Pemilu Berakhir Pilu: Lebih 100 Petugas Meninggal Dunia - TULARIN >

25 April 2019

Pemilu Berakhir Pilu: Lebih 100 Petugas Meninggal Dunia

Pemilu Berakhir Pilu: Lebih 100 Petugas Meninggal Dunia


JAKARTA | TULARIN.COM - Ada anak kehilangan ayah, dan istri yang harus menyandang status sebagai janda. Itulah bagian cerita Pemilihan Umum (Pemilu) 2019.

Cerita almarhum Rudi Prabowo yang berdomisili di Pisangan Baru, Jakarta Timur, ibarat satu bab tersendiri tentang pesta demokrasi kali ini. Ia tumbang saat proses penghitungan surat suara, dan berselang lima hari mengembuskan napas terakhir.

Sang anak, Inez (23 tahun) belum lupa bagaimana perasaannya saat ayahnya terjatuh saat masih memegang kotak suara. "Dia pegangan kotak suara karena limbung. Lalu minta digantikan sebentar. Saat menengok ke (arah) saya, wajahnya sudah pucat," ia bercerita dengan wajah masih dibalut perasaan berduka.

Rumahnya masih ramai pengunjung, namun pikirannya masih diramaikan oleh perasaan kehilangan. Tak terkecuali ibunya, Sukaesih (58 tahun), nyaris tidak percaya jika suaminya benar-benar pergi selama-lamanya.

Ia tidak percaya karena awalnya sang suami, Prabowo, hanya mengeluh pusing. Berselang beberapa hari ia mengalami muntah-muntah, dan akhirnya kembali kepada Yang Mahakuasa pukul 13.30, hari Senin (22/4/2019).

Bahkan, seperti dilaporkan Antara, Sukaesih sempat membawa suaminya ke rumah sakit militer, RSPAD Matraman, Jakarta Timur. Ia masih menyimpan harapan bahwa suaminya akan tertolong.

Dokter di RSPAD pun sudah berusaha melakukan bantuan pernapasan, namun tetap saja tidak dapat menolong Prabowo. Ketua KPPS tersebut benar-benar telah pergi.

Berdasarkan diagnosis dokter di rumah sakit tersebut, Prabowo mengalami serangan jantung. Penyebabnya, karena kelelahan berlebihan.

Sukaesih sendiri tak menampik, bahwa sebelum sang suami tumbang, sebelum proses pemungutan suara pun sudah terlihat sangat sibuk. Ia sering pulang malam hari karena banyaknya tugas yang mesti ia kerjakan untuk persiapan Pemilu.

Tentu saja, Prabowo tidak sendiri. Pasalnya, kasus mirip terjadi di 25 provinsi di tanah air. Per Selasa (23/4/2019), Komisi Pemilihan Umum (KPU) sudah mencatat 119 orang yang meninggal dunia. Tak hanya itu, sebanyak 548 orang jatuh sakit.

Sedangkan sehari kemudian, Rabu (24/4/2019), KPU menerima laporan lebih banyak dan mencatat cerita kematian dan petugas yang jatuh sakit sudah terjadi di 33 provinsi.

"Update Rabu 24 April 2019 per pukul 15.15, anggota KPPS yang tersebar di 33 provinsi sakit berjumlah 883 orang, wafat 144 orang," kata Komisioner KPU Viryan Aziz. "Total (berdasarkan jumlah sakit dan meninggal dunia) 1.027."

Tentu saja, cerita kematian dan banyaknya petugas yang jatuh sakit tidak saja menyisakan kesedihan bagi keluarga mereka. Pihak KPU sebagai penyelenggara Pemilu hingga Presiden Joko Widodo (Jokowi) menunjukkan keprihatinan dan duka mendalam atas banyaknya petugas yang sakit dan meninggal dunia.

Jokowi bahkan memberikan penghormatan khusus buat para petugas tersebut. Ia menyebut mereka sebagai pahlawan demokrasi.

Itu diungkapkan Jokowi saat berada di Menteng, Jakarta Pusat, Senin (22/4/2019). "Beliau adalah pejuang demokrasi yang meninggal dalam tugasnya," kata Kepala Negara. "Atas nama negara dan masyarakat, saya mengucapkan duka yang sangat mendalam."

Di pihak lain, KPU pun tidak tinggal diam, bergerak cepat untuk melakukan berbagai langkah. Ketua KPU Arief Budiman memastikan pihaknya sudah menyiapkan langkah apa saja yang akan diambil untuk para petugas yang sakit dan meninggal dunia.

Terutama soal santunan, KPU sudah melakukan rapat khusus. "KPU sudah membahas secara internal terkait santunan yang akan diberikan kepada penyelenggara pemilu yang tertimpa musibah. "Kami besok (Selasa; red) akan melakukan pertemuan dengan Kementerian Keuangan--untuk memastikan santunan terhadap mereka."*** (DBS)

Editor: Zulfikar Akbar
Foto: Liputan6.com



Read other related articles

Also read other articles

© Copyright 2019 TULARIN | All Right Reserved