TULARIN >

Headline

Kolom

Cheers

Human

Politik

13 Juni 2019

Sebaiknya Gerindra Tetap Jadi Oposisi



Rupanya menjelang persidangan gugatan yang berisi permohonan penyelesaian sengketa Pilpres 2019 ke Mahkamah Konstitusi (MK) yang dilayangkan oleh kubu pemenangan capres-cawapres Prabowo-Sandiaga, muncul wacana dari beberapa partai yang tergabung dalam Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf Amin untuk menggandeng Partai Gerindra sebagai mitra koalisi di pemerintahan kelak.
Wacana itu diungkap oleh Sekretaris Jenderal Partai Persatuan Pembangunan sekaligus anggota TKN Jokowi-Ma'ruf Amin, Arsul Sani. Tidak tanggung-tanggung, Arsul berujar bahwa jika pada akhirnya beberapa partai oposisi ingin bergabung, maka Gerindra yang lebih diutamakan.
"Bahkan di antara anggota KIK (Koalisi Indonesia Kerja) ada juga yang malah melihat bahwa kalau Gerindranya mau, maka Gerindra dapat menjadi preferensi pertama untuk tambahan koalisi pemerintahan dibanding partai lain yang semula pengusung Paslon 02. Jadi singkatnya, Gerindra memang bisa menjadi pilihan pertama jika koalisi pemerintahan hendak ditambah," ujar Arsul (13/6/2019).
Arsul menambahkan, wacana itu muncul sebagai wujud tanggapan atas pernyataan Jokowi yang ingin membuka kesempatan selebar-lebarnya bagi partai mana pun untuk bekerjasama dan memperkuat kinerja pemerintah.
Meski demikian, ternyata tidak semua partai di koalisi Jokowi-Ma’ruf Amin serta-merta sepakat wacana tadi. Ada yang berpendapat bahwa bergabungnya Gerindra harus melalui pertimbangan matang, yakni menyangkut komitmen.
Hal itu sebelumnya disampaikan oleh Ketua DPP Partai Golkar, Ace Hasan Syadzily. Ace pun berharap bila betul bergabung, nanti Gerindra tidak boleh mengambil sikap yang berseberangan, seperti yang selama ini terlihat dan terasa.
"Yang harus dipastikan sebetulnya adalah komitmen dari semua untuk menjaga pemerintahan ini agar pemerintahan bisa mencapai target yang telah dicanangkan dalam nawacita jilid kedua," kata Ace (12/6/2019).
Lalu apa tanggapan pihak Gerindra dengan munculnya wacana tersebut?
Anggota Badan Komunikasi DPP Partai Gerindra, Andre Rosiade menyatakan partainya sama sekali belum memikirkan peluang untuk bergabung ke koalisi pemerintahan Jokowi-Ma'ruf Amin. 
Andre beralasan Gerindra saat ini sedang fokus menghadapi persidangan sengketa Pilpres di MK, dan juga yakin pasangan Prabowo-Sandiaga yang bakal menang.
"Ya fokus kami sekarang masih di MK. Kami fokus menghadapi gugatan yang akan kami ajukan ke MK. Belum terpikir sedikitpun soal bergabung. Orang kami yakin Insya Allah Pak Prabowo yang menang di MK. Nanti kami yang mengajakak koalisi ke kami. Bukan kami diajak ke sana. Tapi Insya Allah kami yang mengajak mereka gabung ke kami nanti setelah (sidang) MK," kata Andre (12/6/2019).
Haruskah partai oposisi utamanya Gerindra diajak bergabung ke koalisi Jokowi-Ma'ruf Amin? Betulkah murni supaya sama-sama berjuang di pemerintahan, atau jangan-jangan hanya sebatas rayuan belaka?
Saya sengaja menuliskan judul artikel ini dengan penambahan kata "mau" dalam tanda kurung. Menurut saya ada dua pihak yang sama-sama berkepentingan, yaitu kubu Jokowi-Ma'ruf Amin dan kubu Prabowo-Sandiaga. Artinya ada pihak yang mengajak dan ada pula pihak yang akan diajak.
Menurut hemat saya, ajakan terhadap Gerindra dan beberapa partai oposisi tidak perlu dilakukan, pun sebaliknya partai-partai tersebut sebaiknya jangan tergoda. Mereka wajib kukuh pada pendiriannya yang telah terbangun. Yang paling penting bagi mereka saat ini adalah bagaimana menjadi partai oposisi yang 'kredibel' saja.
Menjadi oposisi tidak dapat dimaknai sebagai sikap menghindari tugas dan tanggungjawab untuk membangun negara. Oposisi sama penting dan mulianya dengan posisi pemerintah. Sistem pemerintahan justru baru dapat berjalan efektif bila ada kekuatan lain sebagai penyeimbang.
Sekali lagi oposisi mutlak diperlukan ke depan. Jangan semuanya jadi "pengekor". Biarlah Jokowi-Ma'ruf Amin beserta jajaran barunya menjadi kuat karena kritikan keras dan evaluasi berfaedah.
Alasan lainnya adalah, apa iya kabinet pemerintahan yang baru terpaksa dibuat menjadi "gemuk" hanya demi memfasilitasi banyak kepentingan?
Apakah partai-partai yang saat ini sedang berada di pemerintahan ditambah partai koalisi di TKN Jokowi-Ma'ruf Amin (Pilpres 2019) rela jatah jabatan mereka diserahkan kepada partai oposisi? Bagaimana pula dengan para profesional berpotensi, apakah mereka tidak difasilitasi masuk kabinet?
Dan kalaupun masuk kabinet, apakah Gerindra akan merasa nyaman seperti partai-partai koalisi Jokowi-Ma'ruf Amin? Bukankah sulit bagi mereka untuk beradaptasi?
Namun apa pun itu, presiden terpilihlah yang berhak mempertimbangkan dan memutuskannya. Semoga pertimbangannya adalah kepentingan jangka panjang, bukan sesaat.
***
Gambar: Prabowo Subianto dan Joko Widodo (kumparan.com) 


Fenomena "Ustaz Dajjal" dan Keterbelakangan Kita


Sejak 20 tahun lalu, saya sendiri memang sudah begitu tertarik pada berbagai cerita seputar Dajjal. Berbagai buku seputar Dajjal, dan obrolan tentangnya, selalu saja menarik perhatian saya. Rupanya, setelah 20 tahun itu, orang-orang yang tergila-gila dengan isu ini semakin marak saja.

Kalau boleh saya sederhanakan, rupanya memang masih sangat banyak orang yang gemar melihat hari ini dengan kacamata masa lalu. Bahkan seorang "Ustaz Dajjal" naik daun dan menjadi buah bibir, karena getol berbicara tentang Dajjal, tanpa peduli itu berlawanan dengan dalil sebenarnya atau tidak.

Ia sama sekali tidak peduli apakah itu membawa kebaikan kepada umatnya atau tidak. Ia pun tidak menggubris apakah landasan pikirannya ketika membicarakan itu benar atau tidak. Sang Ustaz Dajjal ini hanya mengajak membayangkan bahwa ada orang bermata satu, pekerjaannya mendustai manusia dan menjauhkan manusia dari Tuhannya, dan itulah diangkat olehnya di mana-mana.

Ia sama sekali tidak menunjukkan "simbol" lain dari mata satu, yakni kecenderungan orang mudah tertipu jika hanya mau melihat satu sisi, dan malas untuk melihat dari berbagai sudut pandang. Ia tidak tergerak untuk menunjuk bahwa kesesatan yang melahirkan tindakan-tindakan konyol, cenderung lahir dari kebiasaan melihat dari satu sudut saja. Bahaya-bahaya semacam ini nyaris tidak pernah ia bicarakan.

