TULARIN >

Headline

Kolom

Cheers

Human

Politik

22 Mei 2019

Dari Beranda Facebook, Pendukung Prabowo di KPU Viralkan Pesan Damai


Tahun politik memang sempat memicu suhu panas dalam interaksi sehari-hari penduduk negeri ini. Tidak hanya elite, namun warga yang bercengkrama di kaki lima pun tak lepas dari pengaruh hawa panas perbincangan politik. Tidak hanya sebelum pemilihan umum, namun setelahnya pun tak kurang panas.

Terutama perbincangan seputar pemilihan presiden (Pilpres) dapat dikatakan menjadi perbincangan terpanas, terlepas di Pemilu 2019, masyarakat juga memiliki anggota legislatif.

Tak terkecuali setelah Pilpres, berbagai rumor hingga bermacam tudingan nyaris tidak pernah kering dari perbincangan. Tidak terkecuali di media sosial.

Namun salah satu yang menarik adalah sikap salah satu pengguna media sosial bernama Miranda Octorida. Ia berterus terang berpihak ke calon presiden yang menelan kekalahan, Prabowo Subianto. Namun ia menolak tudingan-tudingan miring terhadap Komisi Pemilihan Umum (KPU), yang juga lembaga yang menjadi tempatnya bekerja.

Bahkan ia menuliskan secara khusus catatan pribadinya tentang bagaimana transparansi KPU dari tingkat terkecil hingga nasional. Hal itu ia tuangkan di akun facebook miliknya, dan viral!

Catatan anggota KPU dari Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau, tersebut tampaknya menyita perhatian besar warganet, lantaran muatan pesan positifnya yang menjawab berbagai tudingan. Ia berusaha menjawab, kenapa pengumuman KPU dilakukan tengah malam?

Pasalnya, belakangan memang marak beredar sudut pandang yang menuding KPU melakukan itu lantaran alasan-alasan supaya kecurangan tidak terendus masyarakat. Maka itu, ia menuliskan catatan itu, dan menegaskan bagaimana kecilnya celah buat KPU melakukan kecurangan.

Ia mencontohkan bagaimana ia di kabupaten saja harus bekerja dan menetapkan rekapitulasi jam 03.42 subuh pada 5 Mei lalu. Menurutnya, hal itu wajar-wajar saja.

"Loh, namanya sidang pleno terbuka. Begitu sudah lengkap hasilnya, harus ditetapkan, toh?" katanya di beranda facebook miliknya. "Kami selesai rekapitulasi kecamatan Kepulauan Posek jam 03.42 subuh. Harus diumumkan, toh? Nunggu apa lagi?"

Ia menggambarkan pemandangan dihadapinya di kecamatan dan kabupaten tersebut untuk menegaskan, bahwa di KPU pusat pun kurang lebih berangkat dari kondisi tidak jauh berbeda.

"Peserta rapat pleno terbuka menunggu putusan dan tutupnya rapat saat itu juga. Setelah itu mereka bisa pulang beristirahat dengan mengantongi hasil," katanya lebih jauh. "Begitu juga di KPU RI, mereka selesai merekapitulasi Provinsi Papua jam dini hari, setelah itu harus langsung ditetapkan."

Menurut dia, setelahnya penetapan tersebut akan ada lagi proses penandatanganan saksi. Menurutnya ini termasuk sesi yang lumayan memakan waktu lama.

"Di kabupaten saya, rekapitulasi selesai jam 03.42 subuh. Lalu, kami menyiapkan bahan yang ditandatangani saksi sampai jam 06.00 pagi," ia bercerita. "Saksi menandatangani hasil jam 06.00 subuh, hingga selesai semuanya jam 07.30 pagi."

Ia juga menjelaskan bahwa dalam Peraturann Komisi Pemilihan Umum (PKPU) diatur bahwa masa rekapitulasi penghitungan suara nasional adalah sejak 18 April hingga 22 Mei 2019. Jadi, menurutnya, kalau penghitungan itu selesai tanggal 20 Mei, lalu diumumkan, maka itu boleh.

Soal anggapan apakah adanya pelanggaran aturan di sana, ia menegaskan bahwa barulah dapat dikatakan pelanggaran jika sudah melewat batas ditetapkan, yakni pukul 24.00 WIB, tangal 22 Mei. Ringkasnya, jika sudah jam 01 dini hari, dan memasuki tanggal 23 Mei, barulah dapat dikatakan sebagai pelanggaran.

Ia juga mengajak melihat bahwa dalam rapat pleno terbuka tersebut, adanya skorsing oleh pimpinan untuk istirahat hanya atas izin dan kesepakatan saksi yang hadir. "Jadi TKN 01 dan BPN 02 setuju untuk jadwal Papua dibacakan pada jam segitu," ia menanggapi pengumuman hasil KPU yang disampaikan sebelum batas akhir.

Miranda juga menjelaskan bahwa soal gugatan ke MK bisa dilakukan selama tiga hari sejak hasil tersebut diumumkan. Hal itu, menurut dia, supaya pihaknya di daerah pun dapat segera mempersiapkan penetapan hasil Pemilu untuk anggota DPRD yang rencananya dilakukan tanggal 27 Mei 2019.

"Jangan bilang curang. Semua dihadiri saksi dari rekap kecamatan sampai KPU RI," tegasnya dalam catatan singkatnya. "Jangan bilang tidak percaya MK, jika punya cukup bukti pasti akan diproses MK."

Ia juga bercerita jika capres pilihannya juga kalah di daerah di mana ia sendiri turut melakukan penghitungan. "Tapi itulah kenyataannya," kata Miranda lagi. "Berusahalah ikhlas bahwa 'kerajaan' ini belum saatnya untuk dipimpin beliau. Saya yakin, ratusan ribu pekerja KPU punya pilihan berbeda yang mereka juga tidak mau pilihannya dicurangi."

Namun ia juga berterus terang, bahwa jika saja ia bukan bekerja di KPU, pastilah dirinya dapat saja ikut terprovokasi. Kemungkinan ini bisa terjadi, menurutnya, karena ketidaktahuan tentang Pemilu. Namun karena dirinya turut menjalani sistem tersebut, jadi ia tahu bahwa apa yang selama ini dituduhkan itu tidak benar--soal anggapan adanya kecurangan dan sebagainya.

Miranda memastikan bahwa semuanya sudah dilakukan dengan terbuka. Namun ia juga mengakui adanya perasaan miris lantaran saat menginginkan keterbukaan informasi publik dengan real count 
kemungkinan untuk khilaf bisa saja terjadi.

Kekhilafan yang tidak disengaja itu, kata dia, yang tampaknya menjadi pemicu hingga dituduh curang. "Padahal penetapan bukan dari Situng yang bahkan sampai sekarang kami masih menginput DA1, DAA1, dan DB1," katanya lagi. "Nah, primadonanya bukan C1 saja, loh. Ada juga ribuan lembar lainnya yang harus diinput sehingga masyarakat bisa melihat hasil rekap di kecamatan, kabupaten, provinsi lewat (situs) InfoPemilu, bukan hanya melihat C1."

