Hitung Sendiri Lalu Marah-marah Sendiri - TULARIN >

23 April 2019

Hitung Sendiri Lalu Marah-marah Sendiri

Hitung Sendiri Lalu Marah-marah Sendiri



Di antara berbagai media sosial (medsos), twitter memang menjadi medsos paling sering saya intip. Ada gonjang ganjing, obrolan biasa, hingga canda, acap saya lakukan di sana. Belakangan ada hal yang tak bisa dianggap candaan bermunculan, yakni tudingan terhadap lembaga-lembaga survei.

Alhasil, kebetulan sedang tidak bisa tidur, sempat saya tulis cuitan berurut alias kultwit atau thread sekira lewat tengah malam saat waktu sudah memasuki tanggal 23 April 2019. Ya, hampir sepekan setelah Pemilihan Umum (Pemilu) berlangsung.

Sejujurnya, ada kegelisahan juga saya rasakan melihat tudingan demi tudingan terhadap lembaga survei. Kegelisahan itu juga yang memantik ide saya untuk menulis cuitan itu berbentuk thread tadi.

Bukan apa-apa, melainkan karena tuduhan-tuduhan terhadap lembaga-lembaga survei ini kian beraroma pelecehan terhadap ilmu pengetahuan. Ya, bicara survei adalah berbicara ilmu pengetahuan. Sebab para surveyor, pollster, bekerja dan bergerak dengan berpijak pada ilmu pengetahuan.

Ada ilmu statistik di sana. Walaupun, uhuk, saya sendiri cuma bisa mendapatkan nilai B saat mengambil mata kuliah statistik di masa lalu, namun ilmu ini juga yang sangat membantu saya. Tak terkecuali saat masih berkecimpung di dunia media olahraga, statistik juga yang membantu saya menelaah dan menganalisis berbagai kemungkinan yang berhubungan dengan si kulit bundar.

Jadi, saat melihat tren begitu gencarnya sikap-sikap melecehkan hingga banjir tudingan dan fitnah terhadap lembaga survei atau pollster, muncul semacam rasa gelisah. Masak demi politik, lembaga-lembaga survei pun ikut kena getah hingga difitnah.

Bahkan saya pikir, semoga tidak terkesan berlebihan, bahwa meremehkan kerja lembaga survei adalah pelecehan terhadap ilmu pengetahuan. Tidak ada negara maju yang meremehkan ilmu pengetahuan.

Tapi ini kan negaramu adalah negara berkembang, Mas!

Iya, benar, Indonesia sendiri adalah negara yang masih berkembang. Ini adalah negara yang dalam guyonan di linimasa acap disebut dengan nada candaan sebagai negara "ber-flower" (flower: kembang/bunga). Namun status begitu lantas memaklumi begitu saja tren yang mengarah pada pelecehan ilmu pengetahuan, lha kapan pula masyarakat di negara ini mau beranjak lebih ke depan? Apakah mau berlarut-larut sebagai penyandang status "negara ber-flower"?

Berkaca kepada negara-negara maju, mungkin politik takkan jauh berbeda, membuat siapa saja yang berpolitik akan melakukan apa saja demi dapat keluar sebagai pemenang. Namun begitu, tampaknya hampir tidak ada negara maju yang cuma karena alasan politik lalu melecehkan lembaga-lembaga yang bekerja lewat cara mengaktualisasikan ilmu pengetahuan. Mereka akan memberikan respek besar terhadap lembaga yang bekerja dengan senjata khas manusia beradab: ilmu pengetahuan.

Sayang sekali, memang, pertarungan politik justru menyeret mereka yang sebenarnya memang akan tetap berguna bagi siapa saja dan hingga kapan saja. Bukan sekadar terseret, tapi juga turut membuat mereka babak belur karena dihujani panah-panah fitnah hingga teror.

