Nama Ahok Banjiri Linimasa di Tengah Banjir Jakarta - TULARIN >

27 April 2019

Nama Ahok Banjiri Linimasa di Tengah Banjir Jakarta

Nama Ahok Banjiri Linimasa di Tengah Banjir Jakarta

Jakarta | Tularin.com - Basuki Tjahaja Purnama (BTP) memang bukan lagi orang nomor satu di DKI Jakarta. Namun namanya masih sering jadi buah bibir warga, terutama saat banjir kembali melanda ibu kota. Ia masih dianggap sebagai gubernur yang lebih mampu dalam bekerja.

Membanjirnya nama Ahok, kini acap disapa sebagai BTP, tidak lepas dari kebiasaannya ketika masih menangani Jakarta.

Biasanya, saat ia masih di balai kota, jauh-jauh hari sebelum musim hujan tiba, ia sudah "cerewet" memastikan segalanya sudah disiapkan.

Tidak cuma mengingatkan warga supaya waspada, tetapi ia juga sudah menyiapkan berbagai langkah untuk mencegah hingga menghadapi jika banjir benar-benar terjadi.

Tampaknya itulah yang kini dirindukan warga Jakarta, ketika kabar tentang banjir membanjiri berbagai media, dan air mengepung ibu kota. Itu juga bisa disimak lewat tanda pagar #AniesDiMana yang justru banyak yang menyebut-nyebut nama Ahok sebagai orang yang dinilai lebih mampu bekerja.

Bagaimana tidak, menjelang akhir pekan ini saja, saat beberapa tempat dikepung banjir, nyaris tidak terlihat langkah-langkah signifikan dilakukan oleh Anies Baswedan. Bahkan ia menjadi sasaran guyonan di media sosial hingga menjadikan dirinya sebagai candaan. Tak sedikit yang lagi-lagi melabeli Anies sebagai gubernur yang lihai menata kata, tetapi tidak menunjukkan kelihaian dalam menata kota.

Anies dinilai mengecewakan, karena kegigihannya dalam memburu kekuasaan, tidak diikuti dengan kegigihannya memanfaatkan kekuasaan untuk menunjukkan kinerjanya yang ditunggu-tunggu warga.

Inilah yang lantas membuat kondisi banjir justru membuat warga Jakarta membanjiri linimasa media sosial dengan luapan kekecewaan terhadap Anies, dan di sisi lain juga masih menyebut-nyebut sosok Ahok.

Di pihak lain, terlepas Ahok tidak lagi mengisi balai kota, dan kini ia berada di "Negeri Sakura" (Jepang), namun saat banjir melanda Jakarta ia tetap menunjukkan kepeduliannya.

Melalui akun twitter, Ahok tetap menyampaikan pesan kepada warga Jakarta, "Mari fokus untuk membantu para korban banjir," katanya.

Cuitannya yang hanya beberapa kata tersebut mendapatkan respons tinggi dari warga Jakarta. Paling tidak, ada 6 ribu retweet ia dapatkan, selain terdapat 1,6 ribu balasan dari pengguna media sosial twitter.

Merespons cuitan Ahok, tak sedikit yang mengunggah video dan foto yang menunjukkan perbedaan bagaimana ia bekerja dengan bagaimana gubernur saat ini bekerja.

"Zaman Ahok, kali-kali dikeruk dan dibersihkan hingga tidak ada sampah menumpuk. Dampaknya banjir dapat dikurangi," kata pemilik Franst, salah satu pengguna twitter yang merespons. "Zaman Anies, sungai kotor kembali sehingga ketika hujan turun, sungai tak dapat menampung dan mengalirkan air ke laut."

Ada kegusaran terhadap pemimpin Jakarta hari ini, lantaran Gubernur Anies yang di masa-masa menjelang pemilihan gubernur acap mencibir Ahok, justru terbukti tak mampu menunjukkan kinerja yang lebih baik.

Bagi warga Jakarta, memang menjadi pengalaman tidak terlupakan, bagaimana ketika Ahok masih memimpin, Anies justru melempar pernyataan bernada mencibir.

Saat itu, kebetulan memang masih tersisa banjir di beberapa titik, seperti Pejaten Timur, Bukit Duri, hingga Rawa Jati. Anies justru menyindir Ahok sebagai pemimpin yang tak mampu mengendalikan banjir. "Dikira sudah bebas banjir," kata Anies saat itu.

Bahkan Anies pun saat itu sempat menyebut Ahok terlalu jemawa karena mampu mengurangi cerita banjir Jakarta. "Kadang-kadang seakan masalah sudah selesai semua, padahal masih banyak masalah yang harus diselesaikan," kata Anies saat itu.

Bahkan saat itu Anies dengan sangat percaya diri membeberkan kepada kalangan media, bahwa ia memiliki rencana jauh lebih baik dalam menangani Jakarta. Terutama terkait banjir, pada 2017 lalu, ia sempat mengemukakan jurus menghadapi banjir dengan narasi yang sangat meyakinkan.

"Pengelolaan air harus menggunakan vertikal drainase, bukan horizontal drainase," kata Anies dengan yakin, saat itu. "Artinya, (air) dialirkan ke laut saja belum cukup, tetapi dimasukkan ke bumi, dan bumi itu memerlukan air."

Sementara saat Anies sendiri harus berhadapan dengan banjir, dirinya telah menjadi gubernur, ia justru tidak menunjukkan langkah meyakinkan, kecuali hanya menyinggung pemicu banjir itu sendiri.

"Jakarta kan hujan, tapi tidak ada hujan yang luar biasa di sini. Ini adalah contoh situasi banjir karena kiriman dari selatan," katanya, saat berbicara di Gedung Dinas Teknis, Jakarta Pusat, Jumat (26/4/2019).

Namun apa yang terjadi kemudian, Jakarta tetap harus terkepung oleh banjir. Sungai Ciliwung tak berdaya menampung air yang berlimpah. Tak kurang dari 2.942 warga terpaksa meninggalkan tempat tinggal mereka, dan terpaksa mengungsi.

Tak berlebihan jika kini warga merindukan Ahok kembali, walaupun tak mungkin lagi baginya untuk kembali bekerja untuk Jakarta lagi.***

Penulis: Tim Redaksi
Sumber Foto: Kompas.com



Read other related articles

Also read other articles

© Copyright 2019 TULARIN | All Right Reserved