Bulan Mei, Opera Clara dan Nasib Gadis Tionghoa yang Diperkosa - TULARIN >

16 Mei 2019

Bulan Mei, Opera Clara dan Nasib Gadis Tionghoa yang Diperkosa

Bulan Mei, Opera Clara dan Nasib Gadis Tionghoa yang Diperkosa

"Saya mau beranjak, tapi tiba-tiba selangkangan saya terasa sangat perih. Bagaikan ada tombak dihunjamkan di antara kedua paha saya. O, betapa pedihnya hati saya tidak bisa saya ungkapkan." - (Clara atawa Wanita yang Diperkosa, cerpen Seno Gumira Ajidarma)
***
Bulan Mei berisikan banyak cerita indah bagi banyak orang. Namun bulan Mei juga menjadi bagian kenangan menakutkan bagi banyak orang lainnya. Sebab, bulan Mei melempar ingatan banyak orang ke tahun 1998, kala sebagian aktivis sibuk melengserkan Soeharto, sebagian penghuni negeri ini harus menghadapi sekian cerita ngeri.

Dalam pertarungan realitas itu juga, seni dan kemanusiaan acap saling menguatkan. Ini juga yang acap ditunjukkan oleh banyak seniman. Tak terkecuali Ananda Sukarlan, pianis kawakan yang pernah turut berperan penting dalam kelahiran Opera Clara pada 2014 lalu.

Opera Clara dapat dikatakan sebagai opera yang mewakili sebuah isu penting yang berkaitan dengan kemanusiaan, spesifik terkait perempuan. Sebab di sanalah para seniman mengemas cerita tentang pukulan hebat dalam hidup seorang perempuan Tionghoa, korban pemerkosaan di bulan Mei 1998, lewat sentuhan rasa kemanusiaan yang dipoles dengan seni.

Ananda Sukarlan sendiri menjadi komponis dan juga dirigen di pertunjukan tersebut. Dari sana ia terlihat berusaha menguatkan bahwa pukulan drum, denting-denting piano, hingga cello, mewakili gemuruh rasa para perempuan yang harus menjalani hidup setelah diperkosa.

Patut dicatat, opera itu sendiri memang lahir dari cerita pendek karya Seno Gumira Ajidarma, "Clara atawa Wanita yang Diperkosa." Cerpen itu cukup menggambarkan bagaimana perasaan aparat negara kala itu yang kebingungan memilih jadi manusia atau serigala yang memamah siapa saja. Juga, tentu saja, cukup menggambarkan bagaimana keadaan mereka yang sering dipandang sebagai masyarakat kelas dua, nonpribumi, dan minoritas.

"Sialan! Mata lu sipit begitu ngaku-ngaku orang Indonesia!"
"Cina kan tidak punya agama!"
Huh! Pacarnya orang Jawa!"
"Diem lu cina!" Rok saya sudah lolos. 

Ya, itu adalah petikan-petikan keberingasan yang dituangkan Seno Gumira Ajidarma dalam cerpen Clara-nya. Mewakili bagaimana kalangan Tionghoa dipandang oleh sebagian kalangan yang mengklaim diri sebagai pribumi, juga bagaimana sudut pandang mereka dalam melihat etnis berbeda.

Mereka yang merasa pribumi merasa lebih beragama, dan mereka menganggap wajar jika kalangan yang mereka pandang tidak beragama--atau tidak seagamis mereka--jadi sasaran perlakuan paling memukul harkat perempuan: pemerkosaan.

Dalam Opera Clara, Ananda Sukarlan bersama para seniman lainnya berusaha mengemas realitas lewat musikalitas dan pertunjukan gerak dan bahasa tubuh pemeran di atas panggung.

Cerpen Seno Gumira Ajidarma jadi pilihan, menurut Ananda karena memang sangat mewakili realitas yang turut jadi bagian cerita reformasi yang sempat disambut dengan euforia pada satu masa. Bagi Ananda, lewat opera inilah, apa yang terasakan oleh perempuan dan tak dapat terwakilkan oleh kata-kata, dapat diwakili dengan musik.

