Kala Tinder Jadi Pelarian - TULARIN >

27 Februari 2019

Kala Tinder Jadi Pelarian

Kala Tinder Jadi Pelarian

Awalnya ia hanya ingin memulihkan lukanya. Ada cerita cinta yang memberinya luka sangat dalam, tak dapat ia luapkan kepada siapa-siapa, hingga ia mencari segala cara memulihkan luka-luka itu.


Tinder akhirnya menjadi pelariannya! 

Kalau merujuk penjelasan Google, tinder adalah layanan pencarian sosial berbasis lokasi, sekaligus memfasilitasi komunikasi antara pengguna yang saling tertarik, cocok (match) dan satu sama lain dapat saling mengobrol.

"Ya, di sanalah aku melarikan diri," kata Tias--bukan nama sebenarnya.

Ia berkisah bahwa pengalamannya dalam berpacaran sempat membuatnya merasa terpuruk. Ia mengaku merasa seperti kehilangan pegangan dan kendali. 

"Aku tidak lagi berharap banyak pada hubungan bernama pacaran, tapi aku memang membutuhkan seseorang yang bisa menjadi tempat menjawab banyak hal yang kubutuhkan sebagai manusia," kata Tias lagi.  

Ia merasa, membuang waktu untuk serius berpacaran tak membuahkan apa-apa. Selain, ia pun tak dapat bertualang mengikuti kemauannya yang lebih menyukai kebebasan daripada terkekang oleh sebuah hubungan.

"Jadi, aku menolak pacaran. Aku lebih memilih untuk menjalin hubungan friend with benefit saja," Tias bercerita lebih jauh. "Tiap ada yang mendekat, aku tegasin saja, pacaran ogah, tapi kalau mau menjalani hubungan bebas, hayuk." 

Ya, Tias memiliki ketidakpercayaan yang cukup dalam terhadap hubungan yang menuntut komitmen. Sebab menurutnya, komitmen lebih sering membuatnya terbelenggu, dan merasa tidak menjadi diri sendiri. 

Maka itu, akhirnya ia memanfaatkan tinder untuk membantunya leluasa melanjutkan petualangan. Bukan sekadar untuk kebutuhan biologis, walaupun itu juga dia akui sebagai sebuah kebutuhan pokok, tetapi juga untuk bisa menyelami dirinya dan orang-orang di sekitarnya.

"Ada sih terkadang cowok ketemu di tinder, tapi setelah sempat jalan beberapa lama, lalu dia mulai melibatkan perasaan, akhirnya bubar, deh," dia bercerita lebih jauh.

Sekali waktu ia datang ke tempat kenalan tinder yang menarik perhatiannya. Menginap di sana, dan saat tertidur, gadget yang ia punya akhirnya dibuka oleh kenalannya tersebut. Kemungkinan kenalannya ini menggunakan jarinya kala Tias tertidur pulas, agar bisa membuka gadget yang dikunci dengan finger-print. 

"Saat itu dia melihat dan membuka semua isi chat di hape-ku," ceritanya. "Ada beberapa chat berisikan sexting, dan ini bikin dia sakit hati dan sedih. Aku justru marah, ngapaian juga dia membuka hape-ku tanpa permisi, dan seperti nyuri-nyuri untuk cari tahu. Akhirnya, ya sudah, hubunganku dengannya berakhir."

Itu merupakan salah satu pengalamannya dari kegiatan melarikan kepenatan lewat aplikasi bernama tinder. Bisa memberikannya sebuah jawaban untuk kebutuhan-kebutuhan tertentu, namun memang tak bisa memberikan apa-apa yang lebih jauh dari itu--semisal sebuah hubungan serius.

Tentu saja, hubungannya dengan pria-pria pengguna tinder tersebut tidak berhenti di situ saja. Namun ia juga sempat beberapa kali menjalin hubungan berlabel "FWB" atau sekadar saling menguntungkan, saling memenuhi kebutuhan, namun tidak melibatkan perasaan.

"Terlalu ribet kalau harus melibatkan perasaan," kata dia. 

Akhirnya ...