Miranda menegaskan bahwa semua memang sudah sangat terbuka. Bahkan rekap manual berjenjang juga sangat terbuka. Sebab, kata dia, di tingkatan ini juga dihadiri para saksi dan pastinya wartawan.

"Setiap angka yang disebut terbuka untuk dikoreksi," ia menegaskan lagi. "Salah (walaupun) satu angka saja, meskipun itu angka DPT, bukan angka perolehan suara, duh, panjang pertanggungjawabannya."

Ia mencontohkan di kabupatennya, ada yang rekapnya membutuhkan waktu sampai empat jam untuk satu kecamatan. Penyebabnya cuma karena salah angka DPT. "Ditanya detail sampai dapat dan sesuai dengan kesepakatan saksi," Miranda bercerita.

Terkait penghitungan di KPU, ia juga mengajak melihat bagaimana wartawan pun turut memantau. Wartawan juga bukan wartawan Indonesia saja yang hadir di KPU RI, tapi juga pasti wartawan luar negeri. "Jadi tidak perlu pakai tagar lagi, ya," ia menyindir tren media sosial. "Kalau ada yang error sudah pasti diliput mereka (wartawan)."

Tak hanya itu, Miranda pun memberikan pesan di beranda facebook miliknya. "Jangan menganggap yang tidak sesuai harapan kita adalah curang. Jangan mudah menuduh hal yang kita sendiri tidak paham betul."

Ia menyayangkan realitas di mana banyak para pendukung capres yang kalah namun justru menebar doa yang buruk.

"Bahkan mendoakan azab untuk pemenang Pemilu, astagfirullah. Ada yg doakan azab untuk KPU?
Astagfirullah," katanya.

Ia bahkan mengajak agar jika harus berdoa akan lebih baik mendoakan kebaikan untuk pemenang Pemilu agar bisa memimpin Indonesia dalam Rahmat Allah. "Itu lebih baik daripada berdoa azab untuk beliau," tutupnya.

Patut dicatat, hingga tulisan ini diturunkan, Miranda sudah mendapatkan respons berupa 17 ribu share atau jumlah yang membagikan catatan unggahannya. Tentu saja, tampaknya respons warganet tersebut tidak lepas dari muatan pesannya yang berangkat langsung dari pengalaman pribadinya. Di samping juga lantaran pesan-pesan di dalam catatannya itu yang bernada positif.

Tak pelak, Miranda dapat dikatakan fenomenal. Ia sudah melakukan sesuatu yang melampaui pekerjaannya. Meskipun ia masih dilelahkan oleh pekerjaannya sebagai anggota dari otoritas yang bertanggung jawab untuk Pemilu, ia juga bersedia turun tangan untuk menurunkan tensi yang lahir akibat propaganda berbagai pihak dengan catatannya.

Perkembangan berita meresahkan
Patut dicatat, berdasarkan laporan Mafindo, jauh sebelum Pilpres berlangsung, publik memang banyak yang terseret ke dalam ujaran-ujaran kebencian di media sosial. Per Juli 2018 lalu saja, terdapat 13 konten.

Hal itu memang sudah dianalis oleh Chairman Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) Septiaji Eko Nugroho. Melansir CNNIndonesia.com, Jumat (11/8/2018) lalu, ia memprediksi tren penyebaran hoaks dan ujaran kebencian di kalangan netizen Indonesia masih akan terus berlanjut menjelang Pilpres 2019, dan kemudian berlanjut hingga setelah Pilpres.

"Perkembangan teknologi informasi yang pesat dan semakin terjangkau, pertarungan opini di dunia maya merupakan pilihan termudah dan utama bagi masyarakat," ujar Septiaji.

Ia berpandangan ada dua faktor utama yang memicu maraknya hoaks dan ujaran kebencian pada tahun politik. Di samping adanya polarisasi antarkekuatan politik, juga karena tingkat literasi digital serta literasi media masyarakat yang masih rendah.

Pernyataan senada juga pernah diutarakan Presidium Mafindo, Anita Wahid. Menurutnya, pertarungan politik nasional maupun daerah beberapa tahun terakhir menjadi bukti, bahwa hoaks telah menjadi senjata yang efektif dalam mencapai kepentingan politik tertentu.

Menurut dia, hoaks atau kabar bohong, juga menjadi alat untuk mempengaruhi masyarakat Indonesia yang tingkat literasinya masih rendah.

Melansir VOAIndonesia, ia juga menjelaskan bahwa pemakaian hoaks dengan muatan isu SARA, harus menjadi kewaspadaan masyarakat agar jangan mau lagi dimanfaatkan untuk kepentingan tertentu.

Menurut dia, memang ada realitas ironis terkait peredaran berita bohong. Pasalnya, kemampuan memproduksi hoaks jauh lebih banyak dan cepat dibanding upaya pencegahan dan pemberantasannya.

Di sisi lain, Anita juga menggarisbawahi, bahwa kondisi itu harus diantisipasi dengan pembekalan literasi digital dan non-digital. Dengan begitu, menurutnya, masyarakat akan mampu membedakan hoaks serta tidak mudah dipancing provokasi yang dapat mengobarkan konflik.

“Banyak masyarakat yang tidak tahu bahwa fitnah itu adalah alat, senjata konflik yang paling besar saat ini di era informasi," kata Anita dalam diskusi mengenai dampak hoax, di Kampus Universitas Surabaya, tahun lalu. "Itu sebabnya kalau kita melihat di semua kontestasi politik yang kita punya beberapa tahun terakhir, semuanya mempergunakan fitnah, mempergunakan hoaks, mempergunakan berita palsu."

Lebih jauh ia juga menegaskan bahwa itu juga pemicu kenapa sekarang sangat penting buat elemen masyarakat untuk membekali dirinya dengan literasi digital. "Literasi apa pun termasuk juga yang non-digital karena sekarang juga banyak fitnah yang disebarkan melalui selebaran, atau yang lain-lainnya,” Anita Wahid, menegaskan.

Ya, Mafindo sendiri sejauh ini tercatat sebagai salah satu gerakan yang turut memberantas penyebaran berita hoaks yang berangkat dari praduga-praduga negatif. Lembaga ini tercatat aktif melawan dan meredam hoaks tersebut. Mereka sering tampil lewat edukasi publik, baik secara sosialisasi langsung atau hanya melalui media sosial.

Tentu saja, kegigihan para penggerak Mafindo tampaknya kini kian memperlihatkan hasil positif. Miranda menjadi contoh, bahwa upaya melawan hoaks dan kabar-kabar meresahkan dan menularkan praduga negatif, bisa lahir dari mana saja. Tentu saja, hal ini membangkitkan optimisme bahwa banyak yang terpanggil untuk menjaga kewarasan publik.*** (Dbs)

Editor: Zulfikar Akbar
Sumber Foto: KPUD Lingga

Suara Pekerja Media dan Langkah Penghubung Pemerintah Aceh di Jakarta

Tularin | Jakarta - Badan penghubung pemerintah daerah dengan pemerintah pusat bukan sekadar pelengkap. Lembaga tersebut menjadi duta daerah yang juga memiliki peran untuk warga dari daerah yang berkarier di ibu kota.

