Ada Rahasia di Balik Sebuah Tatapan - TULARIN

27 Januari 2019

Ada Rahasia di Balik Sebuah Tatapan

Ada Rahasia di Balik Sebuah Tatapan


Apa yang pertama saya perhatikan tiap kali bertemu orang-orang adalah menatap mata mereka. Di sana saya terbantu untuk membaca orang-orang yang saya temui. Ada yang licik, ada yang picik, banyak juga yang unik. Ada yang memperlihatkan kepercayaan diri tinggi, banyak juga yang memperlihatkan ketidakpercayaan diri.

Bagi saya, mata itu bisa menjelaskan banyak hal, melampaui apa yang bisa dijelaskan kata-kata. Maka kenapa, menatap mata orang sudah menjadi kebiasaan saya. Walaupun di sini saya pun mesti pintar-pintar menjaga hati, kalau bertemu mata yang lebih kuat memancarkan keindahannya, berisiko lupa segalanya. Tentu saja, kalau harus bersitatap dengan mata lawan jenis, pekerjaan beratnya adalah memastikan tidak terbius lebih dulu dengan sekadar keindahan pada bening matanya.

Tapi, Om, kamu jatuh cinta ke istrimu saja juga gara-gara terpesona lirikan matanya kan? Tapi, Om, kamu dulu pacaran pun lebih sering karena lebih dulu terbius dengan mata mereka, kan?

Ya, benar juga, sih.

Namun itu dulu. Dulu sekali.

Sekarang nggak begitu lagi? Sesekali iya juga. Lha ....

Sudah. Ini bukan sedang ingin membahas urusan perasaan. Tapi, cuma sedang mengajak bicara tentang kepekaan. Eh, tapi kepekaan 'kan juga berurusan dengan perasaan? Mbuhlah!

Namun begitulah, dari sorot mata dan cahaya di dalamnya, ada banyak cerita yang terkadang tidak diungkapkan oleh si pemilik mata. Bahkan, mana mata yang sering ngibul, dengan mata yang benar-benar jujur, sangat mudah tertangkap lewat mata.

Itu juga kenapa, ketika masih pacaran, sering juga "maksa" si pacar untuk menatap lurus ke mataku. Setelahnya baru ia bicara.

Tapi, kan ada juga yang tidak berani bertatapan karena malu atau sungkan, Om?

Betul. Tapi mereka yang pemalu dengan mereka yang sekadar berlagak kucing pemalu sangat berbeda. Apalagi pria-pria macam saya ini, berlagak pemalu cuma di depan istri saja. Selebihnya, tetap saja melototi begitu ada yang menarik perhatian.

Lha, kok ngebuka aib sendiri, Mas? Gak apa-apa, karena makin banyak yang memilih jaim hingga sulit jujur, biarlah "buaya" satu ini saja berhenti jaim-jaiman. 

Kembali ke persoalan. Wong tadi ngebahas urusan tatap-menatap ok malah jadi ngebahas kucing sampai buaya. Eh, tapi benar juga ada juga pria-pria semacamku berlagak kucing baik, tapi dalam sekejap bisa jadi buaya. Mbingungi, kan, ini kucing apa buaya?

Nah, keberanian untuk menatap mata lawan bicara itu bisa membantu untuk menegaskan, mana mata kucing, mana mata buaya, dan mana mata kucing yang sewaktu-waktu bisa menjadi buaya.

Ceritanya, kalian yang mengenalku, ada yang berpengalaman bersitatap denganku? Lebih mirip kucing apa mirip buaya?

Terserah, mau kamu bilang aku mirip kucing apa mirip buaya, terserahlah. Tapi kupikir-pikir, aku tidak seimut kucing, juga tidak seseram buaya.

Buktinya, istriku yang tidur denganku bertahun-tahun tidak pernah kumakan hidup-hidup. Paling, ya, cuma kucium, kupeluk, dan "kuapa-apain" saja. Lha, malah jadi berbau saru gini. 

"Tatap mata saya!" Itu kata mereka yang paham urusan hipnotis-hipnotisan. Sedangkan orang-orang macam saya ini takkan meminta siapa-siapa untuk mau tatap-tatapan, kecuali pacar atau istri. Lha, bagaimana tidak, karena urusan tatap-tatapan juga bisa saja berakhir ciuman. Eh belum pasti juga terhenti pada ciuman saja, bisa jadi berlanjut lagi ke mana-mana. Lha, apa lagi ini?

Serius.

Dari tatapan mata memang bisa teraba banyak hal. Di sana bisa ditemukan mana tatapan sayang, mana tatapan benci, mana tatapan amarah, dan mana tatapan galau.

