Tentang Siapa Saja yang Merasa Paling Susah - TULARIN

25 Januari 2019

Tentang Siapa Saja yang Merasa Paling Susah

Tentang Siapa Saja yang Merasa Paling Susah


Jangan ikut-ikutan melow atau patah hati cuma karena di mana-mana banyak orang kaya raya tiba-tiba berlagak paling peduli. Di mana-mana mereka bicara tentang hidup yang makin susah. Tak peduli jika kata-kata mereka benar-benar bikin banyak orang semakin merasa susah, sedangkan mereka yang seolah paling peduli terhadap orang susah itu bisa tertawa lagi dengan mudah.

Itu terbetik di pikiran saya, karena beberapa waktu lalu ada teman masa kecil yang saya tahu pasti punya warisan berupa harta yang jauh di atas makhluk semacam saya. Ia tiba-tiba menyapa di facebook, dan menunjukkan bahwa dia paling susah sedunia.

Padahal, saya tahu pasti, dari kecil ia sudah lebih terjamin hidupnya karena keluarganya memang keluarga berada. Juga hampir bisa dipastikan ia tak pernah merasakan bagaimana kondisi tidak punya apa-apa,bahkan untuk makan pun terkadang satu telur goreng mesti dibagi empat.

Atau, ia mungkin tidak pernah merasakan bagaimana harus menghadapi kondisi, misalnya, tidak ada lauk sama sekali. Juga bisa dipastikan, ia tak pernah harus merasakan bagaimana makan hanya dengan taburan garam di atas nasi dan cuma dicampur dengan air minum sebagai kuah.

Situasi-situasi saya sebut terakhir memang situasi yang saya hadapi sendiri dari kecil sampai kuliah atau bahkan sempat terjadi hingga sampai menjelang menikah. Situasi ini tidak dialami teman kecil saya tersebut, karena saya sangat mengenal latar belakang keluarganya yang jauh lebih mapan.

Bukan cuma satu teman ini saja, tapi memang terlihat banyak orang lainnya yang acap berkeluh kesah lalu sedikit-sedikit menyalahkan pemerintah. Seolah penyebab kesusahan hanya ada di luar dirinya sendiri.

Padahal, kalau saja mau jujur-jujuran, mau malaikat pun jadi pemerintah, kalau seseorang menutup diri hingga tidak tahu perubahan hingga tidak mau berubah, bisa dipastikan akan tetap susah.

Maka itu, saat menerima "curhatan" bahwa hidup semakin susah dari sang teman tadi, saya cuma bisa memberikan pesan. Sedikit berbau menggurui. "Coba lihat-lihat lagi, kalau ada masalah ekonomi bisa saja karena kita masih berpikir ke belakang saat dunia sudah berjalan ke depan. Ilmu pengetahuan sudah maju, kita masih betah dgn ilmu yang sudah ada saja. Kalau ketinggalan karena kesalahan kita sendiri. Jangan lempar kesalahan kepada orang lain."

Menggurui begitu sebenarnya adalah sesuatu yang tidak saya sukai. Namun lagi-lagi karena  makin banyak yang condong berkeluh kesah, dan seolah di balik kesusahannya cuma karena kesalahan orang lain. Inilah yang menggelitik saya.

Makanya tiap ada teman-teman kecil yang tiba-tiba berkeluh kesah, dan mereka cuma menuding semua karena kesalahan pemerintah, saya sendiri cuma bisa tersenyum saja. "Hei, jika di masa kecilmu senang karena terbiasa dimanjakan, cobalah melihat dengan mata dan sudut pandang hari ini. Temukan apa yang kurang di pikiran atau pengetahuan, benahi itu untuk bisa menemukan jawaban untuk setiap kesusahan."

Lagi-lagi berbau menggurui, ya.

Tapi, begitulah yang saya kira menjadi persoalan. Orang-orang yang terjun ke dunia politik menjual cerita tentang orang susah, dengan cara bercerita yang sangat sempurna seolah mereka sendiri paling susah di dunia. Mereka tidak peduli, bahwa dengan narasi-narasi mereka yang mengusap-usap cerita kesusahan, justru bikin banyak orang susah merasa semakin lemah.

