Pahlawan Demokrasi Pemilu 2019: Brigadir hingga Jenderal Polri Pergi - TULARIN >

25 April 2019

Pahlawan Demokrasi Pemilu 2019: Brigadir hingga Jenderal Polri Pergi

Pahlawan Demokrasi Pemilu 2019: Brigadir hingga Jenderal Polri Pergi


JAKARTA | TULARIN.COM - Tidak hanya warga biasa, Polri pun memiliki cerita duka tersendiri. Pemilihan umum (Pemilu) tahun ini, belasan aparat kepolisian pun pergi tanpa pernah kembali. Mereka meninggal dunia demi memastikan kelancaran pesta demokrasi.

Pengorbanan Polri pada Pemilu 2019 memang tidak bisa dikatakan sederhana. Pasalnya, aparat kepolisian yang meninggal dunia dalam perhelatan demokrasi kali ini terjadi dari yang masih berpangkat rendah hingga berpangkat tinggi.

Brigjen Syaiful Zachri yang tercatat sebagai Dirbinpotmas Korbinmar Baharkam Polri, adalah salah satu dari belasan anggota Polri yang meninggal dunia.

Selebihnya, dari Jawa Barat, terdapat Aiptu M. Saepudin yang merupakan anggota Polsek Cileunyi. Ditengarai, ia meninggal dunia akibat kelelahan lantaran mengawal kotak suara.

Masih dari Jawa Barat, juga terdapat Bripka Mashadi yang bertugas di Polres Indramayu, yang tercatat sebagai salah satu anggota Polri yang meninggal dunia.

Sementara di Jawa Timur, terdapat Aiptu M Supri dari Polresta Sidoarjo, Brigadir Prima Leion Nurman Sasono dari Polsek Cerme, Polres Bondowoso. Brigadir Prima dilaporkan meninggal dunia karena kecelakaan saat ia sedang dalam perjalanan menuju tempat pemungutan suara (TPS).

Mirip halnya Brigadir Prima, dari Nusa Tenggara Barat pun terdapat Bripka Ikhwanul Muslimin yang juga gugur saat sedang dalam perjalanan untuk apel kesiapan pengamanan TPS.

Sedangkan di Nusa Tenggara Timur terdapat lalgi Aipda Stefanus Pekuwali dari Polres Kupang, Bripka Yustinus Petrus Mangge dari Polres Ende, dan Aiptu Daniel Mota, dari Polres Belu.

Tak ketinggalan dari Kalimantan Timur, juga terdapat AKP Suratno yang merupakan Panit Subdit II Ekonomi Ditintelkam Polda Kaltim, setelah sempat mengalami sakit. Di samping, ada lagi Ipda Totok Sudarto yang merupakan anggota Polres Berau, turut tercatat sebagai prajurit bhayangkara yang juga meninggal dunia.

Dari Kalimantan Selatan pun ada Arie Adrian Winatha, yang merupakan anggota Biro Operasi Polda Kalsel.

Begitu juga di Sulawesi Selatan, ada Ipda Paulus Kenden yang juga meninggal dunia, dan berasal dari Polres Tana Toraja.

Sedangkan di Sumatra Utara, terdapat Aiptu Jonter Siringo-Ringo dari Polres Dairi. Tak ketinggalan dari Polda Metro, pun tercatat adanya anggota Brimob yang bertugas di Cikarang yang juga meninggal dunia atas nama Brigadir Arip Mustaqim.

Penghargaan
Dari para anggota Polri yang meninggal dunia, salah satu yang mendapatkan penghargaan dari Kapolri Jenderal Tito Karnavian adalah Ipda Paulus Kenden.

Ipda Paulus mendapatkan kenaikan pangkat luar biasa berdasarkan Surat Telegram Kapolri bernomor STR/200/IV/HUM.1.1/2019 tertanggal 22 April 2019 tentang kenaikan Pangkat Luar Biasa atau Anumerta.

Kapolres Tana Toraja, AKBP Julianto P Sirait pun membenarkan kabar tersebut. "Kapolri memberikan reward dan apresiasi yang setinggi-tingginya dengan memberikan pangkat setingkat lebih tinggi kepada almarhum, dari Ipda ke Iptu," kata Julianto.

Respons Mabes Polri
Tak hanya Paulus, Mabes Polri pun memastikan akan memberikan penghargaan terhadap para anggotanya yang gugur dalam tugas pengamanan Pemilu 2019.  Kabar itu dipastikan oleh Karopenmas Divisi Humas Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo, Senin (22/4/2019).

Brigjen Dedi menegaskan bahwa Polri sangat mengapresiasi dedikasi para anggotanya dalam memastikan pesta demokrasi 2019. "Kami memberikan apresiasi tinggi atas dedikasi mereka," katanya kepada pers. "Kapolri telah memberi penghargaan kenaikan pangkat luar biasa satu tingkat dari sebelumnya--kepada anggota Polri yang gugur dalam tugas sepanjang Pemilu 2019."

Hal lain yang diungkapkan oleh Karopenmas tersebut adalah bahwa Polri sudah menganalisis dan memetakan di mana saja dan apa saja penyebab kematian para anggotanya sepanjang Pemilu. Menurutnya, rata-rata adalah anggota polisi yang bertugas di daerah yang sulit, atau di pelosok-pelosok.

Itu dapat dilihat dari asal anggota Polri yang gugur tersebut, selain dari Sumatra Utara, juga terdapat dari Sulsel, Kaltim, Jawa Barat, Kalsel, NTT, NTB, hingga Jawa Timur.

Dalam penjelasannya di Mabes Polri, Brigjen Dedi menjelaskan pemicu kematian tersebut memang beragama. "Pertama, karena kelelahan, kondisi kesehatan, dan akibat lalu lintas," kata dia. "(Juga) karena demi tugasnya yang tinggi mengawal surat suara di TPS yang berlokasi jauh dan sulit dijangkau."

Pencegahan
Di pihak lain, Mabes Polri sebenarnya sudah memberikan imbauan jauh-jauh hari untuk mencegah risiko fatal terjadi.

Menurut Asisten SDM Kapolri Irjen Pol Eko Indra, Mabes Polri sudah memberikan imbauan tersebut supaya anggotanya bisa menjaga kesehatan, mengecek fisik. Selain itu, Mabes juga mengimbau supaya mereka juga menambah asupan vitamin sebelum menjalankan tugas di lapangan.

Ia berharap agar kasus-kasus yang berujung kematian anggota Polri tidak lagi terjadi, maka itu Mabes Polri pun terus menyampaikan imbauan itu kepada Karo SDM di jajaran Polda supaya berkoordinasi dengan Biddokes.

"Lewat Kabag Sumda bisa berkoodinasi dengan Biddokes," katanya. "Untuk memonitor kesehatan annggota yang bertugas dalam pengamanan (Pemilu), antara lain cek fisiknya, berikan pengobatan, dan juga kasih tambahan vitamin."***

Editor: Zulfikar Akbar
Sumber Foto: Antara



Read other related articles

Also read other articles

© Copyright 2019 TULARIN | All Right Reserved