Banjir Jakarta Sejak Masa Kerajaan Tarumanagara - TULARIN >

27 April 2019

Banjir Jakarta Sejak Masa Kerajaan Tarumanagara

Banjir Jakarta Sejak Masa Kerajaan Tarumanagara

Sejak abad kelima masehi, kawasan yang kini bernama Jakarta sudah menjadi sasaran banjir. Setidaknya begitulah yang tercatat di Prasasti Tugu, sebagai catatan yang juga menyebutkan bahwa banjir saat itu terjadi ketika Kerajaan Tarumanagara masih berdiri di kota yang kini bernama Bekasi.

Saat itu Jakarta masih menjadi sebuah kota pelabuhan, dan tak terpisahkan dari keberadaan Sungai Ciliwung. Jika kini Jakarta dikenal sebagai kota yang berpenduduk lebih dari 10 juta jiwa, di masa itu hanya dihuni penduduk di kisaran ribuan.

Jakarta memang pernah mengalami pukulan paling buruk dalam sejarahnya. Bukan oleh banjir, melainkan ketika mendapatkan serbuan pada tahun 1619, Jakarta dibakar habis. Di atas reruntuhan dan puing-puing sisa terbakar itulah Jan Pieterszoon Coen VOC (Kompeni) mendirikan kota dengan nama mengikuti benteng tertua yang ada di sana kala itu, yakni Batavia.

Bahkan perencanaan pembangunan kota di atas reruntuhan sisa setelah kekacauan yang juga melibatkan Inggris kala itu, diciptakan Belanda melalui Kompeni berdasarkan lazimnya diterapkan di negeri mereka sendiri.

Belanda menciptakan terusan yang tersambung dengan Sungai Ciliwung. Skenario pembuatan terusan itu juga tidak hanya berangkat dari alasan mencegah terjadinya luapan air atau banjir, tetapi juga menjadi benteng untuk tujuan pertahanan.

Tercatat, paling tidak ada 16 terusan dibangun oleh Belanda dengan nama-nama khas "Negeri Kincir Angin", seperti Tijgergracht, Garnalengracht, Moorschegracht dan lain-lain. Pembangunan terusan ini dilanjutkan hingga pertengahan abad ke-17, dan menjangkau hingga ke sungai-sungai yang berada di luar Jakarta.

Alasan perluasan terusan hingga ke luar kota pun lantaran pertimbangan, selain bisa mengairi perkebunan tebu yang terdapat di luar Jakarta, juga untuk keperluan di dalam kota sendiri. Pasalnya saat itu, jika sudah memasuki musim kemarau, Ciliwung tak bisa diandalkan karena hanya memiliki air yang tidak cukup untuk kebutuhan pertanian dan perkebunan.

Namun banyaknya terusan yang dibangun tak selalu membantu ketika banjir melanda. Tercatat, pada tahun 1699, Jakarta mengalami banjir lumpur akibat letusan Gunung Salak, selain juga diikuti hujan abu yang hitam pekat.

Tentu saja, dengan hantaman semacam itu, semua saluran air pun tersumbat. Ditengarai, hal itu terjadi lantaran di tengah banyaknya terusan, namun tata air di sekitar Jakarta terbilang masih sangat buruk.

Bahkan disebutkan bahwa terusan-terusan yang dibuat saat itu lebih tertuju untuk keperluan pertahanan kota hingga pertanian, selain untuk lalu lintas air dalam kondisi normal. Setelah itu sempat dilakukan beberapa kali pengerukan, namun setiap kali hujan turun tak ayal Jakarta kembali dikepung banjir.

Alhasil, pihak Belanda saat itu acap mengerahkan para narapidana untuk melakukan pekerjaan pengerukan tersebut. Meskipun alat-alat mekanik sudah ada, para narapidana itu disuruh bekerja hanya dengan menggunakan tangan dan alat-alat seadanya seperti pacul dan keranjang.

Selain mengerahkan tahanan dari kalangan narapidana, Belanda juga pernah menurunkan tenaga kerja rodi--pekerja paksa atau tanpa imbalan--yang didatangkan dari Karawang hingga Cirebon.

Itu juga bukan untuk menangani masalah terusan yang tersumbat di kawasan pemukiman, melainkan hanya yang memiliki pengaruh langsung dengan perusahaan atau perkebunan dan kawasan pertanian milik Kompeni.

Pihak kompeni pun sempat berusaha membuat sodetan atau terusan buatan dari Ciliwung, atau dari bilangan Weltervreden ke lembah Cideng, dan itu dilakukan pada tahun 1728.