Baginya, apa yang jauh lebih berbahaya dibandingkan kesempitan pikiran adalah orang akhir zaman yang bermata satu dan benar-benar punya satu mata saja, dan apa saja yang menunjukkan gambar mata satu.

Dalam Islam, konsep "Ittaqillaaha haitsuma kunta" atau takutlah hanya kepada Allah di mana saja, justru jadi bagian yang tidak digubris oleh Ustaz yang populer di media sosial tadi.

Hasilnya, alih-alih membantu umat takut kepada Allah; takut tidak bermanfaat, takut tidak membawa kebaikan, takut tidak mampu membawa misi ketuhanan untuk mengangkat derajat manusia dengan kemanusiaan, justru akhirnya dibuat takut hanya pada lambang segitiga.

Terbukti, belum lama "Ustaz Dajjal" ini dengan pongah hadir ke acara yang juga melibatkan Majelis Ulama Indonesia Jawa Barat. Ia berbicara panjang lebar dan berbusa-busa, dan jika diamati dengan kaca pembesar mungkin liurnya muncrat ke mana-mana, namun yang dibicarakannya hanya membenarkan penyesatan ia lakukan.

Ia pun berhasil membuat ribuan orang pendukungnya yang hadir di lokasi diskusi ini terkesima, bermuka tegang, dan terlihat waspada seolah mereka saat itu juga siap meluluhlantakkan Dajjal. Sementara kebanyakan yang hadir itu nyaris tidak menyadari jika apa yang diucapkan "Ustaz Dajjal" tadi justru membawa misi Dajjal itu sendiri; mengecoh manusia agar merasa paling benar tanpa menggubris benar tidaknya sudut pandang dan ilmu yang jadi pegangan atau acuan.

Ridwan Kamil (Emil), arsitek yang juga sekarang jadi gubernur di Jawa Barat, terlihat bersusah payah agar dapat berbicara dengan keilmuwannnya, dengan ilmu ia punya, dan berupaya menjelaskan duduk perkara sebenarnya. Bahkan ia menunjuk, jika persoalan segitiga saja dipersoalkan, banyak masjid di Indonesia hingga masjid di Madinah yang terkenal sebagai "Kota Nabi" pun memiliki simbol segitiga.

Ia mengajak waras. Ridwan Kamil mengajak melihat dengan ilmu, dan mengajak menatap realitas secara apa adanya, bukan lewat angan-angan. Namun suaranya memang tidak berapi-api seperti "Ustaz Dajjal" yang sudah memfitnahnya. Ia berbicara jelas namun tidak kencang.

Namun jamaknya kebenaran, seperti halnya nurani, suaranya memang acap lebih halus dan pelan dibandingkan suara ambisi dan nafsu yang seringkali menggebu-gebu. Suara Emil kalah lantang dibandingkan suara Sang Ustaz, dan ternyata sebagian besar yang datang lebih tergiur dengan suara mana yang lebih lantang. Bukan mencari kebenaran.

Ada kesan kuat, menyimak media sosial milik "Ustaz Dajjal" tadi, pengikutnya tidak membutuhkan kecerdasan, sebab bagi mereka tanpa itu saja sudah bisa mendapatkan ridha Tuhan. Mereka tidak membutuhkan pengetahuan yang benar, sebab tanpa itu saja sudah bisa membuat mereka merasa sangat dekat dengan Tuhan.

Inilah masalah dihadapi Ridwan Kamil walaupun ia sudah susah payah mengacu pada berbagai literatur dan landasan ilmu yang berkaitan langsung dengan bidang disorot: seni arsitektur, seni rancang merancang, dan simbol-simbol dalam dunia matematika dan sains. Di samping, ia pun tidak lupa mengutip landasan agama yang bersentuhan langsung dengan ilmu tersebut.

Lagi-lagi, suara Emil terlalu pelan. Sangat pelan. Seperti kebenaran nurani yang memang cenderung lebih pelan dibandingkan suara ambisi dan nafsu. Alhasil, setelah diskusi yang memakan waktu dan menjadi perhatian media dan publik nasional itu, justru semakin banyak yang menunjukkan keberpihakan kepada "Ustaz Dajjal".

Isi ceramah si Ustaz sudah begitu memesona mereka, seperti saya alami di masa lalu, 20 tahun silam. Terkesima, hingga membuat pikiran malas, enggan mencari referensi dan sudut pandang lainnya, persis saya alami dua dekade lalu itu.

Heran, keterbelakangan saya di masa lalu, justru dijadikan masa kini oleh orang-orang itu. Jika pikiran terbelakang seperti ini terus saja mendapatkan tempat dan semakin menarik perhatian, sulit saya bayangkan, kapan orang-orang di negeri ini mau melihat ke depan, memetakan kebutuhan umat manusia di masa depan, dan meskipun belum cukup berguna hari ini, kelak bisa berguna di masa depan.

Sebab, semakin banyak orang dibuat keasyikan dengan pikiran-pikiran tidak penting, atau pikiran yang pantas dikategorikan sebagai pikiran sampah. Padahal jelas, hanya aroma sampah yang dibawa bagi siapa saja yang bermain di tempat sampah. Begitu juga, hanya ada jejak sampah pada pikiran siapa saja yang membuang waktunya dengan pikiran-pikiran sampah.

Akhirnya di tengah pengaruh besar "Ustaz Dajjal" saya yang penuh dosa ini mencoba tetap berdoa, "Jangan sampai, Tuhan, sampah-sampah pikiran itu semakin menyampahi pikiran hamba-hamba-Mu. Sebab, neraka-neraka-Mu hanya untuk tempat membakar sampah. Merdekakan kami dari pikiran sampah, supaya bumimu tidak semakin sesak oleh sampah yang menghalangi kami menghirup aroma wangi tangan penuh kasih-Mu."***

Penulis: Zulfikar Akbar

07 Juni 2019

Ratu Elizabeth II Bakal Serahkan Tahta Kerajaan kepada Pangeran William?



Tersiar kabar bahwa Ratu Inggris, yaitu Elizabeth II akan segera pensiun atau menanggalkan singgasana kerajaan. Artinya, masa kepemimpinannya yang sudah berlangsung selama 66 tahun (2 Juni 1953-sekarang) akan berakhir, dan kemudian diteruskan oleh keturunannya (anak atau cucunya).
Ratu Elizabeth II telah berusia 93 tahun (lahir pada 21 April 1926). Dari hasil pernikahannya dengan Pangeran Philip, Ratu Elizabeth II dikaruniai 4 orang anak yakni Pangeran Charles, Putri Anne, Pangeran Andrew, dan Pangeran Edward. 
Karena aturan Kerajaan Inggris mensyaratkan pewaris prioritas adalah anak pertama, maka penerus kepemimpinan Elizabeth II mestinya jatuh ke tangan Pangeran Charles.
Pangeran Charles merupakan suami dari mendiang Putri Diana, serta ayah dari Pangeran William dan Pangeran Harry.
Pertanyaannya, benarkah Pangeran Charles otomatis langsung menjadi Raja Inggris karena statusnya sebagai anak pertama?
Kemungkinannya kecil, meskipun tradisi kerajaan menyatakan demikian, akan tetapi sepertinya Ratu Elizabeth II punya rencana lain terkait suksesi kepemimpinan baru di Britania Raya.
Bukan tanpa alasan mengapa "kue jabatan" enggan diberikan kepada Pangeran Charles. Di mata Ratu Elizabeth II, nama Pangeran Charles sudah terlanjur cacat. 
Bukan karena kegagalannya menjaga kelanggengan hubungan rumah tangga bersama mendiang isterinya Putri Diana, namun karena Pangeran Charles dianggap melanggar salah satu aturan khusus kerajaan (syarat mewarisi tahta), yaitu menikahi seorang janda yang masih bersuami. Diketahui isteri kedua Pangeran Charles tersebut bernama Camilla Parker Bowles.
Menjadi ratu atau raja di Inggris bukan cuma sebagai kepala negara, melainkan juga pemimpin tertinggi agama atau Gereja. Sedangkan Gereja di Inggris melarang anggotanya menikahi janda yang mantan suaminya masih hidup. 
Aturan Gereja itu berlaku kepada siapapun, tak terkecuali bagi keluarga kerajaan. Maka dari itu, jika Pangeran Charles dinobatkan jadi raja, jelas sangat bertentangan dengan aturan kerajaan dan Gereja.
Alasan berikutnya yaitu Ratu Elizabeth II tidak mungkin membiarkan terjadi kembali sejarah kelam yang pernah ditorehkan oleh Raja Edward VIII. Raja Edward VIII terpaksa turun tahta (dan diserahkan kepada George VI, ayah Ratu Elizabeth II) lantaran menikahi seorang janda asal Amerika Serikat bernama Wallis Simpson.
Sekali lagi, bila Ratu Elizabeth II lebih mementingkan kewibawaan kerajaan dibanding pertimbangan tradisi semata, tahta tidak akan diwariskan kepada Pangeran Charles. Atau dengan kata lain, akan langsung dipilih raja baru tanpa ada kesempatan bagi Pangeran Charles menjadi raja.
Kalau bukan Pangeran Charles, lalu kepada siapa akan diberi tahta itu?
Patut diingat, penentuan pewaris tahta di Kerajaan Inggris sudah ada mekanismenya. Untuk urutan pertama (setelah Ratu Elizabeth II) yakni Pangeran Charles. Kemudian urutan berikutnya adalah anak-anak dari Pangeran Charles sendiri, yaitu Pangeran William dan Pangeran Harry. Lebih jelasnya, sila simak infografis berikut:

