Melihat Jokowi dari Kacamata Bocah Bernama Rafi - TULARIN >

12 April 2019

Melihat Jokowi dari Kacamata Bocah Bernama Rafi

Melihat Jokowi dari Kacamata Bocah Bernama Rafi


Nelson Mandela punya kesan tersendiri terkait anak-anak dan dunia mereka. "There can be no keener revelation of a society's soul than the way in which it treats its children," kata mantan Presiden Afrika Selatan yang melegenda tersebut.
Sedikitnya, kalimat itu juga cukup mewakili sebuah pemandangan kala Presiden Joko Widodo (Jokowi) berkunjung ke Pesantren Al-Ittihad, Jumat 8 Februari 2019. Ketika seorang anak di gendongan ibunya berteriak dari kejauan, "Pak... Pak... Pak...."
Suara panggilan bocah yang berkebutuhan khusus ini hampir tenggelam oleh hiruk pikuk warga yang kebanyakan adalah orang-orang dewasa. Apalagi sebagian besar orang yang berada di lokasi sedang terbetot perhatian mereka kepada sosok Jokowi yang sedang di tengah-tengah mereka.
Momen itu terekam oleh masyarakat yang datang ke lokasi, dan dalam hitungan menit sudah beredar dan viral di berbagai platform media sosial. 
Bocah yang meneriaki nama Jokowi itu mendapatkan kesempatan itu. Meski teriakannya seolah tenggelam oleh keriuhan dalam keramaian, teriakannya terdengar oleh Jokowi. Diibaratkan film, momen inilah yang mampu membuat para pengguna media sosial tersentuh, dan tidak sedikit yang mengaku terharu melihat unggahan video yang mengabadikan bocah bernama Rafi Ahmad Fauzi tersebut bersama Jokowi.
Rafi terlihat seolah ingin terbang untuk dapat segera berada di pelukan Presiden Jokowi, tak lama setelah sang Kepala Negara meminta bocah ini ke dekatnya. Pun sosok bapak tiga anak dengan dua cucu, Jokowi, pun bergegas menyambutnya setelah melihat Rafi dibawa ke arahnya.
Jika diperhatikan, dari momen singkat tersebut cukup memperlihatkan bagaimana antusiasme, kegembiraan, dan kebahagiaan seorang anak. Baginya momen itu menjadi hal yang luar biasa, karena sosok yang menurut pengakuan ibunya sering ditonton sang anak via YouTube, akhirnya berada di depan matanya, memeluk dan menggendongnya.
Bahasa anak-anak adalah bahasa paling jujur. Jika diperhatikan, bagaimana Rafi membuka tangannya lebar-lebar, dan bagaimana ia bak ingin terbang ketika sedang dibawa ke arah Presiden, cukup menunjukkan bahasa kejujuran itu. 
Lewat bahasa itu, seorang anak mengajak melihat sesuatu dengan kebeningan. Tidak dikotori oleh kedengkian, kebencian, atau permusuhan, karena kotoran itu memang mengusik penglihatan hingga tidak bisa melihat sesuatu sebagaimana mestinya.
Rafi, bocah berkebutuhan khusus itu sukses membawa pesan itu. Bukan kepada lawan politik Jokowi yang memang tak berhenti menghantamnya, bukan untuk kebutuhan media yang memang punya perhatian pada tiap hal yang punya nilai berita. Pesan ini dibawa seorang Rafi kecil tersebut kepada dunia, sesekali ayolah melihat dengan kacamata seorang anak, yang bersih dari debu-debu kebencian dan prasangka yang acap mengada-ada.
Pun, Rafi menjadi pahlawan di sini. Iya, karena ia mewakili anak-anak berkebutuhan khusus yang memang pantas untuk dihargai dan mendapatkan kasih sayang terbaik. Lihat, bagaimana ia membalas sambutan Presiden Jokowi dengan wajah semringahnya, hingga tepukan tangan mungilnya di pundak seorang lelaki yang merupakan Kepala Negara. Ia menampilkan semua itu secara apa adanya, tidak dibuat-buat, mengalir begitu saja.
