TULARIN >

Headline

Kolom

Cheers

Human

Politik

16 Juli 2019

Meramal Dunia Sains: Ke Masa Depan atau Masa Lalu?


Dunia kedokteran ke depan akan lebih banyak bergantung di tangan fisikawan ketimbang ahli biologi. Bahkan ahli biologi pun, mau tidak mau, harus memperdalam pengetahuannya tentang fisika. Dengan catatan, kalau ingin menukik lebih dalam ke biologi molekuler.

Kemajuan teknologi bukan dihasilkan dengan pengulangan pendapat-pendapat lama, tapi karena adanya bedes-bedes yang berani mengajukan pendapat-pendapat baru.

Pengulangan pendapat-pendapat lama tidak akan mengantar kita pada kemajuan, tidak hanya jalan di tempat, mungkin malah kembali kembali ke zaman lampau.

Nah, seberapa berani kita bertanya tanpa dikungkung oleh batasan-batasan yang kita buat sendiri? Dan, seberapa dalam kita berani menjawabnya?

Biologimolekuler misalnya, meskipun dasarnya juga biologi, tapi perspektifnya sama sekali baru. Ia  lahir dari inovasi--bid'ah, bahasa arabnya

Dengan biologimolekuler, yang maju pesat 50 tahun terakhir ini, genetika bisa mengungkap bagaimana cara gen mewariskan informasi dari generasi ke generasi

Bahkan biologimolekuler sangat "berjasa" mendorong teori seleksi alam Darwin jadi lebih superior

Kajian genetika menunjukkan hal ini. Tanpa biologimolekuler mustahil kita bisa menguak, bagaimana penguasa-penguasa genetik yang bersemayam dalam inti sel mengatur kehidupan kita. Selain, juga untuk masuk ke dunia biologi molekuler akan mustahil tanpa ilmu fisika yang lebih dalam

Di setiap sel organisme, tidak terkecuali manusia, terdapat inti sel yg disebut nukleus. Di dalam nukleus terdapat seperangkat genom.

Dalam genom inilah "gerombolan" gen-gen yang mahakuasa (dan sejauh ini mereka immortal) mengatur kehidupan tiap individu organisme.

Seperti pada organisme lain, Homo Sapiens punya genom yang terdiri dari sepasang kromosom , kecuali pada sperma dan sel telur,  hanya punya separuh pasangan.

Kecuali pada sel darah merah, di dalamnya tak ada genom, karena sel darah merah tidak mempunyai nukleus (inti sel).

Pada bedes sapiens setiap genomnya terdapat 23 pasang kromosom. Di setiap kromosomnya ada ribuan gen yang didalamnya berisikan instruksi-instruksi genetik.

Informasi yang berada dalam gen pada dasarnya merupakan  instruksi "petunjuk pelaksanaan" dan "petunjuk teknis" membuat suatu protein.

Istilah mutasi, awalnya digunakan untuk menggambarkan semua perubahan acak. Di era genetika  mutakhir seperti sekarang, definisinya jadi lebih jelas.

Mutasi tak hanya merujuk pada kondisi yang disebabkan "kesalahan kecil" tehadap DNA. Melainkan, bisa juga keseluruhan kromosom hilang atau tergandakan.

Mutasi yang berupa "kesalahan" besar, akan menghasilkan perubahan besar pada cara-cara sel bekerja, sehingga sangat berbeda dengan sel induknya.

Tapi mutasi yang terlalu besar akan bersifat lethal, keturunan yang dihasilkan tidak bisa bertahan hidup. Setiap kodon (kode genetik; red) dibentuk oleh 3 dari 4 basa yang  ada. Mutasi bisa terjadi di setiap kodon.

Secara umum mutasi tidak membahayakan hidup organisme, asalkan tidak terlalu besar persentasenya. Kalau terlalu besar, ya itu tadi, lethal alias matilah keturunan yang dihasilkan.

Sebagai contoh, pada Homo Sapiens mutasi yang terjadi umumnya mencapai 100 kodon tiap generasi, sedangkan pada genom manusia ada kira-kira satu miliar kodon.

Maka itu pengaruh mutasi pada setiap generasi umumnya tidak banyak. Kalau terlalu banyak mutasi bisa merupakan kesalahan yang mematikan.

Jadi, ya, jangan mengkhayal ada bedes mutant bisa jadi X-men

Ya nggak gitu juga cara maen mutasi jaenaaaal!

Ada beberapa pengecualian yang perlu diperhatikan:

1. Tidak semua gen terdapat dalam kromosom utama, sebagian kecil berada di mitochondria

2. Tidak semua gen disusun DNA, bbrp adlh RNA contoh:virus. 

3. Tidak semua gen adalah resep untuk protein, ada yang ditranskrip jadi RNA saja.

4. Tidak smua reaksi dikatalisasi oleh protein, sebagian oleh RNA.

5. Tidak semua protein berasal dari gen tunggal, ada yang gabungan beberapa buah gen.

6. Tidak semua DNA mengekspresikan gen. Kebanyakan hanyalah urutan yang acak/berulang tanpa aturan dan tidak pernah ditranskrip, disebut junk DNA.

Tapi, mutasi pun bukanlah satu-satunya sumber sifat baru dalam biologis. Perkawinan faktor-faktor yang sudah ada sama produktifnya dengan penggantian faktor-faktor baru.

Populasi secara keseluruhan adalah sumber variasi sifat-sifat biologis yang tidak ada habisnya, meski seandainya (ini seandainya) tidak ada mutasi.

Tanpa mutasi pun, penyusunan kembali genotip (faktor-faktor genetika) yang berjalan dengan bantuan reproduksi seksual, merupakan sumber varian-varian baru.

Nah, sejauh ini kajian biologi molekuler genetika telah banyak membantu menjelaskan detail terkait seleksi alam pada teori evolusi Suhu Darwin. Ya sudah, gitu aja.***

Penulis: Dr Roslan Yusni (Ryu Hasan) Sp. BS
Editor: Zulfikar Akbar

15 Juli 2019

Jokowi dalam Lukisan Tangan Cefi sang Buruh Pabrik


Sebuah lukisan berlatar hitam dan putih menjadi perbincangan di media sosial. Lukisan tersebut bergambar Presiden Joko Widodo dengan ekspresi serius, lengkap dengan tatapan tajam. Lukisan itulah yang ingin diberikan oleh Cefi Purnama, seniman di balik lukisan dengan guratan kuat tersebut.

Cefi berterus terang, bahwa lukisannya tersebut dibuat olehnya hanya di sela-sela pekerjaan utamanya sebagai seorang buruh pabrik. Alhasil, butuh waktu hingga tiga pekan hingga lukisan ini selesai. 

Awalnya, menurut pengakuan pria beranak tiga dan berdomisili di Sepatan, Tangerang tersebut, lukisan ini memang dibuat untuk ia koleksi sendiri. Namun setelah dipikir-pikir, ia ingin juga dapat menghadiahkan lukisan tersebut kepada Presiden Jokowi sendiri.

Sebab, bagi dia, adalah sebuah kebanggaan besar dirinya sebagai seorang buruh pabrik jika hasil karyanya bisa berada di tangan pemimpin yang ia kagumi. 

"Ya, saya sangat mengagumi beliau. Saya suka dengan kepribadian beliau yang sederhana dan merakyat," kata dia, sekaligus menegaskan alasan kenapa dirinya mengidolakan sosok yang kini akan memimpin Indonesia untuk kali kedua. 

Menurut dia, kepribadian itulah yang membuatnya kagum sekaligus merasakan ada keteladanan yang bisa ia ambil sebagai rakyat biasa. Maka itu, tiga pekan ia habiskan untuk melukis wajah close up Jokowi, ia tidak merasakan beban. Sebab, gurat demi gurat lukisan itu ia alirkan di atas kertas brief card berukuran 60x80 cm ini dengan segenap perasaannya, karena dorongan kekaguman kuat terhadap Jokowi.

Cefi menuangkan imajinasinya dan keahliannya hanya dengan menggunakan pensil arang dan juga bubuk oyan yang biasa digunakan sebagai pewarna pernis.

