TULARIN >

Headline

Kolom

Cheers

Human

Politik

29 Desember 2019

Gedung Sekolah Rusak, Dana Rehab "Disunat" untuk Lomba Balap


Musim hujan sedang melanda beberapa wilayah di Indonesia, salah satunya DKI Jakarta. Sekian hari ibu kota enggan disapa mentari terik, karena mungkin harus gantian dengan awan mendung yang sudah bosan bertengger di langit dan ingin sekali jatuh membasahi bumi.
Bila air hujan turun berkepanjangan dalam volume besar, bisa dipastikan efeknya bukan cuma terjadi banjir, tetapi juga menurunkan kualitas dan bahkan merusak bangunan, terutama yang sudah termakan usia. Oleh karena itu, masing-masing individu diharapkan dapat selalu waspada, tidak hanya ketika berada di jalanan, melainkan pula saat melakukan aktivitas di dalam gedung atau rumah.
Contoh bangunan yang mengalami kerusakan itu adalah SD Negeri 10 dan 12 Kembangan Utara, Jakarta Barat. Gara-gara diguyur hujan dan diterpa angin belakangan ini, kanopi kedua sekolah tersebut ambruk pada Rabu (25/12). Untung saja lagi masa liburan, tidak sampai memakan korban jiwa.
Mendengar kabar kanopi dua sekolah tadi rusak, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta Saefuloh Hidayat, Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta Zita Anjani, dan Ketua Komisi E DPRD DKI Jakarta Iman Satria memutuskan meninjau langsung kondisi di lapangan pada Jumat (27/12).
Kesimpulan yang mereka peroleh adalah bahwa ternyata kanopi sekolah rapuh dan baut pengaitnya juga terlepas. Oleh karena itu, mereka meminta pihak-pihak terkait untuk melakukan pengecekan lebih lanjut dan mendata sekolah mana saja yang mengalami kondisi serupa.
Setelah dicek dan didata, nantinya sekolah-sekolah yang dinilai terdapat kerusakan akan dimasukkan dalam daftar target rehabilitasi. Dan tentunya, semisal kanopi ambruk di Kembangan Utara semestinya cepat diperbaiki atau diganti, tidak harus menunggu masuk daftar.
Meski dijanjikan sekolah-sekolah rusak bakal direhabilitasi berdasarkan hasil pengecekan dan pendataan, tampaknya mustahil dilakukan dalam waktu dekat. Ternyata anggaran rehabilitasi baru bisa disisipkan di APBD 2021. Artinya masih menunggu satu tahun lagi.
Alasannya cukup logis, sebab selain saat ini akhir tahun anggaran, sebanyak Rp 455,4 miliar rencana anggaran milik Dinas Pendidikan DKI Jakarta untuk merehabilitasi gedung-gedung sekolah yang sedianya masuk dalam APBD 2020 dicoret dan dialihkan ke pos kebutuhan lain.
Pos kebutuhan yang dimaksud yakni 'menambal' biaya perhelatan lomba balap mobil listrik Formula E gagasan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, yang rencananya akan dilangsungkan pada Sabtu, 6 Juni 2020 mendatang.
Karena diperkirakan menelan biaya sebesar Rp 1,16 triliun, lomba balap sehari itu diketahui juga turut "menyunat" dana program revitalisasi gelanggang olahraga dan stadion sepak bola sebanyak Rp 320,5 miliar milik Dinas Pemuda dan Olahraga DKI Jakarta.
Padahal, jika diingat kembali, Formula E sesungguhnya program mendadak, tiba-tiba atau sengaja dipaksakan, walaupun dasar penyelenggaraannya dituangkan dalam Peraturan Gubernur (Pergub) Nomor 83 Tahun 2019. 
Program yang melibatkan Federation International Automobile (FIA) itu bukan merupakan bagian dari rencana pembangunan jangka menengah daerah (RPJMD) 2017-2020 dan rencana kerja pemerintah daerah (RKPD) Pemprov DKI Jakarta. Tidak heran kemudian disebut aksi berjudi.
Dikatakan berjudi sebab, di samping kajian lengkap investasi dan besaran pendapatan langsung tidak jelas, pemaksaan pelaksanaan Formula E membawa dampak buruk, yaitu pengabaian kebutuhan prioritas. Gedung-gedung sekolah yang direncanakan direhabilitasi malah dikesampingkan.
Pertanyaannya, dengan telah dicoretnya anggaran rehabilitasi sekolah dalam APBD 2020 demi Formula E, apakah maksudnya bahwa para guru, pegawai dan peserta didik yang menghuni gedung sekolah rentan rusak harus menunggu satu tahun lagi untuk diperhatikan?
Tampaknya memang demikian. Para penghuni gedung sekolah rusak terpaksa memendam asanya paling singkat hingga awal 2021. Dan semoga saja betul diakomodir kelak, anggaran rehabilitasi tidak dicoret lagi.
Hikmah dari semua ini adalah betapa pentingnya kemampuan (dan kemauan) untuk membedakan mana kebutuhan dan mana keinginan. Mana prioritas dan mana pula sampingan.
Peribahasa "sediakan payung sebelum hujan" benar adanya. Contoh implementasinya pada penyediaan anggaran rehabilitasi gedung sekolah yang tidak boleh bergantung pada kapan datangnya terik dan hujan.
***

27 Desember 2019

Mimpi Besar Aceh Pasca Gempa dan Tsunami 15 Tahun Lalu


Kemarin, Kamis, 26 Desember 2019, genap 15 tahun wilayah Aceh dilanda bencana gempa bumi dahsyat berkekuatan 9,1 sampai 9,3 skala Richter dan gelombang tsunami setinggi kurang lebih 30 meter.
Peristiwa memilukan yang menelan korban tewas sekitar 170.000 orang itu terjadi tepatnya pada Minggu, 26 Desember 2004. Para korban terdiri dari warga Indonesia (Aceh serta daerah lain) dan warga negara asing (khususnya para wisatawan).
Gempa bumi yang menimbulkan gelombang tsunami itu disebut sebagai bencana alam paling mematikan di abad 21. Selain di Aceh, korban jiwa juga terdapat di negara-negara lain yaitu di Thailand, India, Sri Lanka, Kepulauan Andaman, dan sebagian negara di Afrika, sebab turut terdampak tsunami. Jika ditotal, jumlah korban jiwa mencapai kurang lebih 230.000 orang.
Tentu tidak hanya korban jiwa, karena merupakan pusat lokasi terjadinya gempa (di dasar laut dekat Pulau Simeuleu), puluhan ribu bangunan di wilayah Aceh luluh lantak akibat guncangan dan sapuan tsunami dengan jarak jangkau belasan kilometer dari garis pantai. Di samping itu, tempat kerja dan sumber mata pencaharian juga hilang.
Untuk memulihkan Aceh pada waktu itu, Indonesia bersama negara-negara lain turun tangan mengulurkan bantuan. Pemerintah Indonesia sampai menetapkan gempa dan tsunami di Aceh sebagai bencana nasional. Pemerintah menyiapkan tiga tahap pemulihan secara sistemik dan dikelola dengan target penyelesaian selama lima tahun.
Ketiga tahap tersebut, yakni pertama, tahap kedaruratan (emergency)  selama satu tahun (Desember 2004-Desember 2005). Tahap ini meliputi pengadaan makanan, pakaian, pelayanan kesehatan, tempat tinggal sementara, air bersih, listrik, transportasi, telekomunikasi, bahan bakar, dan tenaga sosial.
Tahap kedua, rehabilitasi selama satu tahun (Desember 2005-Desember 2006), yang meliputi rehabilitasi pelayanan publik, infrastruktur, rumah tempat tinggal, sentra ekonomi dan pasar.
Sementara tahap ketiga, rekonstruksi selama tiga tahun (2006-2009), antara lain melanjutkan kembali pembangunan pelayanan publik, infrastruktur, dan rumah-rumah warga.
Seluruh biaya program pemulihan dianggarkan di APBN dan dijalankan oleh Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) yang didirikan pada 16 April 2005 berdasarkan Perppu Nomor 2 Tahun 2005, di mana struktur organisasi serta mekanisme kerjanya dibuat pada 29 April 2005 dan dituangkan dalam Perpres Nomor 34 Tahun 2005. Total biaya pemulihan lebih dari Rp 20 triliun.
Meski pernah disokong supaya bangkit dari keterpurukan akibat bencana, wajah Aceh pastinya tidak mungkin berubah cepat untuk kembali ke kondisi semula. Apalagi jika cuma mengandalkan uluran tangan dan bantuan pemerintah. 
Artinya, terhitung sejak program BRR berakhir pada 2009, maka sepuluh tahun terakhir Aceh telah mencoba melakukan banyak hal secara mandiri. Pemerintah daerah (Pemda) dan warga Aceh harus berusaha berdiri tegak walaupun masih terkenang pedihnya musibah.
Mereka tidak larut meratap, melainkan berupaya semaksimal mungkin untuk memperbaiki kondisi kehidupannya, terutama di bidang ekonomi. Pastinya cukup banyak sisi yang perlu dibenahi dari bidang ini, namun ternyata diketahui mereka tengah giat mengembangkan sektor pariwisata.
Tidak boleh disebut muluk, sebab jika betul tekuni tentu tercapai, Aceh bukan sekadar memulihkan kondisi suram yang sempat menerpa, tetapi juga mau mencerahkan wajah Indonesia.
Bersama warganya, Pemda Aceh bertekad ingin menjadikan daerahnya sebagai salah satu destinasi wisata berkelas dan kontributif dalam memajukan sektor wisata di tanah air.
Tekad tadi terungkap ketika Pemda Aceh menyelenggarakan acara Forum Silaturahmi Aceh Meusapat II pada Sabtu, 21 Desember 2019 berlokasi di Aula Kantor Badan Penghubung Pemerintah Aceh (BPPA) dengan agenda utama membahas pengembangan wisata Aceh.
Plt Gubernur Aceh, Ir. Nova Iriansyah, MT | Gambar: waspadaaceh