Apakah Tias akhirnya sepenuhnya bisa mengikuti keinginannya untuk sepenuhnya bebas? Tidak.

"Akhirnya aku tetap kembali menjalin hubungan pacaran. Eit, tapi bukan lewat Tinder!" kata dia.

Tias akhirnya menemukan kekasih barunya justru lewat cerita pertemanan, karena memiliki hobi yang sama, lalu bertemu, hingga mereka akhirnya menjalin hubungan serius.

Meskipun ia sempat mengalami rasa tidak percaya terhadap hubungan bernama pacaran, namun akhirnya ia berusaha untuk bisa kembali percaya dan mengiyakan untuk menjalin hubungan yang lebih serius tersebut.

"Sebelumnya, dalam beberapa bulan saja hubunganku dengan cowok-cowok pasti kandas. Sejak dengan dia, mungkin bisa dibilang rekor, akhirnya aku bisa menjalin hubungan jauh lebih lama dibandingkan sebelumnya!"

Apakah ia ingin memberikan pesan bahwa hubungan lebih serius lebih meyakinkan didapatkan dari luar Tinder? Bisa jadi benar, tapi mungkin saja tidak begitu.


Lebih dalam tentang Tinder

Di Indonesia, Tinder memang terkenal sebagai salah satu aplikasi gaya hidup yang sejak peluncurannya dipercayakan kepada Ogilvy Indonesia. Bahkan ada catatan menarik, Indonesia justru tercatat sebagai negara pertama di Asia Tenggara yang dituju oleh Tinder. 
Menjelang pengujung September 2018, Yuliani Setiadi, General Manager, Head of Customer Experience, Ogilvy Indonesia sempat membeberkan berbagai hal terkait dengan aplikasi tersebut.
"Indonesia merupakan negara dengan tingkat penetrasi internet yang mencapai lebih dari 50% populasi yang haus akan konektifitas sosial personal, yang merupakan target pasar Tinder," kata Yuliani saat menjelaskan kenapa Tinder memilih Indonesia lebih dulu di Asia Tenggara.
Di sisi lain, ia juga menyebutkan bahwa meskipun Tinder dikenal sebagai aplikasi kencan pada awalnya, namun belakangan tak hanya berkutat di sana saja. Menurutnya, Tinder telah bertransformasi menjadi aplikasi tujuan untuk bertemu dan berkenalan dengan orang lain yang memiliki ketertarikan yang sama. 
Menurutnya lagi, meskipun sekilas tak jauh berbeda dengan awalnya, namun transformasi ini akan memerlukan campaign komunikasi yang komprehensif, selaras dengan budaya dan kebiasaan di negara di mana mereka beroperasi. 
Maka itu, pihak Tinder pun sempat memberikan waktu khusus untuk mencari mitra agensi pemasaran di Indonesia.  Sebab mereka menginginkan dapat melakukan peluncuran kampanye kreatif yang berdampak nyata dan relevan sebagai platform untuk membangun narasi brand Tinder dalam cara yang unik dan disruptif. 
Tinder telah menjadi lebih dari sekedar otoritas dalam hal berkencan, terutama ketika banyak milenial sekarang ini menggunakan Tinder untuk berkenalan dan bertemu dengan orang-orang yang memiliki ketertarikan yang sama.
Country Manager Korea, Japan, Indonesia of Tinder, Lyla Seo, sempat bercerita kenapa Ogilvy Indonesia dpercayakan untuk memegang Tinder. Pasalnya, pihaknya menilai perusahaan tersebut mampu menjadi representasi cara berpikir yang kaya dengan kreativitas.
Bagaimana akhir-akhir ini?
Kompas.com sempat melansir artikel menarik seputar Tinder. Di artikel tersebut juga disebutkan bahwa keberadaan aplikasi dan situs kencan seperti Tinder seringkali membuat banyak orang berdecak tak setuju. 
Banyak yang beranggapan bahwa Tinder merusak makna cinta dari sebuah hubungan dan hanya ladang seks bebas. 