"Jadi, begitu pulang dari kerjaan--di pabrik--saya manfaatkan untuk melukis beliau," katanya. Meskipun kesehariannya dilelahkan dengan pekerjaan di pabrik, namun kelelahan itu tidak lantas membuatnya juga lelah untuk melukis dan melukis hingga lukisan itu pun finis menjelang akhir tahun lalu.

Saat ditanya kenapa baru sekarang ia ingin memberikan lukisan yang dituntaskannya pada tahun lalu itu? Cefi yang mengaku sudah belajar melukis sejak Sekolah Dasar ini ingin supaya lukisan tersebut dapat menjadi hadiah kemenangan bagi Presiden Jokowi. Maka itu, setelah memastikan Jokowi menang, ia lantas ingin menepati janjinya tersebut.

Maka itu, lewat akun media sosial twitter, @cefipurnama, ia mengunggah hasil karyanya tersebut. 

Di cuitannya itu juga ia menuliskan keinginannya agar bisa memberikan buah tangannya itu kepada orang nomor satu di Tanah Air tersebut.

"Ingin rasanya saya bisa memberikan lukisan saya ini langsung kepada beliau (Jokowi), dan bisa bertemu langsung dengan beliau. Sebagai rasa bangga saya terhadap beliau. Meski hanya lukisan sederhana, tapi (kesempatan bisa memberikan langsung kepada beliau) sangat berarti buat saya," tulisnya di akun twitternya.

Cefi sendiri kini sudah berusia 37 tahun. Sehari-hari masih berkutat dengan pekerjaannya sebagai buruh pabrik. Sekaligus, ia juga mengisi waktunya dengan melukis. Jika ada pesanan untuk melukis, maka ia terbiasa menggarap lukisan pesanan itu kala waktu liburan atau sepulang dari pekerjaannya di pabrik.

Maka itu, dalam menyelesaikan lukisan ini, Cefi membutuhkan waktu hingga tiga pekan. Lumayan menguras tenaga, namun ia menikmati itu lantaran ia sendiri melihat bagaimana pemimpin yang ia kagumi tersebut pun adalah figur yang gigih bekerja tanpa lelah. 

Baginya, lukisan itu sangat bermakna karena di sana tidak hanya ia mencurahkan nilai keringatnya sebagai rakyat yang bekerja sebagai buruh pabrik. Di sana juga ia menuangkan perasaan cintanya kepada sosok Jokowi yang baginya adalah inspirasi untuk tidak berhenti bekerja keras. 

Terlebih ia sendiri memiliki tiga orang anak, dan menyimpan harapan agar anak-anaknya tersebut kelak menjadi anak yang memiliki semangat berpikir baik seperti pemimpin dikagumi sang ayah. Cita-cita itu juga yang ingin disampaikan lewat lukisan yang ingin sekali dapat ia berikan langsung kepada Presiden Jokowi. 

Tentu saja, untuk sebuah hasil keringat sang buruh pabrik yang memiliki bakat lukis istimewa ini, sangat pantas didoakan bisa mendapatkan cita-citanya. Ya, cita-cita seorang rakyat, yang ingin bersua pemimpin yang dikaguminya. Semoga.***

Penulis: Zulfikar Akbar

13 Juli 2019

Kenapa Jokowi Dikagumi?