Ya, Pangeran William sangat mungkin menjadi raja, penerus Ratu Elizabeth II. Di samping berada di urutan ke-2, alasan lain mengapa harus Pangeran William, yaitu:
Pertama, Pangeran William cukup dekat dengan neneknya, Ratu Elizabeth II. Tidak hanya dekat, bermodal posisi di urutan ke-2  serta ketaatannya tidak menikahi janda memang menyenangkan hati Ratu Elizabeth II. 
Bandingkan langkah Pangeran Harry yang meniru Raja Edward VIII dan Pangeran Charles (ayahnya), dengan menikahi Meghan Markle (seorang janda).
Kedua, Pangeran William sangat populer di masyarakat, terutama di kalangan milenial. Tidak heran kemudian muncul wacana di Inggris bahwa sebaiknya penerus tahta Ratu Elizabeth II dipercayakan kepada Pangeran William. 
Mayoritas masyarakat Inggris tidak menginginkan Pangeran Charles naik tahta. Warga yang setuju terhadap Pangeran Charles hanya sekitar 46 persen.
Dan berbagai alasan seterusnya yang bisa dianggap logis. 
Apakah perkiraan ini bakal menjadi kenyataan? Kita tunggu saja, masih ada waktu dan keputusan terakhir ada di tangan Ratu Elizabeth II.
***
Gambar: idntimes.com dan mediaindonesia.com

31 Mei 2019

Seorang Lelaki Tanpa Uban, Seabrek Cerita Literasi Seorang Maman

Ia sering wara-wiri di televisi. Juga, ia aktif di berbagai media sosial. Terkadang ia bisa hadir di acara lawakan, namun ia adalah figur yang termasuk sangat serius membahas soal-soal serius. Pun, dia mampu menemukan sisi humor dari setiap keadaan serius.

Dialah Maman Suherman, yang sekilas terlihat masih berusia 40-an. Entah karena ia rajin tertawa dan selalu menunjukkan wajah ceria, atau karena ia memang terbantu kondisi yang bebas dari uban!

Ya, lelaki kelahiran Makassar, 10 November 1965, memang terlihat lebih muda dari usia sebenarnya yang sudah melewati kepala lima. Bukan sekadar terlihat, namun memang isi pikirannya pun tidak kalah dengan dunia anak muda.

Dalam urusan canda tawa, ada sisi khas yang juga ia tampilkan. Ia lebih gemar menertawakan dirinya daripada menertawakan orang-orang. Bahkan orang-orang yang berseberangan politik dengannya pun, takkan ia tertawakan. "Ya, kalau misal di media sosial ada yang ngeyel, atau nyinyir, cukup diblok saja," katanya, enteng.

Ya, lulusan kriminologi dari Universitas Indonesia ini berbicara banyak hal seputar isu kekinian saat bukberan di lantai bawah Senayan City, Kamis (30/5/2019). Ia berbicara banyak seputar tren di media sosial, di dunia televisi, hingga perjalanannya dari kota ke kota di seluruh Tanah Air.

"Saya bermedia sosial itu juga untuk bisa berbagi terutama seputar literasi," kata sosok yang juga merupakan penulis aktif tersebut. "Saya lakukan itu lewat media sosial, dan tak cukup di situ, namun saya juga ke daerah-daerah karena inilah yang bisa saya lakukan untuk membantu perkembangan literasi."

Menurut dia, kenapa banyak masyarakat gemar berita-berita sensasional, hasutan, hingga hoaks, karena masih ada masalah literasi yang belum tertangani dengan cukup baik. Baginya, daripada menunggu, misalnya, hanya kepada pemerintah atau kepada orang lain, memilih terjun sendiri untuk menyampaikan pemahaman seputar literasi akan jauh lebih baik.

Maka itu, bagi dia, bergerak itu selalu menyehatkan. Dari rumah ia sudah membiasakan diri bergerak, setidaknya berjalan-jalan saat pagi hari. Sedangkan di luar rumah, ia juga gemar bergerak dari satu tempat ke tempat lain. Hal-hal inilah, menurutnya, membantu pikiran tetap bergerak, terasah, dan semakin terlatih.

Sebab, pikiran yang sehat adalah pikiran yang juga sering bekerja. Semakin ia aktif bergerak, maka pikiran akan bekerja dengan lebih baik. Dari sanalah, menurut pengakuannya, akan ada saja sisi baik yang bisa dibawa kepada banyak orang.

"Jangan tertumpu pada pikiran bahwa kita cuma manusia yang banyak salah dan kekurangan, lalu memilih tidak melakukan apa-apa," kata dia. "Justru karena kita manusia yang rentan salah dan keliru, perlu terus belajar melatih diri untuk lebih baik, dan hasil belajar ini kemudian bisa dibagi kepada banyak orang."

Itu juga alasannya saat mendapatkan tawaran beberapa televisi yang menjanjikan bayaran lumayan, tidak lantas diterima begitu saja. Ia lebih mempertimbangkan, ada kebaikan apa yang bisa dia sampaikan kepada publik. Jika ia tidak yakin ada hal baik yang bisa lahir dari sana, tidak segan-segan ia menolaknya. Sebab, menurutnya dalam mengambil keputusan tidak melulu harus mengacu pada seberapa besar bayaran didapatkan, tetapi seberapa besar kebaikan bisa ditularkan.

"Juga dalam berpolitik, sih," kata figur yang juga pernah menjadi pemimpin redaksi salah satu media di bawah Kompas Gramedia tersebut. "Ya, dalam berpolitik, saya tidak akan mau mengikuti begitu saja kebiasaan banyak orang dalam membahas atau berbicara politik. Saya berusaha, terlepas kecintaan besar terhadap satu sosok, misalnya, tetap menunjukkan dengan cara-cara tidak berlebihan."