Forum tersebut tidak hanya dihadiri jajaran pejabat Pemda dan masyarakat Aceh, tetapi juga masyarakat umum, serta beberapa narasumber kompeten yang diundang untuk memberikan tips terbaik.
Para narasumber yang sengaja diundang itu adalah Yuana Rohma Astuti (Direktur Pengembangan Pasar Dalam Negeri Kementerian Parekraf), Dicky Adriansyah (Key Account Manager Traveloka), Doto Yogantoro (Ketua Pengelola Desa Wisata Pentingsari Kendal), dan Yanuarto Bramuda (Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi). Mereka memaparkan berbagai langkah-langkah positif dan efektif yang amat berguna bagi Pemda Aceh dalam upaya mengembangkan sektor wisata.
Bukan tanpa dasar Pemda Aceh mengundang narasumber dan masyarakat umum untuk mengetahui banyak tentang wisata Aceh lewat forum sehari tersebut. Beberapa tahun belakangan, sektor wisata memang sudah dikembangkan dan sekarang ingin ditingkatkan lebih baik lagi. Hal itu disampaikan oleh pejabat Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Aceh, Ir. Nova Iriansyah, MT.
"Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh mengidentifikasi, setidaknya ada 797 objek wisata serta 774 situs dan cagar budaya yang tersebar di 23 kabupaten/kota seluruh Aceh. Semua lokasi wisata itu dapat dikunjungi melalui jalur darat, laut dan udara. Tersedia juga penerbangan internasional ke Aceh, seperti dari Penang, Kuala Lumpur, dan juga Jeddah. Sekarang sedang dibahas rencana pembukaan jalur penerbangan baru dari Aceh ke India (Port Blair), serta rute Sabang-Phuket-Langkawi," tutur Iriansyah.
Dari beragam upaya yang dilakukan selama ini, Aceh telah berhasil menarik wisatawan dengan jumlah fantastis. Tercatat misalnya pada 2018, kunjungan wisatawan mencapai 2,5 juta orang (naik 20 persen dari tahun sebelumnya), dan pada tahun ini (2019) diperkirakan naik menjadi 3 juta orang.
Iriansyah mengaku naiknya jumlah wisatawan disebabkan karena di samping objek wisata yang menarik, fasilitas dan sarana-prasarana sudah sangat mendukung, meskipun tetap akan terus ditingkatkan. Kemudian, situasi keamanan di Aceh juga dipastikan terjamin dan kondusif, sehingga para wisatawan nyaman berkunjung.
Intinya, sektor pariwisata di Aceh ke depan bakal dibuat selevel Bali, Lombok atau Banyuwangi. Seperti diketahui, potensi wisata di tiga wilayah ini telah sukses dikembangkan dan akhirnya membawa dampak positif terhadap kesejahteraan warga. Lewat brand "The Light of Aceh", Pemda Aceh berkomitmen mempopulerkan wisata lokal sembari pula menggiatkan usaha kreatif masyarakat.
Mampukah Aceh mewujudkan asanya? Mestinya mampu. Oleh karena itu, supaya bisa terwujud, semua pihak yang punya "sense of belonging" terhadap Aceh harus mau berkolaborasi dan bergandengan tangan, baik itu pemerintah pusat, Pemda dan warga Aceh, investor, pengusaha dan juga seluruh masyarakat Indonesia.
Aceh bangkit, Indonesia jaya!
***