Sosok bapak beranak tiga ini mungkin tidak setampan mantan pacarmu, Mbak. Ia juga tidak sekekar suamimu, Bu.
Jokowi yang acap dilecehkan dengan panggilan sebagai "Jae" hingga "Ngaciro" pun bukan orang yang gemar memamerkan mata melotot dan urat leher menegang.
Bahkan saat ia tahu sebagian rakyatnya melecehkannya, istrinya, anaknya, sampai ibunya, ia hanya menatap dengan mata teduhnya. "Mereka semua tetap saudara satu bangsa dengan saya," katanya, lirih.
Ya, dia sama sekali tidak tertarik untuk unjuk kuasa. Tidak mentang-mentang, "Gue orang nomor satu di negara ini!" Tidak! Ia tidak begitu.
Ia meneladani Muhammad, pembawa ajaran Islam yang saat dilempari tahi unta pun masih mendoakan dengan kebaikan. Baginya, memimpin adalah memberi teladan.
Sebagai manusia, ia bisa merasakan sedih, kecewa, dan terluka. Sudah berpikir keras, bekerja keras, masih saja diremehkan dan dilecehkan.
Bahkan, ada saja yang menganggap orang yang cuma bisa menjual nama besar keluarga dan--bisa dibilang-- belum menunjukkan kerja apa-apa sebagai orang lebih baik sebagai penggantinya.
Ada saja yang memilih memuja orang yang baru sekadar lihai bicara, baginya tidak apa-apa. Ia tetap memilih berbicara dengan apa adanya, seadanya, dan menolak mengada-ada. Baginya ada yang jauh lebih penting daripada sekadar lihai berbicara, yakni bagaimana bisa lihai bekerja.
Ia tahu, negerinya pernah dimuncrati ludah banyak pemimpin yang lihai bicara saja. Maka itu, ia memilih tidak perlu lagi memamerkan gaya pemimpin yang mengandalkan mulut, tapi benar-benar mengandalkan keringat.
Ia paham, bahwa yang perlu ditularkan kepada rakyatnya bukan lagi sekadar bicara. Sebab, satu rumah saja takkan bisa terbangun hanya dengan mulut saja, apalagi membangun sebuah negara.
Ia mengerti, untuk bisa membangun sesuatu membutuhkan pikiran yang tepat, yang bisa dikerjakan, dan bisa diukur, hingga bisa direalisasikan. Terlalu banyak berkata-kata hanya akan mengurangi kesempatan bekerja. Maka kalaupun ia berbicara, maka yang ia bicarakan adalah bagaimana bekerja.
Sebab, ia memaklumi, di negerinya banyak yang polos mencerna makna cerita dongeng pengantar tidur; ada candi yang semalam langsung jadi, atau perahu raksasa yang bisa selesai sebelum subuh. Alhasil, banyak yang melupakan arti keringat, makna kerja, dan bagaimana melihat jelas sebuah proses.
Banyak yang memilih mencibir, melecehkan, menghina karena ia tidak bisa menyulap negeri ini menjadi "raksasa" hanya dalam semalam. Ia memilih bekerja dalam cibiran hingga hinaan.
Tidak mudah. Jangankan membangun negara, tukang bangunan saja takkan mudah bekerja jika pemilik rumah selalu saja merecoki dan terlalu banyak bicara. Bisa jadi, mereka akan memilih mengambil cangkul dan melempar ke muka orangnya, "Sudah! Kaubangun saja sendiri! Mulutmu lebih besar daripada upahku!"
Tidak. Ia justru tidak begitu.
Ia cuma meminta supaya orang-orang di negaranya, jika ingin memberikan kritik, silakan. Berikan kritikan sesuai porsinya.
Masalahnya, mereka menghina dirinya sampai ibunya juga diklaim sebagai kritikan. Padahal, ibunya sama sekali tidak bermewah-mewah meskipun anaknya seorang presiden.
Mereka juga menghina anak-anaknya. Padahal, jangankan memanfaatkan fasilitas negara dan kekuasaan bapaknya, mereka lebih memilih jualan kopi, martabak, hingga pisang goreng.
Mereka berdalih bahwa itu adalah kritik. Entah bagaimana isi kepala mereka, dan siapa yang mengisi begitu ke dalam kepala mereka.
Syukurlah orang-orang berkepala aneh itu tidak sampai terlalu banyak. Jika mereka paling banyak menghuni negeri ini, bisa jadi kekuasaan hanya jatuh ke tangan orang yang punya isi kepala sama dengan mereka.
Tuhan masih menyelamatkan negeri ini dari kepala-kepala yang berisi pandangan bahwa pemimpin adalah yang cukup dengan lihai bicara saja. Pemimpin cukup dengan berbadan gagah saja.
Tidak. Tuhan mengatur semuanya. Lewat kehadiran seorang Jokowi yang kerap dihina dan dicaci maki, Dia memberi pesan: "Mau menjadi bangsa besar takkan cukup hanya dengan mulut besar. Mau jadi negara besar, tidak cukup dengan sesumbar. Negaramu butuh pemimpin yang lebih mampu menunjukkan kerja daripada bicara!"
Syukurnya, negeri ini masih lebih banyak yang lebih menghargai kerja daripada sekadar bicara. Maka kenapa, pemimpin yang mau bekerja, bisa menunjukkan hasil kerja, lebih dipercayakan untuk menangani negeri ini.
Sebab, bekerja membutuhkan lebih banyak tenaga. Butuh pikiran yang benar-benar terlatih baik. Butuh otot-otot yang kuat. Butuh konsentrasi yang teruji.
Mereka yang terbiasa bekerja terbiasa mengasah tenaga. Dengan begitu, mereka membuat negara bebas dari perasaan lemah.
Mereka yang terbiasa bekerja, terbiasa melatih pikiran untuk melihat apa yang sudah dilakukan dan apa yang akan dilakukan, agar semakin baik daripada apa yang pernah dilakukan.
Dengan begitu, otak mereka pun terlatih untuk berfungsi lebih baik. Teruji untuk menyelaraskan apa yang dipikirkan dengan apa yang bisa dilakukan.
Mereka yang terbiasa melatih ototnya untuk bekerja, membentuk otot-otot itu semakin kuat. Dari sanalah mereka menguatkan "otot-otot" sebuah bangsa, hingga bisa bertarung dengan kepala tegak di panggung dunia.
Dengan bekerja juga mereka berlatih bagaimana berkonsentrasi. Semakin rajin mereka bekerja, semakin baik mereka mengasah konsentrasi; fokus pada apa saja yang penting, yang benar-benar bisa menghasilkan sesuatu.
Mereka yang terlatih berkonsentrasi takkan gemar menciptakan keributan. Mereka seperti akar-akar pepohonan besar, menegakkan pohon-pohon dengan kekuatan akar yang tersembunyi di balik tanah. Kala ada hujan besar hingga banjir dan badai, justru membuat akar-akar itu semakin menguat agar pohon-pohon tetap berdiri di tempat.
Semakin akrab negeri ini dengan budaya kerja, semakin jauh dari ribut-ribut. Sebab, mereka akan terpacu hanya fokus pada apa yang bisa dikerjakan. Terlebih di negara sebesar ini, ada banyak hal yang bisa dikerjakan, dan selalu bisa melihat apa yang mesti dikerjakan. Mereka akan jauh dari keluhan bisa bekerja di mana dan mengerjakan apa. Sebab mereka sendiri sudah terbiasa bekerja hingga menciptakan pekerjaan.
Semangat itu yang juga ditunjukkan anak-anaknya Kahyang yang bahkan gagal jadi aparat sipil negara. Gibran dan Kaesang yang dengan gembira bekerja sebagai tukang martabak dan tukang pisang.
Sebab, bekerja bukanlah aji mumpung. Bekerja bukanlah kebiasaan mengandalkan tangan orang lain; melainkan apa yang bisa dikerjakan tangan sendiri.
Jadi, siapa yang selama ini lebih banyak memilih dan mendukung Jokowi tetap berkuasa bukanlah orang yang gila kekuasaan. Mereka adalah orang-orang yang percaya, negara ini hanya akan benar-benar besar di tangan orang yang mau bekerja. Bukan bicara saja.
Kenapa Jokowi dikagumi oleh mereka? Karena ia mau bekerja, menyatu dengan rakyat yang mau bekerja. Ia mengagumi keringat, dan gemar bersentuhan langsung dengan tangan-tangan yang akrab dengan bekerja.
Sebab ia percaya, tangan-tangan itulah yang akan bersamanya membangun tapak, dinding, hingga atap negeri ini agar bebas dari ancaman hujan kebodohan, bebas dari terjangan badai kemiskinan.
Bahwa masih ada yang memilih mengeluh, meratap, dan menyalahkan nasib buruk seolah kesalahan orang lain, itu adalah pilihan mereka yang tidak ingin melihat ke dalam diri sendiri. Meskipun, kitab suci saja menegaskan, takkan ada yang bisa mengubah nasib seseorang, kecuali ia mengubah dengan tangan sendiri. Ya, tangan-tangan cekatan itu akan berjabat erat dengan sesama tangan yang terbiasa bekerja. Sebab tangan-tangan itulah yang akan saling menguatkan, bukan melemahkan.
Dalam beberapa kesempatanku berjabat tangan langsung dengan Jokowi, aku bisa merasakan tangan yang lembut namun cukup kokoh. Inilah tangan yang meyakinkanku, bahwa tangan ini bukanlah tangan orang-orang manja.
Saat orang manja melamun kenapa orang bisa lebih baik, orang yang bekerja menolak lamunan kecuali membiasakan berpikir dan bekerja saja dengan segala yang ia bisa.
Inilah nilai dari Revolusi Mental yang selama ini kudapat sepanjang berdiri di barisan anak bangsa yang acap dilecehkan sebagai "kecebong" hingga "IQ 200 sekolam". Nilai tentang bagaimana bekerja selaras dengan masa, zaman, dan kondisi kekinian. Bukan nilai yang hanya mengajak meratap dan mengeluhkan masa lalu dan takut masa depan. Nilai ini mengajak belajar dari masa lalu, mensyukuri hari ini, dan optimistis melihat masa depan.
Kemauan belajar, mental yang selalu bersyukur, hingga optimisme, memberikan banyak tenaga untuk kembali bekerja dan bekerja. Seraya berharap kelak negara ini pun dikagumi dunia, dan tak lagi diremehkan dengan status sebagai "negara dunia ketiga" sebab akhirnya bisa menjadi bagian negara kelas satu di pentas dunia.* (Zulfikar Akbar)

04 Juli 2019

Menteri Milenial Jokowi-Ma'ruf Amin, Bukan Sebatas Usia Muda


Pelantikan presiden dan wakil presiden terpilih (Joko Widodo dan Ma'ruf Amin) baru akan dilakukan pada 20 Oktober mendatang, tapi sudah banyak berseliweran prediksi, opini dan harapan terkait siapa saja yang bakal diangkat menjadi menteri untuk duduk di kabinet pemerintahan. 
Padahal Jokowi dan Ma'ruf Amin belum mengungkap apa-apa tentang hal itu secara jelas. Bahwa pada suatu kesempatan Jokowi pernah membongkar sedikit rahasia, memang benar. Jokowi sempat mengaku akan mengisi kabinet pemerintahannya dengan anak-anak muda.
"Ya, bisa saja ada menteri umur 20-25 tahun, kenapa tidak?," ujar Jokowi.
Dari pengakuan Jokowi inilah akhirnya muncul beragam terkaan, baik dalam bentuk tulisan maupun lisan tentang sosok-sosok yang dianggap layak. 
Misalnya ada yang menyebut nama Agus Harimurti Yudhoyono (Komandan Kogasma Partai Demokrat), Grace Natalie (Ketua Umum PSI), Tsamara Amany (Ketua DPP PSI), Bahlil Lahadalia (Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia/ HIPMI), hingga Angela Herliani Tanoesoedibjo (puteri pertama Hary Tanoesoedibjo, Ketua Umum Partai Perindo).
Ya tentu para penutur atau penulis yang menggadang-gadang beberapa nama di atas punya alasan. Apa pun alasannya tidak masalah karena di baliknya terkandung harapan, yang barangkali jika sampai ke telinga Jokowi dan Ma'ruf Amin, hal itu bisa jadi bahan pertimbangan.
Umpamanya di samping berusia masih muda, orang-orang tersebut juga dinilai sudah berpendidikan tinggi, memiliki jabatan penting di partai politik, punya perusahaan atau semacamnya, mantan tim sukses, memiliki pengaruh besar di masyarakat, dan sebagainya.
Pertanyaannya, cukupkah beberapa pertimbangan di atas sebagai modal bagi seorang calon menteri? Apa sebenarnya kriteria yang diharapkan Jokowi?
"Saya sampaikan bolak-balik, mampu mengeksekusi program-program yang ada, kemampuan eksekutor yang paling penting. Memiliki kemampuan manajerial yang baik, seperti mengelola sebuah ekonomi, baik ekonomi makro, kemampuan ekonomi daerah, maupun semuanya. Ya, yang lain memiliki integritas, memiliki kapabilitas yang baik," kata Jokowi.
Ringkasnya, kriteria yang dimaksud Jokowi adalah memiliki kemampuan untuk mengeksekusi program secara tepat dan cepat, memiliki kemampuan manajerial, berusia dan berjiwa muda.
Poin terakhir penting, karena tidak semua orang yang berusia muda sudah pasti berjiwa muda pula. Di era globalisasi saat ini, seorang menteri wajib punya karakter optimis, dinamis, fleksibel dan adaptif terhadap perubahan zaman. 
Betul bahwa sekian pertimbangan sebelumnya penting, tapi itu tidak cukup. Bekal pendidikan tinggi serta pengalaman di dunia politik dan bisnis belum cukup jadi modal dalam mengelola pemerintahan. 
Ada banyak orang menyandang gelar macam-macam, namun belum tentu bisa bekerja. Belum lagi yang punya usaha level besar, tapi kepekaan dan jiwa sosialnya lemah. Selanjutnya ada juga politisi kelas kakap, akan tetapi susah diajak bekerjasama.
Mengelola pemerintahan tidak sama dengan mengelola bisnis dan partai politik. Bidang pemerintahan itu penuh pengabdian dan pelayanan. Di sana tidak perlu ada pamer gelar, tawar-menawar kepentingan, atau tarik-menarik kekuasaan.
Yang menjadi fokus pelayanan pemerintah yakni bagaimana supaya negeri ini aman, nyaman, adil dan sejahtera. Seluruh rakyatlah yang dipikirkan, bukan kelompok atau golongan tertentu.
Maka ketika dalam wawancara khusus bersama Harian Kompas (Selasa, 2 Juli 2019), Jokowi menegaskan bahwa beliau tidak peduli dengan yang namanya label, status dan jabatan politik para calon menterinya.
Jokowi tidak mempermasalahkan apakah para calon menterinya berlatar belakang bidang politik atau tidak. Yang penting bagi beliau adalah para menterinya nanti profesional, dan itu bisa berasal dari kader partai politik serta kalangan (profesional) biasa.
"Kabinet diisi oleh orang ahli di bidangnya. Jangan sampai dibeda-bedakan ini dari profesional dan ini dari (partai) politik, jangan seperti itulah, karena banyak juga politisi yang profesional," kata Jokowi.
Tentu selain muda (usia dan jiwa) dan profesional, para calon menteri Jokowi-Ma'ruf Amin ke depan harus sederhana dan bijaksana, mengapa? Karena mereka akan sekaligus menjadi pemimpin di kementeriannya masing-masing.
Para menteri wajib menjadi teladan yang baik bagi seluruh jajaran staf dan karyawan, dari atas hingga ke bawah.
***
Gambar: merdeka.com