Itulah yang ditegaskan oleh kepala Badan Penghubung Pemerintah Aceh (BPPA) Almuniza Kamal, Senin (20/5/2019).

Almuniza hadir di tengah para wartawan yang berasal dari Aceh, di Fakultas Kopi, Bendungan Hilir, Jakarta Pusat. Beberapa jurnalis seperti Fikar W Eda (Serambi Indonesia), Murizal Hamzah, Zulfikar Akbar (Tularin), Jaka Rasyid (Dialeksis), Mustafa Ismail (Tempo), dan puluhan wartawan lainnya terlibat diskusi dengan utusan Pemerintah Aceh tersebut.

Menurut Almuniza ada beberapa perkembangan yang dilakukan lembaganya, BPPA, akhir-akhir ini. Ia melakukan kebijakan yang tak hanya mengesankan sebagai perwakilan pemerintah daerah saja, namun juga memastikan perhatian terhadap warga Aceh di Jakarta.

Beberapa kebijakan dilahirkan lembaganya adalah adanya program rumah singgah untuk warga Aceh, database penduduk Aceh di Jakarta, hingga pemulangan jenazah warga asal daerah tersebut.

"Program tersebut sudah berjalan," kata Almuniza. "Untuk itu, kami meminta bantuan kepada seluruh kawan-kawan media baik cetak dan elektronik untuk mengabarkan kegiatan ini, agar program ini sampai kepada yang membutuhkan."

Terkait rumah singgah, Almuniza juga mengajak seluruh wartawan yang hadir, supaya dapat  menggunakan fasilitas rumah singgah jika ada keluarga yang tengah berobat di Jakarta.

Selain itu, Almuniza juga berharap para wartawan mempermudah untuk memberikan database mereka jika nanti petugas dari BPPA datang kepada mereka untuk melakukan pendataan.

"Aplikasi ini nantinya untuk mempermudah masyarakat Aceh di perantauan khususnya di Jabodetabek dan sebaliknya, dengan tujuan membangun koneksi antara Aceh dan Jabodetabek," ujarnya.

Fikar W Eda yang merupakan wartawan paling senior di antara para peserta turut menyampaikan harapannya agar Kantor BPPA juga bisa memayungi wartawan. "Paling tidak, jika sedang kelelahan dan berkunjung ke sana, bisa mengerjakan pekerjaannya di sana. Atau, di saat-saat mendesak, bisa digunakan wartawan Aceh untuk istirahat," kata dia.

Selain itu, wartawan sekaligus seniman asal Aceh Tengah tersebut mengemukakan harapannya agar badan penghubung tersebut juga aktif melakukan kegiatan-kegiatan semisal kepenulisan. "Misalnya, mereka membikin semacam situs yang terhubung ke situs mereka, dan wartawan juga bisa menulis di sana," kata dia. "Soal honorarium kepenulisan, saya pikir bisa disesuaikan saja."*** (TIM)

21 Mei 2019

Saat Kebun dan Sawah Menunggu Petani Muda Turun Tangan


Sawah dan kebun sempat dipandang sebagai tempat bekerja yang tidak bergengsi. Pekerjaan sebagai petani dan berkebun pernah dipandang sebagai profesi yang kurang "wah" dibandingkan pekerjaan lainnya. Belakangan, mulai terlihat adanya perubahan sudut pandang terhadap dua lahan kerja dan profesi ini.

Sudah mulai muncul kecenderungan bahwa sawah dan kebun pun merupakan lahan bekerja yang tidak kalah berkelas dibandingkan lahan kerja lainnya. Juga, kegiatan atau profesi sebagai petani dan pekebun pun tak kurang berharga dibandingkan profesi lainnya.

Tentu saja, perubahan positif ini pun tidak lepas dari perubahan pola pikir dalam melihat lahan pekerjaan. Di samping, ada juga pertemuan antara inisiatif di kalangan masyarakat, hingga kebijakan di tingkatan pemerintah.

Tak bisa ditampik, Kementerian Pertanian menjadi salah satu "sayap" pemerintah yang terbilang cukup berperan dalam perubahan sudut pandang tersebut. Kebijakan yang dilahirkan, hingga "campaign" yang dibangun, mampu mengukuhkan bahwa lahan kerja yang berhubungan dengan pertanian dan perkebunan memang tak kalah menjanjikan dibandingkan bidang pekerjaan lainnya.

Tak hanya itu, jika di masa lalu sempat bermunculan anggapan bahwa pertanian adalah profesi yang tertinggal, kuno, dan hanya diminati orang-orang desa, pun kini mulai berubah. Di samping para petani pun kian gencar menunjukkan bahwa mereka juga berhubungan dengan teknologi dalam pekerjaannya, pemerintah lewat Kementan pun mengukuhkan itu dengan berbagai kebijakan.

Kebijakan berupa mekanisasi pertanian pantas dilihat sebagai terobosan. Pasalnya, kebijakan ini kian meyakinkan dan mengukuhkan bahwa pertanian memang bukanlah pekerjaan yang identik dengan pekerjaan warisan baheula. Namun lahan kerja ini juga dapat menyelaraskan diri dengan zaman, dan perkembangan zaman pun masih sangat memperhitungkan sektor ini.

Ini juga terungkap lewat salah satu pejabat di Kementan dalam konferensi pers baru-baru ini. "Perlu mekanisasi pertanian. (Sebab langkah ini) mengubah pola mindset petani dari tradisional ke modern," kata Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian Kementan Sarwo Edhy.



Ia juga membeberkan fakta berdasarkan pengamatan di lapangan, apa saja yang menjadi pemicu sehingga--misalnya--kalangan muda enggan bersentuhan dengan profesi sebagai petani. Salah satunya adalah anggapan bahwa pekerjaan di sawah dan kebun hanya identik dengan kecenderungan kotor, bermain dengan tanah dan lumpur yang becek, hingga memaksa harus berpanas-panasan di bawah matahari.

Di masa lalu, hal-hal ini ditengarai menjadi bagian pemicu hingga terjadinya penyusutan tenaga kerja di ranah pertanian.

Belum lagi berkaitan dengan penghasilan yang didapatkan dari profesi sebagai petani, pun sempat dirasakan masyarakat terlalu kecil. Bahkan pernah ada masa di mana profesi petani sempat diyakini hanya dapat menjanjikan penghasilan yang pas-pasan. Ini juga menjadi pemicu lainnya, sehingga kalangan muda pun kurang memiliki dorongan untuk ikut terjun ke dunia pertanian.

Di sinilah pihak Kementan di bawah kepemimpinan Amran Sulaiman menunjukkan perhatian khusus agar realitas yang pernah ada tersebut dapat terjawab. Pemerintah menginginkan agar lahan kerja di bidang pertanian pun dapat dipandang setara dengan pekerjaan-pekerjaan berkelas lainnya.

Pengamatan atas realitas itu juga, diakui pihak Kementan, mendorong pemerintah untuk melahirkan kebijakan yang bisa mengubah sudut pandang negatif atas profesi petani. Mekanisasi pertanian menjadi salah satu terobosan yang lahir di era Menteri Amran.

