Maria Andromeda, Kartini dari Timur Indonesia - TULARIN >

21 April 2019

Maria Andromeda, Kartini dari Timur Indonesia

Maria Andromeda, Kartini dari Timur Indonesia


Ia sudah menjadi gadis yang terkenal di blantika nasional. Pernah jadi bagian kontes kecantikan Miss Indonesia, mewakili Nusa Tenggara Timur (NTT). Ada dunia gemerlap yang dihadapinya, namun ia menolak untuk silau, hingga tetap dapat melihat tanah leluhurnya.

Ya, ini adalah catatan tentang Maria Andromeda. Masih berusia sangat muda, lahir 23 Juni 1993, namun memiliki kepekaan yang dapat dipastikan tidak kalah dibandingkan banyak orang yang berusia lebih matang dibandingkan dirinya.

Saat mengikuti kontes Miss Indonesia pada 2017 lalu, ia sendiri dinobatkan sebagai Miss Persahabatan. Pasalnya dari semua penilaian di kontes tersebut, ia mendapatkan skor paling tinggi dari sisi jiwa sosialnya.

Ia masih memiliki keprihatinan sangat mendalam untuk daerah leluhurnya, NTT. Ada kerisauan besar terpancar dari wajahnya saat ditanyakan bagaimana ia melihat daerah tersebut. Terutama ketika membicarakan kaum perempuan di kawasan timur Indonesia tersebut.

"Aku ingin perempuan timur bisa lebih berani speak up, lebih berani menyuarakan suara mereka," kata Maria saat ditanyakan apa yang menjadi impian besarnya.

Ia mengaku miris, lantaran di daerah tersebut masih ada kecenderungan di mana perempuan ditempatkan sebagai masyarakat kelas dua. Maka itu, menurutnya ketika kaum hawa di sana mampu untuk berdiri tegak dan bersuara untuk diri mereka, maka perempuan timur pun takkan ketinggalan dibandingkan daerah lain, terutama jika dibandingkan perempuan di Pulau Jawa.

"Ya, aku bermimpi juga supaya perempuan timur mampu lebih berani mengeksplorasi diri mereka," kata Maria lebih jauh. Terlebih belakangan, sejak pemerintahan Joko Widodo ada kepedulian besar terhadap daerah itu, menurutnya menjadi sebuah kesempatan besar untuk bangkit. "Sekarang (daerah) Indonesia Timur sedang jaya-jayanya--karena mendapatkan perhatian lebih baik dari pemerintah. Ini waktu bagi mereka untuk membuktikan bahwa Indonesia bukan Pulau Jawa saja."

Maria tidak menampik, bahwa sebagai umat Nasrani ada bagian Alkitab yang cenderung memerintahkan istri harus penurut terhadap suami, terhadap lelaki. Namun ia menilai, perintah itu tidak berarti merupakan pengekangan terhadap perempuan.

Keyakinan Maria itu sendiri tampaknya tidak lepas dari pendidikan diberikan orang tuanya, supaya dirinya sebagai perempuan harus tetap mampu berdiri sebagai manusia yang sama-sama ciptaan Tuhan--sebagaimana halnya kaum laki-laki.

Orang tuanya memberinya kebebasan sepanjang ia melakukan kegiatan positif dan membawa manfaat untuk diri sendiri dan orang-orang di sekelilingnya. Tidak heran jika dirinya tidak menutup diri untuk dapat menunjukkan peranannya sebagai perempuan.

Buktinya, meski dirinya adalah salah satu perempuan terkenal dari NTT, namun ia tak sungkan menjalani pekerjaan-pekerjaan yang bagi sebagian orang kurang bergengsi. Baginya, terpenting bermanfaat, tetap ia jalani.

Ya, Maria pernah berprofesi sebagai guru Sekolah Dasar. Tak berhenti di situ, ia pun pernah mengasah kemampuan juga sebagai seorang penyiar radio. Baginya, hal-hal tersebut bukan sekadar mengisi waktu saja, namun juga bagaimana memanfaatkan waktu menjadi berguna. Lantaran, dengan itulah ia dapat berbagi pengetahuan hingga ide-idenya.

Maria terlihat sangat antusias ketika berbicara seputar pendidikan. Terlebih ketika berbicara tentang bagaimana budaya pendidikan di daerah asal leluhurnya, NTT.

Orang tuanya pun mengakrabkan pola pendidikan yang dekat dengan budaya dengannya. Dari kecil, ibunya berusaha keras agar budaya asal leluhurnya tidak lekang dari dirinya. Maka itu sang ibunya sendiri memilih seorang gadis dari timur untuk hidup bersama mereka.

"Aku dari kecil udah dirawat sama perempuan dari Timur juga," Maria bercerita. "Beliau udah ikut mamaku dari aku masih berumur empat bulan, dan beliau sendiri saat itu masih lajang."

Sampai sekarang, kata Maria, dirinya tetap berhubungan dengan sosok yang akrab disapa dengan Kak Fianti tersebut. Namun kini Fianti sendiri juga sudah berprofesi sebagai guru dan mengajar di dekat Pantai Oitune.

Bagi Maria, apa yang bisa dilakukan untuk sesama perempuan, terutama untuk perempuan Timur, adalah memulai dari hal-hal yang terdekat dengannya. Misal saja, lewat Fianti yang telah akrab dengannya sejak kecil, justru menjadi partnernya untuk berbuat sesuatu untuk daerah asalnya tersebut.