22 Juni 2019

Manahan Sitompul dan Karier Putra Pendeta dari Bandara hingga MK

Nama Manahan Malontinge Pardamean Sitompul menjadi salah satu nama yang belakangan semakin jadi perhatian publik. Dialah salah satu yang berada di jajaran hakim Mahkamah Konstitusi yang saat ini menangani sengketa pemilihan presiden (Pilpres) 2019.

Di luar gonjang-ganjing Pilpres, hakim yang juga anak seorang pendeta bernama Ds S.M.S Sitompul ini juga memiliki perjalanan yang menginspirasi. Berangkat dari keluarga dengan 10 bersaudara, banyak bergiat di kerohanian gereja, ia menuai buah karena kegigihannya.

Ia menginspirasi karena saat kuliah pun ia harus membiayai pendidikannya dengan tangannya sendiri. Manahan muda harus bekerja banting tulang agar dapat menempuh pendidikan, karena berangkat dari keluarga dengan 10 bersaudara, ia tak leluasa berharap orang tua bisa membiayai pendidikannya.

Maklum, anak kedua dari 10 bersaudara ini hanya mampu dibiayai ayahnya yang bekerja di jawatan agama hanya sampai Sekolah Menengah Atas. Setelahnya, ia harus berpikir sendiri bagaimana menempuh pendidikan, dan bisa mengejar kariernya.

Manahan mengawali kariernya dari dunia yang jauh dari profesi yang kini dijalaninya. Berawal dari kesempatan belajar Bahasa Inggris selama tiga bulan, berbekal sertifikat itu ia mendaftar di Lembaga Pendidikan Perhubungan Udara. Manahan diterima di Jurusan Flight Service Officer.

Selama dua tahun ia menjalani diklat di Curug, Tangerang, ia sempat bertugas di Unit Keselamatan Penerbangan di bandara lama di Kota Medan, Pelabuhan Udara Polonia, dengan status PNS Golongan II A, dengan ikatan dinas selama tiga tahun.

Ia tak menampik bahwa kesadaran melanjutkan pendidikan lebih jauh karena membaca kemungkinan bahwa akan sulit untuk kariernya berkembang jika hanya mengandalkan ijazah SMA. "Karier saya hanya akan mencapai Golongan III B bila hanya mengandalkan ijazah SMA dan FSO," katanya. "Maka timbul niat untuk kuliah, memperoleh ijazah S1 dan satu-satunya pilihan adalah Fakultas Hukum USU kelas karyawan."

Maka itu akhirnya ia melanjutkan kuliah dan harus mengatur waktunya. Selain, ia juga harus cermat untuk mengatur keuangan dengan gaji terbilang kecil untuk golongan dan pangkatnya saat itu sebagai PNS. "Akhirnya kuliah S1 bisa diselesaikan juga hingga 1982," kata pria kelahiran Tarutung 8 Desember 1953 tersebut.

Dari dunia yang berhubungan dengan penerbangan, akhirnya ia pun beralih ke dunia hukum. Pengadilan Negeri Kabanjahe, Sumatra Utara, menjadi tempat pertamanya bergelut dengan dunia hukum, dengan peran sebagai hakim pada 1986.

Sejak di sana, ia sudah berpindah tugas hingga ke beberapa tempat. Di sela-sela itu ia juga menyempatkan diri menjalani pendidikan S2, sampai kemudian dipercayakan sebagai Ketua PN Simalungun pada 2002.

Sekitar setahun di sana, ia lantas dipercayakan sebagai hakim di PN Pontianak, hingga diangkat sebagai Wakil Ketua PN Sragen pada 2005.

Baru pada 2007, ia kembali dipercayakan menjadi Ketua PN Cilacap. Tiga tahun kemudian, ia diangkat menjadi Hakim Tinggi PT Manado (2010), di samping ia juga mengajar di Universitas Negeri Manado, tepatnya di pascasarjana dan mengampu mata kuliah Hukum Administrasi Negara.

Namun pada 2012 ia kembali ke kota asalnya dan menjadi hakim di PT Medan. Selain, ia juga diminta kembali mengajar di Universitas Dharma Agung dan Universitas Panca Budi, untuk mengampu mata kuliah Hukum Kepailitan dan Hukum Ekonomi Pembangunan.

Sedangkan pada 2013, ia menjalani tes calon hakim agung, dan sempat gagal di tahap akhir fit and proper test di DPR RI.

Pada tahun itu juga, ia dipanggil ke Mahkamah Agung untuk menjalani fit and proper test kembali, hingga menjadi pimpinan Pengadilan Tinggi dan sempat ditempatkan sebagai Wakil Ketua Pengadilan Tinggi di Pangkalpinang, Bangka Belitung.

Baru kemudian pada 2015 ia menyasar hakim konstitusi. "Saya memberanikan diri untuk mengajukan diri sebagai hakim konstitusi," kenang Manahan. "Dan, ternyata lulus, untuk menggantikan senior saya, Bapak Alim."

Manahan menggantikan Muhammad Alim, hakim MK sebelumnya, yang memasuki purna jabatan pada April 2015. Maka itu ia pun dilantik di Istana Negara dan mengucapkan sumpah jabatan di depan Presiden Joko Widodo pada hari Selasa 28 April 2015.