24 Desember 2019

Makna Perayaan Natal


Sejatinya, perayaan Natal bukan hanya milik umat Kristiani yang mengaku beriman dan percaya kepada Yesus Kristus sebagai Juruselamat, melainkan pula kepunyaan seluruh bangsa di muka bumi.
Menurut ajaran iman Kristiani (Alkitab), kehadiran Yesus yang disebut juga Imanuel, Mesias atau Isa Almasih ke dunia bertujuan untuk membawa kabar baik bagi siapa pun yang mau menerimanya.
"Lalu kata malaikat itu kepada mereka: Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud" (Lukas 2:10-11).
Bahwa kemudian kutipan Alkitab di atas menjadi bagian dari ajaran iman Kristiani, bukan berarti "kesukaan besar" tersebut eksklusif ditujukan kepada mereka yang semata bersedia dibaptis dan memilih gereja sebagai tempat ibadah.
Eksklusivitas umat Kristiani terletak pada penerimaan dan pengakuan terhadap Yesus sebagai "Allah yang menjelma menjadi manusia". Dan karena telah mengambil wujud manusia, maka umat Kristiani menyebut-Nya Putera Allah.
Oleh karena itu, diksi "Putera Allah" tidak perlu dibayangkan bahwa Allah beristri layaknya manusia. Atau diksi lain yakni "Allah Tritunggal" (Bapa, Putera, dan Roh Kudus) pun tidak boleh diartikan Tuhan umat Kristiani ada tiga.
Tuhan umat Kristiani tetap satu (esa), namun diimani memiliki tiga pribadi yang sederajat dan sehakikat (sekodrat, sesubstansi, seesensi). Allah diidentikkan Bapa yang penuh kasih, disebut Putera karena menjelma jadi manusia, dan dipercaya tetap berkarya (mencintai ciptaan) lewat Roh-Nya.
Sekali lagi, kehadiran Yesus yang merupakan "kesukaan besar" dan dimaknai sebagai tawaran keselamatan tertuju kepada siapa pun yang bersedia menerima. Kesediaan menerima Yesus tidak sebatas mau dibaptis, pergi ke gereja, dan membawa label agama ke mana-mana. Lebih daripada itu.
Menerima Yesus harus utuh. Penerimaan terhadap Yesus wajib sampai pada kesediaan mengikuti jalan hidup-Nya yang sederhana, murah hati, pemaaf, penuh kasih sayang, dan rela berkorban secara konsisten, dengan demikian memperoleh keselamatan.
Sehingga ketika ditanya siapakah yang sungguh menerima Yesus dan mendapat keselamatan, pengakuan (dangkal) tidaklah cukup dijadikan dasar atau alasan untuk menuntut jaminan.
Sebab ada yang mengaku menerima Yesus tetapi memilih jalan hidup yang bertolak belakang dari apa yang diteladankan-Nya. Ada juga yang "tidak mengakui" (artinya bukan umat Kristiani), tetapi fakta hidupnya malah sejalan dengan-Nya.
Maka yang diharapkan di sini, wujud penerimaan dan pengakuan akan Yesus memang mestinya: "Ya, saya pengikut Kristus!" serta "Ya, saya siap mencontoh jalan hidup-Nya kapan pun dan di mana pun!".
Kembali ke pokok bahasan, siapakah yang "berhak" merayakan Natal? Mengapa harus merayakan Natal? Apa sebenarnya makna perayaan Natal? Menjawab tiga pertanyaan ini kiranya cukup bagi saya dan Anda untuk memahami apa itu Natal.
Pihak yang berhak merayakan Natal adalah umat Kristiani dan siapa saja yang berkenan, baik mereka yang menganut agama lain maupun yang tidak beragama sama sekali. Mengapa?
Pertama, bagi umat Kristiani, Natal merupakan momen untuk meluapkan ungkapan syukur atas pernah lahirnya Juruselamat, yang diimani dan dipercaya. Lewat perayaan, umat Kristiani diharapkan mampu mengingat kembali betapa besarnya kasih Allah kepada ciptaan-Nya sehingga Ia rela turun ke dunia "menyapa" mereka.
Menyapa berarti Allah mau memberi contoh nyata bagaimana seharusnya menjadi ciptaan yang baik, terutama umat manusia yang secitra dengan-Nya. Allah ingin menegaskan kembali seperti apa manusia berlaku sebagai ciptaan yang punya akal, budi, pikiran, hati nurani, dan iman yang benar.
Allah yang menjelma melalui Yesus memberi bukti bagaimana manusia hidup sesuai yang digariskan-Nya. Kehidupan manusia berada di bawah kendali-Nya yang wajib diterima, dijalani dan disyukuri. Baik itu dalam kondisi buruk atau pun baik, suka maupun duka.
Yesus yang "tergariskan" dan ikhlas menerima hidup susah sejak kecil hingga dewasa (lahir di palungan, dibesarkan keluarga miskin, dikucilkan banyak orang, dituduh melakukan kejahatan, serta dijatuhkan hukuman yang amat hina) mau mengingatkan manusia bahwa sesulit apa pun hidup, iman kepada Allah tidak boleh luntur dan terus diperjuangkan.
Sehingga saat merayakan Natal, umat Kristiani cukup meluapkan ungkapan syukurnya dengan berdoa, mengikuti upacara liturgi, berkumpul bersama keluarga dan sanak saudara, berbagi kebahagiaan dalam bentuk rejeki terhadap mereka yang kesusahan tanpa memandang segala macam label yang melekat (suku, agama, ras, antargolongan, dan sebagainya), meninggalkan cara hidup lama (dosa), dan seterusnya.
Intinya perayaan Natal diharapkan sederhana, tidak berlebihan, namun bermanfaat. Sebab ringkasnya, bagaimana mungkin hari kelahiran Juruselamat yang diketahui sungguh memprihatinkan mau dirayakan dengan pesta besar dan pamer harta?
Berikutnya, mungkinkah bisa nyaman merayakan Natal secara sederhana dan berbagi rejeki, sementara saat mendengar ada larangan mengucapkan "Selamat Natal" saja emosi langsung tak terkendali dan ingin sekali berkonflik? Apa kata Yesus yang murah hati, pemaaf dan penuh kasih sayang jika menyaksikan sikap seperti itu?
Artinya, jangan sampai hal-hal yang tidak perlu dipersoalkan mengganggu kesiapan diri merayakan Natal. Masa Adven selama empat pekan sedianya bukan cuma dimanfaatkan untuk mengurus apa yang mau dimakan dan sudut ruangan bagian mana yang mau dihias, tetapi kesempatan mempersiapkan pikiran dan batin menyongsong Natal.
Kedua, bagi siapa saja yang berkenan (penganut agama lain atau tidak beragama sama sekali), sesungguhnya bukan sebuah kewajiban bagi Anda untuk merayakan Natal, apalagi sampai terpaksa memakai atributnya. 
Keengganan Anda ikut berurusan dengan perayaan Natal karena dinilai tidak sesuai ajaran agama yang dianut, bisa dipahami. Atau Anda yang memilih hidup tanpa beragama sebab mungkin dianggap candu, dapat dimaklumi.
Namun satu hal yang patut Anda ingat bahwa ribuan tahun lalu, di muka bumi pernah lahir Seseorang (dengan sebutan nabi atau tokoh besar) yang akhirnya mempengaruhi peradaban umat manusia, meski tanggal dan bulan kelahiran-Nya tidak diketahui secara pasti. Maklum, waktu itu belum ada kalender atau penanggalan tetap.
Sekitar 2,4 miliar penduduk dunia saat ini terilhami oleh ajaran dan cara hidup-Nya. Tidak salah bila turut mengenang (menghargai) momen kelahiran-Nya tanpa harus ikut merayakan persis apa yang dilakukan umat Kristiani.
Selamat merayakan Natal 2019! Semoga damai dan sukacita menyertai kita semua. Amin.
***
Sumber Ilustrasi: gbclander.org

23 Desember 2019

Mengintip DAAI TV, Wajah Lain Dunia Televisi

Tularin | Jakarta - Pantai Indah Kapuk tidak hanya menjadi tempat banyak pengusaha besar untuk bertempat tinggal. Di sana juga terdapat sebuah bangunan besar berisikan banyak cerita besar, dari Yayasan Tzu Chi yang terkenal dengan misi kemanusiaan mereka, hingga DAAI TV yang selama ini menularkan ide-ide dan inspirasi besar.

DAAI TV pantas disebut sebagai TV yang mengundang rasa penasaran yang juga besar. Inilah kenapa saya bersama salah satu rekan yang selama ini mengelola Tularin, Tuhombowo Wau, mendatangi markas televisi yang kerap mengangkat cerita-cerita kemanusiaan tersebut.

Di sana, Tularin mendapatkan sambutan hangat dari Mika Wulan sebagai salah satu pengelola DAAI TV. Ia banyak bercerita tentang sepak terjang TV tersebut, selain juga bagaimana mereka mendedikasikan diri untuk mengangkat isu-isu seputar kemanusiaan.

"Kami di sini memang memiliki keharusan untuk tidak terlalu mengejar profit atau kepentingan komersial. Kita ingin terus bisa menciptakan konten berupa tayangan yang bisa memberikan inspirasi untuk banyak orang, dari lintas-agama, budaya, etnis," kata Mika, bercerita.

Menurutnya, memang tidak mudah untuk mengelola TV yang mengedepankan prinsip-prinsip yang mementingkan manfaat untuk pemirsa.

Patut digarisbawahi, saat sebagian TV mendapatkan keuntungan dari beragam tayangan, entah gosip sampai dengan bermain di isu-isu panas, DAAI TV justru lebih memilih menayangkan konten yang terkonsentrasi pada upaya mengubah sudut pandang dan pola pikir yang lebih mendamaikan, menenangkan, dan menyejukkan.

Di saat TV lain menayangkan figur-figur yang sedang naik daun dan mampu memantik perhatian publik, tanpa peduli figur ini membawa manfaat apa kepada publik, DAAI TV masih mampu menjaga warna berbeda.
"Di kami, saat ingin memunculkan satu sosok pun, maka kami mesti menelaah betul, siapakah orang tersebut, punya afiliasi ke mana, dan berbagai hal yang lebih detail. Sebab, kita ingin lewat figur ini bisa membawa pesan baik kepada banyak orang," kata Mika, lebih jauh. "Sebab, kita khawatir juga, jika mengangkat satu figur--hanya berdasarkan keterkenalan--justru tidak sesuai dengan nilai yang selama ini kami usung."

Di sisi lain, Mika juga menegaskan bahwa DAAI TV, terlepas mesti mengikuti serentetan aturan yang mesti selaras dengan prinsip-prinsip dalam organisasi Tzu Chi, namun tetap terus berupaya untuk berinovasi.

Beberapa kali, kata dia, pihaknya berusaha terus menciptakan program-program yang lebih menarik perhatian orang, meskipun tetap mengacu pada prinsip yang dianut Tzu Chi sebagai induk dari DAAI TV sendiri.