Pihak Kementan pun meyakini bahwa langkah ini mampu memastikan regenerasi di ranah pertanian. Sebab, dengan begitu, pilihan profesi sebagai petani takkan lagi dipandang sebagai pilihan mereka yang tak punya pilihan. Kalangan muda bisa melirik profesi ini, dan terjun ke bidang pertanian, sehingga masalah penyusutan tenaga kerja di bidang tersebut pun dapat terjawab.

Ya, tampaknya regenerasi pertanian telah menjadi kata kunci yang menjadi pegangan Kementan era Amran Sulaiman. Mekanisasi pertanian, jika ditilik lebih dalam, lahir tidak lepas dari perhatian atas keniscayaan bahwa sektor pertanian memang membutuhkan regenerasi.

Di sisi lain, kalangan milenial, tentu saja menjadi tumpuan harapan. Maka itu, Kementan terbilang sangat gencar melakukan kampanye ke daerah-daerah, agar dapat memunculkan kesadaran baru bahwa bidang pertanian mesti menjadi lahan kerja yang dapat dipertahankan. Di samping, supaya kalangan muda pun teryakinkan bahwa sektor ini memang tak kalah menjanjikan dibandingkan sektor lainnya.

Di sisi lain, seperti juga dijelaskan Sarwo Edhy dalam konferensi pers baru-baru ini, keberadaan alat mesin pertanian (alsintan) pun secara kalkulasi ekonomi pun memang sangat membantu menekan biaya produksi.

Ia memberikan contoh sederhana jika melakukan pengolahan tanah dengan cangkul seperti yang jamak dikerjakan petani masa lalu. Cara ini, menurut dia, membutuhkan tenaga kerja hingga 30-40 orang. Belum lagi dalam hal waktu pengerjaan, pun membutuhkan hingga 400 jam dalam per hektarenya. Ditambah lagi biaya produksi, bisa menelan biaya sampai Rp 2,5 juta.

Mekanisasi pertanian membantu mempermudah sekaligus menekan biaya pengeluaran tersebut. Pasalnya, dengan cara menggunakan traktor, misalnya, maka tenaga yang dibutuhkan lebih sedikit, waktu kerja pun akan lebih hemat. Sebab dengan mesin traktor, lahan seluas satu hektare dapat dituntaskan dalam waktu sekitar 16 jam. Begitu juga dalam hal biaya, pun yang harus dikeluarkan hanya di kisaran Rp 1 juta.

Ia juga memberikan contoh lainnya berupa power weeder untuk penyiangan. Penggunaan mesin ini pun menguntungkan secara waktu dan pengeluaran biaya. Pasalnya, untuk menggarap lahan satu hektare, misalnya, cuma membutuhkan waktu antara 15 atau 27 jam setiap hektarenya. Juga secara biaya yang mesti dikeluarkan, hanya kisaran Rp 400 ribu.

Tentu saja, itu lebih hemat jika dibandingkan cara berupa penyiangan secara tradisional. Selain membutuhkan tenaga kerja sampai 20 orang untuk satu hektare, pun waktu yang dibutuhkan jauh lebih lama. Sebab, dalam satu hektare dapat menghabiskan waktu hingga 120 jam.

Sekarang, lebih jauh lagi, pertanian juga sudah memasuki tahap digitalisasi. Pasalnya, alat pertanian semisal traktor kini ada yang sudah dapat dikendalikan melalui remote control. Mengacu pada perkembangan itu juga, tak pelak, ranah pertanian bukanlah lahan kerja yang identik dengan ketertinggalan, namun juga mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman.

Maka itu, terobosan pemerintah melalui Kementan yang sejauh ini sudah mencatat bantuan sebanyak 350 ribu unit alat dan mesin pertanian, pantas diapresiasi. Pasalnya, dengan langkah ini, para petani dan kalangan muda pun dapat semakin teryakinkan bahwa ranah pertanian memiliki gengsi tersendiri.

Di samping, efisiensi yang dapat dilahirkan dari mekanisasi pertanian, pun dapat memacu kalangan muda untuk menumbuhkan ketertarikan terhadap pertanian. Terlebih, jika menelusuri apa saja alsintan yang jadi bantuan pemerintah mencakup traktor (roda dua dan roda empat), rice transplanter, cooper, cultivator, exavator, hand sprayer, pompa air, sampai dengan implemen alat tanam jagung.

Jika merunut ke belakang, Kementan sudah gencar melakukan kebijakan yang mendukung mekanisasi pertanian dari tahun 2015. Saat itu, Kementan telah menyalurkan 54.083 unit alat dan mesin pertanian.

Kemudian pada tahun 2016, Kementan pun sudah menyalurkan 148.832 unit alsintan. Sedangkan pada 2017 mencapai 82.560 unit. Teranyar, pada 2018 lalu, Kementan telah menyalurkan 112.560 unit alsintan ke berbagai pelosok Tanah Air.

Menurut Sarwo Edhy, selama ini, dalam penyaluran alsintan tersebut, pihaknya memberikan kepada kelompok tani hingga gabungan kelompok tani sampai dengan brigade alsintan.

Pengaruh Menteri Amran
Menteri Amran Sulaiman sendiri menunjukkan keyakinan besarnya bahwa langkah mekanisasi pertanian tersebut akan berdampak positif untuk pertanian masa depan Indonesia.

Melansir situs Kementan, menteri asal Makassar tersebut menegaskan bahwa mekanisasi pertanian takkan hanya dapat mengubah Tanah Air menjadi lebih baik, tetapi juga dapat mengubah dunia.

Pandangan tersebut sempat dicetuskan Menteri Amran saat berbicara di salah satu acara launching inovasi teknologi mekanisasi modern holtikultura, Agustus 2017 silam.

"Yang bisa mengubah Indonesia adalah peneliti. Yang bisa mengubah dunia adalah teknologi. Dan, yang bisa mengubah pertanian adalah mekanisasi," kata Mentan Amran, saat itu.

Terkait regenerasi pertanian, Amran pun menegaskan keyakinannya bahwa hal itu bukanlah hal mustahil dapat terjadi. Ia menggambarkan hal itu bahwa sekarang mulai banyak kalangan muda yang menjadi petani. "(Sebab) sambil bawa traktor pun bisa teleponan," katanya. "Jika pemuda bergerak, kita optimistis wujudkan Indonesia menjadi lumbung pangan dunia, dan merealisasikan nawacita yakni membangun negara dari pinggiran."

Mentan juga sempat bercerita bagaimana ia berusaha keras dapat memastikan bahwa pertanian Tanah Air dengan kemajuan zaman dapat saling menguatkan. Salah satu langkahnya adalah memastikan penelitian yang berhubungan dengan pertanian pun dapat gencar dilakukan.

Menurut catatannya, sebelumnya Indonesia hanya memiliki peneliti sebanyak 1.128 orang. Tugas mereka adalah bagaimana agar jangan sampai membiarkan impor alsintan masuk. Hasilnya, kini Indonesia mampu memproduksi sendiri traktor roda empat dan alat panen.

Amran menyebutkan jika di awal kedatangannya di kementerian yang kini dipimpinnya, ia sempat menemukan realitas di mana peneliti pun seakan merasa kehilangan harapan. Pasalnya, saat itu mereka yang sudah melahirkan teknologi luar biasa namun kurang mendapatkan perhatian layak.