Di sini Rafi bahkan menyalip kemampuan orang-orang dewasa dalam melihat manakah orang baik dan tidak. Ia seolah menyindir orang dewasa yang cenderung menilai sesuatu buruk hanya karena mereka tak kuasa membebaskan pikiran mereka dari sudut pandang yang buruk. 
Pemandangan itu bukanlah cerita tentang Presiden Jokowi. Ini cerita tentang bocah bernama Rafi, yang memiliki sekelumit mimpi ingin bertemu Kepala Negara yang ia kagumi, dan ia mampu meraihnya. 
Tidak berlebihan jika ibunya, Reni, pun tak dapat membendung air matanya. Di video yang beredar itu ia menunjukkan keharuan yang membuncah, hingga air mata pun tumpah. Ia tak menyangka, impian anaknya yang ingin bertemu idolanya bisa benar-benar terjadi.
Dalam linangan air mata, sang ibu menunjukkan rasa terima kasihnya. 
Tak pelak, pemandangan itu bisa bikin jagat internet mengharu biru. Kegembiraan seorang Rafi, dan air mata haru sang ibu, mampu menyihir publik. Sekaligus menjadi pesan penting, bahwa anak-anak berkebutuhan khusus sudah semestinya tetap dihargai sebagaimana anak-anak umumnya.
Jokowi sendiri, di tengah pemandangan itu sekaligus memperlihatkan karakter bangsanya. Seperti disampaikan Mandela, tak ada bukti lain yang bisa menegaskan bagaimana ruh satu bangsa kecuali dari bagaimana mereka memperlakukan anak-anak. 
Jika selama ini Jokowi dikenal hanya akrab dengan sang cucu, Jan Ethes, kini sosok Rafi pun bisa dipastikan akan menjadi bagian gambaran lainnya tentang siapa sosok Kepala Negara tersebut. 
Jika lawan politiknya selama ini menjadikan seorang bocah seperti Jan Ethes sebagai sasaran hantaman mereka, dikait-kaitkan dengan urusan elektabilitas, semoga saja sudut pandang yang tidak manusiawi seperti itu segera hilang. 
Seorang anak tetaplah seorang anak, di mana mereka hanya benar-benar menunjukkan kebahagiaan saat bertemu seseorang ketika insting alami mereka yang murni sudah meyakini bahwa orang tersebut adalah orang baik. 
Anak-anak butuh contoh langsung dari orang-orang baik. Mereka pun mesti lebih banyak melihat dan dekat dengan orang-orang baik. Sebab, harapan bahwa negeri mereka ini tetap baik-baik saja, ketika mereka terbiasa bertemu dan dipeluk oleh orang-orang baik. 
Jokowi sudah memberikan pelukan berharga untuk seorang bocah bernama Rafi. "Hugs can do great amounts of good, especially for children," kata mendiang Lady Diana. Bahwa, pelukan bisa membawa banyak kebaikan yang luar biasa, terlebih kepada anak-anak.
Berbicara pemimpin, bukan sekadar berbicara tentang bagaimana pemimpin dapat memberikan perhatian kepada orang dewasa yang memang terlalu banyak ambisi. Namun cerita kepemimpinan, terlebih di sebuah negara, juga adalah bagaimana menemukan figur yang mampu memberikan contoh dan kepedulian kepada anak-anak. 
Semoga saja, negeri ini masih dapat terus memiliki pemimpin yang mencintai anak-anak, supaya masa depan kelak terisi oleh anak-anak yang sudah akrab dengan cinta dan kasih sayang. Terlebih, cintalah yang menghidupkan, kala kebencian hampir selalu hanya membawa kehancuran.*** (Artikel juga tayang di Kompasiana)

Read other related articles

Also read other articles

© Copyright 2019 TULARIN | All Right Reserved