Dolfina Mansnembra dari Papua Belajar Ilmu Laser ke Jerman - TULARIN >

14 Mei 2019

Dolfina Mansnembra dari Papua Belajar Ilmu Laser ke Jerman

Dolfina Mansnembra dari Papua Belajar Ilmu Laser ke Jerman


Dolfina Mansnembra menjadi salah satu gadis yang mampu membuktikan, perempuan asal Papua tidaklah kalah dibandingkan perempuan Nusantara lainnya. Berasal dari Biak, ia kini menempuh pendidikan di Jerman, dengan jurusan yang juga tidak biasa, yakni teknik laser di Fachhochschule  Munster.

Ia istimewa tidak hanya karena menempuh pendidikan di negara maju Eropa seperti Jerman. Namun jurusan pendidikan ia tempuh pun memperlihatkan keistimewaan tersebut. Lantaran, jurusan teknik laser yang diambilnya adalah jurusan yang saat ini masih identik dengan disiplin ilmu yang lebih banyak diminati kalangan pria.

Tak hanya itu, jurusan yang diambil oleh Dolfina pun belum ada di Tanah Air. Bahkan di Jerman, di antara teman seangkatan dengannya, hanya Dolfina yang mewakili kalangan perempuan asing yang belajar di jurusan tersebut.

Melansir Deutsche Welle, Dolfina sempat berkisah kenapa ia tertarik memilih jurusan teknik laser. "Karena teknik laser adalah jurusan yang berkembang dan belum banyak peminatnya," kata dia.

Alasan lain yang juga ia ungkapkan adalah di jurusan yang ia ambil tersebut ada kesempatan baginya untuk belajar tentang dasar dari teknik elektro dan teknik informatik. Lebih jauh lagi, ia juga meyakini jurusan diambilnya ini juga lebih menjanjikan peluang kerja lebih baik baginya.

Ya, teknik laser memang masih menjadi jurusan yang terbilang baru dan masih berkembang. Namun teknik ini juga diyakininya memiliki manfaat besar untuk kehidupan umat manusia. Terutama di bidang kesehatan, kata dia, keberadaan laser bisa membantu, misalnya, untuk memperbaiki retina mata bagi orang yang bermasalah dengan mata. "Ini yang biasanya kita kenal dengan nama operasi lasik," Dolfina menjelaskan.

"Dalam bidang industri, dapat digunakan untuk proses pengelasan dan pemotongan lempengan baja," katanya lebih jauh.

Di luar itu, dia juga bercerita tentang tantangan apa saja yang selama ini dihadapinya sepanjang belajar di jurusan tersebut di Jerman. Ia tak menampik, salah satu tantangan itu ialah membiasakan untuk bergaul dengan para mahasiswa dari kalangan pria.

"Saya harus membiasakan diri untuk berbaur dengan teman-teman pria," katanya, lantaran dirinya memang satu-satunya mahasiswi di jurusan teknik laser. "Selain itu juga, saya harus aktif mencari tahu informasi terbaru dan mengutak-atik alat-penelitian."

Selain itu, kata Dolfina, ia pun harus rajin mengikuti perkembangan teknologi dan berbagai hal terkait, yang biasanya dilakukan mahasiswa pria. Sebab, menurutnya, cuma dengan cara itulah ia dapat mengimbangi mereka pada saat di laboratorium untuk melakukan kerja kelompok.

Salah satu temannya, Muhamad Yunus, yang juga berasal dari Indonesia pun menunjukkan kekagumannya terhadap sosok Dolfina. Sebab, menurutnya, jangankan di Indonesia, di Eropa saja tak banyak perempuan yang memilih jurusan teknik, sebab biasanya lebih banyak memilih jurusan semisal bisnis.

"Jadi, ini keren, sih," kata Yunus. "Soalnya yang saya lihat, itu di luar negeri, memang sedikit ada anak perempuan yang masuk teknik."