Juga, ketulusan. Ya, ini juga bisa diketahui dari sorot mata seseorang, karena tulus tidaknya seseorang pun bisa teraba di sana. Maka kenapa, menatap mata lawan bicara menjadi penting. Ini bukan sekadar keperluan dalam urusan pacaran atau rumah tangga saja. Walaupun benar juga, dari tatapan juga bisa diketahui, sejauh mana seorang pasangan jujur atau tidak, tulus atau tidak.

Emang semua bisa terbaca, Om? Ya, tergantung dari bagaimana kondisi pikiran kamu juga, Mblo!

Ya, kalau pikiran sedang tidak jernih, karena pusing mikir dompet yang menipis, atau pusing karena calon mertua menuntut segera nikahin anaknya, akan sulit untuk membaca dengan jernih. Saya saja, kalau kacamata sedang kotor, sulit juga melihat sekeliling dengan jelas, apalagi melihat karakter orang dengan mata pikiran yang sedang "dikotori" oleh persoalan, ya, berat juga.

Jadi? Jangan terpaku dengan persoalan pribadi dulu. Sebab persoalan jangan sampai menguasai kita, tapi kitalah yang mesti menguasai persoalan. Ah, bahasamu seperti sedang jadi pembicara acara Golden Ways saja, Om!

Artinya, gini, Mblo. Mampu membaca orang lewat tatapan mata tidak berarti juga elu-elu lantas menjadi hakim atas orang lain. Ini bukan untuk menghakimi. Namun sebagai jalan saja, supaya lebih mudah memetakan lawan bicara, dia seperti apa, dan kita harus bagaimana.

Lalu, caranya bagaimana, Om? Tidak ada cara khusus. Biasakan saja dulu berbicara dengan menatap mata lawan. Kalau perlu, tatap saja fotoku rajin-rajin, ini mata kucing atau mata buaya?

Eh, jangan. Nanti kalau kamu terbawa mimpi gara-gara menatap foto saya, bisa runyam. Sok kegantengan amat, lu, Om!

Sudah kelakarnya. Pesan saya cuman gini, biasakan menatap mata lawan bicara. Pastikan juga, sebelum nekat bersitatap dengan lawan bicara, kondisi mental dan pikiran sedang stabil. Kalaupun sedang tidak stabil, pastikan bisa distabilkan dengan cepat. Jika tidak, buaya-buaya bisa saja menelanmu. Kamu tahu, buaya itu amat rakus dan beringas.

Masalahnya bagaimana menstabilkan mental dan pikiran dengan cepat, kalau ingatan selalu dibayangi mantan, dan kenangan begitu sulit dihilangkan. Bagaimana?

Gini, mantan itu 'kan seseorang yang sudah menjadi bagian masa lalumu? Sedangkan kamu sedang hidup di masa sekarang. Pun, kamu sedang melangkah ke masa depan. Mbok, ya, jangan biasakan berjalan ke depan tapi mata ke belakang. Seperti juga jangan melangkah ke masa depan tapi mata hatimu hanya tertuju ke masa lalu.

Kalau dengan melihat masa lalu itu bisa membantumu lebih bersemangat dan lebih gairah melangkahkan kaki ke masa depan, bolehlah sesekali menatap ke sana. Tetapi jika di masa lalumu lebih banyak hal yang mengecewakan, melukai, atau membuatmu terpukul, buat apa keasikan melongok masa lalu.

Lihat saja di mana kakimu berpijak hari ini, dan di mana kamu sedang berada saat ini. Lihatlah bagaimana teduhnya matahari yang bercanda dengan awan, atau dedaunan di taman yang hijau mengajak merasakan kedamaian, hingga angin sepoi-sepoi yang mengusapmu dengan kesejukannya.

Kamu takkan bisa menghargai itu jika di benakmu selalu saja dibiarkan direcoki bayang-bayang saat-saat kamu bercanda dengan mantanmu, atau malah kangen saat-saat berantem dengan si mantan yang ternyata hanya titipan Tuhan yang bersifat sementara saja.

Kamu tahu, jika kamu sedang berbicara dengan orang lain, tetapi pikiranmu sedang tertuju kepada seseorang yang lain di masa lalumu, maka cahaya di matamu akan menunjukkan kamu sebenarnya sedang di mana. Bisa jadi kamu di depan seseorang, tetapi pikiranmu sedang berada di pelukan mantan.

Jika sudah begitu, bisa jadi kamu bahkan tak bisa melihat bahwa yang sedang berdiri di depanmu adalah jodohmu. Kenapa begitu? Sebab kamu masih saja terpaku pada seseorang yang bukan jodohmu. Dari masa lalu.

Ah, ngomong apa sih, Om? Heh! Jangan panggil Om, gue masih banyak yang nyangka masih usia 20-an, kamu tahu tidak? Sudah. Sampai di sini saja dulu, daripada makin ngelantur. 







Read other related articles

Also read other articles

© Copyright 2019 TULARIN | All Right Reserved