Maka itu, ia berterus terang, bagaimana dirinya langsung bertindak, menyurati Kementerian Keuangan, dan meminta supaya para peneliti tersebut bisa mendapatkan royalti.

Dari sana, akhirnya pemerintah pun memberikan royalti kepada para peneliti tersebut, dan mereka mendapatkan Rp 3,5 miliar. Amran sendiri berharap agar para peneliti juga bisa mendapatkan royalti lebih banyak, dan dalam waktu dekat mereka bisa mendapatkan hingga Rp 100 miliar.

Menteri Amran menilai, peneliti bahkan pantas mendapatkan Rp 1 triliun. "Kalau perlu 1 triliun," kata dia. "Begitu caranya memajukan pertanian. Harus dengan mimpi besar."

Sosok lulusan Universitas Hasanuddin tersebut menegaskan optimismenya bahwa dengan langkah ini juga maka kalangan muda dapat terdorong untuk mau terjun ke sawah dan menjadi petani.

Menurutnya, ketika kalangan muda semakin banyak yang akrab dengan pertanian, maka masa depan pertanian pun akan menjanjikan. Di samping, peluang anak muda untuk tetap berkembang dan hidup layak pun dapat tercapai. Sebab, Amran menilai bahwa kalangan muda memiliki kelebihan khusus, karena mampu melahirkan inovasi dan terobosan baru.

Tak berlebihan jika belakangan sosok menteri tersebut dinilai oleh tokoh pertanian Tanah Air sebagai sosok revolusioner.

Melansir Okezone.com, pimpinan Kelompok Tani Nelayan Andalan yang juga tokoh tani nasional, Winarno Tohir, menegaskan keyakinannya bahwa Amran Sulaiman bisa membawa banyak perubahan.

"Sejak awal Pak Amran menjadi Mentan, saya sudah prediksi, Kementan pasti berubah," kata Winarno, Senin (21/5/2019). "Saya hanya melihat beliau sebagai sosok yang memiliki tekad dan keinginan keras, serta sangat memerhatikan kepentingan petani."

Satu sisi sangat dapat dimaklumi, lantaran menteri ini sendiri tercatat, sejak menempuh jenjang sarjana hingga doktoral, seluruhnya berkaitan dengan pertanian. Jauh sebelum menjadi menteri, ia juga pernah diganjar Tanda Kehormatan Satyalancana Pembangunan Bidang Wirausaha Pertanian dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, pada 2007 silam.

Tak pelak, saat Amran menjabat sebagai menteri pertanian ke-27 ini, ia terbilang sangat gencar melakukan terobosan demi terobosan yang berhubungan dengan pertanian.

Prestasinya pun sudah diperlihatkan sejak awal ia menjabat. Salah satu hasil menonjol adalah, dalam skala nasional, sejak 2015, pangan Indonesia mencatat inflasi paling rendah.

Ini terbilang sebagai "pekerjaan rumah" awal yang dilakukannya lantaran sebelum kedatangannya, persoalan pangan pernah menjadi masalah karena sektor pangan sempat mencatat inflasi tinggi, terutama periode 2013-14.

Jika pada 2014 inflasi mencapai 10,57 persen, per 2015, ia mampu menurunkan inflasi di sektor pangan hingga 4,93 persen. Bahkan pada 2017, Kementan mencatat sejarah karena mampu menurunkan inflasi hingga 1,26 persen.

Paling tidak dengan torehan-torehan ini semakin meyakinkan bahwa pertanian Indonesia memiliki potensi besar untuk berkembang. Bukan sekadar memiliki menteri berprestasi, namun juga dapat mengejawantahkan gairah berprestasi di lingkup pertanian Tanah Air. Bukan mustahil, kalangan muda yang kelak terjun ke ranah pertanian pun terpacu untuk berprestasi.*** (Z)

Editor: Zulfikar Akbar
Sumber Foto: bulelengkab.go.id, Kementan, Tribun Timur.

19 Mei 2019

Kalangan Muda dan Kebutuhan Coworking Space hingga Apple Academy

TULARIN | JAKARTA - Pembangunan coworking space atau ruangan kerja untuk lintas organisasi dan perusahaan, tampaknya juga menjadi perhatian tersendiri bagi pemerintah. Sebab, hal ini diyakini sangat membantu untuk memberikan kesempatan kepada anak-anak muda agar lebih kreatif dan inovatif.

Gelagat itu semakin terlihat saat Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto membicarakan tentang milenial dan tren industri digital, Jumat (17/5/2019).

Menurutnya, teknologi di era revolusi industri 4.0 berbeda dengan era sebelumnya. “Dalam revolusi industri 4.0, perkonomian tidak lagi berbasis kepada modal tetapi berbasis kepada sumber daya manusia,” Menperin Airlangga mengingatkan.

Lebih jauh, ia juga menyebutkan bahwa pemerintah terus mengajak kalangan muda di seluruh Indonesia, supaya bisa mendapatkan kesempatan yang sama. Terutama, untuk berkontribusi dan ikut berperan aktif dalam era industri digital.

“Industri 4.0 mendorong pemerintah melakukan empowering human talents. Jadi, terpacu untuk fokus memperkuat generasi muda kita dengan teknologi dan inovasi,” ucap tokoh kelahiran 1 Oktober 1962 tersebut.

Terkait keberadaan coworking space, kata alumnus Universitas Gajah Mada ini, dapat menciptakan talenta-talenta anak muda yang mampu bersaing di era industri digital. Maka itu, upaya ini telah dilakukan di beberapa daerah melalui kerja sama dengan universitas.

Sejumlah daerah yang sudah memiliki coworking space tersebut, antara lain di Bandung, Batam, Bali, Makassar dan Palu.

“Coworking space inipun akan didorong dengan palapa ring dan digitaliasasi infrastruktur, yang ditargetkan bisa selesai sampai ke Papua. Kalau ini bisa berjalan, saya optimistis talenta-talenta di daerah bisa tumbuh, terutama yang dekat dengan universitas,” terangnya.

Apple Academy
Pemerintah pun berusaha lebih gigih agar dapat menciptakan anak-anak muda bertalenta di era ekonomi digital. Salah satu di antaranya adalah dengan mendorong pendidikan-pendidikan yang sifatnya kelas dunia. Salah satunya melalui Apple Academy yang bekerjasama dengan Binus University di BSD City, Serpong, Tangerang, Banten.

“Program di Apple Academy ini ditargetkan dapat menghasilkan 200 lulusan dalam satu tahun," Airlangga menegaskan. "Dalam satu tahun program pendidikan mereka bisa menjual produknya di App Store (toko aplikasi di perangkat Apple), sehingga masuk langsung ekspor dalam ke global market.”

Selain itu, menurutnya, Apple Academy yang kedua akan dibangun di Surabaya bekerjasama dengan Ciputra University, dan yang ketiga di Nongsa, Batam.*** (TIM)

Editor: Zulfikar Akbar



Quagliarella Jadi Raja Gol Liga Italia

TULARIN | GENOVA - Fabio Quagliarella memang tak muda lagi. Namun musim ini ia hampir memastikan dirinya sebagai raja gol di Liga Italia (Serie A).

