Kamu Itu Sangat Berharga, Teman - TULARIN >

26 Januari 2019

Kamu Itu Sangat Berharga, Teman

Kamu Itu Sangat Berharga, Teman

Di balik wajah-wajah yang biasanya terlihat ceria, banyak yang menyimpan luka teramat dalam. Ada sebagian mereka yang punya teman-teman yang bisa mendengarkan mereka, tapi banyak juga yang tidak punya teman bercerita. Mereka harus menelan semuanya sendiri.

Mana lebih baik? Itu soal lain.

Saya tidak akan bilang yang satu lebih beruntung dibandingkan yang lainnya. Sebab, ada kalanya, saking begitu besar luka yang mereka telan, mereka bahkan tak bisa percaya kepada siapa-siapa. Alih-alih bisa berbagi cerita, untuk percaya pun mereka sudah tak bisa.

Atau, yang terlihat memiliki banyak teman yang bisa menjadi tempatnya berbagi cerita, pun belum tentu sepenuhnya benar-benar mau mendengarkan karena melihatnya sebagai sahabat.

 Terkadang, banyak juga yang mendengarkan cuma untuk mengingatnya, dan menjadikannya sebagai senjata untuk menjatuhkan orang yang pernah percaya kepadanya sebagai teman tempat bercerita.

Dari sanalah banyak yang mengalami pukulan-pukulan buruk, justru memilih mendiamkan saja apa-apa yang mesti ia telan. Bahkan ketika ia merasa sudah tak tertahankan oleh nyerinya luka-lukanya, ia cuma bisa berbicara dengan pikirannya sendiri, dan sesekali memanggil Tuhan. Itu juga terkadang mereka ini acap was-was, iyakah Tuhan Maha Mendengar ataukah tidak. Ya, lantaran saking dalamnya luka dan kekecewaan mereka.

Siapakah mereka ini? Bisa jadi mereka adalah orang-orang yang terdekat dengan Anda. Bisa jadi dia adalah orang-orang sekelas Anda di bangku pendidikan, teman kuliah, teman kantor, atau bisa jadi adalah pasangan Anda sendiri.

Mereka yang terluka ini sebenarnya membutuhkan bantuan. Butuh tangan untuk ia genggam. Namun mereka sering memilih diam. Tidak bisa melakukan apa-apa. Jangankan untuk percaya kepada siapa-siapa, untuk percaya kepada dirinya sendiri pun mereka sudah tak bisa.

Lalu di mana kita?


Apakah saya yang menulis ini tidak pernah menelan keadaan semacam itu? Belum tentu. Bisa jadi sudah merasakan yang jauh lebih parah, hingga benar-benar kehilangan kepercayaan diri. Sekali lagi, bisa jadi.

Namun terlepas apa saja yang pernah saya telan, selayaknya manusia pastilah pernah menelan pahit getirnya kehidupan, saya sendiri lebih suka untuk membuka mata melihat ke sekeliling. Lebih sering memilih menjadi pendengar untuk siapa saja bercerita.

Dalam keputusan untuk memilih lebih banyak mendengar itulah saya mendapatkan kesempatan untuk mendengarkan banyak cerita. Ada yang merasakan situasi dari kecil harus melihat bapak dan ibunya saling maki hingga hampir bunuh-bunuhan.

Ada juga yang menjadi "budak" dari pasangan mereka, bahkan sejak pacaran dipaksa menjadi sasaran pelampiasan nafsu pasangan. Ada juga yang bekerja mati-matian, sedangkan hasil kerja mereka harus berada di tangan orang-orang dekat: orang tua atau juga pasangan mereka sendiri.

Banyak.

Sangat banyak yang merasakan kepahitan-kepahitan, yang ketika kita mendengarnya dengan serius, membawa pada pemahaman; "Oh, kesulitan dan kepahitanku bukan apa-apa. Belum apa-apa."

Awalnya sempat merasa seolah beban kita sendirilah yang paling besar. Berbeda ketika sudah membuka diri untuk lebih banyak mendengar daripada memaksa orang mendengarkan kita, justru membantu kita yang pernah merasa paling susah di dunia ini merasa lebih lega.

Kita belum apa-apa. Sampai akhirnya, alih-alih merendahkan diri sendiri untuk mendapatkan bantuan, justru lebih tergerak untuk membantu.


Nah, seperti pernah saya singgung dalam tulisan sebelumnya, ketika sudah tergerak untuk membantu orang yang lebih susah, akan ada saja jalan untuk memecahkan masalah kita sendiri.

Sebab, ketika terpaku hanya kepada diri sendiri, seringkali jauh lebih pusing. Berbeda halnya jika sudah membuka diri dengan persoalan orang lain dan membantu mengatasinya, ajaibnya justru dua masalah terselesaikan: masalah kita sendiri dan orang yang tadi kita bantu.

Aha, lagi-lagi berbau menggurui. Bukan, saya tidak bermaksud menggurui, cuma berbagi. Bahwa kemauan mendengar itu punya banyak kelebihan. Mengasah empati, mengasah motivasi untuk membawa solusi. Bukan sekadar untuk diri sendiri, tetapi juga untuk lebih banyak orang.



Jadi, cobalah sesekali membiasakan untuk lebih banyak mendengar. Coba saja biasakan untuk mau melihat persoalan-persoalan di lingkaran terdekat, entah teman, entah pasangan. Siapa saja. Siapa tahu, dengan membiasakan lebih banyak mendengar kita pun selamat dari pola pikir picik seolah paling susah di dunia. Kita juga bisa bebas dari kungkungan pikiran yang membuat dunia yang luas jadi terlihat seolah hanya seluas lingkar kepala sendiri.

Jika sudah bisa melihat jernih bahwa dunia itu luas, bisa jadi Anda pun akan bisa melihat bahwa masalah Anda yang selama ini terasa terlalu berat, masih belum apa-apa. Akan terlihat kecil saja, karena Anda sendiri akhirnya memiliki sesuatu yang selaras dengan dunia yang luas, pikiran yang luas dan hati yang lapang.

Lagi-lagi, siapa tahu, jika sudah sampai di titik itu, Anda pun akan tergerak untuk menjadi pribadi yang lebih bermanfaat. Sebab Anda sudah bisa membawa manfaat kepada lebih banyak orang.

Kalaupun selama ini Anda sempat merasa tidak berharga, justru ketika sudah mampu membawa manfaat kepada lebih banyak orang, di sanalah Anda akan menjadi sosok sangat berharga bagi banyak orang. Anda sendiri pun semakin teryakinkan, bahwa Anda itu sebetulnya memang manusia berharga.

Bukankah manusia berharga itu karena ia mampu melakukan banyak hal berharga? Dan, orang berharga bukan cuma karena memiliki banyak hal berharga. Tapi, mereka berharga karena terbiasa melakukan hal-hal berharga. Terkadang, selalu membuka diri untuk mendengar saja bisa membuat Anda terlihat sangat berharga bagi banyak orang.

Eh, setelah saya baca ulang, kok saya seperti penasihat saja, ya? Tidak apa-apalah, kapan-kapan, kalian pun bisa nasihati saya juga, kok. He he he. (Sumber foto: abatasa.co.id/fpedia.id/fimela.com)

Read other related articles

Also read other articles

© Copyright 2019 TULARIN | All Right Reserved