"Lewat musik, saya mencoba mengekspresikan sesuatu yang tak bisa diekspresikan dengan kata-kata," kata pianis kelahiran 10 Juni 1968 tersebut. "Jadi, maknanya lebih mendalam, walaupun sebenarnya sudah ada bukunya--yang bercerita tentang tragedi yang menimpa perempuan Tionghoa pada Mei 1998."


Lewat opera itulah Ananda dan kawan-kawannya bercerita tentang keperihan dirasakan oleh Clara dan perempuan-perempuan tak berdosa yang jadi sasaran serigala yang datang entah dari mana.

Di opera itu juga, banyak penonton dan jurnalis yang mengikutinya dapat lebih dalam merasakan apa sesungguhnya yang ada di pikiran perempuan yang pernah diperkosa. Ada ekspresi-ekspresi keperihan, kegetiran, ketakutan, ketidakberdayaan, perasaan hancur, yang coba diwakilkan lewat sebuah opera.

Terlebih, Isyana Saraswati yang saat itu terbilang pendatang baru di kancah seni nasional, turut jadi bagian sebagai pemeran. Wajahnya yang oriental, berikut ekspresinya yang berisikan keluguan, turut jadi bagian penting yang menguatkan cerita yang dialirkan lewat opera tersebut.

Jika dalam cerpen Seno Gumira Ajidarma semua itu diwakilkan lewat kata-kata dengan narasi yang menyentuh imajinasi, dalam opera ini semua luka dialirkan dalam musik, nyanyian, dan serentetan gerakan.

Tentu saja, opera seperti ini tentu saja bukan sekadar pagelaran untuk menghibur saja. Bukan hanya untuk menguatkan mereka yang pernah terpukul oleh realitas di masa lalu. Namun juga untuk memastikan hal itu tidak dihapus begitu saja, seolah tidak pernah terjadi, hingga mereka yang mencari keadilan pun tak dapat berharap banyak lagi.

Ada pesan kuat dari opera ini agar negara pun turun tangan, menyentuh mereka yang tak tersentuh, menguatkan mereka yang sempat merasa langit benar-benar runtuh. Bagaimana tidak, saat itu, mereka yang jadi bagian dari masyarakat Tionghoa benar-benar sempat diposisikan sebagai musuh, diburu, dijarah, hingga anak-anak perempuan mereka diperkosa.

Mereka hampir tidak tahu, ke mana lagi harus berharap ketika negara saat itu pun tak terlihat mampu melindungi mereka, sedangkan sesama masyarakat biasa pun saling menggilas dan merampas: kehormatan, kehidupan, segalanya.

Jadi, opera yang disutradarai Chendra Panatan ini, memang sangat pantas mendapatkan penghargaan. Majalah Tempo mengganjar Opera Clara dengan Best Performance Art of Indonesia 2014. Sebuah penghargaan yang mewakili sebuah dedikasi berharga, agar perempuan tetap mendapatkan tempat terhormatnya. Supaya keberpihakan kepada mereka dan apa saja suara mereka tetap didengarkan.

Ananda Sukarlan baru-baru ini sempat berterus terang, ingin dapat kembali menyuarakan realitas itu kembali. Seperti saat ia membicarakan perempuan Tionghoa lewat Opera Clara. "Sayangnya, karena terlalu dekat dengan Pilpres, rencana mengadakan hal serupa tidak dapat terlaksana," kata pianis tersebut.

Bukan untuk membangkitkan luka lama. Namun bagaimana supaya perhatian terhadap perempuan korban perkosaan, masyarakat yang terdiskriminasi, dan sudut pandang-sudut pandang diskriminatif yang melazimkan kezaliman, dapat terhapuskan.*** (TIM)

Editor: Zulfikar Akbar
Sumber Foto: The Scribbles

Read other related articles

Also read other articles

© Copyright 2019 TULARIN | All Right Reserved