Penyerang yang bergabung kembali dengan Sampdoria sejak musim 2015/16 ini, meskipun kini telah berusia 36 tahun, namun mampu menyalip para pemain muda Serie A. Menjelang pengujung musim, ia masih merajai tempat pertama sebagai pemilik gol terbanyak.

Timnya sendiri masih menyisakan dua laga pada musim ini di liga. Namun, dari 36 pekan telah dilewati, Quagliarella menjadi satu-satunya pemain yang telah mengoleksi 26 gol.

Istimewa. Lantaran sepanjang ia berkiprah di Liga Italia sejak di klub Ascoli, baru di musim inilah ia mencatat 26 gol.

Sampdoria memang bukan klub asing baginya, hingga ia dapat bermain tanpa beban. Pasalnya, di masa lalu pun ia pernah membela klub berjulukan I Blucerchiati ini pada musim 2006/07. Saat itu, ia mengawali dengan 13 gol di Serie A.

Setelahnya ia menghabiskan dua musim di Udinese. Di sini, pada 2007/08, ia menyumbang 12, dan mencatat 13 gol pada 2008/09.

Sedangkan saat ia menjalani karier semusim di Napoli, Quagliarella hanya mencatat 11 gol.

Per 2010/11, pemain kelahiran 31 Januari 1983 itu mengawali kariernya di Juventus. Namun dalam tiga musim di sana, ia hanya mencatat paling banyak sembilan gol. Itupun hanya di musim pertama dan musim ketiga (2012/13). Sedangkan di musim kedua, ia hanya mengoleksi empat gol.Sementara musim terakhir bersama Juventus hanya mengoleksi satu gol.

Itu juga tidak lepas dari jarangnya ia mendapatkan kesempatan tampil. Terbanyak ia leluasa unjuk kebolehan hanya di musim pertama, dipercayakan sebagai starter dalam 17 laga. Di musim kedua, tampil 23 kali, namun hanya sembilan kali jadi starter.

Begitu juga di musim ketiga, tampil 27 kali namun hanya 13 kali dipercayakan tampil sejak kick-off. Sementara di musim 2013/14, atau musim terakhir di Turin, Quagliarella dapat kesempatan tampil 17 kali, namun hanya tiga kali dipasang sebagai starter.

Tak jauh berbeda setelah ia meninggalkan Juventus dan bergabung ke Torino pada musim 2014/15. Ia mengawali dengan baik, namun lagi-lagi mengakhiri dengan buruk.

Bagaimana tidak, di Torino, Quagliarella paling banyak tampil di musim pertama saja, mencapai 34 laga dan 33 kali dipercayakan jadi starter. Di samping, ia juga mencatat 13 gol. Sedangkan musim terakhir, pemain veteran ini hanya tampil 16 kali dan seluruhnya jadi starter, namun hanya menyumbang lima gol.

Sejak kembali ke Sampdooria pada 2015/16, ia mengawali dengan kesempatan tampil hanya dalam 16 laga di ajang Serie A dan 13 kali jadi starter. Pun, ia hanya mencatat tiga gol sepanjang musim itu.

Quagliarella baru mulai menggeliat lagi di Sampdoria di musim keduanya sejak kembali ke sana, pada 2016/17. Ia ditampilkan dalam 37 laga, dan 25 kali di antaranya dipercayakan tampil sejak awal laga, dan menyumbang 12 gol.

Musim ketiga (2017/18) di klub yang sudah berdiri sejak 1946 itu, ia semakin tajam meskipun menit tampil lebih sedikit. Ia hanya tampil dalam 35 laga dan hanya 33 kali menjadi starter, namun ia mampu menorehkan 19 gol. Itu menjadi kali pertama baginya mencatat angka gol sebanyak itu.

Baru pada musim inilah, 2018/19, Quagliarella semakin menggila. Selain mencatat 3.043 menit--terbanyak sepanjang berkarier di Liga Italia--sejauh musim ini, ia tampil dalam 35 laga dan selalu dipercayakan sebagai starter.

Ia mampu membuktikan, saat mendapatkan kepercayaan besar maka ia pun mampu menampilkan kegigihan yang tak kalah besar. Alhasil ia mampu mencatat 26 gol, sekaligus menjadi rekor gol paling banyak yang ditorehkannya di Liga Italia.

Torehan itulah yang menempatkannya tidak saja sebagai pemain paling banyak menyumbang gol di timnya, namun juga teratas dibandingkan seluruh pemain di Serie A musim ini.

Patut dicatat, sejauh musim ini--dalam 36 laga telah berjalan--Sampdoria baru mencatat 58 gol. Praktis hampir separuh gol timnya lahir lewat dirinya.

Ia sudah berada di atas Daniel Zapata dari Atalanta yang baru menorehkan 22 gol, dan juga Cristiano Ronaldo dari Juventus yang baru membukukan 21 gol.

Tidak hanya itu, ia juga mencatat satu gol indah yang menjadi sejarah baginya di pertengahan musim, saat berhadapan dengan Chievo. Lantaran saat itu, ia melesakkan bola ke gawang lawan dengan menggunakan backheel. 

Di laga itu juga Quagliarella mencatat rekor bersejarah di Liga Italia, pasalnya ia mencatat gol dalam delapan laga berturut-turut. Sebelumnya, itu hanya dicatat kali terakhir oleh Christian Vieri di Inter Milan pada tahun 2002.

Selain itu, ia juga mencatat gol indah musim ini di laga lawan Napoli di bulan September 2018. Meskipun begitu, pemain tersebut mengaku tidak terlalu merasakan euforia dengan gol itu.

"Apakah itu adalah gol terbaik yang pernah saya cetak? Tidak, tapi itu--saat lawan Napoli--adalah satu dari tiga gol terbaik (yang pernah saya cetak)," kata dia, melansir football-italia.net. "Saya pernah dua kali mencetak gol dari tengah lapangan, jadi inilah yang lebih layak--dikatakan terbaik."*** (TIM/DBS)

Editor: Zulfikar Akbar

18 Mei 2019

Menteri Airlangga Beri 3 Kunci Penting untuk Milenial


Tularin | Jakarta - Airlangga Hartarto yang kini terkenal sebagai Menteri Perindustrian RI, getol mengangkat isu seputar dunia digital. Perbincangan seputar industri 4.0 menjadi bahan yang acap dilempar olehnya di berbagai kesempatan, entah di forum resmi atau saat berhadapan dengan wartawan.

Berkali-kali ia juga mengingatkan, memasuki era revolusi industri 4.0, kuncinya ada pada sumber daya manusia. Bagaimana memastikan manusia Indonesia berkualitas, menjadi "amunisi" yang sering diluncurkan olehnya.

Menurutnya, salah satu langkah seperti program reskilling atau pelatihan kemampuan baru, dengan upskilling atau peningkatan kemampuan, jadi kunci penting lainnya. Kunci penting untuk memastikan orang-orang Indonesia siap dengan berbagai perubahan yang terjadi lantaran revolusi industri tersebut.

