Kala Listrik Terasa Terlalu Mewah di Kampung Kami - TULARIN >

12 April 2019

Kala Listrik Terasa Terlalu Mewah di Kampung Kami

Kala Listrik Terasa Terlalu Mewah di Kampung Kami


Di masa lalu, daerah perbatasan sampai dengan kawasan terpencil kurang atau bahkan hampir sama sekali tidak mendapatkan perhatian. Mereka di sana persis seperti anak tiri yang tidak mendapatkan perhatian selayaknya anak kandung, walaupun mereka di sana sebenarnya juga lahir dari rahim yang sama. Rahim Ibu Pertiwi.
Itu berkelebat di pikiran saya, bagaimana pada dekade-dekade lalu melihat kehidupan di Aceh. Provinsi di ujung Sumatra tersebut jadi bukti bagaimana ketertinggalan di masa lalu. Karena ketertinggalan itu juga, saat itu sempat bermunculan kalimat, "Indonesia cuma Jawa saja."
Bagaimana tidak, saat orang-orang di Jakarta sudah bisa berbicara tentang TV berwarna, di sana bisa menyaksikan TV hitam putih pun sudah terasa sebagai kebanggaan. Ketika orang-orang di kota-kota besar bisa menikmati listrik 24 jam, di sana baru mendapatkan pasokan listrik lebih luas di pertengahan 1990-an.
Anda yang terbiasa hidup di perkotaan mungkin tak pernah terbayang, bagaimana hingga pertengahan 1990-an, orang-orang Aceh sebagian besar hanya bisa menikmati listrik dari pukul 17 sore sampai dengan pukul 06 pagi hari. 
Bahkan saat itu, petromaks jauh lebih diandalkan, karena akses untuk bisa mendapatkan listrik sangatlah susah. 
Tak sedikit juga di era itu yang cuma mengandalkan panyoet atau lampu yang dibikin dari kaleng lem bekas, dibolongi, dipasang pentil ban, dengan sumbu dari kain bekas, terisi minyak tanah, dan dibakar semalaman. Pagi hari, begitu bangun tidur, hidung sampai wajah seringkali menghitam, karena asap dari panyoet tersebut terhirup hingga masuk ke liang hidup, mleber sampai muka jika tidak sengaja mengusap hidup saat tidur.
Itu masih terjadi hingga pertengahan 1990-an atau bahkan memasuki akhir dekade tersebut.
Anak-anak mau belajar, entah mengerjakan pekerjaan rumah, atau mengaji di rumah teungku cuma dapat mengandalkan lampu tersebut. Saat ingin menikmati hiburan supaya dapat menonton TV, cuma dapat menunggu hari Minggu. Kenapa? Cuma di hari Minggu, kampung-kampung di sana bisa menikmati listrik lebih leluasa dibandingkan hari biasanya.
Di kawasan Pante Ceureumen, Aceh Barat, kondisi itu bahkan masih terjadi di sebagian besar pedesaan hingga memasuki dekade 2000-an. Berjalan di malam hari cuma dapat mengandalkan obor, karena penerangan jalan pun sama sekali tidak ada. 
Maka itu, tidak berlebihan jika melihat perkembangan hari ini terkait dengan elektrifikasi atau penerangan, maka hari ini memang sangat pantas disyukuri. Sebab, tangan Pemerintah terlihat sudah jauh lebih panjang, dalam arti sudah mampu menyentuh hingga ke berbagai pelosok, tidak cuma Aceh, tapi juga pedalaman Sumatra lainnya, sampai dengan Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, hingga Papua. 
Secara data pun terbukti bagaimana indeks elektrifikasi yang bersentuhan langsung terhadap kesejahteraan masyarakat banyak. "Pada 2017 (indeks elektrifikasi) 95,3 persen, 2018 kita perkirakan tadinya 97,8 persen tapi realisasi kuartal III itu 98,05 persen," Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menjelaskan perkembangan listrik terkini di era Pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla, di pengujung tahun lalu.
Patut dicatat, saat Presiden Jokowi-JK dilantik pada 2014 lalu, rasio elektrifikasi hanya berada di kisaran 84 persen. Lalu naik menjadi 91,16 persen pada 2016, naik 95,3 persen (2017), 98,30 pada akhir 2018, dan tahun ini ada komitmen untuk mencapai 99,99 persen.
Jika menilik antara rencana dan pencapaian dalam hal elektrifikasi, tentu saja apa yang sudah tercapai dapat dikatakan melampaui target. Itu juga diakui Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Ignasius Jonan dalam acara diskusi Forum Merdeka Barat. Bahwa kalau merujuk RPJMN atau Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional, sebenarnya cuma ditargetkan bisa mencapai 97,5 persen hingga akhir 2019. Namun target itu sendiri sudah terlampaui sebelum 2018 berakhir, maka itu Pemerintah menaikkan targetnya.