Sebab, sikap-sikap seperti inilah, menurutnya, menjadi gambaran sejauh mana seseorang memiliki penguasaan yang baik terhadap literasi. Lantaran, kata dia, literasi bukan sekadar seberapa bagus seseorang dalam berkata-kata, tetapi bagaimana ia mengolah kata-kata dengan baik, menyampaikan dengan baik, dan ada kebaikan yang bisa lahir dari sana.

"Saya pun memberikan dukungan politik kepada kelompok tertentu, misalnya, sama sekali bukan karena dibayar. Itu murni karena pilihan sendiri," kata dia. "Saya merasa seseorang ini pantas didukung, jadi saya tunjukkan dukungan itu sewajarnya. Tidak perlu juga melecehkan atau menyerang siapa-siapa."


Ia juga menyayangkan pemandangan di media sosial, lantaran tak sedikit yang gemar menebar hawa negatif alih-alih melakukan sesuatu yang bermanfaat untuk banyak orang. Padahal media sosial itu adalah sebuah dunia yang tidak ada batasnya, dan berpotensi membawa kebaikan tidak terbatas. "Sayangnya ada saja yang bermedia sosial cuma untuk merusak. Semestinya merekatkan, bukan meretakkan. Seharusnya menyatukan, bukan memisahkan," kata dia lebih jauh.

Ia sempat menyebut beberapa tokoh politik, yang setiap tampil di media sosial, lebih sering memantik diskusi panas dan sumpah serapah alih-alih menebar semangat damai yang menyejukkan. Padahal, kata dia, banyak orang sudah lelah dengan keseharian dan kesibukannya, namun ada saja figur publik yang hanya gemar memantik perdebatan tidak penting.

Namun ia menegaskan selalu berusaha keras tidak larut dalam irama yang dibangun oleh banyak tokoh atau figur-figur ternama dalam interaksi media sosial. Ia lebih gemar menyesuaikan diri, dan tetap menunjukkan gayanya sendiri. Bukan untuk berpura-pura santun, namun tetap apa adanya, termasuk menegur ketika ada yang dinilai pantas ditegur.

Maka itu, ia berprinsip, lebih suka melakukan sesuatu berdasarkan inisiatif sendiri alih-alih hanya mengikuti dikte pihak-pihak tertentu. Sebab, dengan melakukan sesuatu dengan inisiatif, maka kita bisa bebas untuk bergerak sampai mana dan berhenti di mana. Ketika sesuatu dirasa berlebihan, ia bisa mengerem sendiri, dan ketika dinilai perlu bergerak lebih jauh, maka dapat kembali bergerak.
Maman (paling depan), Zulfikar Akbar (kiri) dan Aji Santoso dalam obrolan separuh malam

Dia juga menggarisbawahi, bahwa dirinya tetap saja manusia biasa yang ada kelemahan dan kekurangan. Namun melihat itu, ia mengajak melihat jujur saja pada diri masing-masing.

"Di tubuh kita saja ada bagian yang mendapatkan tempat teratas, atau sekadar di tengah, dan di bawah. Ketika menghadapi seseorang, sisi mana yang mau kita lihat? Sederhana saja," kata sosok yang akrab disapa dengan Kang Maman ini. "Jadi itu juga yang menjadi pegangan saya."

Termasuk dalam mendidik anak, ia memberikan contoh, Maman lebih gemar menerapkan pola didik yang lebih menghargai bakat anak. Saat ia berperan sebagai seorang ayah, ia takkan begitu saja memanjakan mereka. Ia ingin anak-anak tersebut mampu memahami kemauan sendiri dan belajar memenuhi keinginan itu.

Ketika akhirnya ia sudah melihat usaha keras sang anak, dan menilai memang masih ada yang perlu dibantu, barulah ia memberikan bantuan. Sebab, menurutnya, dengan cara inilah anak-anak akan terbiasa mengenali kekuatan sendiri dan menemukan kelebihan kekuatan mereka sebagai bekal menjadi seorang manusia.

Tentu saja, ada cerita panjang bersama pria yang juga pernah berkarier sebagai jurnalis ini. Namun saat jam menunjukkan pukul 22.00, ia minta pamit dan menenteng sekresek pizza untuk anak tercintanya. "Beginilah cara sederhana seorang ayah menunjukkan cinta kepada anaknya," kata dia seraya tersenyum, semringah.*





30 Mei 2019

Bintang Liverpool di Liga Champions itu Bernama Sadio Mane


Sadio Mane berterus terang, kegagalan timnya menghadapi Real Madrid di final Liga Champions musim lalu sangat mengecewakan. Musim ini, Liverpool kembali ke final dan akan berhadapan dengan Tottenham Hotspur, Sabtu (1/6/2019) waktu setempat atau Minggu (2/6) WIB.

Pemain berusia 27 tahun ini pantas menjadi perhatian, karena pada final lawan Madrid, dialah satu-satunya pemain Liverpool yang mampu mencetak gol. Logis jika dirinya juga yang paling kecewa karena golnya tidak membuahkan hasil seperti yang diharapkan, karena akhirnya justru gelar Liga Champions tetap menjadi milik Madrid.

Namun kali ini ia menegaskan optimismenya bahwa Liverpool akan mampu mengukir catatan jauh lebih baik. Alasan optimismenya, menurut Mane, karena perjalanan timnya di ajang terbesar Eropa tersebut sudah menjadi bukti kualitas timnya musim ini.

Ia menunjuk bagaimana satu persatu tim-tim raksasa Eropa tumbang di kaki Liverpool. Sebut saja Napoli, Bayern Muenchen, Porto, sampai dengan Barcelona di semifinal. Menurut dia, hal inilah yang menjadi bukti bagaimana kekuatan timnya.

Setelah mengalahkan Napoli 1-0  pada Desember lalu, meskipun dengan agregat 1-1, namun Liverpool memang melaju mulus hingga ke final.

Salah satu catatan fenomenal The Reds musim ini, setelah imbang tanpa gol di Anfield saat menjamu Muenchen, namun mereka mampu menumpas klub Bundesliga tersebut 3-1 saat bertandang ke markas lawan.
Sadio Mane setelah berperan menumpas raksasa Jerman, Bayern Muenchen

Patut dicatat, dalam kemenangan prestisius di Allianz Arena saat itu, Sadio Mane menjadi salah satu aktor penting. Sebab, dialah pemilik dua dari tiga gol The Reds saat itu. Sementara satu gol lainnya dicatat oleh Virgil van Dijk. Sementara Mohamed Salah hanya berperan sebagai penyumbang assist untuk gol terakhir Mane kala itu.

Dia mengungkapkan bahwa saat ini tidak ada yang lebih ia fokuskan kecuali memastikan tampil dengan performa maksimal di laga final kali ini. Bahkan saat ia ditanyakan seputar adanya beberapa klub besar dunia seperti Madrid yang berminat terhadapnya, ia tidak terlalu menggubrisnya.

Catatan Sadio Mane Lawan Tottenham
Jumlah Laga                    Menang                    Imbang                      Kalah                        Gol
94322

"Bagi saya, hal yang jauh lebih penting saat ini adalah fakta bahwa saya sekarang masih bersama Liverpool dan saya sangat senang di sini," katanya. "Kemudian, saya juga masih terus mempersiapkan diri untuk salah satu laga terbesar dari semua laga."

Bagi dia, setelah pengalaman terpukul musim lalu oleh Madrid, fokus saat ini adalah memastikan kemenangan. "Kami hanya fokus ke sini dulu. Fokus pada bagaimana memastikan agar bisa memenangkan laga ini," kata dia lagi.

