Surga Berbalut Asap Ganja - TULARIN >

06 Maret 2019

Surga Berbalut Asap Ganja

Surga Berbalut Asap Ganja


Ini tentang kita. Juga tentang asap-asap ganja yang terembus pelan dari mulut dan hidung. Asap yang terlihat malas untuk keluar, karena pikiran menginginkan ia lebih lama di dalam sana.

Ada harapan, asap-asap ganja ini tetap di sana, supaya sempurna khayalan tentang surga. Di dalam kerongkongan, menyebar, hingga ke otak. Bertahan di sana, tidak ke mana-mana, supaya ia semakin menyuburkan semua lamunan.

Tapi, asap ganja itu saja harus dikeluarkan setelah diendapkan dalam hitungan sekian detik. Sudah tidak ada pengaruh terlalu jauh. Butuh asap baru lagi, yang harus kuisap lebih dalam, semakin dalam, hingga aku sendiri tenggelam.

Setelah tenggelam, aku bisa melihat surga. Bukan surga bikinan Tuhan, cuma surga yang berhasil tercipta lewat lamunan saja. Sebab Tuhan masih menunda-nunda untuk memperlihatkan surga itu seperti apa. Tidak tahu, apakah memang Dia memang gemar menunda-nunda?

Kupikir iya juga. Jika ia tidak suka menunda-nunda, mungkin saja orang-orang sepertiku sudah dimatikan lebih dulu sebelum berhasil mengambil keputusan: tetap bergelut dengan asap-asap ganja, atau melupakan asap-asap itu untuk melihat realitas apa adanya. Bukan realitas yang muncul dari ketidakberdayaan pikiran bekerja dengan semestinya.

Beberapa temanku yang tidak suka menunda-nunda, akhirnya memilih tetap bersama kepulan-kepulan asap ganja hingga mereka sendiri kehilangan nyawa. Entah bagaimana ceritanya, tetapi belakangan aku tahu, mereka mati.

Apakah mereka di sana sedang menikmati surga seperti surga yang sering muncul di setiap kali isapan ganja itu menyatu dengan napas? Entahlah. Bisa tidak, bisa jadi juga mereka akhirnya benar-benar memasuki surga itu. Surga yang dibangun sendiri, lewat sekian juta kepulan asap ganja.

Aku, dengan sisa beberapa kepulan asap ganja, yang ada di pikiran, sesekali mengiyakan, mereka mungkin benar-benar sudah ke surga. Sebab dari dulu mereka sering tidak sabar, untuk benar-benar bisa menemukan surga. Tak peduli, itu surga ciptaan Tuhan, atau surgaan bikinan sendiri.

"Sepanjang itu adalah surga, rasanya pastilah sama saja," berkelebat itu di kepalaku. Seolah itu adalah suara mereka dari alam sana, di alam yang sulit kureka. "Mari tertawa, seperti setiap kali kita berbalut dengan asap ganja. Semestinya kita bisa terus tertawa, entah di sana, atau di sini. Kau kapan mau ke sini? Kita asapi surga dengan asap yang dulu kita embuskan sama-sama, teman."***

Read other related articles

Also read other articles

© Copyright 2019 TULARIN | All Right Reserved