John McCain dan Seni Menerima Kenyataan dari Negeri Paman Sam - TULARIN >

17 Mei 2019

John McCain dan Seni Menerima Kenyataan dari Negeri Paman Sam

John McCain dan Seni Menerima Kenyataan dari Negeri Paman Sam


"My friends, we have -- we have come to the end of a long journey. The American people have spoken, and they have spoken clearly."

Itulah kata-kata yang disampaikan oleh John McCain di awal pidato konsesinya ketika penghitungan suara pada pemilu presiden Amerika Serikat belum berakhir, namun kekalahan dirinya sudah dapat dipastikan. 

Sikap ksatria dari seorang kandidat yang luar biasa, seorang politisi senior yang telah melayani publik Amerika sebagai congressman dan senator selama 22 tahun, seorang pahlawan perang (yang dibuktikan dengan luka dan 'cacat' akibat pertempuran dan penyiksaan pada masa ia menjadi tawanan perang Vietnam selama 6 tahun). 

Rakyat telah 'bersuara' dan mereka telah 'bersuara dengan sangat jelas'. Detik ketika John McCain menyampaikan ini, penghitungan menunjukkan Obama unggul dengan 333 electoral votes sedangkan McCain mengantongi 146 electoral votes. 

Statement tersebut apabila dipahami adalah sebuah 'penghargaan' lebih untuk rakyat pemilih Obama ketimbang 'penghargaan' untuk Obama sendiri

"A little while ago, I had the honor of calling Sen. Barack Obama to congratulate him. To congratulate him on being elected the next president of the country that we both love."

Selanjutnya McCain mengatakan bahwa dia telah menghubungi Obama via telepon untuk mengucapkan selamat. Mengucapkan selamat pada pesaingnya yang memiliki satu kesamaan dengan dirinya: "sama-sama mencintai negerinya"

Menyimak pernyataan-pernyataan McCain, akhirnya membuat siapa saja bersimpati atas kebesaran hatinya. 

Seorang yang bisa dibilang jauh lebih senior dari Obama, seorang yang jauh telah lebih banyak berbuat bagi bangsanya daripada seorang Obama. Namun, 'tunduk' pada sistem Demokrasi yang telah disepakati bersama di negerinya. 

Bahwa pada akhirnya ketika rakyat telah 'berbicara', itulah saatnya kandidat yang kalah harus menerimanya dengan lapang dada. Katakanlah itu bukan untuk mengaku kalah, namun untuk menerima kenyataan yang terjadi melalui proses yang telah disepakati bersama. 

Pidato Konsesi bukanlah untuk memberikan penghargaan pada kandidat seterunya namun lebih untuk mayoritas rakyat yang telah memberikan suaranya dalam pemilihan di negerinya.

McCain memang telah berpulang pada 25 Agustus 2018, namun setelah kematiannya, ada pesan penting yang tidak akan mati darinya: tentang bagaimana mencintai negara dan menghargai rakyat bahkan ketika Anda tidak meraih kekuasaan.

Suatu hari, akan lebih baik tidak lama lagi, cukuplah satu kali pemilu lagi... ketika rakyat telah 'berbicara', para kandidat dengan ikhlas menerima kenyataan.***


Penulis: Cyril Raoul Hakim
Pemerhati Politik




Read other related articles

Also read other articles

© Copyright 2019 TULARIN | All Right Reserved