Atmosfer Konser Putih Bersatu - TULARIN >

14 April 2019

Atmosfer Konser Putih Bersatu

Atmosfer Konser Putih Bersatu

Berada di Stadion Gelora Bung Karno (GBK) bukanlah pengalaman baru bagi saya pribadi. Banyak event, dari olahraga hingga musik pernah saya ikuti di stadion megah tersebut. Namun hari ini, Sabtu 13 April 2019, benar-benar menjadi pengalaman baru bagi saya. Pasalnya, baru kali ini melihat lautan manusia melampaui semua event yang pernah berlangsung di GBK.

Kesan ini bukan cuma terasakan oleh saya pribadi. Kalangan pers luar negeri yang ikut hadir ke acara bertajuk #KonserPutihBerSATU pun turut menunjukkan apresiasi dan kekaguman mereka.
Sebut saja Jack Board. Senior correspondent dari Channel NewsAsia (CNA) ini juga meluapkan kegembiraannya berada di tengah lautan manusia di GBK. 

"More than 100.000 Jokowi supporters expected to attend the president's stadium rally this afternoon in Jakarta. A keen crowd has the heart of the capital in gridlock," ia tuliskan di akun twitter @JackBoardCNA.

Ia menuliskan cuitan itu pukul 11.28, saat pengunjung acara Konser Putih Bersatu semakin membeludak. Lengkap dengan video yang cukup menggambarkan antusiasme pendukung Jokowi. 
Tidak itu saja, jurnalis CNA tersebut, Jack, pun berterus terang bahwa takkan ada yang bisa mengimpikan akan mampu menarik perhatian massa sebanyak yang didapatkan oleh Jokowi. 

"Leaders of so many countries couldn't dream of pulling a crowd like this," komentarnya lagi.
Jurnalis luar lainnya, Pichayada yang juga sempat meliput kampanye terakhir Prabowo Subianto di Surabaya pun mengakui bahwa acara Capres Joko Widodo dan Kiai Ma'ruf Amin memiliki pengunjung jauh lebih ramai.

"This is very different from Prabowo's final rally in Surabaya's convention centre yesterday. A lot of supporters and party members there but definitely not this many," kata Pichayada, melalui akun twitternya, @PichayadaCNA. 

Tak ketinggalan jurnalis lainnya, dari The Newsmakers, Natalie Poyhonen yang juga pernah berkarier di ABC News Australia, meluapkan kesannya atas acara Konser Putih Bersatu.

Menurutnya, keramaian di acara konser rock atau final kompetisi sepak bola bisa ditemukan dengan mudah di mana-mana. Namun di Indonesia, atmosfer begitu cuma bisa ditemukan di perhelatan politik (Konser Putih Bersatu). 

"Rock concert/football final final level of energy from the crowd almost anywhere else on the planet but in Indonesia this is what a political campaign rally looks like. @Jokowi team's final rally," kata Natalie di akun Twitter @NataliePoyhonen.

Tampaknya gairah optimis yang selama ini ditebarkan Jokowi tidak sekadar menular kepada para pendukungnya di Indonesia. Optimisme itu bisa diibaratkan seperti api unggun yang membebaskan dari ketakutan terhadap kegelapan, dan mengusir kebekuan yang acap lahir dari dunia politik.

Tak jauh dari tempat saya berdiri, persis di sayap kanan panggung utama Konser Putih Bersatu, saya menemukan seorang kakek yang akrab disapa dengan Babeh (70). Usia sepuhnya tak membuat dirinya kalah semangat dengan anak muda. Ia terlihat penuh semangat, penuh tenaga, menari-nari gembira saat menjelang acara diputar musik bernada ceria. 

Bahkan, ada juga yang datang ke lokasi meskipun dengan menggunakan kursi roda. Tampaknya inilah caranya menunjukkan kecintaan pemimpin yang lebih menunjukkan kinerja daripada sekadar menebar kata-kata.


Di luar cerita infrastruktur yang terbilang monumental sepanjang empat setengah tahun Jokowi memimpin Indonesia, hal tidak kalah penting ia tebarkan adalah optimisme dan kegembiraan setiap bertemu dengan rakyat dan pendukungnya. 

Tidak pernah ia terlihat lelah setiap kali bertemu dengan rakyat, dan itu diperlihatkannya hingga ke desa-desa. Maka itu, nyaris dipastikan para pendukungnya memberikan dukungan karena semangat positif yang berhasil ia tebarkan. 

Ini juga terungkap oleh salah satu selebritas yang hadir di acara tersebut, Indra Bekti. "Kita mendukung Pak Jokowi juga berarti membuka harapan bahwa anak-anak kita kelak pun bisa saja jadi presiden!" kata Bekti, karena ia mengaku melihat Jokowi sendiri merintis kariernya hingga jadi presiden benar-benar dari bawah.

Tampaknya, ini juga keyakinan sebagian besar pendukung Jokowi, karena semua melihat bagaimana seorang Jokowi datang dari bawah, dari kalangan rakyat biasa, namun akhirnya bisa menembus kerasnya dunia politik, dan mampu menyisihkan sosok yang kini kembali menantangnya.

Padahal bukan rahasia, pesaingnya tersebut adalah seorang taipan, berasal dari kalangan elite, dan memiliki mesin politik berupa partai politik yang dipimpinnya sendiri. Bahkan di Pilpres 2014, sebagian besar partai berpihak terhadap Prabowo, namun Jokowi mampu mengandaskan sosok yang acap membanggakan karier militer dan pengalamannya sebagai petempur.

Kali ini, Pilpres memiliki hawa tidak jauh berbeda, dan kenapa para pendukung Jokowi justru semakin membesar, karena ia tidak memiliki cerita kekejaman atau beraroma darah. Sejarahnya adalah sejarah bagaimana membangun dan bagaimana mengikuti proses dan mau menjalani proses, dan menunjukkan tekad membangun negeri ini dengan mengajak optimis dan tetap mau mengikuti proses. 

"Saya tidak punya beban masa lalu!" itu juga yang diungkapkan Jokowi saat berada di panggung utama Konser Putih Bersatu hari ini. Ini juga yang mendorong para pemilih logis, karena ia mampu menunjukkan apa yang mampu ia lakukan, bukan sekadar memamerkan kemampuan berkata-kata.*** (Oleh: Zulfikar Akbar - Artikel juga ditayangkan di Kompasiana)

Read other related articles

Also read other articles

© Copyright 2019 TULARIN | All Right Reserved