Membaca Luna Maya - TULARIN >

13 Februari 2019

Membaca Luna Maya

Membaca Luna Maya


Tiap kali melihat Luna Maya tampil di acara yang kebetulan aku sendiri ada di sana, atau melihatnya tampil di TV dan berbagai media, nyaris sama sekali tidak menggubris urusan kecantikannya. Tapi, ada sesuatu yang paling menarik dari perempuan hebat ini.

Apakah aku terlalu "soleh" hingga tidak merasakan magnet dari perempuan secantik Luna Maya? Atau, aku sudah tidak punya rasa terhadap perempuan? Atau, aku sendiri yang munafik pura-pura tidak tertarik dengan perempuan yang memang terbilang lengkap: cantik, cerdas, energik, anggun, sukses?

Ya, di sini memang aku sedang tidak berbicara seputar perasaan laki-laki, atau insting sebagai laki-laki yang konon "lebih parah" dibandingkan kaum hawa. Tidak, tetapi ini sepenuhnya tentang perempuan dan bagaimana mereka dengan kelebihan yang mereka miliki.

Sekali lagi, Luna Maya adalah perempuan. Ketika melihatnya, apa yang terbetik di kepalaku adalah pengakuan, dia adalah perempuan hebat. Sekali lagi aku melihatnya sebagai perempuan, bukan sebagai aktris, bukan sebagai selebritas, atau sebagai figur terkenal. Sepenuhnya sebagai perempuan.

Sebagai perempuan, dia pantas diakui sebagai perempuan kuat. Ia pernah mengalami tamparan hidup yang membuatnya tersungkur, terpuruk, dan banyak orang berpikir lebih baik bunuh diri jika mengalami pukulan seperti dialaminya. Namun ia mampu membuat dunia terhenyak, karena ia menunjukkan dirinya lebih kuat dibandingkan pukulan terkuat yang pernah menghantamnya.

Ini yang membuatku, di beberapa kesempatan kesempatan bertemu, menaruh hormat dan segan terhadap sosok Luna Maya. Terlepas, ya, aku bukanlah orang yang berada di lingkarannya, dan hampir bisa dipastikan ia tidak mengenal namaku. Juga, aku bukan orang dekat yang sudah mencuri tempat di pikirannya, apalagi hatinya.

Well, rasa hormat dan segan itu 'kan seperti energi. Terlepas ia tidak mengenal makhluk sepertiku, namun energi atau sederhananya, hawa dari rasa hormat dan segan itu pastilah sampai kepadanya. Terlepas mungkin, akhirnya rasa hormat itu cuma bisa tersampaikan lewat tulisan lepas ini.

Ya, aku menaruh hormat terhadap perempuan ini. Sekali lagi bukan karena status sosialnya atau ketenarannya, tapi karena kekuatannya sebagai perempuan.

Luna Maya menjadi salah satu perempuan yang mampu mematahkan pandangan yang acap menghakimi perempuan sebagai makhluk lemah, rapuh, dan gampang patah.

Lihat saja dia. Bagaimana keras pukulan yang pernah menimpanya dengan berbagai cerita hidupnya, ia mampu menampilkan kekuatan sebagai seorang manusia, sebagai seorang perempuan. Ia kembali bisa tertawa lepas, dan bisa melanjutkan perjalanan hidupnya kembali, bahkan bisa dibilang jauh lebih baik.

Tidak mudah. Hampir mustahil. Sebab ia hidup di tengah budaya masyarakat yang mau tak mau harus dibilang sebagai masyarakat yang terlalu rakus mengurus urusan hidup orang lain. Ia berada di tengah fakta di mana orang-orang merasa berhak atas hidup orang lain, Juga ia menjalani kehidupan di tengah realitas manusia yang terlalu banyak pongah karena merasa lebih beragama, lebih terhormat, lebih sedikit dosa, dlsb.

Ya, ia ada di tengah orang-orang, jutaan orang, yang terlalu menggebu-gebu dalam menghakimi kehidupan orang lain. Orang-orang ini padahal lebih banyak yang bahkan gagal menemukan kesalahan sendiri hingga mereka sendiri tak pernah lebih baik dibandingkan orang yang mereka hakimi.

Sebab, mereka tak memusingkan kesalahan dan dosa mereka sendiri, karena merasa masih lebih kecil dibandingkan dosa orang yang mereka hakimi. Jadilah mereka tetap hanya menjadi orang-orang yang "kecil" karena gemar menganggap kecil kesalahan sendiri, dan membesar-besarkan dosa orang lain.

Luna Maya sendiri terbilang berhasil menjadi seorang perempuan yang dapat dikatakan besar. Bukan karena penghargaan yang pernah ia dapatkan karena kariernya atau prestasinya. Ia besar karena kemampuannya mengubah pukulan besar menjadi tenaga besar, sehingga ia mampu berbalik menghajar semua tantangannya dengan tenaga lebih besar dibandingkan hantaman yang pernah menimpanya.