Di antara langkah-langkah sederhana, dari mengirimkan pakaian-pakaian dari Pulau Jawa, ia juga menginisiasi bagaimana perempuan Timur pun tak ketinggalan hingga urusan dandan. Bagi Maria, perempuan mesti memaksimalkan diri luar dalam, wawasan untuk memperkaya pikiran lewat pendidikan, dan bagaimana menjaga dan merawat hingga menghias diri sendiri.

Meskipun bagi Maria kecantikan bukan segalanya, namun bagaimana merawat diri juga merupakan suatu cara merawat salah satu "kekuatan" perempuan. Baginya, prioritasnya tetap saja adalah pendidikan, tak terkecuali dalam kaitan dengan bagaimana mengangkat kehidupan kaumnya, kaum perempuan, terutama di Timur.

Ia pun berterus terang juga sangat terilhami dari bagaimana cara orang tuanya memberikan perhatian terhadap pendidikan. Apakah ayah ibunya pun sudah membuktikan langsung dari bagaimana mereka mengajak salah seorang gadis dari timur bersama mereka dan menyekolahkannya hingga menjadi guru.

Menurut Maria, tidak ada teori muluk-muluk terkait bagaimana mengangkat kehidupan perempuan. Apa yang bisa dilakukan sebuah keluarga terhadap satu orang perempuan, misalnya, bisa menjadi sebuah cara untuk membantu mengangkat kehidupan perempuan. Sebab dari sana, yang terangkat nasibnya tidak saja satu orang, tapi juga anak-anaknya dan lingkungan di mana ia tinggal.

Maria masih terkenang bagaimana dedikasi ayah ibunya untuk membantu Fianti, yang tak hanya mengajak tinggal bersama keluarganya, namun juga membiayai sekolah hingga ke Surabaya. Ia mengaku terharu saat melihat bagaimana akhirnya sosok Fianti yang akrab dengannya menjadi guru. Ada perasaan, bahwa semakin terbuka harapan bahwa perempuan Timur bisa mendapatkan pendidikan lebih baik, hingga nasib yang juga lebih baik.

Bagi Maria, bisa melakukan sesuatu untuk NTT adalah sebuah tantangan. Terlebih, ia sendiri memiliki perasaan terpanggil untuk dapat berkontribusi untuk daerah tersebut. "Semua tahu, NTT berada di urutan ketiga sebagai provinsi termiskin dan tertinggal dalam hal pendidikan di Indonesia," kata dia lagi. "Itu yang bikin saya ingin dapat melakukan lebih banyak hal di sana, terutama mengajar hingga menyumbang apa yang mereka perlukan--supaya perempuan Timur dapat bangkit."

Menurut sulung dari tiga bersaudara ini, menjadi sebuah tantangan baginya untuk dapat membantu mengangkat daerah tersebut, terutama perempuan di sana. Soal data dan fakta masih tertinggalnya Timur dalam beberapa hal, baginya bukan persoalan. Justru itu menjadi pendorong, penyemangat, agar ia benar-benar dapat memberi andil penting hingga kelak dapat melihat perempuan Timur setara dengan perempuan dari belahan Nusantara lainnya.


Di luar itu, hal lain yang ingin diperjuangkannya adalah bagaimana supaya sudut pandang terhadap dapat berubah. Ia menginginkan supaya perempuan tetap dilihat sebagai makhluk Tuhan yang sama mulianya dengan kaum laki-laki.

Saat ini, dalam konteks nasional, ada hal menggelisahkannya yakni masih banyaknya fakta yang menunjukkan kecenderungan menyalahkan korban, terutama terkait kekerasan seksual. "Stop victim blaming," Maria menegaskan sikapnya.

"Inilah kenapa perempuan harus berani speak up, jangan sampai ada internal sexism!" katanya, tegas. "Perempuan harus dapat memberikan dukungan terhadap perempuan lainnya. Bukan malah saling menyalahkan--ketika ada perempuan yang jadi korban."

Ia berharap jangan lagi ada pemandangan di mana sesama perempuan justru saling menjatuhkan. "Itu bisa jadi langkah supaya perempuan tetap berharga, walaupun kita memang hidup di sebuah negara yang menganut budaya patriarki," Maria menambahkan.

Terutama untuk perempuan Timur, ia pun menitipkan pesan tersendiri. "Perempuan timur, nona-nonaku, kita perempuan memang tidak boleh malas dan malu walaupun memang selama ini kita sering dipandang sebelah mata," pesan Maria. "Kita bisa buktikan, anggapan mereka yang meremehkan kita itu salah!"

Selain itu, Maria berharap supaya perempuan Nusantara di manapun dapat melihat diri mereka sebagai sama-sama orang Indonesia. "Jangan merasa dianaktirikan. Kita sama-sama warga Indonesia, dan punya hak yang sama," katanya lagi.

Menurutnya keberanian itu memiliki kekuatan. Sebab dengan keberanian itu juga banyak hal dapat diraih, dan buah keberanian itu pastilah akan didapatkan kelak.

Ia juga mengutip salah satu peribahasa yang ditujukan untuk kaum perempuan di Timur. "Jika kita terllahir miskin, itu sama sekali bukan kesalahan kita. Tetapi, jika kita kelak mati dalam keadaan miskin, itu jelas kesalahan kita--sebab kita tidak bisa memilih mau lahir dari keluarga bagaimana, tapi kita bisa mengembangkan diri," Maria menitipkan pesannya.* (Zulfikar Akbar)

Read other related articles

Also read other articles

© Copyright 2019 TULARIN | All Right Reserved