Ketika orang-orang susah ini semakin lemah, di sanalah mereka manfaatkan orang-orang lemah untuk mereka setir ke mana mereka mau, ke mana mereka suka. Mereka sama sekali tidak tergerak untuk menunjukkan, di mana sebenarnya akar persoalan. Sebab mereka berpolitik, dan dalam politik terdapat lawan, lalu mereka menunjukkan telunjuk kepada lawan bahwa lawan mereka inilah yang jadi penyebab semua kesusahan.

Sayangnya, sebagian orang yang berkeluh kesah terbuai dengan cerita mereka yang berpolitik, hingga masalah para politikus tadi dikiranya sama dengan masalahnya. Jika sudah di sini, politikus terbantu menyelesaikan masalahnya, sedangkan yang meratapi kesusahan tetap saja dalam kesusahannya.

Kenapa begitu, lha iya karena ia mendengar begitu saja drama-drama para politikus yang bisa menjual apa saja, dari menjual agama sampai menjual nama orang susah. Alhasil, orang-orang yang benar-benar susah tadi cuma membantu menjawab kesusahan politikus, kesusahan mereka yang berpolitik, dan mereka sendiri tetap susah.

Bagaimana tidak begitu, jika setiap kali merasa susah cuma bisa mengarahkan mata dan telunjuk ke arah yang terjauh dari mereka, entah pemerintah, entah siapa saja. Jadilah mereka tidak menemukan bahwa ada penyebab kesusahan yang paling dekat dengannya: dirinya sendiri.

Kita. Ketika susah, jangan melulu menimpakan kesalahan kepada orang lain. Jangan juga melulu membawa-bawa pemerintah saat membicarakan kesusahan sendiri, sebab cara ini juga takkan bikin kita orang susah lantas terlihat elite. Silakan saja kritik pemerintah, tapi jangan juga sampai lupa bahwa situasi apa saja, tetap kembali ke tangan sendiri. Sebab, di antara yang pasti bisa kita kendalikan hanyalah tangan sendiri.

Begitu juga dari banyak pikiran yang paling bisa diubah, adalah cara berpikir diri sendiri. Seperti juga dari semua kesalahan yang terlihat di sekeliling, maka kesalahan yang paling bisa diubah adalah kesalahan diri sendiri. Jika tidak mampu menemukan ini, yang terjadi cuma bisa memaki orang-orang yang tidak ada sangkut pautnya dengan hidup Anda, dan Anda sendiri tetap saja susah.

Kenapa saya bicara begitu? Lha, dari tampang saya saja sudah kelihatan, bahwa ini juga tampang orang susah, namun memilih menolak berkeluh kesah dan menolak menuding bahwa itu terjadi karena orang-oranglah yang salah. Saya sendiri memilih mencari kesalahan dan kekurangan diri sendiri saja, walaupun tidak mudah.

Namun bukan berarti benar-benar tidak mudah. Sebab, biasanya semakin jujur seseorang, maka semakin mudah ia menemukan kesalahan diri sendiri. Semakin tidak jujur, semakin sulit menemukan kesalahan diri sendiri. Seringnya, yang bikin banyak orang susah, cuma karena sulit jujur, hingga tidak mengakui kesalahan sendiri, dan tidak tahu bahwa banyak hal pada diri sendiri yang mesti diperbaiki.

Ah, sampai akhir tulisan pun akhirnya saya cuma bisa menggurui. Sudahlah, kalau berguna silakan diingat kuat-kuat. Kalau tidak berguna, saya pun harus minta maaf sudah membuat Anda membuang waktu untuk membaca ini.

Eh, apakah tulisan dimaksudkan supaya jangan menyalahkan pemerintah? Bukan. Cuma jeweran saja, dengan sedikit jalan keluar: jika sempat merasa sangat kesusahan, dalam kesusahan itu cobalah  bantu yang lebih susah dengan apa yang Anda punya. Biasanya, cara inilah yang paling sering membuka jalan untuk Anda supaya tidak lagi berkeluh kesah dan merasa paling susah di dunia. 

Sebab, sering terjadi, jalan keluar dari kesusahan bukanlah memamerkan bahwa Anda paling susah, tetapi karena Anda masih peduli kepada orang yang lebih susah. Dari sanalah Tuhan Yang Mahabaik itu memberi senyum-Nya untuk Anda. Siapa tahu dalam keadaan susah masih peduli kepada orang yang lebih susah, tak lama setelahnya kesusahan Anda pun hilang.***

Read other related articles

Also read other articles

© Copyright 2019 TULARIN | All Right Reserved