Namun, ternyata hal ini sama sekali tidak benar. Bahkan, sebuah studi yang baru saja dipublikasikan menemukan bahwa mayoritas pengguna Tinder menghargai hubungan jangka panjang. 
Kompas.com mengutip laporan sekelompok peneliti dari University of Sydney yang mempelajari 366 pengguna Tinder mengenai perilaku dan motif mereka dalam menggunakan situs kencan. 
Menurut penulis studi tersebut, Dr Mitchell Hobbs, fungsi sosial sebuah aplikasi tergantung dari penggunanya. “Beberapa aplikasi dijadikan jalan untuk seks bebas, sementara yang lainnya lebih terlihat seperti jasa biro jodoh. Untuk aplikasi yang sangat populer seperti Tinder, kedua hal ini bisa berlaku,” Hobbs menjelaskan.
Berikut adalah tiga penemuan penelitian ini mengenai Tinder: 
1. Sebagian besar masih percaya monogami
Penelitian ini menemukan bahwa 72 persen pengguna Tinder percaya dengan monogami. Pakar hubungan Aimee Harstein mengatakan, sekilas aplikasi terlihat seperti mematikan makna cinta dan kebanyakan pengguna pria hanya mencari hubungan yang kasual. Berbeda jika melihat lebih dalam, nyatanya orang-orang zaman sekarang tidak jauh berbeda dari yang dulu. 
2. Mayoritas percaya Tinder bisa jadi teknologi yang membantu menemukan jodoh
Ternyata aplikasi kencan memberi penggunanya lebih banyak kesempatan untuk mencari pasangan hidup dan bertemu dengan orang-orang baru. Sebanyak 87 persen dari responden studi ini percaya bahwa mereka memiliki lebih banyak kesempatan tersebut berkat teknologi. 
3. Membantu bisa mengendalikan hubungan cinta hingga seks
Sebanyak 66 persen responden yang mengatakan bahwa Tinder memberi mereka kendali lebih dalam hubungan cinta dan seks.
Ada yang beruntung hingga kaya raya
Anda pastilah belum lupa cerita tentang salah satu presenter olahraga, Rey Utami yang sempat jadi buah bibir. 
Ya, Rey menjadi salah satu pengguna teknologi kencan tersebut untuk menemukan jodohnya. Sekali lagi, benar, ia mendapatkan jodoh lewat aplikasi Tinder. 
Rey hanya membutuhkan waktu tujuh hari sejak berkenalan hingga memutuskan untuk menikah dengan Pablo Putra Benua.
Bahkan ia sempat bikin iri sebagian pengguna saat ia memamerkan harta-harta pembelian sang suami yang ia dapatkan via Tinder. 
Seperti yang pernah viral, ia sempat bikin heboh saat memamerkan gawai bermerek Vertu berwarna coklat keemasan. 
Maklum, jarang-jarang ada yang bisa memiliki gawai seperti itu, karena Vertu merupakan telepon genggam anti-sadap dan bahkan mampu membuat delay maskapai penerbangan. Bisa dimaklumi sih, karena kalau melihat harganya pun sesuai dengan kelebihan dimiliki gadget tersebut, karena mencapai harga sekitar Rp270 juta.
Tidak itu saja, Rey benar-benar sangat dimanjakan, bahkan dana untuk perawatan gigi hingga Rp 500 juta pun diberikan suaminya. Catet! Ia mendapatkan uang hingga Rp500 juta cuma untuk veneer gigi.
Kisah hidup Rey dan Tinder memang bak dongeng. Bagaimana tidak, hanya dalam hitungan hari, iabergelimang harta.  
Lalu?
Apakah Anda akan menjadi bagian pengguna Tinder? Tentu saja hal itu sepenuhnya menjadi keputusan Anda sendiri. 
Sepanjang Anda bisa memastikan aplikasi tersebut bermanfaat untuk Anda, tak ada yang bisa melarang. 
Namun jika akhirnya meyakini tak ada yang bermanfaat yang bisa diharapkan, mungkin ada baiknya lebih sering bersosialisasi, bertemu dengan teman-teman lama, mencari teman baru dengan berbagai macam cara lainnya.***

Read other related articles

Also read other articles

© Copyright 2019 TULARIN | All Right Reserved