Selera Humor Buruk, Repot - TULARIN >

28 Januari 2019

Selera Humor Buruk, Repot

Selera Humor Buruk, Repot

Dalam urusan humor, aku termasuk jenis makhluk berselera humor buruk. Buktinya, dalam seribu satu kali mencandai istri, hanya dua-tiga kali berhasil membuatnya tertawa.

Kadang-kadang pengen juga untuk tidak menyalahkan diri sendiri. Pengen kusalahkan dia, tapi suami macam apa kalau urusan humor yang gagal saja pake menyalahkan istri.

Padahal, kemampuan humor itu penting.

Kok bisa? Sebab pria yang punya selera humorlah yang lebih mampu menjanjikan tawa bahagia, dan itu jauh lebih berharga daripada pria yang cuma bisa membuatmu bermandikan air mata. Bisa aja nih kresek Lottemart.

Bahkan pria yang punya kemampuan humor itu jauh lebih berharga dibanding yang menulis artikel ini. Lagi, kok bisa? Lha iyalah, pria yang menulis ini sesekali bisalah bercanda, tapi sering juga nyelekit. Itu konon bisa bikin hati sakit. Maka bersyukurlah kalian kaum hawa yang tidak ditakdirkan memiliki suami seperti ini.

Kok begitu, Mamang Batagor?

Gini ceritanya. Kalian yang mencari pasangan itu pastilah berharap bisa hidup bahagia. Dengan adanya teman hidup, kalian pastilah berharap bisa mendapatkan kehidupan yang lebih baik dibandingkan yang pernah kalian alami. Betul?

Salah, sih.

Kalau sekadar hidup bahagia, tanpa pasangan pun kalian masih bisa bahagia, kok. Gitu juga urusan mendapatkan kehidupan lebih baik daripada yang pernah dialami, tanpa teman hidup pun tetap saja ada kemungkinan kalian dapatkan. Kalau begitu, elu sendiri kenapa kawin, Om???

Nah! Saya kawin itu kan karena mendapatkan wangsit. Ada panggilan dari dalam sebuah rumah tua yang lama tak dihuni. Lalu diikuti bau kemenyan yang menyengat, lengkap dengan aroma kembang tujuh rupa. Tiba-tiba sudah di pelaminan, dan sudah mendapatkan buku nikah! Lalu, punya anak.

Kalian parah kalau paragraf itu tadi saja bisa bikin kalian merinding. Walaupun benar juga, itu mirip-mirip cerita horor. Lagian, memang itu separagraf sengaja kutulis karena iseng melamunkan film horor. Sebab, menikah pun memang terkadang bisa terasa horor bagi sebagian orang.

Artinya, tidak selalu bahwa yang sudah menikah akan lebih bahagia dibandingkan dengan yang belum menikah. Bahagia itu tak menuntut harus memiliki status tertentu, apakah berstatus menikah atau belum. Sebab untuk bahagia hanya mensyaratkan hati yang bersih dari kebencian, kedengkian, dendam, dan hal-hal semacamnya.

Banyak kok yang belum menikah justru lebih bahagia dibandingkan dengan yang sudah menikah. Juga, banyak yang tak memiliki teman hidup masih tetap bisa hidup terhormat dan dihormati orang-orang, karena mengisi hidupnya dengan banyak hal bermanfaat untuk banyak orang.

Tapi, sebagai orang yang sudah menikah, aku juga harus bilang memang banyak juga yang menikah dan semakin bahagia. Sebab saat masih sendiri segalanya hanya diburu untuk diri sendiri, sementara kini bertaruh nyawa untuk berburu banyak hal untuk anak dan istri. Sambil, tetap masih bisa berbagi dengan banyak orang. Kecuali berbagi hati, ah ini berisiko sekali, Bung!

Intinya, tak perlulah melebih-lebihkan antara yang sudah menikah dengan yang belum menikah. Tak perlu juga melebih-lebihkan yang belum menikah dengan yang sudah menikah. Sebab jika ini dipertentangkan, dan masing-masing mencari seribu satu alasan, semuanya benar. Jadi, tidak menikah dulu atau menikah duluan, sama-sama benar.

Jadi biarkan siapa saja untuk merdeka dengan pilihan mereka. Termasuk jika pacarmu sudah pamit undur diri, sementara kamu merasa sudah mengorbankan segalanya, mbok ya jangan diratapi. Sebab, kamu pun tidak tahu, apakah ada jaminan jika ditakdirkan menikah dengannya akan pasti bahagia? Tidak, kan. Jadi ikhlaskan, ikhlaskan, dan ikhlaskan.

Banyak-banyak mendalami diri sendiri, mencari kesalahan sendiri, dan bergegas untuk kemudian mencari kelebihan yang dimiliki di dalam diri sendiri. Siapa tahu setelah ini kamu bisa dapat pengganti yang lebih baik dan lebih cantik dibandingkan Ovie Duo Serigala yang memang sudah ditakdirkan menikah dengan pria lain.

Om, ini kok sudah berbau infotainment yang diaduk khutbah Jumat? Jadinya malah mirip bubur ayam diaduk serampangan nih!