"Kami juga terus berusaha mengembangkan diri, menghadirkan tayangan-tayangan menarik, agar penonton pun tidak jenuh," kata Mika lagi. "Jadi, ada beberapa program yang sudah kami gulirkan, lalu kami ganti, dan itu sering kami lakukan setelah mencermati juga manfaat dari program-program itu sendiri."

Ia menggarisbawahi bahwa DAAI TV tidak sekaku dibayangkan sebagian orang. Sebab, pihaknya masih terus mencari bentuk lebih baik, sambil terus merangkul berbagai pihak untuk saling belajar dan bekerja sama.

Di sisi lain, DAAI TV juga masih terus berusaha mencermati berbagai realitas di lapangan, termasuk kehidupan-kehidupan masyarakat pinggiran untuk dapat diangkat.

Hal itulah, menurut Mika, terkadang membawa dampak juga kepada sosok-sosok atau komunitas masyarakat yang mereka angkat lewat tayangan di televisi tersebut.

"Sekali waktu, ada program kami yang ternyata ditonton oleh salah satu petinggi Indofood. Di luar dugaan, tayangan kami ini disukai oleh beliau, hingga mengajak bekerja sama, hingga kami pun bisa membantu masyarakat yang kami angkat di TV kami," Mika bercerita.

Ia meyakini bahwa terlepas TV yang menyasar daerah Jabodetabek dan Medan ini belum setenar berbagai TV yang lebih menasional, namun masih ada hal-hal unik sekaligus bermanfaat yang bisa dibagi oleh pihaknya kepada para pemirsa.

Sebab, ia juga mengaku sepakat bahwa publik tidak selalu menginginkan tayangan sekadar seputar hal-hal yang lagi tenar saja. Tak sedikit juga yang masih menginginkan tayangan yang mengedukasi dan mengilhami untuk turut menebar manfaat lebih luas.

Inilah nilai-nilai yang juga diusung oleh Master Cheng Yen yang mengotaki organisasi Tzu Chi. Bahwa kebaikan memang membutuhkan banyak tangan, agar kebaikan dapat tersebar ke lebih banyak kalangan. Nilai ini juga yang ingin terus dikembangkan melalui DAAI TV.

Mika juga mengajak tim Tularin berkeliling sebuah ruangan yang lebih mirip museum, yang menunjukkan berbagai replika hingga foto-foto seputar apa yang sudah dilakukan Tzu Chi. Di samping, juga menonjolkan kreasi-kreasi masyarakat pinggiran yang selama ini didampingi oleh organisasi Tzu Chi.

Tentu saja, di sekeliling gedung Tzu Chi itu sendiri kental dengan bambu, tak terkecuali di hall yang juga menjadi museum lembaga tersebut.

Bagi warga Tzu Chi, atau relawan yang bergabung dengan organisasi ini sendiri, bambu tidak semata menjadi simbol. Namun juga bambu merupakan simbol dari tanaman yang bisa membawa banyak manfaat, bisa dikreasikan untuk banyak hal.

Di samping, bambu juga menjadi tempat atau wadah bagi para ibu-ibu yang turut andil menggerakkan Tzu Chi di masa lalu. Pasalnya, dulu, menurut Mika, melalui bambu-bambu itulah para ibu mengumpulkan beras dan sejenisnya, untuk ditabung, dan didermakan untuk membantu orang-orang yang lebih membutuhkan.

Inspirasi dari bambu itu juga mengalir pada prinsip yang diterapkan dalam tayangan DAAI TV sendiri. Agar tayangan-tayangan di televisi tersebut juga dapat membawa nilai positif bagi masyarakat, agar saling peduli kepada sesama, dan peka terhadap kondisi di sekeliling.

Sebagai catatan, DAAI TV sendiri mengusung tagline yang tidak jauh dari organisasi yang memayungi mereka, Tzu Chi, yakni "Televisi Cinta Kasih". Maka itu, tayangan yang mereka miliki tidak jauh dari nilai cinta kasih sebagaimana juga diangkat oleh organisasi Tzu Chi sendiri dalam membantu banyak masyarakat di berbagai belahan dunia.

"Kami senang dan menikmati bekerja begini, yang bisa membawa inspirasi dan nilai kebaikan kepada masyarakat. Meskipun kami juga mengamati perkembangan TV lain, namun kami juga terus berupaya menjaga warna kami, sambil terus berusaha memperkaya program kami juga," kata Mika yang juga menegaskan bahwa pihaknya juga acap bekerja sama dengan stasiun TV lain.

Ya, semoga saja, DAAI tetap memiliki warna tersendiri, dan bisa mewarnai Indonesia dengan nilai kebaikan yang juga diusung Tzu Chi. Terlebih lagi, dari sisi visi yang mereka miliki, tampaknya cukup tercermin lewat tayangan merekak selama ini; "Menjernihkan hati manusia, mencerahkan dunia."

21 Desember 2019

Akankah Trump Terbebas dari "Musibah" Pemakzulan?