Kalangan milenial, menurut dia, memiliki peran sangat penting dalam penerapan industri 4.0. Terlebih lagi bonus demografi yang dimiliki Indonesia, berpotensi dapat dinikmati dalam waktu dekat, atau setidaknya pada 2030.

Dengan bonus ini, tak kurang dari 130 juta jiwa di usia produktif bisa menangguk keuntungan lewat kesempatan baru. Mereka bisa mengembangkan bisnis yang selaras dengan perkembangan era digital.

Jadi, reskilling dan upskilling itu, menurutnya, memang sangat diperlukan. "Karena digitalisasi ekonomi membutuhkan skill set yang berbeda dengan ekonomi sebelumnya," kata Airlangga, Jumat (17/5). "Jadi, anak-anak muda kita perlu paham atau literasi terhadap dunia digital."

Ia juga mengungkap ekspektasi pemerintah, yang menargetkan akan terciptanya seribu technopreneur pada tahun 2020. Dengan ini, valuasi bisnis dapat mencapai USD100 miliar, dan total nilai e-commerce bisa mencapai USD130 miliar.

Hari ini, Indonesia sendiri sudah mencatat empat unicorn. "Mereka semuanya tumbuh bukan bagian dari konglomerasi sehingga membentuk wirausaha baru yang kuat," Airlangga menggarisbawahi.

Maka itu, Airlangga pun mengingatkan, setidaknya ada tiga pengetahuan yang harus dikuasai oleh kalangan milenial: bahasa Inggris, coding, dan statistik.

Sebab, menurut dia, dalam industri digital tentu saja bahasa yang digunakan adalah coding. "Baik itu dalam ekosistem Android maupun IoS," ia menambahkan. "Juga digunakan dalam internet of things dan artificial intelligence." 

Terkait dengan ilmu statistik, ia menjelaskan juga bahwa ilmu ini membantu kalangan milenial untuk memahami pengetahuan terhadap data. Terlebih di era ekonomi digital, menurut dia, big data menjadi bagian yang tak dapat terpisahkan.

"Pengetahuan-pengetahuan ini wajib dikuasai anak-anak muda kita," Airlangga mengingatkan. "Sehingga mereka bisa masuk ke dalam ekonomi digital yang besar."***

Editor: Zulfikar Akbar

Arief Poyuono Salah Menafsirkan Kitab Suci tentang Membayar Pajak

Arief Poyuono, seorang politisi yang sedang tenar di media belakangan ini karena berbagai pernyataannya terkait pemilu, utamanya Pilpres 2019. Arief merupakan kader sekaligus Wakil Ketua Umum Partai Gerindra.

Arief bersama Partai Gerindra dan partai-partai lain yang tergabung dalam koalisi pemenangan Prabowo-Sandiaga memang sedang giat-giatnya melayangkan kritik dan protes keras atas hasil sementara Pilpres 2019 yang menurut mereka penuh kecurangan.

Selain mengkritik dan memprotes, mereka juga menyatakan menolak hasil Pilpres 2019. Terkait hal ini, biarlah tetap menjadi sikap mereka. Yang jelas proses pemilu sesungguhnya sebenarnya masih berjalan hingga ada pengumuman hasil final dari Komisi Pemilihan Umum (KPU).
Saya tidak ingin membahas mengapa mereka sampai mengambil sikap seperti itu. Saya hanya tertarik dengan anjuran Arief yang menganjurkan publik agar tidak membayar pajak jika pemenang Pilpres 2019 adalah pasangan Jokowi-Ma'ruf Amin.
Menurut Arief, karena Pilpres 2019 penuh kecurangan, maka pemenangnya tentu tidak sah. Pemerintahan yang akan dibangun pun dianggap tidak legitimate.
"Hanya yang kurang waras aja mempercayakan pajak masyarakat dan negara ini pada pemerintahan yang dihasilkan dari Pemilu yang curang," kata Arief (Kamis, 16/5/2019).
Dengan menganjurkan tidak membayar pajak, Arief dinilai melanggar hukum dan berpotensi terkena pidana.
"Tidak boleh mengajak mogok bayar pajak, padahal itu kewajiban hukum, bahkan yang sengaja menunggak atau tidak bayar pajak adalah pelanggaran hukum dan ada juga sanksi pidana maksimal enam tahun, serta denda dan bayar pajak tertunggak," jelas Yenti Garnasih, Ketua Masyarakat Hukum Pidana dan Kriminologi (Mahupiki).
Saya tidak begitu tahu banyak tentang aturan pajak dan berbagai macam pelanggaran yang terkandung di dalamnya. Hanya saya agak tergelitik dengan penegasan Arief bahwa anjurannya berdasarkan ajaran agama (Kitab Suci) yang dia imani, yaitu ajaran Kristiani.
Jujur, setelah membaca pernyataan Arief di salah satu artikel media online, saya langsung mengecek apakah benar dia seorang umat Kristiani. Dan akhirnya saya tahu, Arief seorang penganut agama Katolik. Nama baptisnya adalah Fransiskus Xaverius (FX).
Saya dan Arief sama-sama penganut agama Katolik. Karena sebagai pengikut Kristus, kami diajarkan untuk menjadi "garam dan terang" dunia. Sesuatu yang cukup sulit kami realisasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Apa dasar Biblis yang dimaksud Arief? Ternyata diambil dari kutipan Injil Matius 22: 18-21. Berikut bunyinya:
"Mengapa kamu mencobai Aku, hai orang-orang munafik? Tunjukkanlah kepada-Ku mata uang untuk pajak itu. Mereka membawa satu dinar kepada-Nya. Maka Ia bertanya kepada mereka: 'Gambar dan tulisan siapakah ini?'. Jawab mereka: 'Gambar dan tulisan Kaisar.' Lalu kata Yesus kepada mereka: 'Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah,'" 