Saat ditanyakan seputar seberapa yakin dirinya akan mampu meraih kemenangan kali ini, dia lantas menunjukkan bagaimana The Reds melewati semua tim-tim besar yang jadi lawannya. Selain menumpas Muenchen, timnya juga mampu melakukan revans atas Barcelona.
Saat Liverpool menumbangkan Barcelona 4-0 di semifinal Liga Champions 

Bagaimana tidak, di laga pertama, banyak kalangan meramalkan tidak ada harapan lagi bagi The Reds setelah ditumbangkan 3-0 oleh tim Katalunya tersebut. Namun akhirnya, di leg kedua, pasukan Juergen Klopp mampu membuktikan mampu melakukan hal di luar dugaan. Liverpool menampar Barca  4-0.

Di laga yang menentukan kelolosan The Reds ke final Liga Champions tersebut, beberapa pemain menunjukkan peranan istimewanya. Divock Origi jadi pembuka dan pemilik gol penutup, Giorginio Wijnaldum menyumbang dua gol.

Torehan-torehan inilah, menurut Mane, meyakinkan timnya akan mampu menguasai laga final kali ini. "Kami sudah menaklukkan tim-tim besar," kata dia. "Lagipula, setelah gagal menjuarai Liga Primer, saatnya kami habis-habisan mengejar trofi tersisa--Liga Champions."

Peran Sadio Mane di Liga Champions
Musim            Klub                                  Mnt    Tpl  St    In    Out   Cad Gol Kt
2018/19LiverpoolUCL106212120304200
2017/18LiverpoolUCL1117131306010200

Dia tak menampik bahwa kegagalan musim lalu lawan Madrid masih menyisakan kekecewaan baginya, namun ia menegaskan tidak akan terpaku dengan itu.

"Kami memang sedikit kecewa atas apa yang terjadi musim lalu, karena kami juga sangat ingin memenangkan Liga Champions," kata dia. "Tapi, ini bukan masalah. Itu sudah menjadi hal lumrah dalam dunia sepak bola. Jadi, sekarang yang diperlukan adalah bagaimana kami tetap bersikap positif--tidak larut dalam bayangan musim lalu.

Mane juga sempat menyindir kalangan media terkait pandangan pers atas timnya. Namun ia mengaku tidak menggubrisnya.

"Memang banyak orang, termasuk Anda (kalangan media), yang tidak yakin bahwa kami akan kembali tampil ke final, tapi akhirnya kami tetap mampu meraihnya," kata Mane. "Sekarang, saya kira, kami sudah belajar banyak dari semua ini, dan saya berharap bisa menjadikan pengalaman kami musim ini untuk meraih posisi yang kami inginkan."*** (Dbs/Tim)

Editor: Zulfikar Akbar

Menggali Liverpool dan Tottenham Jelang Final Liga Champions


Liverpool kembali ke final Liga Champions, dan kali ini akan berhadapan dengan Tottenham Hotspur, di stadion milik Atletico Madrid, Wanda Metropolitano, Sabtu (1/6/2019) waktu setempat.

Tentu saja, bayang-bayang musim lalu masih menggelayuti benak para pemain Liverpool. Pasalnya, pada musim 2017/18 tersebut, mereka juga berhasil lolos ke final namun The Reds belum cukup mampu membendung keganasan Real Madrid.

Saat itu hanya Sadio Mane yang mampu menyumbang gol untuk The Reds, tak cukup untuk membayar gol-gol Madrid yang lahir dari Karim Benzema dan Gareth Bale.

Sekarang, apakah Liverpool akan menampilkan sesuatu yang lebih baik atau akan mengulangi kejadian musim lalu?

Kalau melihat torehan laga-laga terakhir, terutama lima laga terkini di Liga Primer sejak tahun 2017, Liverpool terlihat lebih dominan.  Bahkan The Reds sempat mencatat kemenangan di markas Tottenham pada putaran pertama liga musim 2018/19 ini.

Begitu juga di pertemuan kedua, lagi-lagi Liverpool berkuasa dengan skor setara sebelumnya, 2-1.

Namun Tottenham pun tak dapat diremehkan begitu saja. Pasalnya, selain sempat menahan imbang Liverpool di Anfield (2-2) pada putaran kedua musim 2017/18, mereka juga sempat mencatat kemenangan besar pada 2017 silam.

Anda pecinta Liga Primer tentu saja  belum lupa bagaimana Tottenham menggebuk The Reds, dengan skor telak 4-1. Harry Kane (dua gol), Son Heung-Min, Dele Alli jadi aktor di balik kemenangan tersebut.

Pertanyaannya, apakah mereka dapat mengulangi momen 2017 tersebut? Rasanya nyaris tidak mungkin jika melihat rekam jejak terkini, dalam dua putaran Liga Primer, Liverpool selalu keluar jadi pemenang.


Satu hal yang juga patut digarisbawahi adalah Roberto Firmino selalu berperan dalam dua catatan kemenangan The Reds atas Tottenham musim ini.

Sebut saja pada pertemuan pertama musim ini, Firmino mencetak gol di menit ke-54, setelah rekannya Giorginio Wijnaldum lebih dulu membobol gawang lawan di menit ke-39.

Sementara di pertemuan kedua, Firmino mampu mengoyak gawang Hugo Lloris pada menit ke-16. Meskipun Tottenham mampu membalas lewat Lucas Moura di menit ke-70, namun gol bunuh diri Toby Alderweireld di menit akhir kembali menandai kemenangan Liverpool.

Lima Laga Terakhir Liverpool-Tottenham Hotspur
Minggu31/03/19Liga PrimerLiverpool2 - 1Tottenham HotspurView eventsMore info
Sabtu15/09/18Liga PrimerTottenham Hotspur1 - 2LiverpoolView eventsMore info
Minggu04/02/18Liga PrimerLiverpool2 - 2Tottenham HotspurView eventsMore info
Minggu22/10/17Liga PrimerTottenham Hotspur4 - 1LiverpoolView eventsMore info
Minggu12/02/17Liga PrimerLiverpool2 - 0Tottenham Hotspur

Di luar cerita laga-laga terkini, dominasi Liverpool pun terlihat dari rekam jejak kedua tim sepanjang sejarah. Dari 170 pertemuan kedua tim sejak 1909, Liverpool telah 79 kali mengalahkan Tottenham. Sebaliknya, Liverpool hanya kalah oleh tim tersebut sebanyak 48 kali. Di samping, juga terdapat 43 laga yang berakhir imbang.

Dari 170 laga tersebut, Liverpool dengan Tottenham baru dua kali bertemu di pertandingan tingkat Eropa. Tepatnya pada semifinal Liga Europa 1972/1973, namun Tottenham mampu memetik kemenangan 2-1 di leg kedua, setelah pada leg pertama kalah 0-1.

Juga jika mengacu ke Liga Primer di mana kedua tim telah bersua dalam 152 laga, The Reds telah 71 kali menampar Tottenham. Sebaliknya, pasukan Anfield itu sendiri hanya 42 kali tumbang oleh rival asal London tersebut.

Salah satu persoalan serius dihadapi Tottenham kali ini adalah kondisi Kane yang belum sepenuhnya pulih sejak cedera di pergelangan kaki. Bagaimanapun, pemilik 24 gol dan enam assist musim ini adalah senjata penting bagi tim asuhan Maurico Pochetino tersebut.

Di pihak lain, Sadio Mane sebagai andalan Liverpool dan sudah menyumbang 17 gol dalam 24 laga, menegaskan timnya pun sudah menyiapkan diri semaksimal mungkin. "Saya sendiri sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi salah satu laga terbesar dari laga-laga yang sudah kami hadapi," kata dia.

Mane juga menegaskan optimismenya bahwa Liverpool akan tetap menunjukkan kualitas terbaik di laga ini. "Kami pernah menumbangkan banyak tim besar," kata pemain yang juga mencatat satu gol di final Liga Champions musim lalu.