Presiden ke-45 Amerika Serikat (AS), Donald John Trump secara resmi didakwa pemakzulan (impeachment) oleh Kongres DPR usai melakukan pemungutan suara pada Rabu (18/12) pukul 20.09 waktu Washington atau pukul 08.09 WIB. Artinya, dalam 243 tahun sejarah AS, pria berusia 73 tahun itu menjadi presiden ke-3 yang berhasil dimakzulkan di level DPR. Perlu diketahui, mayoritas kursi di DPR yang diketuai Nancy Pelosi dikuasai oleh Partai Demokrat, yang notabene lawan politik Trump (Partai Republik).
Dari 435 anggota DPR, sebanyak 427 orang memberikan suara atas dua pasal dakwaan yang menjerat Trump, antara lain penyalahgunaan kekuasaan dan menghalangi penyelidikan kongres. Untuk pasal pertama, sebanyak 230 suara mendukung dan 197 suara menolak. Sementara untuk pasal kedua, sebanyak 229 suara mendukung dan 198 suara menolak.
Proses berikutnya berada di tangan Kongres Senat yang terdiri dari 100 anggota, apakah menyetujui pemakzulan atau tidak. Senat akan bersidang pada Januari 2020. Nasib Trump bakal ditentukan, dilengserkan atau tidak. Namun patut diketahui, kalau kursi DPR terbanyak dimiliki Demokrat, kursi Senat malah dikuasai Republik. Lengser tidaknya Trump bergantung dari terpenuhinya dua per tiga suara senat yang setuju pemakzulan.
Masalah pemicu yang membuat Trump menghadapi dua pasal dakwaan pemakzulan oleh DPR berawal dari adanya laporan bahwa dirinya menelepon Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky pada 25 Juli 2019. Trump meminta Zelensky untuk menekan Joe Biden (mantan wakil Barack Obama) yang merupakan calon rivalnya di Pilres 2020, yang rencananya akan diselenggarakan pada Selasa, 3 November 2020.
Zelensky diminta Trump menginvestigasi Joe Biden dan puteranya Hunter Biden. Pada 2014 hingga 2019, Hunter Biden masuk sebagai anggota direksi perusahaan Ukraina bernama Burisma, yang dituding menjalankan praktik korupsi. Di sini Trump mungkin ingin mencari celah supaya Joe Biden sulit maju di Pilpres 2020.
Tidak hanya itu, demi terpenuhi permintaannya, Trump bahkan sampai menahan bantuan militer ke Ukraina senilai 391 juta dolar AS atau sekitar Rp 5,4 triliun, dengan maksud supaya Zelensky memperjuangkan penyelidikan. Dan ternyata setelah diselidiki pihak Ukraina, Joe Biden dan Hunter Biden dinyatakan tidak terlibat praktik korupsi, seperti yang dituduhkan Trump. Bukti-bukti untuk itu tidak ditemukan.
Demikian alasan mengapa Trump didakwa pasal penyalahgunaan kekuasaan (untuk kepentingan politik di Pilpres 2020). Lalu alasan atas pasal menghalangi penyelidikan, yakni saat kongres DPR memanggil Trump untuk memberikan klarifikasi dan konfirmasi, dirinya tidak pernah hadir. Bahkan Trump mengecam DPR dan menganggap mereka menghina (simbol) negara.
Kalau mau dipertegas lagi, kesalahan fatal Trump setidaknya ada tiga, yaitu memanfaatkan kekuasaannya sebagai presiden demi memuluskan kepentingan politiknya di Pilpres 2020 (supaya terpilih kembali), memaksa negara lain (Ukraina) terlibat di urusan pribadinya, dan mempermalukan warga negaranya sendiri. Warga AS malu sebab untuk ketiga kalinya presiden mereka dimakzulkan.
Mengapa Joe Biden yang disasar Trump, bukankah kandidat rivalnya di Pilpres 2020 sampai sekarang cukup banyak yakni mencapai 17 orang, di antaranya ada Tulsi Gabbard, Michael Bloomberg, Elizabeth Warren, Bernie Sanders? Apakah artinya Joe Biden lawan terberat? Tampaknya begitu. Dibandingkan kandidat lainnya, Joe Biden lebih "membahayakan", karena selain disokong Demokrat, juga mantan wakil presiden. Barack Obama pun bisa dipastikan akan berada di belakang Joe Biden.
Akankah Kongres Senat ikut memakzulkan dan melengserkan Trump dari kursi kepresidenan? Menurut penulis, Kongres Senat tidak akan melakukan itu. Pemakzulan Trump bakal berhenti di meja Kongres DPR. Meski tidak jadi dimakzulkan, "ulah" Trump di tahun ini tentu berefek negatif pada mimpinya untuk maju meraih jabatan di periode kedua.
Bila tidak memperbaiki sikap, Trump kemungkinan besar gagal di Pilpres 2020. Sebagian warga AS sudah muak dengan tindakan dan tutur katanya sepanjang empat tahun terakhir. AS sering berkonflik (terutama masalah dagang) dengan negara-negara lain. Penguasaan kursi oleh Demokrat di Kongres DPR juga akan menghambat kemulusan langkah Trump memperebutkan kursi presiden untuk empat tahun ke depan.
Berikut hasil analisa penulis sehingga berani menebak Kongres Senat tidak akan mendukung pemakzulan terhadap Trump:
Pertama, mayoritas kursi Senat dikuasai Republik, yaitu sebanyak 53 kursi, sementara 47 lainnya milik Demokrat. Kalau perwakilan Republik sudah kompak mendukung Trump, maka artinya syarat dua per tiga suara untuk mengesahkan pemakzulan menjadi tidak terpenuhi. Kecuali ada dari Republik yang mau "membelot" dan mendukung suara Demokrat.
Kedua, Trump bukanlah presiden pertama yang dimakzulkan DPR. Dakwaan serupa pernah dialami oleh Andrew Johnson (presiden AS ke-17) pada 1868 atas kasus pemecatan panglima perang, dan Bill Clinton (presiden AS ke-42) pada 1998 gara-gara skandal perselingkuhan dengan seorang pekerja imigran berusia 21 tahun bernama Monica Lewinsky. Sebagai pengingat, hari ini, Kamis (19/12), tepat 21 tahun Bill Clinton dimakzulkan (19 Desember 1998).
Sebenarnya masih ada satu lagi yang hampir dimakzulkan, yaitu Richard Nixon (presiden AS ke-37) pada 1974 gara-gara kasus Watergate. Namun sebelum didakwa, dirinya memutuskan mengundurkan diri dari jabatan pada 9 Agustus 1974. 
Dan wajib diketahui, Andrew dan Bill Clinton tidak mengakhiri jabatan sebagai presiden karena pemakzulan. Kongres Senat gagal memakzulkan mereka berdua sebab syarat dua per tiga suara tidak terpenuhi. Mungkinkah Trump bernasib sama dengan kedua pendahulunya itu? Semoga saja.
Ketiga, masa jabatan Trump sebagai presiden kurang dari satu tahun, atau tepatnya tinggal 10 bulan. Opsi melengserkannya di tengah jalan mustahil dilakukan karena akan menyebabkan terjadinya goncangan di AS, di samping mempertimbangkan betapa pusingnya mengurus transisi kepemimpinan. AS akan memilih mempersiapkan diri sebaik-baiknya dalam menyongsong Pilpres 2020.
Keempat, melanjutkan pemakzulan terhadap Trump tidak hanya "memukul" AS, tetapi juga negara-negara lain di dunia. Sebagai negara berpengaruh di dunia, apa pun yang terjadi di AS pasti akan berimbas kepada negara-negara lainnya, baik dalam kondisi positif maupun negatif. Munculnya gejolak politik dan ekonomi di AS bukan kabar indah bagi negara-negara lain yang punya hubungan bilateral.
Kiranya keempat hal di atas yang jadi bahan pertimbangan Kongres Senat dan sebagian warga AS untuk tidak setuju melanjutkan pemakzulan terhadap Trump.
***
Gambar: Donald John Trump | Foxnews

19 Desember 2019

Tunggangi Motor Berbobot 126 Kg, Jokowi Telusuri Perbatasan Kalimantan


Tularin.com | Nunukan - Meskipun berstatus sebagai seorang kakek dengan tiga cucu, dan kini berusia 58 tahun, sosok Joko Widodo (Jokowi) masih cukup tangguh mengendarai motor Kawasaki W175 modifikasi gaya tracker. Ini dibuktikan dalam kunjungan Presiden Jokowi ke Kalimantan Utara, Kamis (19/12/2019).

Kemampuan Jokowi dalam mengendarai kendaraan roda dua yang memiliki bobot 126 kg tersebut teruji ketika ia menelusuri jalanan trans-Kalimantan, dari Bandara Yuvai Semaring.

Dilaporkan, Presiden Jokowi mengendarai sendiri roda dua miliknya sejauh 11 km. Baginya, ada kesan berbeda ketika berada di satu tempat yang ditempuh dengan sepeda motor dibandingkan mengandalkan mobil. Itulah kenapa, alih-alih menikmati mobil ber-AC, Jokowi lebih memilih untuk menunggangi roda dua.

Menurutnya, ada sensasi sendiri ketika berkeliling ke daerah dengan menggunakan sepeda motor. "Ya, bisa merasakan betul (sensasi sebuah tempat) kalau pakai kendaraan (roda dua)," kata RI-1 tersebut. "Kalau pakai mobil, rasanya akan berbeda--dibandingkan menggunakan sepeda motor."

Tampaknya Jokowi ingin melihat lebih jelas sejauh mana perkembangan salah satu kawasan yang juga merupakan daerah perbatasan dengan Malaysia itu.

Selain ia bisa menjajal sendiri jalan dan kondisi riil daerah tersebut, Jokowi mengaku mendapatkan gambaran lebih jelas tentang kondisi daerah perbatasan.

Maka itu, Presiden Jokowi pun terlihat semringah dan bangga melihat perkembangan kawasan perbatasan ini. "Tinggal penyelesaian-penyelesaian. Ini sudah pengerasan. Tadi ada yang masih tanah akan segera pengerasan. Aspal masuk, sudah mulus semuanya," Jokowi menggambarkan kesannya setelah menjajal jalanan daerah tersebut.

Sebagai catatan, sejauh ini jalan perbatasan yang sudah terbangun mencapai 966 kilometer. Namun ia berharap agar penyelesaian jalan di daerah ini dapat dipercepat.

"Ini adalah garis batas antara Inodnesia dan Malaysia," komentar Jokowi, menjelaskan alasan kenapa perlu memberikan perhatian ekstra untuk infrastruktur di kawasan ini. "Nunukan, dan di sebelah sana, Sarawak. Kita harapkan nanti jalan-jalan yang sedang kita kerjakan ini akan segera kita selesaikan."

Ia juga menegaskan bahwa perhatian atas daerah perbatasan baginya adalah sesuatu yang penting, terutama untuk memastikan konektivitas atau keterhubungan antardaerah. Sebab, ia menilai, dengan konektivitas inilah maka peluang untuk peningkatan ekonomi masyarakat di daerah akan semakin terbuka lebar dan semakin membaik.

"Infrastruktur menghubungkan antara kabupaten dengan kabupaten sehingga ekonomi akan bisa berjalan karena ada mobilitas orang, mobilitas barang, mobilitas komoditas," kata Presiden Jokowi lebih jauh.

