Saat Anies Dihantui Ahok - TULARIN >

27 April 2019

Saat Anies Dihantui Ahok

Saat Anies Dihantui Ahok


Saat cerita banjir juga membanjiri berbagai media, saya mencoba mereka-reka, apa saja kira-kira yang muncul di pikiran Anies Baswedan yang kini telah menjadi penguasa Jakarta. Apakah ia sepenuhnya memikirkan bagaimana menanggulangi banjir?

Saya pikir, sedikit banyaknya, pikiran sang gubernur juga diselingi dengan mengeja nama Basuki Tjahaja Purnama. Bukan apa-apa, melainkan karena di tengah banyaknya berita dan laporan seputar banjir, di mana-mana orang berbicara tentang pendahulunya yang dikenal dengan Ahok tersebut.

Meskipun begitu, saya juga terpikir, jangan-jangan saya saja yang terlalu mengada-ada. Ngapain seorang Anies mengingat-ingat Ahok? Namun jika melihat lagi bahwa pemimpin adalah cerminan warga, tampaknya tetap memungkinkan pikiran seorang Anies dihantui oleh Ahok.

Kok dihantui? Kayak cerita film misteri saja.

Ahok memang dapat dikatakan seperti orang yang sudah terbunuh. Tidak saja kursinya di balai kota telah dikuasai Anies, tetapi namanya pun sudah dicabik-cabik oleh Anies dan para pendukungnya. Bahkan alih-alih mengingat apa saja yang sudah dilakukan oleh Ahok, banyak dari pendukung Anies getol menjulukinya sebagai penista agama.

Ini juga yang bikin saya tadi pagi sempat nyeletuk. Karena alasan seiman, saat bekerja lebih buruk pun tetap dianggap lebih baik. Sementara yang tak seiman, meskipun bekerja lebih baik, tetap dianggap buruk.

Celetukan itu, seperti biasa, cuma kutumpahkan di akun twitter saja. Sebab selama ini, akun twitter itu bagiku sudah seperti legislatif paling terpercaya. Ia bisa menyampaikan suatu suara kepada siapa saja, jika tidak sampai kepada penguasa, setidaknya bisa sampai kepada sesama orang biasa.

Setidaknya, celetukan-celetukan begitu bisa menjadi pengingat bagi sesama orang biasa. Sebab memang ada banyak hal yang juga biasa terjadi, disikapi biasa-biasa saja. Termasuk Jakarta, pun menjadi korban karena hal-hal biasa, hingga akhirnya jatuh ke tangan penguasa yang terbilang biasa-biasa saja.

Apa langkah luar biasa yang sudah dilakukan Anies dan pejabatnya, terutama terkait dengan banjir yang biasa terjadi? Tidak hanya saya, tetapi Anies sendiri rasanya juga bingung menunjukkan mana aksi luar biasa sudah ia lakukan sejak berkuasa.

Toh, cibiran yang pernah ia lempar kepada Ahok, misalnya, bahwa dia tidak mampu menangani Jakarta, akhirnya justru terlihat lebih tegas ketika Anies sendiri berkuasa. Jika dulu Ahok masih menyisakan beberapa titik, di masa Anies justru semakin banyak kawasan Jakarta yang terendam banjir.

Tak berlebihan jika di tengah banjir Jakarta juga banjir lelucon di lini masa. Bahkan ada yang membuat meme, bahwa di masa Ahok ada beberapa titik banjir yang tidak sepenuhnya tertangani. Sedangkan di masa Anies hanya satu titik saja.

Satu titik dimaksud tentu saja hanyalah canda. Sebab itu justru menunjuk bahwa banjir sudah mendera se-Jakarta, tidak lagi hanya beberapa titik.

Tidak berlebihan juga jika akhirnya warga pun akhirnya cuma bisa bernostalgia. Seperti cerita tentang warga yang bernama Roni, seorang warga yang berdomisili di RT 1 RW 7 Kelurahan Bangka, yang terkesan meratapi kenapa Jakarta mesti memiliki pemimpin seperti saat ini.

Keluhan warga ini bahkan turut diangkat oleh CNN Indonesia dalam salah satu beritanya. Warga bernama Roni ini punya kemampuan menyelesaikan masalah secara lebih gamblang.

Ahok biasa langsung terjun ke lapangan, membenahi masalah drainase saat banjir tiba. Ia memastikan pompa air bekerja, gorong-gorong dibersihkan jauh-jauh hari menjelang musim hujan, hingga mengeruk Kali Krukut.

Menurut warga ini, terlepas air juga acap menggenangi rumahnya, namun tidak separah sebelumnya. Biasanya, banjir di lokasi kediamannya bisa setinggi atap rumah. "Dulu bisa hampir kelelep, jalanan di depan saja nggak bisa dilewati," cerita Roni, seperti dilansir CNN Indonesia. "Pas Ahok jadi gubernur (banjirnya) berkurang. Di rumah juga (banjirnya) berkurang banget, cuma becek-becek saja."

Roni menjadi salah satu warga yang menyayangkan fakta akhirnya bahwa Ahok tak lagi bisa memimpin Jakarta. Hasutan demi hasutan yang muncul dari pemburu kekuasaan, membuat Ahok terdepak, tak dapat lagi bekerja seperti biasanya.

Sekarang, Jakarta pun kembali biasa saja. Biasa banjir, biasa macet, biasa kumuh, biasa lusuh, dan Anies pun biasa berbicara saja, menghibur hati warganya. Apakah warga benar-benar terhibur? Tidak tahu juga.

Penulis:
Zulfikar Akbar


Read other related articles

Also read other articles

© Copyright 2019 TULARIN | All Right Reserved