Kini, telah lima tahun Dolfina menjalani pendidikan di Jerman. Tak ayal, ada seabrek pengalaman tidak terlupakan sepanjang dirinya berada di negara tersebut. Terlebih lagi, dalam pergaulan sehari-hari dirinya lebih banyak harus berkutat dengan mahasiswa dari kalangan warga Jerman asli, dan hanya sesekali mendapatkan kesempatan bersua mahasiswa dari Tanah Air.

Ia mengakui banyak hal tak terlupakan sepanjang di Jerman, salah satunya saat sedang menjalankan praktik sendirian di laboratorium. Ini dijalaninya tidaklah singkat, melainkan hingga satu semester.

"Ya, ketika saya harus praktik di laboratorium sendirian selama satu semester, ini adalah pengalaman pertama buat saya, karena (biasanya) saya selalu praktik dalam kelompok kecil, dua atau tiga orang," cerita Dolfina.

Namun pengalaman melakukan praktik sendirian tersebut, menurutnya, semakin membantunya lebih bisa memahami yang dilakukannya. Itu juga tidak lepas dari keberadaan pendamping yang juga pembimbing laboratorium yang menemaninya.

"Saya didampingi pembimbing lab yang sangat baik," katanya, seraya juga menyebut bahwa andil teman-temannya yang ringan tangan membantunya pun sangat memudahkan dirinya untuk membuat laporan.

Namun ia tidak hanya berkutat dengan pendidikannya, melainkan juga aktif dalam komunitas-komunitas mahasiswa asal Indonesia di waktu luangnya. Termasuk dalam perayaan hari besar agama, ia jadi bagian yang turut hadir termasuk saat perayaan Lebaran. "Muslim dan nonmuslim bisa sama-sama berkumpul merayakan Lebaran. Ini sekaligus menjadi ajang silaturahmi juga antarumat beragama," katanya.

Di Jerman, Dolfina juga mendapatkan kesempatan bertemu dengan B.J Habibie dan itu terasakan olehnya sebagai sebuah pengalaman istimewa. Pasalnya, sosok Habibie, mantan presiden Indonesia, juga mengawali kariernya di kancah internasional sejak menjalani pendidikan di Jerman. Bagi Dolfina, Habibie adalah figur yang menginspirasi baginya.

Selain itu, dalam lima tahun menjalani pendidikan di Jerman, ada banyak hal yang sebelumnya tidak ia dapatkan di Tanah Air, bisa ia dapatkan di sana. Ia bisa belajar dan berinteraksi dengan bahasa Jerman dengan penutur aslinya. Ia juga merasakan di Jerman sangat membantu pembentukan karakternya.

"Saya mendapat kesempatan untuk membentuk karakter saya menjadi lebih mandiri dan tidak mudah putus asa," katanya lagi.

Namun dari semua kesan itu, hal paling membanggakannya adalah bisa belajar di jurusan yang belum ada di Indonesia. Di samping, ia juga dapat dengan leluasa memanfaatkan laboratorium di kampusnya, dengan fasilitas yang tentu saja paling mutakhir, selain juga lengkap.

Dalam kebanggaan dan kesempatan istimewa yang ia dapatkan, Dolfina menegaskan bahwa Papua tetap menjadi tanah paling dirindukannya. Maka itu saat ditanyakan rencananya dalam lima tahun ke depan, ia mengatakan bahwa setelah menyelesaikan kuliahnya, ia ingin pulang ke Papua.

Dolfina ingin dapat membagikan ilmu dan motivasi yang sudah ia timba di Jerman, agar dapat menular kepada anak-anak Papua lainnya. Di samping, ia pun ingin bisa memanfaatkan ilmu di tempat kerja, di perusahaan laser. *** (TIM)

Editor: Zulfikar Akbar
Foto: Deutsche Welle

Read other related articles

Also read other articles

© Copyright 2019 TULARIN | All Right Reserved