Mereka Mengeluh Seolah Hidup Sudah Tidak Berguna - TULARIN

28 Januari 2019

Mereka Mengeluh Seolah Hidup Sudah Tidak Berguna

Mereka Mengeluh Seolah Hidup Sudah Tidak Berguna

Banyak saya temui orang yang meratapi dirinya. Ada yang meratapi dirinya terlalu banyak kesalahan, merasa tidak berguna, merasa kurang membawa manfaat, dan berbagai cerita yang terkesan membenarkan untuk meratapi diri. 

Kamu mau bilang, eh iya, aku juga sering bertemu yang begitu, tuh.

Sudah, kalaupun pernah atau bahkan sering, jangan dihakimi. Walaupun desakan untuk menghakimi mereka itu terkadang sangat kuat. Saking kuatnya desakan itu, memang tak sedikit juga yang akhirnya memilih menghakimi mereka sebagai orang yang lemah, bodoh, berpikiran sempit, picik, yang justru bikin mereka semakin terpuruk.

Jangan meniru Rocky Gerung, pakar serba tahu yang sering tampil di TV itu. Ia bisa tenar, tapi orang-orang hanya ingat satu kata jika membayangkannya: dungu. Cuma gara-gara ia sering melemparkan kata itu kepada orang yang tidak disukainya. Akhirnya, kalau mendengar namanya, langsung teringat kata dungu. Sesuai dengan apa yang paling sering disemburkannya terhadap orang-orang.

Meniru tabiat begini cuma merangsang kemauan buat menghakimi orang saja, dan seolah di seluruh dunia hanya ada orang yang dungu. Jadilah, yang ginian biasanya asik sendiri, terlalu lama sendiri, sudah terlalu lama sendiri. Malah jadi nyanyi.

Sudah. Itu tadi cuma bercanda saja.

Kembali ke cerita kita sajalah. Tentang orang-orang yang sering meratapi diri sebagai orang tidak berguna, tidak bermanfaat, dan sebagainya.

Di mana-mana akan ada saja orang-orang seperti ini. Atau, bisa jadi kita sendiri pernah berada di titik ini, sehingga berpikir akan lebih baik mati sajalah daripada hidup lama-lama tapi tak membawa manfaat apa-apa.

Sudah. Siapa saja memang rentan mengalami begini.

Tidak cuma mereka yang masih berusia terlalu muda dan belum banyak makan asam garam kehidupan. Sebab, yang sudah berumur, berusia lebih tua dari kita yang "anak kemaren sore" ini juga banyak yang acap terjebak pada perasaan itu.

Kalau kamu sempat menyimak apa yang kemudian terjadi atas mereka yang terjebak dalam ratapan tersebut, kalau tidak berhasil bangkit, biasanya akan terlempar lebih dalam ke jurang kebiasaan yang jauh lebih buruk dan lebih tidak bermanfaat.

Saya bertemu banyak kenalan yang akhirnya tenggelam dalam dunia hitam seperti narkotika dan sejenisnya. Tak bisa bangkit lagi, hingga ada yang harus menghabiskan usia di dalam penjara.

Selayaknya cerita banyak pemakai narkotika, awalnya cuma karena kekecewaan terhadap kehidupan saja.

"Hidup kok gini-gini amat, ya?"
"Perasaan hidup orang-orang lebih bahagia dari gue, deh."
"Kok rasanya Tuhan saja sudah tidak peduli gue, ya?"
"Semua orang tidak ada yang baik. Semuanya jahat!"

Ya, kalau saya simak-simak cerita mereka yang tenggelam ke dalam "alam lain" tersebut, banyak mengawalinya dari keluhan-keluhan semacam itu. Termasuk yang tadi saya singgung sebagai orang yang akhirnya harus menjalani kehidupan dari penjara ke penjara.

Ada perasaan hidup sudah tidak berguna. Ada vonis yang mereka ciptakan sendiri bahwa dunia sudah tidak adil, terlalu kejam, dan anggapan-anggapan yang hanya mengikuti pikiran buruk yang gagal diusir dari dalam kepala mereka.

Vonis-vonis begini lantas merangsang mereka untuk memilih jalan yang juga buruk. Seorang temanku mengawali dengan menjadi agen ganja, lalu ia sendiri jadi polisi, sampai akhirnya dipecat karena diam-diam tetap melanjutkan profesi lamanya saat sudah berstatus abdi negara.

Ada lagi yang menghabiskan waktunya dengan berjudi dan berjudi. Soal kebutuhan rumah tangga, kebutuhan anak-anak, akhirnya harus ditanggung sendiri oleh istri.

Singkat cerita, mereka yang awalnya hanya meratapi kok hidup mereka terasa tidak berguna, tidak bermanfaat, akhirnya benar-benar tidak bermanfaat.

Seperti cerita tentang lelaki yang gara-gara berjudi lalu kebutuhan rumah tangga pun jadi tanggung jawab istri, sampai ia sakit keras, dan meninggal pun jadi beban istrinya.