Ia berterus terang bahwa tidak seluruh keluarganya bisa mencapai karier seperti dirinya. Bahkan dari 10 saudaranya, hanya tujuh di antaranya yang berhasil menjadi sarjana. Itu juga, menurut dia, karena orang tuanya menekankan prinsip yang kemudian menjadi pegangannya, yakni berdoa dan berusaha.***  (DBS)

Editor: Zulfikar Akbar

13 Juni 2019

Sebaiknya Gerindra Tetap Jadi Oposisi



Rupanya menjelang persidangan gugatan yang berisi permohonan penyelesaian sengketa Pilpres 2019 ke Mahkamah Konstitusi (MK) yang dilayangkan oleh kubu pemenangan capres-cawapres Prabowo-Sandiaga, muncul wacana dari beberapa partai yang tergabung dalam Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf Amin untuk menggandeng Partai Gerindra sebagai mitra koalisi di pemerintahan kelak.
Wacana itu diungkap oleh Sekretaris Jenderal Partai Persatuan Pembangunan sekaligus anggota TKN Jokowi-Ma'ruf Amin, Arsul Sani. Tidak tanggung-tanggung, Arsul berujar bahwa jika pada akhirnya beberapa partai oposisi ingin bergabung, maka Gerindra yang lebih diutamakan.
"Bahkan di antara anggota KIK (Koalisi Indonesia Kerja) ada juga yang malah melihat bahwa kalau Gerindranya mau, maka Gerindra dapat menjadi preferensi pertama untuk tambahan koalisi pemerintahan dibanding partai lain yang semula pengusung Paslon 02. Jadi singkatnya, Gerindra memang bisa menjadi pilihan pertama jika koalisi pemerintahan hendak ditambah," ujar Arsul (13/6/2019).
Arsul menambahkan, wacana itu muncul sebagai wujud tanggapan atas pernyataan Jokowi yang ingin membuka kesempatan selebar-lebarnya bagi partai mana pun untuk bekerjasama dan memperkuat kinerja pemerintah.
Meski demikian, ternyata tidak semua partai di koalisi Jokowi-Ma’ruf Amin serta-merta sepakat wacana tadi. Ada yang berpendapat bahwa bergabungnya Gerindra harus melalui pertimbangan matang, yakni menyangkut komitmen.
Hal itu sebelumnya disampaikan oleh Ketua DPP Partai Golkar, Ace Hasan Syadzily. Ace pun berharap bila betul bergabung, nanti Gerindra tidak boleh mengambil sikap yang berseberangan, seperti yang selama ini terlihat dan terasa.
"Yang harus dipastikan sebetulnya adalah komitmen dari semua untuk menjaga pemerintahan ini agar pemerintahan bisa mencapai target yang telah dicanangkan dalam nawacita jilid kedua," kata Ace (12/6/2019).
Lalu apa tanggapan pihak Gerindra dengan munculnya wacana tersebut?
Anggota Badan Komunikasi DPP Partai Gerindra, Andre Rosiade menyatakan partainya sama sekali belum memikirkan peluang untuk bergabung ke koalisi pemerintahan Jokowi-Ma'ruf Amin. 
Andre beralasan Gerindra saat ini sedang fokus menghadapi persidangan sengketa Pilpres di MK, dan juga yakin pasangan Prabowo-Sandiaga yang bakal menang.
"Ya fokus kami sekarang masih di MK. Kami fokus menghadapi gugatan yang akan kami ajukan ke MK. Belum terpikir sedikitpun soal bergabung. Orang kami yakin Insya Allah Pak Prabowo yang menang di MK. Nanti kami yang mengajakak koalisi ke kami. Bukan kami diajak ke sana. Tapi Insya Allah kami yang mengajak mereka gabung ke kami nanti setelah (sidang) MK," kata Andre (12/6/2019).
Haruskah partai oposisi utamanya Gerindra diajak bergabung ke koalisi Jokowi-Ma'ruf Amin? Betulkah murni supaya sama-sama berjuang di pemerintahan, atau jangan-jangan hanya sebatas rayuan belaka?
Saya sengaja menuliskan judul artikel ini dengan penambahan kata "mau" dalam tanda kurung. Menurut saya ada dua pihak yang sama-sama berkepentingan, yaitu kubu Jokowi-Ma'ruf Amin dan kubu Prabowo-Sandiaga. Artinya ada pihak yang mengajak dan ada pula pihak yang akan diajak.
Menurut hemat saya, ajakan terhadap Gerindra dan beberapa partai oposisi tidak perlu dilakukan, pun sebaliknya partai-partai tersebut sebaiknya jangan tergoda. Mereka wajib kukuh pada pendiriannya yang telah terbangun. Yang paling penting bagi mereka saat ini adalah bagaimana menjadi partai oposisi yang 'kredibel' saja.
Menjadi oposisi tidak dapat dimaknai sebagai sikap menghindari tugas dan tanggungjawab untuk membangun negara. Oposisi sama penting dan mulianya dengan posisi pemerintah. Sistem pemerintahan justru baru dapat berjalan efektif bila ada kekuatan lain sebagai penyeimbang.
Sekali lagi oposisi mutlak diperlukan ke depan. Jangan semuanya jadi "pengekor". Biarlah Jokowi-Ma'ruf Amin beserta jajaran barunya menjadi kuat karena kritikan keras dan evaluasi berfaedah.
Alasan lainnya adalah, apa iya kabinet pemerintahan yang baru terpaksa dibuat menjadi "gemuk" hanya demi memfasilitasi banyak kepentingan?
Apakah partai-partai yang saat ini sedang berada di pemerintahan ditambah partai koalisi di TKN Jokowi-Ma'ruf Amin (Pilpres 2019) rela jatah jabatan mereka diserahkan kepada partai oposisi? Bagaimana pula dengan para profesional berpotensi, apakah mereka tidak difasilitasi masuk kabinet?
Dan kalaupun masuk kabinet, apakah Gerindra akan merasa nyaman seperti partai-partai koalisi Jokowi-Ma'ruf Amin? Bukankah sulit bagi mereka untuk beradaptasi?
Namun apa pun itu, presiden terpilihlah yang berhak mempertimbangkan dan memutuskannya. Semoga pertimbangannya adalah kepentingan jangka panjang, bukan sesaat.
***
Gambar: Prabowo Subianto dan Joko Widodo (kumparan.com) 


Fenomena "Ustaz Dajjal" dan Keterbelakangan Kita


Sejak 20 tahun lalu, saya sendiri memang sudah begitu tertarik pada berbagai cerita seputar Dajjal. Berbagai buku seputar Dajjal, dan obrolan tentangnya, selalu saja menarik perhatian saya. Rupanya, setelah 20 tahun itu, orang-orang yang tergila-gila dengan isu ini semakin marak saja.

Kalau boleh saya sederhanakan, rupanya memang masih sangat banyak orang yang gemar melihat hari ini dengan kacamata masa lalu. Bahkan seorang "Ustaz Dajjal" naik daun dan menjadi buah bibir, karena getol berbicara tentang Dajjal, tanpa peduli itu berlawanan dengan dalil sebenarnya atau tidak.

Ia sama sekali tidak peduli apakah itu membawa kebaikan kepada umatnya atau tidak. Ia pun tidak menggubris apakah landasan pikirannya ketika membicarakan itu benar atau tidak. Sang Ustaz Dajjal ini hanya mengajak membayangkan bahwa ada orang bermata satu, pekerjaannya mendustai manusia dan menjauhkan manusia dari Tuhannya, dan itulah diangkat olehnya di mana-mana.

Ia sama sekali tidak menunjukkan "simbol" lain dari mata satu, yakni kecenderungan orang mudah tertipu jika hanya mau melihat satu sisi, dan malas untuk melihat dari berbagai sudut pandang. Ia tidak tergerak untuk menunjuk bahwa kesesatan yang melahirkan tindakan-tindakan konyol, cenderung lahir dari kebiasaan melihat dari satu sudut saja. Bahaya-bahaya semacam ini nyaris tidak pernah ia bicarakan.

Baginya, apa yang jauh lebih berbahaya dibandingkan kesempitan pikiran adalah orang akhir zaman yang bermata satu dan benar-benar punya satu mata saja, dan apa saja yang menunjukkan gambar mata satu.

Dalam Islam, konsep "Ittaqillaaha haitsuma kunta" atau takutlah hanya kepada Allah di mana saja, justru jadi bagian yang tidak digubris oleh Ustaz yang populer di media sosial tadi.

Hasilnya, alih-alih membantu umat takut kepada Allah; takut tidak bermanfaat, takut tidak membawa kebaikan, takut tidak mampu membawa misi ketuhanan untuk mengangkat derajat manusia dengan kemanusiaan, justru akhirnya dibuat takut hanya pada lambang segitiga.