Yunarto Wijaya, salah satu tokoh di lembaga survei tanah air sendiri berterus terang jika dirinya pun menjadi sasaran teror. Ia diteror cuma gara-gara hasil quick count yang dilakukan lembaganya, Charta Politika, tak jauh berbeda dari lembaga survei (pollster) pada umumnya. Di mana, hasil hitung cepat pihaknya, menempatkan petahana Joko Widodo di tempat teratas, dan Prabowo Subianto sebagai penantang lagi-lagi harus menelan ludah karena kembali kalah.

Yunarto hanya salah satu contoh, betapa keruwetan pekerjaannya yang dapat dipastikan berpijak pada kaidah-kaidah ilmiah, tetap saja jadi sasaran keruwetan lainnya. Ruwet, karena ada pihak-pihak yang memilih menghadapi realitas dengan pikiran ruwet.

Kalau saja penantang, Prabowo, memilih cara-cara lebih elegan, lebih halus, dan ksatria, semestinya tidak perlu menjadi panglima yang mengarahkan telunjuk kepada mereka yang bekerja di lembaga survei. Pasalnya, musabab telunjuknya itulah akhirnya para pengikut dan pendukungnya pun ikut-ikutan menghantam mereka di lembaga survei. Saat panglimanya mengiyakan jalan sadis, pengikutnya akan memilih cara-cara lebih sadis.

Tuduhan hingga fitnah adalah bagian cara menghadapi kekalahan yang terbilang sadis. Bahkan mungkin bisa sangat sadis. Sebab fitnah, dalam banyak cerita dan catatan, memang acap berujung hal-hal yang mengarah pada tindakan sadis hingga brutal.

Apalagi, terlepas Indonesia dan penduduk di sini acap memuji diri sebagai orang timur yang halus perasaan dan sopan santun, namun rentan bertindak brutal. Ya, Anda pun mungkin tidak lupa, bagaimana ketika ada klub sepak bola kalah saja banyak yang meluapkannya dengan cara-cara brutal.

Maka itu, kalau saja masih bisa berharap, akan lebih elok jika mereka yang kini bersinar sebagai seorang tokoh yang dikenal dan dikagumi banyak orang, pun bisa menampilkan budaya mengagumkan. Budaya apakah itu? Ya, budaya menerima kemenangan dan kekalahan dengan cara-cara elegan, biasa-biasa saja, tidak perlu berlebihan.

Reaksi berlebihan cenderung akan memantik tindakan-tindakan berlebihan. Cerita tentang suporter bola yang dihajar, diseret, hingga ditusuk cukup menjadi gambaran, yang semestinya tidak perlu menular ke "suporter" di ranah politik.

Terlebih jika kita sepakat, bahwa politik bisa baik dan bisa buruk, namun di tangan orang-orang berpendidikan baik, politik adalah jalan untuk menciptakan kondisi-kondisi dan realitas lebih baik. Menghujani tuduhan kepada lembaga yang bekerja dengan ilmu pengetahuan tak dapat dikatakan sebagai reaksi yang baik. Tanpa reaksi yang baik, hampir mustahil bisa berharap tercipta keadaan baik dari ranah politik.

Jangan sampailah orang-orang yang kenyang dan malang melintang di dunia politik justru jadi pemantik kebiasaan-kebiasaan picik. Walaupun jika melihatnya lewat kacamata humor, memang ada joke yang sempat diungkapkan komedian asal "Negeri Paman Sam" Groucho Marx, "Outside of a dog, a book is man's best friend. Inside of a dog, it's too dark to read!"

Ya, kita tidak perlu menyalak di depan mereka yang bekerja dengan ilmu pengetahuan. Sebab mereka bukanlah maling yang ingin membobol rumah Anda. Mereka justru adalah orang-orang yang sedang bekerja, membantu negara ini terbiasa dengan tradisi-tradisi laiknya negara-negara yang sudah siap dengan masa depan: tradisi ilmu pengetahuan.***





Read other related articles

Also read other articles

© Copyright 2019 TULARIN | All Right Reserved