Saat ditanya bagaimana pencapaian timnya sejauh ini, Mane pun terbuka berbicara apa adanya. "Kami memiliki target, tentunya. Ingin memenangkan liga sekaligus Liga Champions, misalnya," kata dia, melansir Worldfootball.net.  "Namun kami gagal juara di liga, tapi kami masih punya satu trofi untuk dikejar. Jadi, kami akan memberikan segalanya untuk meraih ini."*** (Tim/Dbs)

Editor: Zulfikar Akbar

26 Mei 2019

Tumpas Raksasa La Liga, Valencia Juara Piala Raja

Akhirnya Stadion Benito Villamarin menandai torehan penting bagi Valencia CF. Pasukan Marcelino Garcia Toral sukses menumpas FC Barcelona berkat gol-gol Kevin Gameiro dan Rodrigo Moreno. Masing-masing terjadi di menit ke-21 dan menit ke-33. Los Che keluar sebagai juara Copa del Rey (Piala Raja) musim 2018/19.

Seperti diramalkan sebelumnya (di sini) Barcelona memiliki banyak beban sebelum menghadapi laga puncak Piala Raja. Selain masalah kesulitan mencetak gol, juga rapor lawan, Valencia, sepanjang menghadapi Barca musim ini pun terbilang istimewa, karena selalu mampu mengimbangi klub Katalunya tersebut.

Selain itu, ketergantungan terhadap Leo Messi masih sangat tinggi. Sementara penyerang asal Argentina ini sendiri hanya mampu mencetak satu gol yang terjadi di babak kedua, atau menit ke-73.

Valencia pun memiliki semangat besar untuk bisa meraih gelar pada musim ini setelah memastikan tempat keempat di La Liga. Terlebih lantaran kondisi tim yang bermarkas di Mestalla pada musim ini terbilang sangat baik, kontras dengan Barcelona yang mengalami keadaan buruk dengan banyaknya pemain cedera.

Ernesto Valverde tak bisa menurunkan Marc-Andre ter Stegen di gawang karena masalah fisik. Beberapa pemain seperti Nelson Semedo sampai Philippe Coutinho terpaksa dimainkan meskipun belum pulih sempurna.

Meskipun di lini tengah terdapat Sergio Busquets yang terkenal sebagai "dewa" dalam menjaga distribusi bola, namun tak leluasa memastikan Messi mendapatkan pasokan bola memadai. Ivan Rakitic pun tidak menunjukkan performa maksimal, hingga ia ditarik keluar di babak kedua dan digantikan Carles Alena.


Berbeda halnya dengan Valencia, mereka dapat bermain maksimal karena hampir seluruh pemain utama dapat tampil menghadapi Messi dan  kawan-kawan. Maka itu, sejak babak pertama mereka sudah memastikan dua gol, sekaligus gol penentu kemenangan.

Tampaknya Marcelino sebagai pelatih Los Che, sudah meraba kelemahan Barca setelah dua pertemuan di liga selalu berakhir imbang. Tim Katalunya itu memiliki kelemahan dalam memanfaatkan awal laga, dan ini justru dimanfaatkan dengan maksimal oleh Valencia.

Maka itu, Gameiro dan Rodrigo dapat dengan leluasa melesakkan dua gol ke gawang Barca, saat tim lawan tak berdaya memberikan balasan kecuali dengan satu-satunya gol Messi.

Bagi Valencia, setelah lebih dari 10 tahun, baru kali inilah mereka bisa kembali menjuarai Piala Raja.

Sebelumnya, kali terakhir Los Che meraih gelar di ajang tersebut terjadi pada musim 2007/08. Namun laga final pada saat itu, Kelelawar Mestalla berhadapan dengan Getafe, dan berlangsung di markas Atletico Madrid, Vicente Calderon.
Gameiro dan Rodrigo, dua bintang kesuksesan Valencia di Piala Raja
Namun catatan Valencia saat meraih gelar ketujuh Piala Raja pada 2008 pun tidak lepas dari Barcelona. Saat itu Valencia lolos ke final pun setelah lebih dulu menumpas Barca dengan agregat 4-3, lantaran setelah imbang 1-1 di leg pertama, mampu mereka menangkan 3-2 di leg kedua.

Sedangkan di laga final saat itu, Valencia menang 3-1 atas El Geta berkat gol-gol dari Juan Mata, Alexis Delgado, dan Fernando Morientes.

Praktis, sejak eranya Morientes, baru kini di eranya Gameiro dan kawan-kawan, Los Che bisa kembali mencicipi gelar Piala Raja.

Tentu saja, Marcelino terlihat paling semringah di balik keberhasilan timnya dalam menumpas Barca dan menggondol trofi Piala Raja. "Ini adalah gelar pertama saya sebagai pelatih profesional. Sekarang, saya menjadi orang paling bahagia di dunia," katanya.

Sedangkan Valverde di bangku pelatih Barca mengalami dua pukulan berat sekaligus. Selain gagal meraih gelar Piala Raja, juga menghadapi desakan untuk mundur.***

Editor: Zulfikar Akbar
Foto: Standar.co.uk

25 Mei 2019

Detik-detik Hadapi Barca di Final Piala Raja, Valencia Bisa Jadi Penguasa


Di Stadion Benito Villamarin, dua klub legendaris Spanyol akan bertarung di final Copa Del Rey (Piala Raja). Sabtu (25/5) waktu setempat atau Minggu (26/5) dini hari WIB, Barcelona yang sudah memastikan juara di La Liga, berhadapan dengan Valencia yang baru saja menempati posisi keempat di ajang tersebut.

Satu catatan menarik dari pertemuan kedua tim ini adalah fakta sepanjang musim ini, bahwa keduanya sama-sama belum pernah kalah satu sama lainnya. Pasalnya, dalam dua putaran liga, laga kedua tim selalu berakhir seri.

Di putaran pertama berakhir 1-1, pada 8 Oktober lalu. Sedangkan di putaran kedua yang berlangsung di markas Barca, Camp Nou, lagi-lagi berakhir imbang, 2-2.

Namun ada catatan menarik dari laga terakhir di markas Los Azulgrana. Pasalnya pasukan Los Che sebagai tim tamu tidak terlihat rendah diri di kandang lawan.

Saat itu, Kevin Gameiro mampu melesakkan bola ke gawang Marc Ter Stegen di menit ke-24. Umpan Rodrigo Moreno saat itu sangat membantu Gameiro mencatat gol pertama di Camp Nou.

Berselang delapan menit, Valencia lagi-lagi mencatat gol ke gawang Barca. Namun kali ini terjadi lewat titik putih yang dieksekusi oleh Dani Parejo.

Barca diuntungkan dengan pelanggaran tim tamu, hingga mendapatkan hadiah penalti di menit ke-39, yang dieksekusi Leo Messi. Assist Aleix Vidal di babak kedua, lagi-lagi membuahkan gol lewat Messi. Namun hanya terhenti di situ, hingga laga berakhir dan masing-masing hanya mencatat satu poin.

Tentunya, dari laga terakhir itu cukup menunjukkan kepercayaan diri yang sangat besar dimiliki oleh tim "Los Che". Bisa dipastikan, ini merupakan modal penting bagi anak asuh Marcelino Garcia Toral, termasuk di laga final kali ini.

Barca menunjukkan kelemahan karena masih mengalami "Messidependensia" saat menghadapi tim sekelas Valencia. Maka itu, jika di laga final ini tidak ada pemain lain yang memiliki kemampuan mengambil peran sebagai pencetak gol, Barca dapat saja menelan kesulitan serius. Bukan mustahil, mereka akan kalah dan harus melepaskan gelar Piala Raja kepada Valencia.

Kedua tim, sebelumnya sudah 19 kali saling berhadapan di ajang Piala Raja. Dari seluruh laga itu, lagi-lagi Valencia menunjukkan bahwa mereka punya catatan istimewa menghadapi Barca. Meskipun 10 kali Los Che kalah, namun dalam sembilan laga lainnya, mereka tak terkalahkan--lima kali menang dan empat kali imbang.