Ini. Inilah yang bikin saya terkagum-kagum dengan sosok Luna Maya. Sekali lagi, bukan karena kecantikannya. Bukan karena karena ketenarannya. Walaupun di sisi lain, ketenaran yang ia punya juga bisa berdampak positif, karena ia bisa mengenalkan kepada siapa saja yang mau melihat hidup dengan positif, bahwa keadaan terburuk pun masih bisa diubah menjadi sangat baik.

Ia sukses menjadikan dirinya sebagai contoh perempuan yang mampu mengubah keadaan terburuk menjadi jauh lebih baik. Kuyakini, kalau saja lebih banyak perempuan mau melihat kehidupan Luna dengan sudut pandang positif, akan ada banyak hal positif yang mereka dapatkan: tentang bagaimana menjadi perempuan hebat, kuat, dan tidak tumbang oleh pukulan hidup.

Kenapa aku sampai berpanjang lebar mengulik-ulik ruang perenungan di pikiran, dan Luna Maya sebagai figur yang kugarisbawahi, karena banyak perempuan di banyak tempat yang memilih terjebak dalam penjara pikiran.

"Aku hancur!"
"Aku sudah tidak punya harapan."
"Aku sudah kehilangan segalanya!"

Kira-kira itulah yang pernah kusaksikan sekeliling, dari banyak orang, tidak hanya perempuan, ketika menghadapi tamparan hidup.

Kenapa perempuan lebih kuperhatikan, karena ini juga aku sedang menyindir diri sendiri. Lebih jauh lagi, menyindir sesama lelaki, yang acap melihat perempuan hanya sekadar dari cover. Bukan dari sesuatu yang jauh lebih esensial sebagai manusia.

Di sisi lain, memang aku berangan-angan supaya mereka yang pernah merasa hancur atau terpuruk, dapat berkaca dari bagaimana Luna menghadapi pukulan terhadapnya. Ia memilih tidak berlebihan dalam melihat pengalaman buruk, dan tampaknya berusaha keras untuk fair dalam membaca fenomena yang menjadi realitas hidupnya. Alhasil, dia lebih mudah bangun, dan ia masih bisa bahagia, atau mungkin lebih bahagia dibandingkan sebelumnya.

Kalau ada yang berpikir bahwa Luna Maya beruntung karena diselamatkan oleh ketenaran, kupikir tidak begitu. Sebab justru semakin tenar seseorang, sejatinya lebih besar beban mental yang mesti ditanggung ketika ia mengalami sebuah pukulan hidup. Kupikir, ia memang mampu menyelamatkan dirinya sendiri dengan sebuah kekuatan yang ia bangun sendiri, dari bagaimana ia berpikir dan bagaimana merespons berbagai situasi yang ia hadapi.

Di sinilah kelebihannya. Di sinilah sosok Luna Maya terlihat sebagai perempuan kuat sekaligus cerdas.

Diibaratkan sebagai petempur, ia mampu membaca dirinya dengan baik, mampu memetakan lawan dengan baik, mampu melihat siapa kawan yang pantas tetap di lingkarannya, hingga memetakan medan pertempuran dengan jernih. Hasilnya, lagi-lagi terbukti, ia cukup berhasil memenangkan pertempuran itu.

Anda tahulah, di tengah kehidupan seperti hari ini, lagi-lagi kalau diibaratkan perang, orang-orang yang ingin membunuh Anda jauh lebih banyak dibandingkan yang menginginkan Anda hidup. Bukan tidak mungkin, saat Anda tenggelam, lebih banyak orang yang memilih membiarkan Anda tenggelam hingga mati alih-alih mengulurkan tangan.

Kalau kesan itu terasa hanya sebagai ocehanku saja, bisa Anda lihat dengan jujur saat Anda sendiri sedang tersuruk atau terpuruk, lebih banyak orang mencela hingga menyalahkan Anda atau lebih banyak yang menguatkan Anda?

Kupikir fakta ini juga dihadapi oleh Luna Maya. Menariknya, ia tidak meratapi sedikitnya orang yang mau turun tangan menguatkannya. Ia lebih fokus kepada siapa saja yang tetap berada di dekatnya, dan lebih fokus lagi pada apa yang ia sendiri bisa lakukan menghadapi segala pukulan hidup.

Ia dapat dikatakan mampu mengatasi keinginan meratapi keadaan, dan lebih memilih tetap melihat ke depan, ke arah berbagai peluang yang masih menunggunya. Bagaimana bisa yakin begitu? Sepanjang Tuhan masih memberikan napas, artinya Dia masih menyediakan berbagai peluang untuk yang hidup.

Jika seorang ibu saja takkan tega membiarkan anaknya terluka sendiri karena begitu cintanya kepada buah hatinya, apalagi Tuhan Yang Maha Pengasih pastilah takkan meninggalkan hamba-Nya yang terluka.

Bahwa ada saja yang menghina, mencela, dan mengait-ngaitkan dengan masa lalu dengan berbagai cap yang buruk, toh faktanya tidak merugikan seorang Luna Maya.