Di sisi lain, mantan wali kota Solo dan gubernur DKI Jakarta tersebut juga menggarisbawahi bahwa pemerintahannya di bawah kepemimpinannya tidak semata-mata mengejar infrastruktur semata. Sebab, dalam lima tahun ke depan, persoalan pembangunan sumber daya manusia menjadi fokus pemerintah.*** (R1)

Editor: Zulfikar Akbar

Inilah Rapor Pemain Barca di El Clasico Teranyar


Tularin.com | Barcelona - Laga El Clasico edisi 179 di La Liga antara FC Barcelona dan Real Madrid berakhir nihil gol, Rabu (18/12/2019) waktu setempat, atau Kamis dini hari WIB. Tak pelak, Ernesto Valverde sebagai pelatih tim tuan rumah hingga beberapa pemain mendapatkan sorotan media-media internasional.

Dalam laga tersebut, hanya sebagian kecil pemain Los Azulgrana yang mendapatkan penilaian positif dari kalangan pers di dunia sepak bola. Selain Lionel Messi, terdapat Marc-Andre Ter Stegen, Gerard Pique, dan De Jong yang mendapatkan nilai 8 (delapan).

Sedangkan pemain lain, dari Antoine Griezmann, Luis Suarez, sampai dengan Lenglet hanya mendapatkan nilai enam sampai dengan lima.

Ter Stegen yang menjadi kiper di laga ini mendapatkan nilai delapan karena ia melakukan beberapa intervensi penting di laga tersebut. Banyak serangan dilakukan Barcelona pun diawali dari gebrakannya di depan gawang tuan rumah.

Pique sendiri di lini pertahanan, sempat mencatat penampilan menentukan saat ia menghalangi tandukan Casemiro. Permainan bek tersebut di laga ini dinilai istimewa, sehingga ia pun mendapatkan nilai 8 dari pengamat sepak bola Spanyol.

Samuel Semedo meendapatkan nilai lima, lantaran beberapa kali ia terlihat kerepotan dalam menanggulangi tusukan pemain lawan. Selain itu, ia sendiri kurang terlibat dalam melakukan serangan.

Lenglet yang juga bermain di lini pertahanan sempat diganjar kartu karena menjegal Isco Alarcon, selain juga Raphael Varane yang berisiko mendatangkan penalti untuk lawan. Ia bahkan tak banyak melakukan sapuan atas serangan lawan ke arah gawang timnya. Alhasil, bek asal Prancis ini hanya mendapatkan nilai 5.

Jordi Alba juga mendapatkan nilai tidak menggembirakan karena permainannya terbilang kurang menonjol. Bahkan saat ia mendapatkan passing dari Messi pun, ia tak mampu menerima dengan baik hingga disampai Thibaut Courtois. Maka itu ia hanya mendapatkan nilai 6 dari laga ini.

Ivan Rakitic di lini tengah juga tidak cukup menonjol. Ia baru sedikit terlihat punya peran di babak kedua saja. Maka itu, ia hanya mendapatkan nilai .

Sergi Roberto terlihat kurang bermain nyaman di lapangan tengah. Bahkan beberapa kali ia tersandung masalah out of position. Maka itu, Roberto hanya mendapatkan nilai 5 atas kiprahnya yang kurang bagus di laga ini.

De Jong mendapatkan nilai 8 karena di lapangan tengah hanya dialah yang mampu membawa pengaruh penting dalam permainan timnya. Tak hanya itu, dalam permainan satu dua dengan Luis Suarez, ia sempat melayangkan tembakan ke gawang Courtois.

Messi sendiri paling banyak menunjukkan kerja keras dibandingkan rekan-rekan setimnya. Ia sering terlihat banyak berperan di lapangan tengah, di samping juga aktif dalam melakukan serangan. Messi juga sempat mendapatkan passing cantik dari Griezmann, namun tak leluasa dikonversikan menjadi gol.

Griezmann yang bersamanya di lini depan hanya mendapatkan nilai 6, karena ia justru lebih sering berperan dalam bertahan alih-alih seimbang dengan tugas utamanya sebagai penyerang. Tidak banyak serangan mampu ia lakukan. Jika ada aksi menonjolnya hanyalah saat memberikan passing kepada Messi.

Luis Suarez pun setali tiga uang. Ia disorot cuma karena keseringan tergelincir, dan kurang mendapatkan kesempatan dalam membangun dan melakukan serangan. Meskipun begitu, ia mendapatkan apresiasi karena usaha kerasnya cukup terlihat di laga ini.*** (R1)

Editor: Zulfikar Akbar
Foto: AS

El Clasico Nihil Gol, Barca dan Valverde Terancam


Tularin.com | Barcelona - Meskipun laga yang berakhir tanpa gol di Camp Nou, Rabu (18/12/2019) waktu setempat atau Kamis dini hari (19/12/2019) WIB, namun suara kekecewaan lebih menonjol di pihak penggemar FC Barcelona. Laga El Clasico yang mempertemukan Barca dengan Real Madrid mendapatkan banyak sorotan hingga kritikan tajam kepada tim tuan rumah.

Salah satu pemicunya tentu saja lantaran di tengah situasi yang terbilang genting, karena persaingan di klasemen yang semakin ketat, namun Los Azulgrana terlihat tidak mampu menampilkan strategi berbeda untuk memaksa Madrid pulang dengan kekalahan. Yang terjadi justru Madrid sempat mencuri satu poin tanpa perlu bersusah payah mencetak gol.

Tentu saja, dengan hasil ini, kedua tim yang terkenal sebagai dua musuh bebuyutan di Liga Spanyol kini kembali mencatat poin setara, 36 poin.

Keunggulan Barca saat ini hanya dalam selisih gol yang mencapai 23 gol, saat Madrid hanya mencatat selisih gol dalam 17 jornada sebanyak 21 gol.

Tak pelak, fakta-fakta tersebut semakin mengukuhkan bahwa posisi Barca di puncak klasemen semakin tidak nyaman. Belum lagi fakta bahwa dari sisi pelatih pun, Zinedine Zidane (47 tahun) jauh lebih unggul dibandingkan pelatih Barca, Ernesto Valverde (55 tahun).

Sederet trofi diraih Zidane, dari La Liga sampai dengan Liga Champions, cukup menjadi bukti superioritas dimiliki pelatih Los Blancos tersebut.

Patut dicatat, sejak meraih Piala Super Spanyol (2017) dan La Liga (2016/17), Zidane pun telah tiga kali membawa pulang trofi paling bergengsi di Eropa, Liga Champions, dari 2015/16 sampai dengan musim 2017/18. Belum lagi gelar Super Eropa dan Piala Dunia Klub, tak ayal kualitas Zidane jauh lebih meyakinkan dibandingkan Valverde.

Maklum, meskipun telah menukangi Barca sejak 2017, namun Valverde sejauh ini baru meraih dua gelar La Liga (2017/18 dan 2018/19), Piala Raja (2017/18), dan Piala Super Spanyol (2018). Torehan ini tentu saja tak dapat disandingkan dengan raihan Zidane.

Artinya, di atas kertas lagi-lagi Zidane jauh lebih meyakinkan dibandingkan Valverde. Tampaknya ini juga yang memantik kecemasan di kalangan penggemar Barca, hingga di media sosial sempat muncul tagar #ValverdeOut, karena gelagat bahwa klub Katalunya ini punya kemungkinan tersalip di laga-laga tersisa, dari posisi pemimpin klasemen.

Sedangkan jika di lihat dari laga teranyar di El Clasico, Barca pun tak leluasa menguasai bola. Madrid justru unggul dalam ball possession dengan mencatat 51 persen.

Bahwa di luar stadion dilaporkan kondisi kota Barcelona sendiri dibayang-bayangi kericuhan, Valverde sendiri tak mempersoalkannya. Bahkan ia memastikan hal itu bukanlah penyebab terjadinya gangguan atas pemainnya.