Catatan lain yang juga pantas untuk disimak adalah fakta bahwa mereka sudah tiga kali bersua di laga final. Pertama pada musim 1951/52, musim 1953/54. dan 1970/71. Dari ketiga laga itu, Barca membutuhkan waktu ekstra untuk menumpas Los Che dan meraih gelar. Sedangkan di pertemuan kedua pada tahun 1954, Valencia keluar sebagai juara, dengan skor telak 3-0.

Valencia punya potensi untuk dapat mengulang kembali nostalgia era 1950-an. Terlebih lagi, menjelang laga kali ini, terdapat sederet pemain andalan Barca yang mengalami masalah fisik.

Teranyar, Nelson Semedo yang merupakan andalan di lini belakang, mengalami cedera. Sebelumnya sudah terdapat Luis Suarez, Marc-Andre ter Stegen, Philippe Coutinho, Ousmane Dembele, dan Kevin-Prince Boateng yang masuk ke dalam daftar pesakitan.

Messi sendiri sempat memberikan pernyataan terkait laga lawan Valencia kali ini. "Memang, banyak yang mengatakan bahwa kami sudah patah arang di Piala Raja, tapi kami tak ingin begitu--menyerah," kata pemain asal Argentina ini. "Tim ini akan tetap bertarung, agar bisa meraih semua gelar, dan inilah kewajiban para pemain Barca tiap musim."

Sementara di pihak Valencia, Parejo mewakili optimisme rekan-rekannya. "Sebuah misi sudah kami tuntaskan--meraih posisi keempat di liga," katanya, menyinggung pencapaian timnya. "Sekarang, hanya tersisa satu lagi yang mesti kami tuntaskan--menjuarai Piala Raja."

Satu hal yang mesti sangat diperhitungkan dari Valencia adalah kekuatan lini belakang mereka. Pasalnya, berdasarkan catatan di liga, rapor mereka lebih baik dibandingkan Barca. Hanya kebobolan sebanyak 35 kali, saat Barca kemasukan 36 kali sepanjang liga musim ini.

Artinya, hanya jika Barca mampu memastikan kekuatan lini depan tetap sebaik perjalanan mereka di liga musim ini, terbanyak dari 20 tim (90 gol), ada kemungkinan mereka dapat melumpuhkan Los Che. Namun dengan masalah di lini depan menjelang final Piala Raja, ada gelagat, final kali ini akan menjadi milik Valencia. Bagaimana menurut Anda?*** (TIM)

Editor: Zulfikar Akbar


24 Mei 2019

Indonesia dan Potensi Memimpin Pasar E-Commerce Asia Tenggara


Pada 2013 lalu, posisi Indonesia dalam Global Information Technology Report hanya berada pada posisi ke-76. Sedangkan pada 2015, Indonesia melesat ke posisi ke-63 dari 148 negara.

Tak pelak, kenaikan peringkat Indonesia tersebut membuat pemerintah terlihat semakin optimistis. Diyakini, Indonesia berpotensi menjadi pemimpin pasar e-commerce di Asia Tenggara pada tahun 2025.

Itu juga ditegaskan Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro di acara Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) Ministerial Meeting 2019, di Paris.

Bambang mengangkat potensi Indonesia tersebut saat pembahasan Unlocking the Potential of Digital Transition: the Role of Governments and Importance of International Cooperation. Sebuah diskusi panel yang khusus membahas potensi digital dan peran pemerintah dalam kaitan hubungan internasional.

Kemungkinan Indonesia dapat menjadi pemimpin pasar e-commerce tersebut pun diyakini tidak lepas dari perkembangan masyarakat menengah. Di samping, juga karena adanya perbaikan akses infrastruktur digital.

Dalam keterangan resmi Jumat (24/5), Bambang menegaskan bahwa faktor membaiknya peringkat Indonesia berdasarkan laporan Global Information Technology, pun semakin meyakinkan.

Namun, ia juga memberikan kata kunci, hal itu dapat tercapai--Indonesia jadi pemimpin pasar e-commerce--jika berhasil meningkatkan infrastruktur yang berhubungan dengan digita. "Indonesia membutuhkan usaha kolektif dari berbagai pihak. Tak terbatas hanya pada pemerintah saja," kata dia. "Di era digital seperti saat ini, inklusif, efisiensi, dan inovasi sangat dibutuhkan agar teknologi informasi dan komunikasi Indonesia dapat terus meningkat kualitasnya."

Saat ini, menurut Bambang, pemerintah masih terus bekerja keras agar dapat meningkatkan pelayanan teknologi komunikasi dan informasi bagi pengguna internet di Indonesia. Sejauh ini sudah menjangkau 54,7 persen dari total penduduk.

Sedangkan data Kementerian Komunikasi dan Informatika pun memperlihatkan perkembangan terkait dengan teknologi komunikasi dan informatika.

Tercatat, saat ini sudah terdapat 478 kabupaten/kota yang sudah terjangkau oleh Palapa Ring, dari 514 kabupaten/kota di seluruh Indonesia.

Tak hanya itu, juga sudah ada 1.086 base tranceiver stations yang telah tersebar di area perbatasan dan tertinggal.

Di samping, juga sudah ada 4.111 akses internet bagi sekolah, fasilitas kesehatan, dan kantor-kantor perkotaan. Selain, juga sudah ada 150 Gbps high through put satellite.

Dengan begitu, pemerintah meyakini akan sangat membantu hingga dapat menerapkan berbagai kebijakan tepat. "Digitalisasi membantu Indonesia menerapkan kebijakan yang lebih tepat dan akurat, dengan menggunakan data valid yang tersedia melalui one data Indonesia," kata Bambang lebih jauh, seraya menegaskan bahwa keseluruhan operasional ini menggunakan teknologi informasi dan komunikasi.

"Teknologi informasi harus menjadi salah satu prioritas pembangunan, karena selain menjadi jendela informasi, juga membantu mendistribusikan kesejahteraan masyarakat," Bambang menegaskan.*** (TIM)

Editor: Zulfikar Akbar
Sumber Foto: Antara

Polemik Brexit Depak Theresa May dari Posisi PM Inggris


Hari Jumat (24/5/2019) terdapat berita besar di jagat politik internasional. Salah satu perempuan berpengaruh Eropa, Theresa May, yang menjabat sebagai Perdana Menteri (PM) Inggris sejak 13 Juli 2016, akhirnya memutuskan untuk melepaskan jabatannya.

Tak pelak, keputusannya tersebut mengundang perhatian dunia. Ia sendiri berterus terang, alasannya untuk mundur dari jabatannya setelah hampir 3 tahun sebagai PM, tidak lepas dari kondisi di parlemen.

Saat berbicara di luar kantornya yang berlokasi di 10 Downing Street, London, terlihat, ia berterus terang apa saja yang menjadi pemicu sehingga ia memutuskan mundur. Persoalan berkurangnya dukungan Partai Konservatif kepadanya, adalah alasan terkuat sehingga ia mengambil keputusan tersebut.

Melansir Reuters, PM May sempat berbicara sekitar tujuh menit di depan kantornya tersebut. Di sana, ia berterus terang bahwa polemik yang berkaitan dengan Brexit menjadi pemicu hingga parlemen tidak mendukungnya, dan ia tidak menemukan alasan lagi untuk melanjutkan kekuasaannya.

Namun ia tidak terlihat melempar kesalahannya kepada pihak parlemen. PM May dalam pidato tujuh menitnya itu menegaskan bahwa keputusannya mundur hanya karena kegagalannya sendiri, karena tidak bisa membawa keluar Inggris dari Uni Eropa (Brexit).

