Capres Elitis, Orang Asing Bagi Rakyat Jelata - TULARIN

12 April 2019

Capres Elitis, Orang Asing Bagi Rakyat Jelata

Capres Elitis, Orang Asing Bagi Rakyat Jelata

Salah satu presiden Amerika Serikat, John Quincy Adams, punya pesan yang acap dikutip oleh banyak orang dalam ceramah-ceramah terkait masalah sosial politik atau sekadar obrolan kaki lima. Salah satu pesannya adalah, "If your actions inspire others to dream more, learn more, do more and become more, you are a leader."
Sebagai rakyat, kenapa saya pribadi acap menunjukkan sikap menentang keras orang-orang seperti Prabowo Subianto dengan Sandiaga Uno berkuasa, kurang lebih menemukan kebenarannya di sana. Sebab sebagai rakyat yang lahir dari rahim rakyat jelata, hidup di tengah masyarakat biasa, terbiasa dengan realitas pertarungan realistis sebagai orang-orang biasa, mereka itu adalah orang-orang asing.
Katakanlah saya sebagai orang miskin, jika hidup mengacu kepada dua orang ini, bisa jadi yang lahir hanyalah lamunan hingga merutuki apa yang sudah terjadi. "Kok gue hidup dari kalangan orang biasa, sampe gue cuma jadi orang biasa saja? Mereka, Prabowo dan Sandiaga, bisa dipuja di mana-mana karena dari orok sudah ada jaminan dari harta orang tua." Kira-kira begitulah ratapan yang lahir.
Sekali lagi, sebab Prabowo adalah orang asing. Sandiaga adalah orang asing. Kalau Prabowo sempat mengatakan bahwa kekayaan negeri ini saja hanya mengalir kepada sebagian kecil orang di negeri ini, ia dan pasangannya di Pilpres 2019 itu adalah bagian dari orang yang masuk kasta itu. Elite!
Orang-orang yang terbiasa hidup di lingkaran elite, hanya mengenal dunia elite, tidak benar-benar bertarung dengan terik matahari, tidak perlu bersusah payah bersaing. Mereka menghadapi hidup dengan membawa nama bapak mereka saja maka semua akan lancar-lancar saja. Jika tidak, membawa nama mertua.
Bagi saya, mental-mental begitu bukanlah mental yang dibutuhkan negeri yang--lagi-lagi mau saya bilang--sebagai negara berkembang. Sebab mereka takkan mampu masuk ke dalam kehidupan rakyat jelata. Makanya terkadang saya bahasakan ini di media sosial begini, "Ada orang dari kecil sudah terbiasa dimanja orang tua, dewasa dimanjakan mertua, saya bisa belajar apa dari mereka?"
Tendensius! Silakan saja menghakimi pendapat saya ini sebagai pendapat tendensius. Paling tidak inilah cara saya menikmati kebebasan berpendapat, sesuatu yang juga saya yakini belum tentu didapat kalau sampai kelak kekuasaan berhasil mereka dapat.
Kenapa bisa saya katakan begitu? Sebab mereka yang punya rekam jejak yang terbiasa dimanja, cenderung hanya mau mendengar dan akan berang ketika diminta untuk juga bersedia mendengar. 
Kenapa saya katakan begitu? Sebab mereka yang biasa dimanja, hanya mau mendengar dan peduli apa yang mereka mau. Tidak lebih. Apakah mereka benar-benar mau peduli dan mendengar suara rakyat jelata dan masyarakat biasa? Mereka tidak terlatih untuk itu.
Ibaratnya, jika mereka ingin berjalan ke suatu tempat, hampir tanpa perlu berkeringat, dalam waktu cepat bisa sampai ke suatu tempat. Kasarnya, jika mereka memiliki perusahaan, modal habis, tinggal minta lagi. Jika rugi, tinggal minta lagi. Jika bangkrut, mereka tidak perlu harus membuat kening mengerut.
Untuk orang-orang biasa, rakyat jelata, dunia mereka tentu saja tidak seperti ini. Maka itu, rasanya tidak berlebihan jika saya menyebut mereka sama-sama sebagai orang asing bagi masyarakat kebanyakan. 
Sebagai orang asing, apakah akan dengan gampang merasakan bagaimana kesulitan, kesusahan, kesedihan, hingga mengusap luka-luka orang-orang yang ada di luar mobil-mobil mewah mereka? Apakah akan mudah bagi perasaan mereka untuk terketuk, turun tangan, atau setidaknya merasakan apa yang dirasakan orang-orang di luar rumah mewah mereka? Mimpi, Bro!
Tidak ada yang bisa dipelajari, yang bisa jadi pelajaran hidup, dari kehidupan mereka untuk masyarakat biasa. Untuk orang-orang yang masuk ke dalam kelas rakyat jelata, sekali lagi, mereka adalah orang asing.
Maka kenapa menentang mereka, bagi saya, adalah penentangan atas kemungkinan keterasingan masyarakat biasa dari orang-orang yang selalu menghirup napas dari dunia orang-orang elite ini.
Masyarakat biasa membutuhkan keteladanan dari orang-orang yang paling dekat dengan mereka. Butuh model yang bisa mereka lihat dari dekat, dengan sejarah yang juga tidak jauh-jauh dari mereka, dengan lika-liku yang juga mirip mereka. 
Masyarakat biasa membutuhkan keteladanan dari pemimpin yang bisa meyakinkan bahwa Tuhan memberikan tangan-tangan yang sebenarnya istimewa ketika mereka sadar cuma pada tangan sendiri itulah mereka berusaha. Tidak bergantung kepada siapa-siapa, tapi masih bisa saling berpegangan ketika harus saling menguatkan sebagai sesama orang biasa. 
Maka kenapa, di obrolan-obrolan kaki lima, kalimat yang meluncur dari mulut saya cenderung lugas-lugas saja, "Kalau bapakmu sekaya bapaknya Prabowo dan Sandiaga, silakan percayakan negeri ini kepada mereka. Jika tidak, jangan percayakan negeri ini kepada orang asing. Sebab mereka adalah orang-orang asing dengan kehidupan kita, kawan! Sebab bisa saja kelak kau terasing di negerimu sendiri di tangan orang-orang begini."
(Artikel ini juga tayang di Kompasiana dengan judul: Inilah Orang Asing Bagi Kita Rakyat Jelata)

Read other related articles

Also read other articles

© Copyright 2019 TULARIN | All Right Reserved