Terbukti, belum lama "Ustaz Dajjal" ini dengan pongah hadir ke acara yang juga melibatkan Majelis Ulama Indonesia Jawa Barat. Ia berbicara panjang lebar dan berbusa-busa, dan jika diamati dengan kaca pembesar mungkin liurnya muncrat ke mana-mana, namun yang dibicarakannya hanya membenarkan penyesatan ia lakukan.

Ia pun berhasil membuat ribuan orang pendukungnya yang hadir di lokasi diskusi ini terkesima, bermuka tegang, dan terlihat waspada seolah mereka saat itu juga siap meluluhlantakkan Dajjal. Sementara kebanyakan yang hadir itu nyaris tidak menyadari jika apa yang diucapkan "Ustaz Dajjal" tadi justru membawa misi Dajjal itu sendiri; mengecoh manusia agar merasa paling benar tanpa menggubris benar tidaknya sudut pandang dan ilmu yang jadi pegangan atau acuan.

Ridwan Kamil (Emil), arsitek yang juga sekarang jadi gubernur di Jawa Barat, terlihat bersusah payah agar dapat berbicara dengan keilmuwannnya, dengan ilmu ia punya, dan berupaya menjelaskan duduk perkara sebenarnya. Bahkan ia menunjuk, jika persoalan segitiga saja dipersoalkan, banyak masjid di Indonesia hingga masjid di Madinah yang terkenal sebagai "Kota Nabi" pun memiliki simbol segitiga.

Ia mengajak waras. Ridwan Kamil mengajak melihat dengan ilmu, dan mengajak menatap realitas secara apa adanya, bukan lewat angan-angan. Namun suaranya memang tidak berapi-api seperti "Ustaz Dajjal" yang sudah memfitnahnya. Ia berbicara jelas namun tidak kencang.

Namun jamaknya kebenaran, seperti halnya nurani, suaranya memang acap lebih halus dan pelan dibandingkan suara ambisi dan nafsu yang seringkali menggebu-gebu. Suara Emil kalah lantang dibandingkan suara Sang Ustaz, dan ternyata sebagian besar yang datang lebih tergiur dengan suara mana yang lebih lantang. Bukan mencari kebenaran.

Ada kesan kuat, menyimak media sosial milik "Ustaz Dajjal" tadi, pengikutnya tidak membutuhkan kecerdasan, sebab bagi mereka tanpa itu saja sudah bisa mendapatkan ridha Tuhan. Mereka tidak membutuhkan pengetahuan yang benar, sebab tanpa itu saja sudah bisa membuat mereka merasa sangat dekat dengan Tuhan.

Inilah masalah dihadapi Ridwan Kamil walaupun ia sudah susah payah mengacu pada berbagai literatur dan landasan ilmu yang berkaitan langsung dengan bidang disorot: seni arsitektur, seni rancang merancang, dan simbol-simbol dalam dunia matematika dan sains. Di samping, ia pun tidak lupa mengutip landasan agama yang bersentuhan langsung dengan ilmu tersebut.

Lagi-lagi, suara Emil terlalu pelan. Sangat pelan. Seperti kebenaran nurani yang memang cenderung lebih pelan dibandingkan suara ambisi dan nafsu. Alhasil, setelah diskusi yang memakan waktu dan menjadi perhatian media dan publik nasional itu, justru semakin banyak yang menunjukkan keberpihakan kepada "Ustaz Dajjal".

Isi ceramah si Ustaz sudah begitu memesona mereka, seperti saya alami di masa lalu, 20 tahun silam. Terkesima, hingga membuat pikiran malas, enggan mencari referensi dan sudut pandang lainnya, persis saya alami dua dekade lalu itu.

Heran, keterbelakangan saya di masa lalu, justru dijadikan masa kini oleh orang-orang itu. Jika pikiran terbelakang seperti ini terus saja mendapatkan tempat dan semakin menarik perhatian, sulit saya bayangkan, kapan orang-orang di negeri ini mau melihat ke depan, memetakan kebutuhan umat manusia di masa depan, dan meskipun belum cukup berguna hari ini, kelak bisa berguna di masa depan.

Sebab, semakin banyak orang dibuat keasyikan dengan pikiran-pikiran tidak penting, atau pikiran yang pantas dikategorikan sebagai pikiran sampah. Padahal jelas, hanya aroma sampah yang dibawa bagi siapa saja yang bermain di tempat sampah. Begitu juga, hanya ada jejak sampah pada pikiran siapa saja yang membuang waktunya dengan pikiran-pikiran sampah.

Akhirnya di tengah pengaruh besar "Ustaz Dajjal" saya yang penuh dosa ini mencoba tetap berdoa, "Jangan sampai, Tuhan, sampah-sampah pikiran itu semakin menyampahi pikiran hamba-hamba-Mu. Sebab, neraka-neraka-Mu hanya untuk tempat membakar sampah. Merdekakan kami dari pikiran sampah, supaya bumimu tidak semakin sesak oleh sampah yang menghalangi kami menghirup aroma wangi tangan penuh kasih-Mu."***

Penulis: Zulfikar Akbar

07 Juni 2019

Ratu Elizabeth II Bakal Serahkan Tahta Kerajaan kepada Pangeran William?



Tersiar kabar bahwa Ratu Inggris, yaitu Elizabeth II akan segera pensiun atau menanggalkan singgasana kerajaan. Artinya, masa kepemimpinannya yang sudah berlangsung selama 66 tahun (2 Juni 1953-sekarang) akan berakhir, dan kemudian diteruskan oleh keturunannya (anak atau cucunya).
Ratu Elizabeth II telah berusia 93 tahun (lahir pada 21 April 1926). Dari hasil pernikahannya dengan Pangeran Philip, Ratu Elizabeth II dikaruniai 4 orang anak yakni Pangeran Charles, Putri Anne, Pangeran Andrew, dan Pangeran Edward. 
Karena aturan Kerajaan Inggris mensyaratkan pewaris prioritas adalah anak pertama, maka penerus kepemimpinan Elizabeth II mestinya jatuh ke tangan Pangeran Charles.
Pangeran Charles merupakan suami dari mendiang Putri Diana, serta ayah dari Pangeran William dan Pangeran Harry.
Pertanyaannya, benarkah Pangeran Charles otomatis langsung menjadi Raja Inggris karena statusnya sebagai anak pertama?
Kemungkinannya kecil, meskipun tradisi kerajaan menyatakan demikian, akan tetapi sepertinya Ratu Elizabeth II punya rencana lain terkait suksesi kepemimpinan baru di Britania Raya.
Bukan tanpa alasan mengapa "kue jabatan" enggan diberikan kepada Pangeran Charles. Di mata Ratu Elizabeth II, nama Pangeran Charles sudah terlanjur cacat. 
Bukan karena kegagalannya menjaga kelanggengan hubungan rumah tangga bersama mendiang isterinya Putri Diana, namun karena Pangeran Charles dianggap melanggar salah satu aturan khusus kerajaan (syarat mewarisi tahta), yaitu menikahi seorang janda yang masih bersuami. Diketahui isteri kedua Pangeran Charles tersebut bernama Camilla Parker Bowles.
Menjadi ratu atau raja di Inggris bukan cuma sebagai kepala negara, melainkan juga pemimpin tertinggi agama atau Gereja. Sedangkan Gereja di Inggris melarang anggotanya menikahi janda yang mantan suaminya masih hidup. 
Aturan Gereja itu berlaku kepada siapapun, tak terkecuali bagi keluarga kerajaan. Maka dari itu, jika Pangeran Charles dinobatkan jadi raja, jelas sangat bertentangan dengan aturan kerajaan dan Gereja.
Alasan berikutnya yaitu Ratu Elizabeth II tidak mungkin membiarkan terjadi kembali sejarah kelam yang pernah ditorehkan oleh Raja Edward VIII. Raja Edward VIII terpaksa turun tahta (dan diserahkan kepada George VI, ayah Ratu Elizabeth II) lantaran menikahi seorang janda asal Amerika Serikat bernama Wallis Simpson.
Sekali lagi, bila Ratu Elizabeth II lebih mementingkan kewibawaan kerajaan dibanding pertimbangan tradisi semata, tahta tidak akan diwariskan kepada Pangeran Charles. Atau dengan kata lain, akan langsung dipilih raja baru tanpa ada kesempatan bagi Pangeran Charles menjadi raja.
Kalau bukan Pangeran Charles, lalu kepada siapa akan diberi tahta itu?
Patut diingat, penentuan pewaris tahta di Kerajaan Inggris sudah ada mekanismenya. Untuk urutan pertama (setelah Ratu Elizabeth II) yakni Pangeran Charles. Kemudian urutan berikutnya adalah anak-anak dari Pangeran Charles sendiri, yaitu Pangeran William dan Pangeran Harry. Lebih jelasnya, sila simak infografis berikut:

Ya, Pangeran William sangat mungkin menjadi raja, penerus Ratu Elizabeth II. Di samping berada di urutan ke-2, alasan lain mengapa harus Pangeran William, yaitu:
Pertama, Pangeran William cukup dekat dengan neneknya, Ratu Elizabeth II. Tidak hanya dekat, bermodal posisi di urutan ke-2  serta ketaatannya tidak menikahi janda memang menyenangkan hati Ratu Elizabeth II. 
Bandingkan langkah Pangeran Harry yang meniru Raja Edward VIII dan Pangeran Charles (ayahnya), dengan menikahi Meghan Markle (seorang janda).
Kedua, Pangeran William sangat populer di masyarakat, terutama di kalangan milenial. Tidak heran kemudian muncul wacana di Inggris bahwa sebaiknya penerus tahta Ratu Elizabeth II dipercayakan kepada Pangeran William. 
Mayoritas masyarakat Inggris tidak menginginkan Pangeran Charles naik tahta. Warga yang setuju terhadap Pangeran Charles hanya sekitar 46 persen.
Dan berbagai alasan seterusnya yang bisa dianggap logis. 
Apakah perkiraan ini bakal menjadi kenyataan? Kita tunggu saja, masih ada waktu dan keputusan terakhir ada di tangan Ratu Elizabeth II.
***
Gambar: idntimes.com dan mediaindonesia.com

31 Mei 2019

Seorang Lelaki Tanpa Uban, Seabrek Cerita Literasi Seorang Maman

Ia sering wara-wiri di televisi. Juga, ia aktif di berbagai media sosial. Terkadang ia bisa hadir di acara lawakan, namun ia adalah figur yang termasuk sangat serius membahas soal-soal serius. Pun, dia mampu menemukan sisi humor dari setiap keadaan serius.

Dialah Maman Suherman, yang sekilas terlihat masih berusia 40-an. Entah karena ia rajin tertawa dan selalu menunjukkan wajah ceria, atau karena ia memang terbantu kondisi yang bebas dari uban!

Ya, lelaki kelahiran Makassar, 10 November 1965, memang terlihat lebih muda dari usia sebenarnya yang sudah melewati kepala lima. Bukan sekadar terlihat, namun memang isi pikirannya pun tidak kalah dengan dunia anak muda.

Dalam urusan canda tawa, ada sisi khas yang juga ia tampilkan. Ia lebih gemar menertawakan dirinya daripada menertawakan orang-orang. Bahkan orang-orang yang berseberangan politik dengannya pun, takkan ia tertawakan. "Ya, kalau misal di media sosial ada yang ngeyel, atau nyinyir, cukup diblok saja," katanya, enteng.

Ya, lulusan kriminologi dari Universitas Indonesia ini berbicara banyak hal seputar isu kekinian saat bukberan di lantai bawah Senayan City, Kamis (30/5/2019). Ia berbicara banyak seputar tren di media sosial, di dunia televisi, hingga perjalanannya dari kota ke kota di seluruh Tanah Air.

"Saya bermedia sosial itu juga untuk bisa berbagi terutama seputar literasi," kata sosok yang juga merupakan penulis aktif tersebut. "Saya lakukan itu lewat media sosial, dan tak cukup di situ, namun saya juga ke daerah-daerah karena inilah yang bisa saya lakukan untuk membantu perkembangan literasi."

Menurut dia, kenapa banyak masyarakat gemar berita-berita sensasional, hasutan, hingga hoaks, karena masih ada masalah literasi yang belum tertangani dengan cukup baik. Baginya, daripada menunggu, misalnya, hanya kepada pemerintah atau kepada orang lain, memilih terjun sendiri untuk menyampaikan pemahaman seputar literasi akan jauh lebih baik.

Maka itu, bagi dia, bergerak itu selalu menyehatkan. Dari rumah ia sudah membiasakan diri bergerak, setidaknya berjalan-jalan saat pagi hari. Sedangkan di luar rumah, ia juga gemar bergerak dari satu tempat ke tempat lain. Hal-hal inilah, menurutnya, membantu pikiran tetap bergerak, terasah, dan semakin terlatih.

Sebab, pikiran yang sehat adalah pikiran yang juga sering bekerja. Semakin ia aktif bergerak, maka pikiran akan bekerja dengan lebih baik. Dari sanalah, menurut pengakuannya, akan ada saja sisi baik yang bisa dibawa kepada banyak orang.

"Jangan tertumpu pada pikiran bahwa kita cuma manusia yang banyak salah dan kekurangan, lalu memilih tidak melakukan apa-apa," kata dia. "Justru karena kita manusia yang rentan salah dan keliru, perlu terus belajar melatih diri untuk lebih baik, dan hasil belajar ini kemudian bisa dibagi kepada banyak orang."

Itu juga alasannya saat mendapatkan tawaran beberapa televisi yang menjanjikan bayaran lumayan, tidak lantas diterima begitu saja. Ia lebih mempertimbangkan, ada kebaikan apa yang bisa dia sampaikan kepada publik. Jika ia tidak yakin ada hal baik yang bisa lahir dari sana, tidak segan-segan ia menolaknya. Sebab, menurutnya dalam mengambil keputusan tidak melulu harus mengacu pada seberapa besar bayaran didapatkan, tetapi seberapa besar kebaikan bisa ditularkan.

"Juga dalam berpolitik, sih," kata figur yang juga pernah menjadi pemimpin redaksi salah satu media di bawah Kompas Gramedia tersebut. "Ya, dalam berpolitik, saya tidak akan mau mengikuti begitu saja kebiasaan banyak orang dalam membahas atau berbicara politik. Saya berusaha, terlepas kecintaan besar terhadap satu sosok, misalnya, tetap menunjukkan dengan cara-cara tidak berlebihan."

Sebab, sikap-sikap seperti inilah, menurutnya, menjadi gambaran sejauh mana seseorang memiliki penguasaan yang baik terhadap literasi. Lantaran, kata dia, literasi bukan sekadar seberapa bagus seseorang dalam berkata-kata, tetapi bagaimana ia mengolah kata-kata dengan baik, menyampaikan dengan baik, dan ada kebaikan yang bisa lahir dari sana.

"Saya pun memberikan dukungan politik kepada kelompok tertentu, misalnya, sama sekali bukan karena dibayar. Itu murni karena pilihan sendiri," kata dia. "Saya merasa seseorang ini pantas didukung, jadi saya tunjukkan dukungan itu sewajarnya. Tidak perlu juga melecehkan atau menyerang siapa-siapa."


Ia juga menyayangkan pemandangan di media sosial, lantaran tak sedikit yang gemar menebar hawa negatif alih-alih melakukan sesuatu yang bermanfaat untuk banyak orang. Padahal media sosial itu adalah sebuah dunia yang tidak ada batasnya, dan berpotensi membawa kebaikan tidak terbatas. "Sayangnya ada saja yang bermedia sosial cuma untuk merusak. Semestinya merekatkan, bukan meretakkan. Seharusnya menyatukan, bukan memisahkan," kata dia lebih jauh.

Ia sempat menyebut beberapa tokoh politik, yang setiap tampil di media sosial, lebih sering memantik diskusi panas dan sumpah serapah alih-alih menebar semangat damai yang menyejukkan. Padahal, kata dia, banyak orang sudah lelah dengan keseharian dan kesibukannya, namun ada saja figur publik yang hanya gemar memantik perdebatan tidak penting.

Namun ia menegaskan selalu berusaha keras tidak larut dalam irama yang dibangun oleh banyak tokoh atau figur-figur ternama dalam interaksi media sosial. Ia lebih gemar menyesuaikan diri, dan tetap menunjukkan gayanya sendiri. Bukan untuk berpura-pura santun, namun tetap apa adanya, termasuk menegur ketika ada yang dinilai pantas ditegur.