Nah, apakah di sini aku akan berdiri sebagai penasihat? Tidak.

Apalagi aku, mungkin sama seperti kamu, bukan orang yang terlalu mengagumi orang yang lihai dalam menabur nasihat. Cuma kagum saja dengan orang-orang yang tidak terlalu banyak bicara, namun justru bisa menjawab pelan-pelan, bagaimana membuat mereka lebih bermanfaat, dan hidup mereka jadi lebih berharga.

Mereka berusaha tidak terpaku pada keinginan untuk meratap tadi. Sebab mereka menyadari, sekadar meratap saja bahwa mereka kurang bermanfaat, namun tidak tergerak untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat, takkan membuahkan apa-apa.

Mereka memilih berpikir simpel saja, kalau sempat merasa menjadi orang yang kurang bermanfaat, tinggal mencari cara bagaimana membuat hidup menjadi lebih bermanfaat.

Ketika mendengar ada teman kesulitan, mereka membantu sebisanya tanpa diminta. Saat mendengar ada saudara yang sedang memiliki kebutuhan terhadap sesuatu, lalu mereka memberinya. Kira-kira seperti itu.

Apakah dengan melakukan itu lantas akan membuat hidup berubah bak sulap? Tidak juga. Paling tidak, hal-hal yang sekilas remeh itu, jika sudah menjadi kebiasaan, akan memberikan sesuatu yang tidak dapat diremehkan. Sebab, kebiasaan menentukan karakter!

Apa yang membuat seseorang disenangi, sering dipercaya untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan tertentu, dipercaya untuk menangani urusan-urusan paling menentukan, seringnya karena karakter. Jika karakter sudah terbentuk baik, berbagai peluang baik dapat dipastikan akan berdatangan.

Tapi, bagaimana membentuk itu? Kira-kira begitu pertanyaanmu, sambil menghentak-hentakkan kaki ke tanah, kan?

Ini sama saja memintaku jadi penasihat lagi.

Aku sendiri, sih, selama ini cuma belajar membiasakan untuk melatih pikiran baik. Sebab, jika pikiran sudah terlatih bekerja dengan baik, berpikir dengan baik, biasanya akan berpengaruh langsung pada apa yang dilakukan (tindakan).

Sedangkan ketika yang dilakukan sudah baik. Terus-menerus dilakukan, hingga jadi kebiasaan, dari kebiasaan itulah lantas jadi karakter. Jika karakter sudah baik, dari sanalah berbagai peluang baik berdatangan.

Emang apa yang luar biasa yang sudah kamu dapat, dari "resep" hidupmu itu, Om?

Ya, paling tidak, tak sampai lagi harus meratapi kenapa hidup terasa sempit, atau merasa tidak bermanfaat, atau berbagai macam ratapan lainnya.

Toh, rasanya kalaupun kaubaca buku-buku kelas dunia pun, biasanya yang dibantu perlihatkan tetap saja bagaimana mekanisme atau tata cara sesuatu itu bekerja. Termasuk dari mana mengubah diri sendiri.

Jika sudah paham bagaimana sesuatu itu bekerja, dari sanalah kita pun tergerak untuk bekerja. Lha, iya, saat ngalor-ngidul dengan adik-adikku di rumah, sering kubilang sih begitu.

Begitu gimana, Om?

Ya, kalau hidup itu ibarat sebuah perjalanan, maka perjalanan yang terarah tak boleh mengabaikan peta, dari mana memulai melangkah, harus melewati apa saja, di mana jalan yang sangat menyita tenaga dan yang tidak, dan sejauh mana jarak yang harus ditempuh.

Meremehkan peta itu cuma bikin kita pun hanya menjadi orang yang cuma meratapi, kenapa sudah berjalan ke mana-mana, tapi tidak mengantarkan ke mana-mana.

Di luar itu? Ya, bekalmu, Cuk!

Mau berjalan jauh tapi mentalmu tidak terlatih, cara berpikirmu tidak terlatih, cara menghadapi bahaya tidak terlatih, pengetahuan apa saja dibutuhkan untuk sebuah perjalanan tidak diasah, atau merasa cukup dengan apa yang sudah kamu tahu saja, lha jangan heran kalau tumbang di jalan. Gara-gara haus saja bisa mati, apalagi kalau tidak punya bekal sama sekali. Eh, betul, tidak?

Ini bukan nasihat, lho. Siapa gue yang mesti nasihatin elo.

Soale, kalian itu lebih pahamlah jalan hidup kalian. Sesekali lupa ini mau ke mana lagi? Lihat lagi peta-peta yang sudah ada sajalah. Lihat mukaku juga boleh, tapi berisiko kebawa mimpi. Halah, kepedean amat lu, Cuk!


Read other related articles

Also read other articles

© Copyright 2019 TULARIN | All Right Reserved