Mendalami Selphie Usagi - TULARIN >

05 April 2019

Mendalami Selphie Usagi

Mendalami Selphie Usagi


Pernah dengar nama Selphie Usagi? Bisa jadi Anda pernah mendengarnya, atau bahkan sering, atau mungkin belum sama sekali. 

Ya, Anda tidak perlu mengenal semua orang. Namun tetap perlu untuk melihat lagi bagaimana mereka memperkenalkan diri. Terutama di media sosial.

Selphie Usagi bisa dibilang sebagai magnet di media sosial. Ia mampu membetot perhatian banyak orang di Instagram, dan ia pun bisa membuat pandangan orang tertuju kepadanya di Twitter. Ada medsos lain lagi, Selphie?
Ini kelebihannya. Ya, berdasarkan pantauan di media sosial yang akrab dengan om-om. 

Jangan negative thinking! Om-om kumaksudkan tadi adalah aku sendiri, yang walaupun merasa masih muda karena merasa "masih jauh" dari kepala empat, juga acap dipanggil om-om. Sebab memang cuma dua media sosial tadilah yang teraba dan akrab denganku--selain fesbuk. 

Sekali lagi, Selphie memiliki magnet di media sosial. 

Jangan heran, apalagi sampai beruban, jika sosok desainer ini dapat dibilang banjir pengikut (follower) di berbagai media sosial dia punya. 

Di Twitter, ia meraup pengikut lebih dari 40 ribu, dan lebih dari 15 ribu di Instagram. Cukup terlihat, pengaruhnya sangat kuat.

Wajarlah, dia cantik!
Kupikir tidak begitu juga. Sekadar cantik, akan leluasa Anda temukan di mana-mana, dengan berbagai macam gaya. Hanya sekadar gaya, namun sulit untuk menggali sesuatu yang "lebih", dari bagaimana mereka berpikir, bagaimana sudut pandang mereka, hingga bagaimana mereka melihat sekeliling.

Sebuah tren di media sosial, terlalu banjir dengan pameran mental selfish. Hanya berkutat pada dunia sendiri dan terkesan menutup mata atas realitas sekeliling. Namun ini justru tidak terlihat dari sosok Selphie. Ia justru melawan mental selfish alias pemujaan berlebihan terhadap diri sendiri.

Sekilas, foto-foto yang ia unggah di berbagai medsosnya terkesan glamor. Ada nuansa kemewahan di sana. Namun jika menggali bagaimana ia melempar berbagai pandangannya atas berbagai persoalan di sekelilingnya, akan terketemukan sebuah kepribadian membumi. Bahwa ia tidak mengasingkan diri dalam kemewahan, tapi ia adalah pribadi yang bisa bagaimana saja, dan membaur dengan siapa saja.

Dari mana itu teraba? Interaksi!

Silakan simak bagaimana ia meladeni pengikutnya di media sosial hingga bagaimana ia melemparkan pendapat dan pandangannya. Tajam, namun sekaligus mampu membentenginya dari berbagai tudingan hingga perundungan yang acap di luar batas kewajaran. 

Kalaupun ada pendapat kontra terhadapnya, pun acap diladeni dengan cara yang bisa dibilang elegan. Tidak berlebihan, dan bukan "Aku lebih Prabowo daripada Prabowo!" Eh ini offside.

Masih ingat saat ia blakblakan meluapkan pandangan soal standar gaji yang semestinya dimiliki seorang suami?  

“Aku nyari laki 30thn ke atas, penghasilan minimal 30jt/bulan, good looking, good in bed, good person, not really religious, kl bs duda aja lah jd udah pengalaman.” 

Begitulah caranya menunjukkan pikirannya. Terkesan sedikit nakal, hingga ada yang juga menudingnya terlalu berani. 

Namun inilah keunikan ditampilkannya di media sosial. Ia mampu menantang orang berpikir, mengajak berefleksi tanpa banyak berbasa-basi atau memaksa diri meniru pemuka agama. 

Ia apa adanya. Maka itu, saat ia bikin heboh dengan pandangannya saat itu, aku termasuk salah satu yang diam-diam merenung. Alhasil, menghasilkan satu catatan pribadi yang kutulis panjang lebar (bisa dibaca di sini). Catatan itu lahir justru berangkat dari "kenakalan" seorang Selphie Usagi.

Ia gemar memposting foto-fotonya di berbagai media sosial ia punya. Namun ada hal yang tampaknya jauh lebih ia gemari, bagaimana orang-orang pun mau untuk melihat apa yang ia pikirkan dengan dunia yang ia tapaki.

Menggerakkan. Di luar kesan glamor ditampilkannya, ia mampu menggerakkan pikiran orang-orang untuk bekerja, melihat, dan menelaah dalam-dalam, ke dalam diri sendiri. 

"Kita tidak butuh distraction utk survive dari setiap obstacle. Sama seperti menghindari masalah tak akan menyelesaikan masalah itu sendiri. All we need is acceptance. It's okay not to be okay, that's what makes us human, makes us grow."

Itu adalah prinsipnya sekaligus salah satu cuitannya, yang juga cukup menggambarkan bagaimana ia menggerakkan pikirannya, untuk memantik lebih banyak pikiran.

Terlepas bahwa cuitan kukutip terakhir berangkat dari "kegelisahan" apa yang mesti dilakukan seseorang ketika mengalami kebuntuan atawa mumet! Setidaknya, dapat terketemukan keterkaitan dengan bagaimana ia berpikir dan dari mana ia berpikir.

Selesai? Belum.

Ingatanku sedikit terlempar ke salah satu film Anne Hathaway. Pasalnya, meskipun jalan cerita berbeda, namun ada kesamaan dalam hal dunia yang berhubungan dengan desainer.

Film manakah itu? Ya, itu adalah film Devil Wears Prada.

Tapi, itu 'kan film yang bercerita tentang jurnalis perempuan yang kebetulan bergelut tidak jauh dari dunia fashion? Tul!

Tetapi, lagi, film ini juga bercerita tentang bagaimana "dunia lain" mereka yang menggeluti dunia fashion sekaligus media--yang di sini juga tidak jauh dari sosok Selphie yang kuangkat di sini.

Mereka yang acap diidentikkan dengan dunia yang glamor, tetapi juga menghadapi banyak realitas keras yang membuat mereka pun bisa sangat keras dalam berprinsip. Sebab mereka menciptakan dan membangun keindahan itu dari prinsip dan prinsip.

Ya, tapi tidak perlu juga membayangkan bagaimana sosok Emily yang sering jadi "setan" bagi Andy di film Devil Wears Prada tadi. "I don't care if she was going to fire you or beat you with a red hot poker! You should've said 'NO!'"

Meskipun begitu, dari menyimak bagaimana seorang Selphie Usagi mencuit seputar pikiran-pikirannya, dari yang sekadar iseng hingga yang terlihat cukup serius, tampaknya ia pernah dekat dengan sosok semacam Emily! Betul gak, Selphie? (***)

Read other related articles

Also read other articles

© Copyright 2019 TULARIN | All Right Reserved