Johnny Isir, Polisi Asal Papua yang Bikin Kapolri Merasa Iri - TULARIN >

22 April 2019

Johnny Isir, Polisi Asal Papua yang Bikin Kapolri Merasa Iri

Johnny Isir, Polisi Asal Papua yang Bikin Kapolri Merasa Iri

Kalau ada anggota Polri yang mampu bikin iri seorang Kapolri, tampaknya hanyalah Kombes Pol Johnny Eddizon Isir. Ia adalah sosok polisi yang berasal dari Papua, dan kini menjadi salah satu orang terdekat Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Sosok Johnny benar-benar mampu membuat seorang Kapolri berterus terang merasa iri. Itu terungkap saat Kapolri Tito Karnavian berbicara panjang lebar tentang kenapa Johnny yang akhirnya mewakili Polri sebagai ajudan presiden, pada 2017 lalu.

Tito berterus terang, untuk mendapatkan jabatan di kepolisian memang ada banyak jabatan tinggi tapi itu juga mampu diraih oleh banyak orang.

Sementara Johnny, ia adalah salah satu dari sedikit anggota polisi yang bisa mendapatkan tempat yang berada di luar posisi yang banyak tersebut. Ia terpilih sebagai ajudan presiden walaupun Kapolri Tito Karnavian mengakui sudah mengajukan beberapa nama kepada Presiden Jokowi.

"Kalau menjadi Kapolres, bisa banyak. Jadi Kapolda, juga banyak," kata Tito di awal pengangkatan Johnny sebagai ajudan presiden, pada Agustus 2017 silam. "Untuk menjadi ajudan (presiden) adalah orang terpilih."

Tito juga menjelaskan bagaimana seorang ajudan presiden harus melewati serangkaian proses seleksi yang sangat ketat. Selain kesehatan jasmani dan rohani, seorang calon ajudan presiden pun harus memiliki kecerdasan di atas rata-rata, selain juga mampu menyesuaikan diri dengan selera presiden.

Jenderal Tito sendiri pun mengakui, dari semua itu, persoalan chemistry atau kecocokan dengan selera presiden yang benar-benar susah. "Chemistry yang (memang) susah," kata Tito saat itu. Namun meskipun beratnya seleksi dan syarat, akhirnya Johnny yang justru mampu membuktikan dirinya yang bisa mewakili Polri sebagai ajudan presiden.

Ia terpilih setelah sekitar tujuh bulan tidak ada wakil kepolisian di jajaran ajudan presiden. Praktis, ia menyisihkan dua rekannya dari Polri, lantaran Jenderal Tito merekomendasikan tiga nama anggotanya kepada Presiden Jokowi.

"Yang kita kirim tiga (anggota), yang terbaik di antaranya," Tito bercerita saat itu. Ketiga nama tersebut sudah melewati tes dan lulus, namun Jokowi lebih memilih Johnny daripada kedua rekannya dari kepolisian.
Johnny saat sedang rapat dengan presiden dan para ajudan 


Tak berlebihan jika dikatakan bahwa Johnny adalah putra Papua yang paling bersinar di kepolisian saat ini. Pasalnya sepanjang sejarahnya, hanya Johnny yang berasal dari Papua dan mendapatkan kepercayaan sebagai ajudan presiden.

Tampaknya, perjalanan panjang prajurit bhayangkara tersebut semakin menampakkan buah berarti. Maklum, lulusan Akademi Kepolisian 1996 ini, sudah mengawali karier kepolisiannya dengan penuh liku. Ia sudah menjelajah dan mengikuti suratannya sebagai anggota kepolisian dari ujung ke ujung Indonesia.

Di masa lalu, ketika Timor Timur masih menjadi bagian Indonesia, Johnny pun pernah mendapatkan penugasan di provinsi tersebut. Di sana, ia pernah mengemban peran sebagai Pamapta Polres Dili, berlanjut ke Kasat Serse di Polres Masiana, dan mengakhiri perjalanannya di daerah yang kini telah jadi negara Timor Leste tersebut sebagai Kasat Sabhara Polres Dili pada 1999.
Johnny saat masih pendidikan di Akpol

Setelah penugasan di Timor Timur, ia melanjutkan perjalanan kariernya sebagai anggota polisi di Jawa Timur. Ia sempat merasa begitu lengket dengan Surabaya, karena dari Desember 1999 hingga 2012 berada di provinsi paling ujung di Pulau Jawa tersebut.

Sedangkan di tanah Papua, ia hanya bisa mendapatkan kesempatan menjalani karier di sana sekitar empat tahun. Mengawali sebagai Kasubdit Tipikor di Polda Papua, setelahnya dipercayakan sebagai Kapolres Jayawijaya (2013-2014) dan terakhir sebagai Kapolres Manokwari (2014-2016).

Sempat beberapa bulan bertugas di Polda Banten pada 2016, akhirnya ia dipindahkan ke Polda Riau. Tak lama di Riau, lagi-lagi ia mendapatkan panggilan ke pusat, dan dipercayakan sebagai ajudan presiden. Inilah yang lantas membuat Jenderal Tito pun tak sungkan-sungkan mengaku iri kepada prajurit kelahiran 7 Juni 1975 tersebut.

Namun, Tito sendiri pun sangat bersyukur karena akhirnya ada anggotanya dari Papua yang jadi orang kepercayaan presiden. "Saya sangat bersyukur dengan dipilih beliau (Johnny)," kata Tito saat itu.

Bagi Tito sendiri, ada banyak pesan positif dari terpilihnya Johnny sebagai ajudan presiden. Ini bisa meyakinkan putra-putra daerah dari luar Jawa, bahwa siapa pun memiliki peluang meraih tempat prestisius. Terlebih menurut Tito, posisi sebagai ajudan presiden adalah posisi bergengsi bagi anggota Polri.

"Ini (menjadi) satu sejarah," kata Tito dengan ekspresi bangga. "Sejarah pertama kali orang Papua bisa menjadi ajudan presiden. Pertama juga dari Polri, ajudan presiden orang Papua."

Bahkan, Jenderal Tito juga menggarisbawahi berkali-kali, bahwa ini menjadi sejarah bagi Polri dan juga Indonesia. "Iya, ini sejarah bagi Polri dan Indonesia. Jadi seorang ajudan itu tidak gampang," katanya lagi. "Saya sendiri tidak seberuntung Johnny."***

Editor: Zulfikar Akbar
Sumber Foto: Dok. Johnny Isir


Read other related articles

Also read other articles

© Copyright 2019 TULARIN | All Right Reserved