Banjir Jakarta dan Buah Semburan Dusta - TULARIN >

27 April 2019

Banjir Jakarta dan Buah Semburan Dusta

Banjir Jakarta dan Buah Semburan Dusta

Dari dulu, aku tidak pernah suka orang yang ngomongnya kedengaran normatif dan bijak, namun nggak pernah berargumen. Dunia banyak ditipu yang kayak gini.

Apa aksi destruktif paling minimal dari orang yang terus normatif (konstruktif) dalam ucapannya padahal klaim kebenaran-kebenarannya tak pernah diuji? Bertindak destruktif saat klaim kebenaran normatifnya ditantang kenyataan-kenyataan yang tak dikenali atau oleh ide-ide yang lahir dari tempaan.

Jika kita amati dengan cermat, pertarungan politik akhir-akhir ini tentang pertarungan kedua arus tersebut.

Ide-ide lama (yang bisa jadi tepat di masa lalu) melawan kenyataan-kenyataan baru yang direspons dengan tepat oleh ide-ide baru yang mungkin belum sempurna tapi terus berevolusi memperbaiki diri.

Saya dulu pernah bilang: dia yg merasa puas diri dengan pidato-pidato normatifnya, saat terbentur kenyataan-kenyataan baru, secara naluriah akan fokus memperbaiki isi pidatonya. Bagi yang bekerja dengan ide-ide baru merespons kenyataan-kenyataan baru, saat terbentur, memperbaiki kinerjanya

Jika realita mengeras, apakah harus meruncingkannya dengan data dan logika? Kan kata-kata bijak dan normatif bisa meredakan? Orang konservatif condong begitu. Padahal ada solusi progresif: humor yang cerdas! Problem tetap diatasi. Inilah kontribusi Gus Dur dalam narasi politik

Ini kami uji coba saat menghadapi semburan dusta (gambar/kata-kata tajam dan kasar tanpa data). Beberapa ada yang merespons dengan kata-kata bijak, fitnahnya makin deras saja. Saat dicairkan dengan joke-joke merecehkan Firehose of Falsehood mereka, dusta mereka kehilangan racunnya

Dalam otak kita ada bagian untuk logika, etika, estetika dan eksistensi. Logika mudah koyak, pertahanan lapis kedua adalah etika. Jika ini juga koyak, estetika benteng berikutnya. Sesuatu yang indah dan menghibur. Untuk benteng terakhirnya adalah eksistensi kita untuk survive.

Politik demokratis cuma bisa di arena estetika, etika dan logika. Celakanya sekarang kita dipaksa memakai estetika saja untuk melawan politik mereka yg mengancam eksistensi kewarasan. Ekstremisme memaksa pihak-pihak bermain di area survival (bertahan hidup). Ini berbahaya!

Jika logika yang ditopang data tak bisa mereka terima, etika berbasis nilai mereka hina, yang menyelamatkanmu adalah selera humor yang cerdas. Setelah itu masalah kita pecahkan satu persatu. Kata-kata normatif cuma menipu apalagi jika dari mereka yang merampok eksistensimu.*** (Sumber Gambar: Aliansi Kartun)


Penulis: 
Budiman Sudjatmiko, M.Sc., M.Phil.
(Anggota DPR RI)


Read other related articles

Also read other articles

© Copyright 2019 TULARIN | All Right Reserved