"Soal di luar stadion, biarkan saja orang menyatakan pendapat mereka. Konsentrasi kami hanya pada sepak bola," kata dia, menjelang laga tersebut. Sayangnya, penegasannya bahwa dirinya dan tim mampu berkonsentrasi penuh, tidak terbukti. Barca gagal memetik poin penuh di kandang sendiri.

Tentu saja, dalam sejarah El Clasico yang berlangsung di kandang Barca, terutama pada ajang La Liga, hasil imbang kali ini merupakan kali ke-20 terjadi. Kontras dengan di Santiago Bernabeu, pada ajang La Liga, Madrid hanya 15 kali membiarkan Barca pulang dengan hasil imbang.

Tak pelak, dengan satu poin dari markas Los Azulgrana, tentu saja menjadi raihan penting bagi pasukan Zidane. Sebab, dengan 17 laga di liga yang baru berjalan, peluang Madrid untuk menyalip Barca masih sangat terbuka. Jadi, apakah #ValverdeOut seperti suara warganet, atau menunggu Barca terjungkal dari posisi pemimpin klasemen? Kita lihat saja.*** (R1)

Editor: Zulfikar Akbar

18 Desember 2019

Indonesia Muda, Organisasi Legendaris dan Bakti yang Belum Habis


Tularin | Jakarta - Bumi Perkemahan Cibubur akan kembali dipadati belasan ribu remaja dari berbagai daerah, Jumat (18/12/2019). Pengurus Besar Indonesia Muda (PB IM) mengadakan Jambore Nasional dan Rapat Kerja Nasional yang akan berlangsung hingga 22 Desember 2019.

"Sejak kami ditunjuk untuk memimpin organisasi PB IM pada 2016, salah satu rencana yang ingin kami lakukan adalah kegiatan ini, jambore nasional dan rapat kerja nasional," kata August Pramono, Ketua PB IM, Rabu (18/12). "Jadi, kami mengadakan ini kali ini sekaligus untuk konsolidasi organisasi, maka itu melibatkan para pengurus dari berbagai daerah, dari Aceh sampai dengan Papua."

Hal senada juga diamini Cyril Raul Hakim, sebagai sekretaris organisasi tersebut, yang menegaskan rekam jejak PB IM yang bersejarah. Terlebih organisasi yang bergerak di bidang olahraga dan kesenian tersebut sudah berkiprah sejak 1930.

"Perlu juga dilihat lagi bahwa PB IM merupakan organisasi yang paling banyak melahirkan atlet nasional, terutama di bidang olahraga basket dan sepak bola," kata sosok yang akrab disapa sebagai Chico ini. "Ini bisa ditelusuri sejak era galatama pada 1980-an, ada jejak Indonesia Muda di sana."

Ia menunjukkan data bahwa di era tersebut sebagian besar atlet IM adalah pemain di tim nasional.

"Dari 18 orang pemain kita, sebanyak 12 orang adalah pemain di timnas," kata Chico lebih jauh. "Jadi, itulah alasan kenapa saya berani katakan bahwa IM merupakan organisasi paling banyak melahirkan atlet nasional."

Jadi, menurutnya, kegiatan jambore yang diadakan kali ini tidak lepas dari misi tersebut, untuk dapat lebih memacu bakat muda yang ada. Dengan begitu, menurutnya, dunia olahraga di Tanah Air akan tetap memiliki talenta yang diperhatikan di tingkat nasional dan juga internasional. 

Menanggapi hal itu juga, August sebagai ketua organisasi ini menggarisbawahi bahwa dalam kegiatan ini pihaknya juga terbantu dengan animo dari pengurus di daerah-daerah. "Sebab mereka bisa berangkat dan ikut kegiatan ini dari biaya masing-masing. Sementara kita di sini hanya mengatur akomodasi dan konsumsi," ia menjelaskan. 

Menurut August, ini juga yang menjadi kelebihan dari IM sejak awal berdirinya di era 1930-an. Kekuatan swadaya di dalam organisasi sudah terbangun sangat kuat, sehingga dalam melakukan kegiatan apa saja tidak harus bergantung kepada bantuan dari pemerintah atau pihak manapun. 

Sebagai catatan, organisasi IM sendiri memang pernah memiliki seabrek tokoh nasional dan para pahlawan yang pernah mengelola organisasi tersebut. 

Sebut saja Abdulrahman Saleh (pahlawan nasional sekaligus tokoh radio nasional), Amir Hamzah (sastrawan), Ani Idrus (wartawati pendiri Harian Waspada), Armijn Pane (pendiri Poedjangga Baroe).

Tak hanya itu, tokoh-tokoh seperti Assaat yang pernah menjadi pemangku jabatan presiden Indonesia di Yogyakarta pun pernah jadi bagian dari organisasi tersebut. Selain juga terdapat Roeslan Abdulgani yang pernah menjadi menteri luar negeri periode 1956-1957. 

Tak pelak, tradisi di era kemerdekaan, termasuk dalam sapaan sesama anggota organisasi acap menggunakan kata "Bung" sebagai penanda keakraban. 

"Inilah kenapa, sampai sekarang kami berusaha keras agar dapat menjaga organisasi ini bisa berjalan dengan semangat seperti diperlihatkan pahlawan nasional yang pernah ikut mengurus IM," kata Chico. "Jadi, sampai sekarang pun, kami terus berusaha melahirkan bibit-bibit di dunia olahraga sampai kesenian, agar bisa memberikan kontribusi terhadap Indonesia."*** (R1)

Editor: Zulfikar Akbar
Foto: Para pengurus PB Indonesia Muda

17 Desember 2019

Saat Lobster Bikin Menteri Edhy Berwajah Monster


Nama Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) Edhy Prabowo belakangan terlihat bak monster. Pemicunya tak lain adalah gagasannya seputar ekspor benih lobster. Tak pelak, perlawanan atas gagasannya pun semakin santer.

Tidak tanggung-tanggung, penentangan atas gagasan Edhy bahkan datang langsung dari mantan menteri KKP sendiri, Susi Pudjiastuti.

Terlebih lagi lantaran Edhy belakangan memang terlihat condong untuk menerapkan kebijakan yang memicu kontroversi tersebut. Bahkan untuk membenarkan rencana itu, ia mengajak melihat persoalan lobster tidak bedanya dengan ekspor bijih nikel.

"Banyak komoditas lain yang dilakukan seperti itu, kayak nikel, kan dilakukan seperti itu," kata Edhy. "Awalnya (nikel) boleh diekspor, tapi pengusaha harus bikin refinery. Ini--soal lobster--juga seperti itu, tapi masih dalam taraf kajian."

Hal ini langsung mendapatkan reaksi keras dari Susi, yang menolak menyamakan antara lobster yang notabene adalah makhluk hidup dengan nikel sebagai benda mati.

"Nikel adalah sumber daya alam yang tidak renewable (bisa diperbarui), yang bisa habis," kata Susi. "Lobster adalah sumber daya alam yang renewable, yang bisa terus ada dan banyak kalau kita jaga!"

Suara penentangan Susi tersebut, tentu saja tidak hanya terhadap sudut pandang Edhy terhadap lobster. Namun sinyal bahwa rencana mengekspor benih lobster semakin kuat, menjadi hal paling disorot oleh Susi.

Penolakan keras dari Susi tersebut tampaknya berangkat dari kegelisahannya jika benih lobster tersebut diekspor besar-besaran. Setidaknya itu terlihat dari video yang beredar pada 10 Desember 2019 lalu, di mana Susi menyampaikan pandangannya seputar lobster.

Di video itu, Susi menegaskan sikapnya bahwa lobster tidak boleh punah. "Lobster yang bernilai ekonomi tinggi tidak boleh punah hanya karena ketamakan kita menjual bibitnya," katanya, tegas.

Alasan Susi pun terlihat cukup penuh perhitungan. Menurutnya jika benih lobster diekspor, maka harganya akan turun jauh. "Seperseratusnya pun tidak (sampai)," kata Susi di video itu.

Ia juga mencontohkan dengan lobster di tangannya yang memiliki ukuran 400-500 gram. Menurutnya, lobster dengan ukuran itu memiliki harga per kilogram mencapai Rp600-800 ribu. Jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan bibitnya yang cuma seharga Rp30 ribu per kilogram.

