektivitas mereka yang terasa jauh lebih berbahaya, karena itu melibatkan lintas pribadi dan berkelompok."
Belum lagi dengan berbagai aksi lainnya, saat diskusi yang dibutuhkan untuk memperkaya akal pun mereka intervensi untuk ditutup dan dibubarkan. Ada kesan, mereka sudah bersusah payah berjuang untuk berdirinya negara bernama Indonesia ini, dan merasa berhak untuk menghalangi aktivitas kalangan yang dirasakan berlawanan pemikiran dengan mereka. Ini tragis.
Sementara bukan rahasia lagi, di dalam organisasi mereka sendiri, doktrin yang menjurus pada kebencian atas republik ini menjadi layaknya warisan. Alhasil, tak ada hormat atau apresiasi apa pun atas penyelenggara negara. Mereka merasa memiliki ruang yang takkan bisa dibendung oleh siapa pun.
Publik belum lupa, bagaimana arogannya sosok Rizieq menuding mendiang Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sebagai sosok yang tak mampu melihat.
"Dia buta mata dan dia buta hati," ucap Rizieq pada satu kesempatan, dalam sebuah kasus yang membuat ia berseteru dengan tokoh Nahdlatul Ulama tersebut.
Tidak peka. Inilah masalah yang dimiliki FPI, dan menjadi warisan sosok Rizieq sebagai imam di organisasi tersebut. Ketidakpekaan ini bisa dipastikan lebih menyedihkan dibandingkan masalah dialami tunanetra.
Sebab dampak dari ketidakpekaan itu justru sangat merusak, berawal dari rusaknya nalar, hingga rusaknya mental.
Tak heran, jika ditanya, manakah yang lebih banyak dilakukan FPI, memperbaiki atau merusak? Pilihan kedua jauh lebih tepat sebagai jawaban.
Andai mereka peka dan benar-benar berniat "membela Islam", kenapa mereka tak berusaha--misalnya--menggalang dana untuk membantu masyarakat miskin, memperbaiki rumah penduduk yang fakir, atau mencari tempat untuk para tunawisma, misalnya.
Bukankah membela kehidupan orang-orang yang tak berdaya itu jauh lebih berharga daripada sekadar mengikuti drama monoton berisi kemarahan untuk mengikuti "para pemesan".
Toh, masalah kemiskinan, misalnya, jauh lebih sering mendorong orang untuk melakukan kemungkaran, dari judi hingga menjual diri. Ironisnya, aksi yang mengarah ke sini, nyaris tak pernah terlihat sepanjang kehadiran FPI sejak bergulirnya reformasi. 
Yang terus saja mereka lakukan adalah pamer kekuatan dan jumlah massa, yang berhasil mereka jadikan robot dan bisa diarahkan sesuka siapa yang memegang remote. Di sinilah, FPI lebih terlihat sebagai Front Penista Islam, alih-alih disebut sebagai pembela. Sayangnya, sejauh ini, memang tak terlihat langkah nyata dari penguasa mengantisipasi organisasi ini.
Tidak heran, jika sosok Rizieq yang konon bergelar doktor tersebut bisa sesumbar bahwa Gus Dur yang pernah ingin membubarkan organisasinya, justru dalam hitungan bulan lengser dari kursi presiden. Sebab, ia merasa takkan ada yang berani mengadang langkah kakinya untuk misi yang hanya ia mengerti sendiri.
Di sinilah, kepongahan pemilik surban putih dan berisi kepala nan hitam tersebut kian melangit. Sekarang, yang dibutuhkan adalah sebuah langkah, untuk mengingatkannya agar tidak lupa bahwa ia masih di atas tanah dan kelak akan berada di balik tanah.***

Read other related articles

Also read other articles

© Copyright 2019 TULARIN | All Right Reserved