Maaf. Itu cuma sekilas saja, buat pamer, kalau yang menulis ini sebenarnya masih ada bau-bau ustaz. Bau saja, sedangkan rasanya tak ada bedanya dengan laki-laki lain. Kok jadi gini?

Begitulah laki-laki. Sebab laki-laki terkadang memang suka-suka, suka ngasal, suka amburadul, suka ngalor-ngidul, tapi giliran mau macari yang benar-benar disuka, eh si wanita lebih memilih yang lain. Mana mereka akhirnya nikah lebih dulu, dan sebagian besar sudah beranak tiga atau empat. Tapi, syukurnya tak ada yang mirip aku, mantan pacar mereka. Kok, kamu mencurigakan sekali, Om?

Nulis serius ah. Aku sudah berdosa kepada kalian yang sudah membuang waktu untuk membaca ini. Padahal ini sama sekali bukanlah tulisan yang penting amat buat dibaca. Meskipun tidak penting amat, kalian baca sajalah. Siapa tahu karena membaca tulisan tidak penting ini justru mengilhamimu buat bisa jadi orang penting.

Sebab kalian jadi tahu, untuk menjadi orang penting mesti tahu mana yang penting dan tidak penting, dan mengakrabkan diri dengan hal-hal penting, sambil menjauhi urusan-urusan tidak penting. Tulisan ini, semoga menjadi tulisan tidak penting terakhir yang kalian baca.

Setelah ini, kalian mesti fokus pada hal-hal penting saja. Kecuali, mementingkan diri sendiri, itu runyam. Jika itu terjadi, kalaupun kalian dapat jodoh, tapi kalian bisa jadi horor bagi pasangan yang kalian sangka adalah jodoh kalian. Sampai di sini, apakah sudah dipahami?

Jika ini sulit dipahami, bagaimana kalian bisa memahami orang yang ditakdirkan menjadi pasangan nantinya? Ah, ini semakin ngalor-ngidul. Sebaiknya kalian berhenti membaca ini sampai di sini saja, biar saya saja melanjutkan lebih panjang lagi sampai benar-benar panjang.

Walaupun, iya, dalam pernikahan, persoalan panjang dan pendek sama sekali bukanlah hal wajib. Terpenting hubungan kalian bisa berlangsung dalam waktu yang panjang. Awet. Aih! Baut kulkas, bisa saja.

Benar. Urusan panjang dan pendek bukanlah masalah. Sebab tidak semua istri meminta yang panjang-panjang, terpenting sepanjang perjalananmu menapaki jalanan mencari nafkah, nama dan wajah istri menanti di rumah tak pernah lekang dari ingatan.

Di luar urusan panjang dan pendek, terpenting memang urusan lebar. Bagaimana cara membuat istri tersenyum lebar, atau istri membuat suami bisa tersenyum lebar, itu menjadi persoalan penting. Sebab, jika sudah bisa membuat pasangan tersenyum lebar, maka berbagai pintu kebaikan pun terbuka lebar. Tidak percaya apa kata saya? Suruh ucapin saja kalimat tadi kepada orang lain, baru kamu percaya, tidak apa-apa.

Lalu bagaimana membuat pasangan bisa tersenyum lebar? Nah, ini bukan pekerjaan mudah. Kalaupun kalian bisa mencari uang dengan mudah, namun memastikan pasangan tersenyum lebar, sungguh-sungguh tidak mudah. Sebab, membaca hati pasangan itu bisa saja lebih rumit daripada membaca tulisan Mesir kuno. Kecuali Firaun bangkit dari kubur, lalu mengajari kalian tulisan dari masanya tadi, bisa jadi akan lebih mudah untukmu membaca pikiran dan perasaan pasangan.

Ah, ngelantur apa lagi ini. Tidak begitu juga, kok. Sebab untuk dapat masuk ke ruang terjujur seseorang sangat tidak gampang. Sementara sebagian besar orang, lebih memilih menunjukkan apa-apa yang terbaik dari mereka. Sedangkan sisi terburuk, disimpan rapat-rapat hingga cacing di perut mereka pun tidak tahu.

Sementara menggali seseorang terlalu dalam, berisiko menumbuhkan mental posesif pada diri sendiri. Gampang cemburuan. Sedangkan tanpa digali, justru terlalu banyak misteri.

Serba salah, kan? Walaupun misteri pun sebenarnya tidak selalu buruk. Sebab semakin banyak hal tidak diketahui, justru lebih mendebarkan. Semakin banyak hal diketahui, maka rasa berdebar tadi bisa jadi akan jauh berkurang.

Eh, menggali sesuatu secara mendalam dari pasangan pun sebenarnya tak melulu pertanda posesif juga, Mblo. Toh, bisa saja saat menggali itu tak ada motivasi apa-apa kecuali biar mendapatkan kejelasan, tidak dihantui rasa penasaran, dan bisa menjalani hubungan tanpa ada ganjalan.