Tuhan pun tak peduli kata orang ketika Dia melihat manusia yang hanya bisa bergantung kepada-Nya. Lagian, orang-orang yang menghina itu belum tentu juga tidak lebih hina dibandingkan yang dihina.

Bukan mustahil, orang yang dihina-hina bisa jadi mendapatkan kemuliaan di sisi Tuhan, dengan kemuliaan yang tidak bisa diraba oleh yang menghina.

Duh, maaf, perenunganku lagi-lagi berbau khutbah Jumat.

Namun itu memang lahir dari perasaan masygul karena banyaknya orang terlalu sibuk dengan kehidupan orang lain, hingga lupa kehidupannya sendiri sudah berada di anak tangga mana sih? Kupikir ini yang semestinya perlu ditanyakan kepada diri sendiri. Aku juga menanyakan begitu kepada diriku sendiri.

Terkait Luna Maya, aku yakin, kalau ada yang pernah meremehkan atau menghinanya, sebagian besar dari mereka masih berada di tangga hidup yang tetap di bawahnya.

Kenapa? Lantaran Luna lebih menyibukkan dirinya dengan urusan dirinya sendiri, membawa kehidupannya ke arah lebih baik, daripada memusingkan urusan orang lain.

Sementara orang-orang tadi, bisa jadi masih saja terperangkap dalam kebiasaan mengurusi kehidupan orang lain, hingga tak sempat mengurus urusan sendiri. Apa yang kemudian terjadi, semakin bertumpuk saja masalah pribadi yang tak terurus. Mereka memilih bertahan dalam kegemaran mencari-cari kesalahan orang-orang, hingga tak sempat menemukan kesalahan sendiri untuk diperbaiki dan hidup lebih baik.

Maka kenapa, Luna Maya ini menarik. Dia bisa diibaratkan sebagai buku yang berkisah apa adanya, dan bisa dibaca oleh siapa saja. Bisa jadi ada yang cuma memilih melihat sampul saja, atau ada yang mau membaca dengan niat baik, bukan mustahil bisa mendapatkan pelajaran yang sangat penting.

Namun selama ini Luna Maya memang terbilang lebih memilih "asyik sendiri" dalam arti tidak serewel orang-orang yang merasa sudah punya kavling surga. Kubayangkan, ada suatu waktu kelak ia tampil lebih jauh--bukan untuk rewel--melainkan untuk bisa menjadi teman cerita, teman berbagai bagi banyak perempuan lainnya.

Ia bisa menjadi teman para perempuan di negerinya untuk berbagi cerita, saling menguatkan, saling tertawa, dan makin sedikit perempuan yang meratap dan terjebak perasaan hancur atau tidak berdaya.

Entah kelak ia membuat semacam buku, atau menjadi host seperti Oprah Winfrey, yang bisa berbagi inspirasi sehingga siapa saja yang pernah dihajar oleh hidup, terutama kaum perempuan, agar bangkit, berdiri, berjalan, dan berlari kembali ke tujuan hidup yang pernah mereka impikan sejak masa kecil ketika setiap cita-cita masih bisa dilihat dengan ceria dan bahagia.

Kenapa perlu kusinggung ini, karena kuyakini sih, dalam banyak cerita perempuan yang pernah terpuruk atau terpukul oleh kehidupan, bisa jadi mereka memang perempuan-perempuan pilihan Tuhan. Mereka adalah perempuan-perempuan hebat dan kuat. Jika tidak, mana mungkin Tuhan memberikan kepercayaan berupa beban sangat besar.

Luna Maya bisa menjadi sahabat mereka, untuk melihat bahwa orang-orang yang pernah diberikan beban hidup sangat besar adalah orang-orang yang dipercaya oleh Tuhan. Tak ada maksud lain, kecuali Tuhan menginginkan mereka menjadi perempuan-perempuan mulia.

Bahwa masih ada saja yang mencela mereka, namun mereka dapat teryakinkan, bahwa sekalipun ada manusia yang menulis nama mereka dengan tinta yang buruk, bisa jadi Tuhan sudah menulis nama mereka dengan tinta emas di tempat yang tak terlihat mata manusia.

Kenapa terbetik begitu, karena ini berkaitan juga dengan perjalanan panjang sejarah perempuan. Ini juga menjadi dedikasi banyak perempuan kuat yang akhirnya memilih menguatkan kaumnya. Seperti halnya Audre Lodre di Amrik sana yang memilih menjadi mulut bagi banyak perempuan yang tak leluasa bersuara, dan menjadi suara bagi mereka yang takut bersuara.

"I write for those women who do not speak, for those who do not have a voice because they were so terrified, because we are taught to respect fear more than ourselves. We've been taught that silence would save us, but it won't," begitulah kira-kira kata Mbak Audre. (Foto: theshonet.com)





Read other related articles

Also read other articles

© Copyright 2019 TULARIN | All Right Reserved