Di sisi lain ia pun menegaskan bahwa sejak hari pertama menjabat, salah satu yang ia perjuangkan adalah menjadikan Inggris sebagai negara yang bisa membawa kesuksesan bagi semua kalangan.

"Dari kali pertama saya menginjakkan kaki (di kantor PM) lewat pintu di belakang saya ini, sebagai PM, saya sudah berjuang keras, agar Inggris bisa menjadi negara yang tak hanya membawa kesuksesan untuk sebagian orang saja, namun bisa membawa kesuksesan untuk semuanya," ia menegaskan.

Ia juga bercerita tentang perjalanan awal ia menjabat pada 2016, bahwa keputusan Brexit atau keluar dari UE adalah keputusan rakyat. "Tahun 2016 kita sudah memberikan pilihan kepada rakyat Inggris. Di luar dugaan, rakyat Inggris memutuskan untuk meninggalkan UE," katanya. "Saat ini, keyakinan saya sama dengan tiga tahun lalu. Bahwa, jika kita memberikan pilihan kepada rakyat, maka kita memiliki tanggung jawab untuk menerapkan keputusan mereka."

"Saya sudah bekerja sebaik mungkin dengan segala yang saya mampu, untuk dapat mewujudkan semua itu," ia menegaskan lagi.

Mata PM May terlihat berkaca-kaca. Ia tak dapat menahan tangisnya, meskipun ia terkenal sebagai salah satu perempuan yang tegas dan kokoh pada pendiriannya.

Ia sudah mengambil keputusan bahwa per 7 Juni mendatang, ia juga mundur dari posisi sebagai Ketua Partai Konservatif dan Unionist. "Saya akan segera meninggalkan tugas yang, bagi saya, adalah kehormatan seumur hidup (sebagai) PM kedua dari kalangan perempuan, tetapi tentu saja bukan yang terakhir," katanya dengan suara terbata-bata.

PM May pun memastikan jika keputusan itu diambil tanpa menyisakan perasaan sakit hati atau dendam. "Saya mengambil keputusan ini tanpa dendam, melainkan dengan terima kasih sebesar-besarnya, karena mendapatkan kesempatan mengabdi untuk negara yang saya cintai," katanya lagi.

Ia juga bercerita bahwa dirinya selama ini sudah berusaha untuk mengajukan proposal kesepakatan Brexit atau Rancangan Undang-undang (RUU) Brexit. Ia berharap proposal ini dapat disetujui pihak  parlemen.

Sayang sekali, RUU yang ia ajukan tersebut tak pernah berhasil. Pihak parlemen selalu saja memilih untuk menolak proposal ia ajukan.

Sebagai catatan, RUU Brexit berisikan berbagai poin yang berkaitan dengan hubungan masa depan Inggris dan Uni Eropa sejak memutuskan pisah. PM May menilai, RUU Brexit perlu disahkan menjadi Undang-undang (UU), alasannya tidak lain supaya proses keluarnya Inggris dari Uni Eropa berjalan lancar.

RUU Brexit tersebut juga berisi kesepakatan dan instruksi mencakup ekonomi, keamanan dan berbagai area kepentingan lainnya antara Inggris dan negara-negara anggota Uni Eropa. Namun lagi-lagi, memang terdapat beberapa  poin yang justru ditolak oleh anggota parlemen Inggris.

PM May menjelaskan bahwa dirinya pun sudah merundingkan regulasi hingga instruksi terkait hubungan negaranya dengan negara-negara terdekat di Eropa. "Saya merundingkan aturan untuk keluarnya Inggris (dari UE), dan membangun hubungan baru dengan negara tetangga, agar dapat melindungi lapangan pekerjaan, keamanan, dan persatuan kita," katanya.

Segala cara sudah ia lakukan. Sayangnya tidak membuahkan hasil seperti diharapkan.

"Saya sudah melakukan semua hal yang saya bisa untuk meyakinkan anggota parlemen untuk mendukung kesepakatan itu," kata PM May lebih jauh. "Sangat disayangkan, saya belum bisa melakukannya. Saya telah mencoba tiga kali. Saya meyakini bahwa bertekun itu paling tepat, bahkan ketika peluang untuk kegagalan sangat tinggi."

Alasan itulah, menurut dia, sehingga akhirnya ia harus mengambil keputusan untuk mundur dari jabatannya. "Sekarang menjadi jelas bagi saya bahwa menjadi kepentingan terbaik negara ini untuk memiliki seorang Perdana Menteri baru untuk memimpin upaya itu," PM May menutup penjelasannya.

Merujuk Deutsche Welle, sebenarnya PM May masih memiliki satu kemungkinan lagi untuk menutup perasaan malu yang menamparnya selama ini, setelah berkali-kali ditolak parlemen. Ia dapat saja mengajukan pemungutan suara keempat kalinya terkait Perjanjian Brexit.

Bahkan ada laoran bahwa per 3 April lalu, PM May berencana untuk kembali mengajukan Perjanjian Brexit ke parlemen. Namun lagi-lagi tidak ada gelagat positif. Alhasil, pihak UE pun menegaskan bahwa mereka sudah kehilangan kesabaran.

"Untuk teman-teman Inggris kami, sebenarnya kami sudah sangat bersabar, tetapi kesabaran kami sekarang sudah habis," kata Ketua Komisi Eropa Jean-Claude Juncker.

Terlebih, semestinya Inggris sudah resmi meninggalkan Uni Eropa sejak 29 Maret 2019, atau dua tahun setelah permohonan keluar secara resmi dari organisasi tersebut.

Sejak itu, PM May pun terbilang aktif melakukan perundingan intensif dengan UE terkait proses Brexit. Bahkan hal itu tertuang dalam Perjanjian Brexit hampir 600 halaman. Parlemen Inggris menolak perjanjian dengan UE tersebut, dan juga tak menggubris semua alternatif. Meskipun, beberapa anggota parlemen lainnya mengusahakan opsi alternatif tersebut agar bisa menjadi jalan tengah.

Per 1 April 2019, mayoritas anggota parlemen menolak hal itu dalam pemungutan suarat terakhir. Kemudian, pihak parlemen pun memberikan penolakan tegas untuk delapan poin alternatif.

Tak pelak, kemudian muncul istilah no-deal-Brexit, yang membuat PM May merasa tertampar. Pasalnya, Pemerintah Inggris dan Uni Eropa, sejatinya sama-sama berharap agar jangan sampai negara tersebut keluar dari UE tanpa perjanjian apapun.

Pihak UE sendiri sempat mengundurkan jadwal Brexit, lantaran mereka berusaha memenuhi permintaan pemerintah Inggris yang memang menginginkan supaya diundur. UE pun mengiyakan, dengan catatan, pihak parlemen negara tersebut harus sudah mencapai kata sepakat selambat-lambatnya pada 12 April.

Namun upaya dilakukan PM May dengan parlemen Inggris tidak membuahkan hasil. Praktis, opsi yang ada hanyalah Inggris keluar dari UE tanpa kesepakatan apa-apa. PM May menolak opsi ini karena ia juga tampaknya membaca kemungkinan buruk seperti diprediksi oleh berbagai pakar ekonomi, bahwa hal itu dapat memicu kerugian hingga miliaran euro.

Ditengarai, keputusan PM May berhenti dari posisinya saat ini karena sudah tidak menemukan jalan lain. Sebab, mengikuti keinginan parlemen agar Inggris keluar tanpa kesepakatan diyakininya justru membahayakan ekonomi negaranya. Maka itu, baginya, mundur jauh lebih baik daripada menyerah kepada parlemen dan meninggalkan risiko bagi Inggris.* (TIM)

Editor: Zulfikar Akbar
Sumber Foto: Fox News

Photos

Dunia

Metropolitan

Sport

Refleksi

© Copyright 2019 TULARIN | All Right Reserved