Kukira, apa yang kutulis di atas juga merupakan perdebatan yang acap berkecamuk di pikiranmu. Jika tidak begitu, bisa jadi aku saja yang terlalu sok tahu.

Namun coba lihat ulanglah. Kalau saja "arsitek" tubuh manusia tidak menempatkan ruang pencernaan di bagian yang transparan dan gampang terlihat mata kepala, bisa jadi takkan ada menarik-menariknya si Christina Aguilera ataupun Maria Mercedes. Lha, iya, kalau tinja di perut terlihat keluar, mana ada menariknya lagi.

Maria Mercedes bisa terlihat cantik sampai bikin perjaka-perjaka yang kesulitan mengibuli perempuan untuk bisa diperistri, membayangkan ingin punya istri sepertinya, cuma karena tidak bisa melihat saja bahwa di perutnya pun ada tahi yang sama baunya dengan tahi di perut kita sendiri.

Lalu, urusan humor yang tadi diulas di awal tulisan kenapa bisa campur aduk dengan urusan Maria Mercedes segala sih Om? Ya, tidak apa-apa. Cuma membayangkan, kalau saja film Maria Mercedes ini lebih banyak dibumbui guyon, rasanya lebih menarik.

Kenapa begitu? Ya, iyalah, masak cerita cinta melulu dihubungkan dengan harta dan keberuntungan seolah hanya ketika seseorang yang berasal dari kaki lima bisa berjodoh dengan kalangan yang terbiasa hidup di istana.

Menulis begitu, kok saya malah jadi mencurigai diri sendiri, apa jangan-jangan saya pun sedang mencari pembelaan diri saja? Bisa jadi. Tampaknya begitu. Sebab pada faktanya, saya sendiri pun bukan tipe lelaki yang berhasil menyulap nasib istri menjadi seluar biasa cerita telenovela tadi.

Bahkan, justru istri yang kadang-kadang menyisihkan uang jajan kuliahnya buat membelikan nasi bungkus buat lelaki yang kelak jadi suaminya ini. Halah, masak hidupmu bisa senista itu, Om?

Lah, kamu pikir tampangku ini tampang orang kaya? Ya tidaklah. Orang kuliah saja nyambi jadi kuli bangunan. Dari sekolah dasar pun sudah terbiasa bermain di kaki lima, buat berjualan. Cari uang, sekalian cari pengalaman. Walaupun uang didapat sangat pas-pasan, paling tidak ada pengalaman.

Buat apa pengalaman kere begitu diumbar ke publik? Lah, makhluk-makhluk seperti saya ini sudah dari sono diajar biar tidak kurang ajar. Maksud saya, diajar supaya menjadi laki-laki yang terbiasa bertanggung jawab terhadap diri sendiri, supaya kelak bisa bertanggung jawab terhadap siapa saja yang menjadi bagian tanggung jawab. Ah, ini tidak sesedih cerita Maria Mercedes, ya?

Sengaja. Ngapain juga membicarakan pengalaman berat dan sulit melulu dengan bahasa-bahasa yang dibuat mendayu-dayu. Bicarakan saja dengan canda, supaya kepahitan yang pernah ditelan pun bisa membuahkan tawa. Terlebih, menertawakan diri sendiri jauh lebih menyenangkan daripada menjadi bahan tertawaan orang, kan?

Nah, kalian sudah mencandai kepahitan sendiri belum? Jika belum akan lebih sulit untukmu benar-benar bisa gembira. Buat bergembira harus menunggu kaya dulu, ini benar-benar kasihan. Sangat disayangkan.

Kenapa? Sebab untuk bisa membebaskan diri dari segala kesulitan itu butuh pikiran yang terang, hati yang lapang, dan keyakinan yang besar. Dari mana itu bisa didapatkan? Ya, dari kegembiraan.

Sedangkan kesedihan cuma melemahkan semangat. Cuma bisa menghabiskan tenaga untuk sesuatu yang tidak menghasilkan apa-apa. Dengan begini, apanya yang mau diubah? Jangankan mengubah dunia, mengubah diri sendiri pun bisa terengah-engah.

Ayolah, sesekali cobalah membiasakan mencandai diri sendiri. Sebab hanya dengan mencandai diri sendirilah lebih mungkin untuk mengundang tawa. Untuk kita bisa menertawakan diri sendiri. Atau, kamu masih menunggu ditertawakan orang-orang? Ya, janganlah.

Biasakan bercanda dengan diri sendiri. Supaya kalian juga bisa bercanda dengan orang-orang. Itu masih lebih baik daripada membiarkan diri dicandai oleh kehidupan. Bercandalah.

Terpenting, jangan jadikan hubunganmu sebagai candaan. Walaupun sering-seringlah saling bercanda untuk menghangatkan hubungan. Sebab kata banyak orang bijak, hubungan yang awet sering kali adalah hubungan yang sering dihiasi dengan keceriaan.

Setelah menulis ini, tiba-tiba saja aku merasa seolah punya bakat rahasia jadi penasihat pernikahan.*




Read other related articles

Also read other articles

© Copyright 2019 TULARIN | All Right Reserved