Maka itu, ia berprinsip, lebih suka melakukan sesuatu berdasarkan inisiatif sendiri alih-alih hanya mengikuti dikte pihak-pihak tertentu. Sebab, dengan melakukan sesuatu dengan inisiatif, maka kita bisa bebas untuk bergerak sampai mana dan berhenti di mana. Ketika sesuatu dirasa berlebihan, ia bisa mengerem sendiri, dan ketika dinilai perlu bergerak lebih jauh, maka dapat kembali bergerak.
Maman (paling depan), Zulfikar Akbar (kiri) dan Aji Santoso dalam obrolan separuh malam

Dia juga menggarisbawahi, bahwa dirinya tetap saja manusia biasa yang ada kelemahan dan kekurangan. Namun melihat itu, ia mengajak melihat jujur saja pada diri masing-masing.

"Di tubuh kita saja ada bagian yang mendapatkan tempat teratas, atau sekadar di tengah, dan di bawah. Ketika menghadapi seseorang, sisi mana yang mau kita lihat? Sederhana saja," kata sosok yang akrab disapa dengan Kang Maman ini. "Jadi itu juga yang menjadi pegangan saya."

Termasuk dalam mendidik anak, ia memberikan contoh, Maman lebih gemar menerapkan pola didik yang lebih menghargai bakat anak. Saat ia berperan sebagai seorang ayah, ia takkan begitu saja memanjakan mereka. Ia ingin anak-anak tersebut mampu memahami kemauan sendiri dan belajar memenuhi keinginan itu.

Ketika akhirnya ia sudah melihat usaha keras sang anak, dan menilai memang masih ada yang perlu dibantu, barulah ia memberikan bantuan. Sebab, menurutnya, dengan cara inilah anak-anak akan terbiasa mengenali kekuatan sendiri dan menemukan kelebihan kekuatan mereka sebagai bekal menjadi seorang manusia.

Tentu saja, ada cerita panjang bersama pria yang juga pernah berkarier sebagai jurnalis ini. Namun saat jam menunjukkan pukul 22.00, ia minta pamit dan menenteng sekresek pizza untuk anak tercintanya. "Beginilah cara sederhana seorang ayah menunjukkan cinta kepada anaknya," kata dia seraya tersenyum, semringah.*





30 Mei 2019

Bintang Liverpool di Liga Champions itu Bernama Sadio Mane


Sadio Mane berterus terang, kegagalan timnya menghadapi Real Madrid di final Liga Champions musim lalu sangat mengecewakan. Musim ini, Liverpool kembali ke final dan akan berhadapan dengan Tottenham Hotspur, Sabtu (1/6/2019) waktu setempat atau Minggu (2/6) WIB.

Pemain berusia 27 tahun ini pantas menjadi perhatian, karena pada final lawan Madrid, dialah satu-satunya pemain Liverpool yang mampu mencetak gol. Logis jika dirinya juga yang paling kecewa karena golnya tidak membuahkan hasil seperti yang diharapkan, karena akhirnya justru gelar Liga Champions tetap menjadi milik Madrid.

Namun kali ini ia menegaskan optimismenya bahwa Liverpool akan mampu mengukir catatan jauh lebih baik. Alasan optimismenya, menurut Mane, karena perjalanan timnya di ajang terbesar Eropa tersebut sudah menjadi bukti kualitas timnya musim ini.

Ia menunjuk bagaimana satu persatu tim-tim raksasa Eropa tumbang di kaki Liverpool. Sebut saja Napoli, Bayern Muenchen, Porto, sampai dengan Barcelona di semifinal. Menurut dia, hal inilah yang menjadi bukti bagaimana kekuatan timnya.

Setelah mengalahkan Napoli 1-0  pada Desember lalu, meskipun dengan agregat 1-1, namun Liverpool memang melaju mulus hingga ke final.

Salah satu catatan fenomenal The Reds musim ini, setelah imbang tanpa gol di Anfield saat menjamu Muenchen, namun mereka mampu menumpas klub Bundesliga tersebut 3-1 saat bertandang ke markas lawan.
Sadio Mane setelah berperan menumpas raksasa Jerman, Bayern Muenchen

Patut dicatat, dalam kemenangan prestisius di Allianz Arena saat itu, Sadio Mane menjadi salah satu aktor penting. Sebab, dialah pemilik dua dari tiga gol The Reds saat itu. Sementara satu gol lainnya dicatat oleh Virgil van Dijk. Sementara Mohamed Salah hanya berperan sebagai penyumbang assist untuk gol terakhir Mane kala itu.

Dia mengungkapkan bahwa saat ini tidak ada yang lebih ia fokuskan kecuali memastikan tampil dengan performa maksimal di laga final kali ini. Bahkan saat ia ditanyakan seputar adanya beberapa klub besar dunia seperti Madrid yang berminat terhadapnya, ia tidak terlalu menggubrisnya.

Catatan Sadio Mane Lawan Tottenham
Jumlah Laga                    Menang                    Imbang                      Kalah                        Gol
94322

"Bagi saya, hal yang jauh lebih penting saat ini adalah fakta bahwa saya sekarang masih bersama Liverpool dan saya sangat senang di sini," katanya. "Kemudian, saya juga masih terus mempersiapkan diri untuk salah satu laga terbesar dari semua laga."

Bagi dia, setelah pengalaman terpukul musim lalu oleh Madrid, fokus saat ini adalah memastikan kemenangan. "Kami hanya fokus ke sini dulu. Fokus pada bagaimana memastikan agar bisa memenangkan laga ini," kata dia lagi.

Saat ditanyakan seputar seberapa yakin dirinya akan mampu meraih kemenangan kali ini, dia lantas menunjukkan bagaimana The Reds melewati semua tim-tim besar yang jadi lawannya. Selain menumpas Muenchen, timnya juga mampu melakukan revans atas Barcelona.
Saat Liverpool menumbangkan Barcelona 4-0 di semifinal Liga Champions 

Bagaimana tidak, di laga pertama, banyak kalangan meramalkan tidak ada harapan lagi bagi The Reds setelah ditumbangkan 3-0 oleh tim Katalunya tersebut. Namun akhirnya, di leg kedua, pasukan Juergen Klopp mampu membuktikan mampu melakukan hal di luar dugaan. Liverpool menampar Barca  4-0.

Di laga yang menentukan kelolosan The Reds ke final Liga Champions tersebut, beberapa pemain menunjukkan peranan istimewanya. Divock Origi jadi pembuka dan pemilik gol penutup, Giorginio Wijnaldum menyumbang dua gol.

Torehan-torehan inilah, menurut Mane, meyakinkan timnya akan mampu menguasai laga final kali ini. "Kami sudah menaklukkan tim-tim besar," kata dia. "Lagipula, setelah gagal menjuarai Liga Primer, saatnya kami habis-habisan mengejar trofi tersisa--Liga Champions."

Peran Sadio Mane di Liga Champions
Musim            Klub                                  Mnt    Tpl  St    In    Out   Cad Gol Kt
2018/19LiverpoolUCL106212120304200
2017/18LiverpoolUCL1117131306010200

Dia tak menampik bahwa kegagalan musim lalu lawan Madrid masih menyisakan kekecewaan baginya, namun ia menegaskan tidak akan terpaku dengan itu.

"Kami memang sedikit kecewa atas apa yang terjadi musim lalu, karena kami juga sangat ingin memenangkan Liga Champions," kata dia. "Tapi, ini bukan masalah. Itu sudah menjadi hal lumrah dalam dunia sepak bola. Jadi, sekarang yang diperlukan adalah bagaimana kami tetap bersikap positif--tidak larut dalam bayangan musim lalu.

Mane juga sempat menyindir kalangan media terkait pandangan pers atas timnya. Namun ia mengaku tidak menggubrisnya.

"Memang banyak orang, termasuk Anda (kalangan media), yang tidak yakin bahwa kami akan kembali tampil ke final, tapi akhirnya kami tetap mampu meraihnya," kata Mane. "Sekarang, saya kira, kami sudah belajar banyak dari semua ini, dan saya berharap bisa menjadikan pengalaman kami musim ini untuk meraih posisi yang kami inginkan."*** (Dbs/Tim)

Editor: Zulfikar Akbar

Photos

Dunia

Metropolitan

Sport

Refleksi

© Copyright 2019 TULARIN | All Right Reserved