Setelah pihak Kompeni menyerahkan Jakarta kepada pemerintah kerajaan Belanda, Daendels diangkat sebagai gubernur jenderal Hindia Belanda pertama, juga sempat berusaha terlibat memecahkan masalah pengairan dan banjir tersebut.

Namun Daendels tetap membiarkan tata air begitu saja, dan hanya memfokuskan pada pemindahan kota ke Weltervreden--sebelumnya di Molenvliet. Bahkan salah satu ilmuwan, Franz Wilhem Junghuhn, akhirnya turut menerima akibatnya.

Wilhem Junghuhn yang ingin melanjutkan penelitiannya, harus berjuang keras untuk melewati banjir di Weltervreden supaya dapat mengejar kapal yang akan berangkat. Ia menuju ke pelabuhan pagi-pagi sekali, tanpa penerangan, menerobos banjir. Sayangnya, ia justru tidak sadar sedang berada di pinggir sebuah kali, dan tak bisa menjangkau kapal yang lebih dulu mengangkat sauh untuk berangkat.

Ya, Jakarta kala itu cenderung terlihat sebagai kota yang berdiri di tengah-tengah rawa. Tahun 1918 tercatat sebagai tahun di mana salah satu banjir terbesar terjadi.

Petaka banjir saat itu diawali dengan hujan yang turun hampir tak kenal henti selama 22 hari. Menurut buku Gagalnya Sistem Kanal: Pengendalian Banjir Jakarta dari Masa ke Masa yang ditulis oleh Restu Gunawan, hujan itu berlangsung dari bulan Januari dan baru berhenti di bulan Februari.

Bahkan Weltevreden yang menjadi pusat keramaian pun turut tergenang. Perkampungan seperti Tanah Tinggi, Kampung Lima, Kemayoran Belakang, Glodok turut tergenang. Banjir juga mengepung berbagai kawasan lainnya di Jakarta. Bahkan mencapai ketinggian hampir mencapai leher orang dewasa, atau sekitar 1,5 meter.

Molenvliet yang kini dikenal sebagai lapangan Monumen Nasional tercatat sebagai salah satu tempat pelarian warga untuk mengungsi. Di samping, banyak juga warga yang harus mengungsi ke Pasar Baru atau Gereja Katedral.

Namun setelah banjir yang terjadi ketika Indonesia belum berdiri tersebut, cerita banjir lainnya yang tercatat dalam sejarah adalah banjir pada tahun 1979. Dikabarkan, saat banjir di tahun itu, menjangkau beberapa kawasan yang tidak lazim. Sebut saja Pondok Pinang, Jakarta Selatan, bahkan digenangi air melampaui tinggi badan orang dewasa, atau mencapai 2, 5 meter.

Setelahnya, pada tahun 1996 pun terjadi banjir besar, dan berlangsung sepanjang tanggal 9-Februari. Tragisnya, di beberapa titik, ketinggian air ada yang mencapai 7 meter.

Menurut catatan Sutopo Purwo Nugroho (Evaluasi dan Analisis Curah Hujan sebagai Faktor Penyebab Bencana Banjir Jakarta), saat banjir di tahun tersebut, debit air berada di titik puncaknya. Pasalnya mencapai 743 meter kubik per detik, cukup menggambarkan bagaimana kekuatan banjir saat itu. Tak ayal, puluhan warga meninggal dunia--dalam satu catatan disebutkan mencapai 20 orang.

Banjir besar yang memakan korban puluhan jiwa juga terjadi sepanjang 27 Januari hingga 1 Februari 2002. Kali ini, efek banjir yang mencapai ketinggian hingga 5 meter, menelan korban jiwa hingga 21 orang. Selain itu, jangkauan banjir pun menyasar hingga 42 kecamatan dan 168 kelurahan.

Sejak itu, persoalan banjir serius baru kembali terjadi pada 1 Februari 2007. Diawali dengan hujan yang turun deras dari malam hari hingga keesokan harinya. Tak pelak, hingga 60 persen wilayah Jakarta terendam, dan hanya dalam 10 hari telah menelan korban jiwa dari kalangan warga mencapai 80 orang.

Banjir lainnya yang juga menelan korban jiwa dalam jumlah terbilang besar adalah tahun 2013. Pasalnya, tak kurang dari 20 warga Jakarta meninggal dunia, walaupun dari para korban tersebut sebagian besar--menurut catatan Sutopo Purwo Nugroho--justru adalah warga yang bertempat tinggal jauh dari sungai. Misalnya, meninggal karena tersetrum oleh aliran listrik yang mengikuti genangan air.***

Penulis: Zulfikar Akbar
Sumber Foto: KITLV Leiden, Rijks Museum

Read other related articles

Also read other articles

© Copyright 2019 TULARIN | All Right Reserved