"Sudah berapa rugi kita (jika dijual bibitnya)?" Susi mempertanyakan rencana itu.

Ia juga menjelaskan tentang lobster jenis mutiara. Menurutnya, untuk lobster jenis ini, bisa memiliki harga sampai Rp4 juta dan bahkan Rp5 juta per kilogram. Maka itu ia mengajak melihat ulang, apakah pemerintah mau menjual bibit lobster ke Vietnam dengan harga yang hanya berada di kisaran Rp100-130 ribu per kilogram?

Jika rencana ekspor itu terjadi, menurutnya, akan ada banyak pihak yang dirugikan; dari pemerintah sampai dengan nelayan sendiri.

"Bukan pemerintah saja yang rugi, tapi masyarakat juga rugi," katanya lagi. "Kita akan rugi kalau itu (rencana ekspor benih lobster) dibiarkan."

Pendapat ekonom
Sampai saat ini Edhy Prabowo memang masih memperlihatkan kecenderungannya untuk mencabut larangan ekspor benih lobster. Dalih menteri dari Partai Gerindra itu adalah bahwa upaya pembebasan ekspor benih lobster secara terstruktur akan membantu peningkatan nilai tambah masyarakat yang hidupnya bergantung pada penjualan komoditas ini.

Di sisi lain, suara penolakan atas gagasannya itu pun bergaung di mana-mana. Tak terkecuali ekonom kenamaan, Faisal Basri, pun mengajak melihat ulang rencana tersebut dan bahkan menegaskan penentangan kerasnya atas gagasan itu.

Menurut Faisal, jika keran ekspor benih lobster benar-benar dibuka, maka laut Indonesia justru akan tereksploitasi dan kembali hancur. "Cobalah untuk hitung-hitungan. Tidak perlu hitung-hitungan rumit, cukup dengan hitungan anak SD saja--akan terbaca berapa kerugian jika benih lobster diekspor," dia menegaskan.

Di pihak lain, Edhy Prabowo bersikukuh dengan pandangan bahwa ada masyarakat yang bergantung hidup pada penangkapan benih lobster. Jika ini tidak ditanggulangi dengan membuka keran ekspor benih lobster, ia mengkhawatirkan justru akan tetap terjadi penyelundupan ekspor benih lobster ini sendiri.

Edhy juga menegaskan bahwa dia juga setuju bahwa jangan sampai merusak lingkungan. Namun di sisi lain, ia juga terkesan menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi lebih penting dari sekadar urusan lingkungan. "Memang tidak boleh lingkungan rusak karena ambisi. Tetapi, juga jangan karena alasan lingkungan saja, pertumbuhan ekonomi justru tertunda."

Disambut tagar #TenggelamkanEdhyPrabowo 
Sampai pukul 11.21, Selasa 17 Desember 2019, tagar #TenggelamkanEdhyPrabowo berada di daftar tiga besar trending topic di Twitter. Tak kurang dari 9,6 ribu cuitan muncul dengan menyertakan tagar #TenggelamkanEdhyPrabowo.

Tentu saja, kemunculan tagar ini cukup terlihat sebagai penentangan serius atas rencana menteri dari Partai Gerindra tersebut.

Lewat tagar #TenggelamkanEdhyPrabowo juga muncul fakta lain dari lapangan. Lantaran tidak sedikit warganet yang akrab dengan kehidupan nelayan justru membantah narasi-narasi dibangun Menteri KKP Edhy Prabowo.

"Bohong," ujar salah satu warganet menanggapi pandangan Edhy bahwa nelayan bergantung pada benih lobster. "Saya berinteraksi langsung dengan nelayan, tidak ada yang bergantung pada benih lobster untuk dijual." Komentar tersebut juga menjadi salah satu dari ribuan cuitan bertagar #TenggelamkanEdhyPrabowo.

Bantahan atas pernyataan Edhy Prabowo melalui tagar tersebut juga muncul terkait klaim bahwa pemerintah bisa membangun infrastruktur, dan menunggu itu terbangun maka KKP bisa memberikan kuota ekspor benih lobster.

"Untuk membesarkan sendiri kan harus dibangun infrastrukturnya," pernyataan Edhy Prabowo kepada pers beberapa waktu lalu. "Sambil menunggu ini (terbangun), kita kasih kuota (untuk ekspor). Sampai waktu tertentu dia boleh ekspor."

Heru Cahyono, salah satu eksportir, membeberkan bahwa kenyataannya tidak begitu. Sosok yang sudah berkiprah di ranah ekspor sea-food selama 15 tahun ini membeberkan pengalamannya terkait lobster tersebut.

Menurut Heru, lobster yang jadi sorotan belakangan adalah lobster benur kecil. "Makanya disebut lobster seed, biji masih transparan, dengan panjang cuma beberapa sentimeter," katanya.

Jadi, benur tersebut, menurutnya jelas jauh di bawah aturan yang mengharuskan panjang karapas minimal 8 sentimeter, atau dalam berat sekitar 200 gram.

"Benih itu adanya di laut, tidak bisa di-deder kayak udang, bandeng, ataupun lobster air tawar (crayfish)," katanya lagi. "Ini diambil dari laut atau pantai langsung secara alami."

Heru juga membantah pandangan yang menyebut bahwa cuma satu persen yang bisa tumbuh dewasa jika lobster dibiarkan tuumbuh di alam. Menurutnya, dari zaman Nabi Adam pun sudah begitu--tumbuh dan berkembang di alam--tetapi tidak punah. Sebab alam memiliki cara tersendiri untuk menjaga keseimbangan.

Maka itu, Heru menolak jika pertambakan justru mengambil lobster seed tersebut. "Karena survival rates untuk adapted ke lingkungan baru lebih besar dibandingkan yangs udah gede, misalnya, ukuran 100 atau 200 gram tadi."

Ia juga menegaskan bahwa belum ada teknologi advance untuk budidaya aquaculture yang lain--untuk lobster seed. 

"Ini hal sangat umum dan diketahui oleh semua pembudidaya lobster, baik di Indonesia ataupun Vietnam," kata dia lagi.

Ia juga menegaskan bantahannya atas pandangan Edhy Prabowo. "Yang namanya budidaya lobster, jangan dipikir (sama) seperti budidaya udang, lele, bandeng, kerapu," katanya lagi. "Lobster ini rentan mati. Sampai sekarang saya tahu, belum ada yang berhasil memindahkannya ke darat terus dibuat ekosistemnya persis seperti habitatnya di laut."

Terkait harga lobster seed tersebut, kenapa harganya bisa melambung tinggi dan terlihat menggiurkan, menurut Heru, juga cuma karena larangan itu sendiri. "Sehingga cost-nya membengkak di urusan non-komersil. Harganya antara 20-30 sampai 50 ribu seekor, tergantung jenis dan cara pembeliannya. Ada yang root, dan ada yang dipisah berdasarkan jenis," ia menambahkan.'

Belum lagi untuk pengiriman. Heru menjelaskan bahwa satu kiriman memang mencapai puluhan ribu.

"Karena barangnya kecil, di-packing pun juga lebih banyak jumlahnya," katanya lagi. "Paling mahal itu jenis lobster mutiara, paling murah lobster bambu. Transaksinya, gelap. Transporternya, gelap. Transitnya, Singapura--karena di sini saja yang legal.

Selain itu, terkait pembudidayaan itu sendiri, Heru menegaskan, sama sekali tidak mudah. Ia bercerita bagaimana temannya bahkan harus merekrut orang Vietnam sampai lima orang cuma untuk bisa menangani kolam apung. Sebab pekerjaannya memang berat, lantaran harus menyelam lama sampai beberapa kali dalam sehari.

Untuk memberi makan saja, peternaknya harus menyelam lebih dulu. "Kalau ditebar begitu saja dari atas, ya nggak dimakan, buang pakan. (Sebab lobster ini) punya ketergantungan terhadap alam masih sangat tinggi." Nah! Nggak gampang toh, Pak Edhy?*** (R1)

Editor: Zulfikar Akbar
Sumber Foto: Antara


Photos

Dunia

Metropolitan

Sport

Refleksi

© Copyright 2019 TULARIN | All Right Reserved