Kenapa rasio elektrifikasi itu sendiri menjadi sangat penting, tak lain karena--seperti juga dijelaskan Jonan--selain kapasitas pembangkit, juga jaringan transmisi dan distribusi. "Pemerataan layanan kelistrikan ini lebih penting daripada membahas pembangkitnya sudah jadi berapa," kata Jonan saat itu.
Bagaimana dengan pedesaan yang sulit terjangkau? Pemerintah pun, lewat Kementerian ESDM per 2016 sudah membagikan lampu tenaga surya hemat energi ke 2.519 desa. Namun pengaruh LTSHE tersebut terhadap rasio elektrifikasi secara nasional cuma sebesar 0,21 persen.
Tidak itu saja, per kuartal ketiga 2018 sudah ada 22.820 unit LTSHE, di samping ada lagi 87.742 unit lagi terdistribusi--berdasarkan data Kementerian ESDM. Langkah ini diambil supaya tidak ada gap terkait layanan listrik, terutama ke daerah-daerah terpencil.
Jadi, jika pada 2017 telah terpasang lampu tersebut di 79.559 rumah (di lima provinsi), pada 2018 lalu ditargetkan menjangkau 175.782 rumah. Begitu juga tahun ini, ditargetkan bisa menyentuh 98.481 rumah, sehingga sekitar 400 ribu rumah di 2 ribu desa lebih dapat terjangkau listrik. 
Ada juga kabar baik bahwa ada iktikad pemerintah untuk menciptakan pemerataan dalam hal listrik. Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Andy Noorsaman Sommeng pada Januari lalu pun menegaskan tekad pemerintah. "Tahun 2019 kita punya tugas besar, desa berlistrik harus 100% berlistrik dan rasio elektrifikasi harus 99,9%," katanya saat itu.
Pencapaian dalam hal elektrifikasi ini sendiri memang tidak lepas juga dari kebijakan pemerintah yang di akhir 2018 lalu saja sudah memberikan tambahan untuk infrastruktur tenaga listrik hampir 2 gigawatt. 
Dengan penambahan itu, praktis, kapasitas keseluruhan mencapai 62,6 GW. Tak hanya itu, berdasarkan Data Kementerian ESDM, transmisi sudah bertambah hingga 3.441,84 kilometer sirkuit (kms), di samping juga ada penambahan gardu induk sebesar 16.495 MVA.
Maka itu, untuk tahun ini ada target penambahan pembangkit tenaga listrik hingga 3,9 GW. Jika itu tercapai, tentu saja, kapasitas total kapasitas pembangkit yang terpasang mencapai 66,5 GW, berikut 15.195 kms transmisi, dan 27.631 MVA Gardu Induk.
Ya, elektrifikasi mau tidak mau memang menjadi satu syarat penting untuk menjadi negara maju. Tidak heran jika ada yang menyebutkan bahwa semakin maju sebuah negara, maka semakin tinggi kebutuhan terhadap listrik. Sinyal itu, tentu saja kini semakin kuat.
Di sisi lain, elektrifikasi ini sendiri pun tidak hanya memberikan penerangan sampai ke pelosok desa, tetapi juga menjadikan Indonesia sebagai negara yang memang sudah bisa berlari kencang, tidak lagi tertatih-tatih oleh keluh kesah seputar sulitnya mengakses listrik. 
Anak-anak sudah dapat melihat mimpi-mimpi mereka menjadi lebih terang. Mereka pun dapat mengeja hingga meraba dan mengejar masa depan mereka dengan lebih jelas.
Apa yang paling pantas disyukuri adalah anak-anak hari ini, bahkan di pelosok negeri ini sudah bisa merasakan manfaat listrik. Dengan itu, bagaimana wajah mereka di masa depan pun dapat mereka lihat semakin jelas. 
Selain, ayah ibu mereka di pelosok yang sebelumnya hanya menggantungkan diri pada pekerjaan terbatas antara di kebun dan ladang, dengan listrik dapat juga melebarkan sayap untuk mengakrabi berbagai usaha lainnya.
Ya, listrik tidak cuma menerangi mereka di malam hari, tetapi juga membantu mereka melihat jalan terang menuju kehidupan lebih baik di masa depan. 
Maka itu, saat beberapa bulan lalu saya pulang ke Aceh, mendengar bagaimana Indonesia hari ini di mata mereka, beberapa kenalan yang dulu pernah bergabung dengan Gerakan Aceh Merdeka pun, kini berterus terang, "Baru hari ini lebih terasa, Indonesia bukan lagi Jawa saja!" kata mereka seraya tertawa lebar.*** (Artikel ini juga tayang di Kompasiana)

Read other related articles

Also read other articles

© Copyright 2019 TULARIN | All Right Reserved