Saya kagum dengan Arief, ternyata selain punya wawasan luas mengenai politik, dia juga cukup mengetahui isi Kitab Suci
Kutipan ayat yang Arief ambil juga sangat tepat, karena memang terkait membayar pajak. Saya tidak tahu apakah dia sudah mempersiapkan ayat itu dari rumah atau diucapkan spontan di tempat. Namun bagi saya, dia luar biasa.
"Ini yang saya imani ya. Itu kalau kaisar atau pemerintahan yang kita akui kita wajib bayar pajak. Karena kita mengakui Allah sebagai Allah kita maka kita wajib juga bayar zakat, sedekah, dan kalau di kami persepuluhan," tutur Arief.
Saya tidak bermaksud mengurangi kekaguman saya terhadap Arief atas pengetahuannya tentang isi Kitab Suci, akan tetapi saya heran, bagaimana mungkin dia bisa menggunakannya untuk membandingkan status dan sistem pemerintahan di Indonesia dengan yang berlaku di zaman kekaisaran Romawi.
Saya seorang teolog muda, saya pernah kuliah filsafat dan teologi di salah satu universitas di Jakarta. Dan sampai sekarang, saya masih menggeluti bidang itu.
Saya tidak ingin memperdebatkan kutipan Kitab Suci yang digunakan Arief, namun sepertinya saya perlu meluruskannya supaya tafsirannya tidak menjadi liar.
Arief wajib tahu bahwa Yesus berpendapat tentang pajak seperti yang tercantum di Injil yaitu untuk menjawab pertanyaan jebakan orang-orang Farisi, kaum Yahudi yang diakui berpengetahuan mumpuni di bidang Kitab Suci.
Orang-orang Farisi sesungguhnya sudah tahu jawabannya, tapi mereka berkeinginan mencari kesalahan jawaban dari Yesus, sehingga demikian, mereka bisa dengan mudah menjerat-Nya.
Baik Yesus, orang-orang Farisi, dan kaum Yahudi lainnya sadar bahwa mereka sedang dijajah oleh pemerintah Romawi. Dan mereka juga paham, membayar pajak merupakan kewajiban. Tidak peduli siapa penguasanya dan dari mana asalnya. Apakah penguasa itu jahat dan/atau menjabat tidak legitimate.
Tahukah Arief bahwa sistem pemerintahan Romawi adalah sistem kekaisaran? Apakah Arief tahu kalau pengangkatan kaisar dapat saja dilakukan tanpa melalui proses demokrasi?
Bagaimana mungkin Arief membandingkan sistem pemerintahan di Indonesia dengan yang berlaku di kekaisaran Romawi?
Arief pasti tahu, Yesus sangat tidak suka dengan keberadaan penjajah Romawi yang merampas kemerdekaan orang-orang Yahudi di zaman itu.
Namun apakah Yesus menolak membayar pajak hanya karena yang memerintah di tanah-Nya adalah penjajah? Yesus dan para pengikut-Nya tetap patuh pada kewajiban mereka sebagai warga, meskipun terjajah.
Bagaimana mungkin sikap Arief malah bertolak belakang dengan yang diteladankan oleh Yesus?
Sekali lagi, Yesus tidak pernah mengajak para pengikut-Nya membangkang dan menghindari kewajibannya. Yesus tegas mengatakan: Berikan apa yang menjadi haknya kaisar, dan berikan pula apa yang menjadi haknya Allah.
Jadi Yesus tidak ingin mencampuradukkan antara urusan duniawi dan bakti kepada Allah. Urusan duniawi salah satunya ya kewajiban membayar pajak, tidak ada urusannya dengan Allah.
Mohon maaf kepada Arief, saya mesti meluruskan tafsiran Kitab Suci, bukan kutipannya.
Semoga Arief terus memperjuangkan idealisme politiknya dan tetap berpegang teguh pada misi berat hidupnya sebagai pengikut Kristus: menjadi "garam dan terang" dunia.
***
Sumber Foto: harianindo.com

17 Mei 2019

John McCain dan Seni Menerima Kenyataan dari Negeri Paman Sam


"My friends, we have -- we have come to the end of a long journey. The American people have spoken, and they have spoken clearly."

Itulah kata-kata yang disampaikan oleh John McCain di awal pidato konsesinya ketika penghitungan suara pada pemilu presiden Amerika Serikat belum berakhir, namun kekalahan dirinya sudah dapat dipastikan. 

Sikap ksatria dari seorang kandidat yang luar biasa, seorang politisi senior yang telah melayani publik Amerika sebagai congressman dan senator selama 22 tahun, seorang pahlawan perang (yang dibuktikan dengan luka dan 'cacat' akibat pertempuran dan penyiksaan pada masa ia menjadi tawanan perang Vietnam selama 6 tahun). 

Rakyat telah 'bersuara' dan mereka telah 'bersuara dengan sangat jelas'. Detik ketika John McCain menyampaikan ini, penghitungan menunjukkan Obama unggul dengan 333 electoral votes sedangkan McCain mengantongi 146 electoral votes. 

Statement tersebut apabila dipahami adalah sebuah 'penghargaan' lebih untuk rakyat pemilih Obama ketimbang 'penghargaan' untuk Obama sendiri

"A little while ago, I had the honor of calling Sen. Barack Obama to congratulate him. To congratulate him on being elected the next president of the country that we both love."

Selanjutnya McCain mengatakan bahwa dia telah menghubungi Obama via telepon untuk mengucapkan selamat. Mengucapkan selamat pada pesaingnya yang memiliki satu kesamaan dengan dirinya: "sama-sama mencintai negerinya"

Menyimak pernyataan-pernyataan McCain, akhirnya membuat siapa saja bersimpati atas kebesaran hatinya. 

Seorang yang bisa dibilang jauh lebih senior dari Obama, seorang yang jauh telah lebih banyak berbuat bagi bangsanya daripada seorang Obama. Namun, 'tunduk' pada sistem Demokrasi yang telah disepakati bersama di negerinya. 

Bahwa pada akhirnya ketika rakyat telah 'berbicara', itulah saatnya kandidat yang kalah harus menerimanya dengan lapang dada. Katakanlah itu bukan untuk mengaku kalah, namun untuk menerima kenyataan yang terjadi melalui proses yang telah disepakati bersama. 

Pidato Konsesi bukanlah untuk memberikan penghargaan pada kandidat seterunya namun lebih untuk mayoritas rakyat yang telah memberikan suaranya dalam pemilihan di negerinya.

McCain memang telah berpulang pada 25 Agustus 2018, namun setelah kematiannya, ada pesan penting yang tidak akan mati darinya: tentang bagaimana mencintai negara dan menghargai rakyat bahkan ketika Anda tidak meraih kekuasaan.

Suatu hari, akan lebih baik tidak lama lagi, cukuplah satu kali pemilu lagi... ketika rakyat telah 'berbicara', para kandidat dengan ikhlas menerima kenyataan.***


Penulis: Cyril Raoul Hakim
Pemerhati Politik




Studi Microsoft Tantang Indonesia Soal Kecerdasan Buatan dan Keamanan Siber

“Kemajuan teknologi dan inovasi-inovasi dalam manufaktur cerdas memberikan terobosan yang mengubah sistem untuk bisnis terkemuka di setiap sektor,” kata Scott Hunter, Regional Business Lead, Manufacturing, Microsoft Asia, April lalu. 

Scott berpandangan bahwa ada persoalan serius terkait dengan kejahatan siber. Pasalnya, kelompok penjahat siber terus mengintai.

Organisasi manufaktur menjadi salah satu sasaran. Pasalnya, mereka fokus pada peningkatan produk dan layanan berbasis data untuk membedakan diri mereka dalam ekonomi global.

Selain itu, ia juga melihat bahwa perusahaan-perusahaan tersebut membangun dan mempertahankan kepercayaan dalam ekosistem mitra dan pelanggan menjadi prioritas yang lebih besar.

“Pelaku kejahatan siber terus mencari peluang," Scott, menegaskan. "Sehingga semakin banyak pelaku bisnis yang memahami teknik dan cara kerja mereka, semakin siap mereka untuk membangun pertahanan dan merespon dengan cepat."

Menurut Scott lagi, membangun ketahanan organisasi dan mengurangi risiko dengan mengadopsi pendekatan keamanan yang mencakup pencegahan, deteksi, dan respons dapat membuat perbedaan besar dalam kesehatan keamanan siber secara keseluruhan dari organisasi manufaktur.

Di tengah kondisi itu, kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence, AI) diyakini berperan penting dalam organisasi manufaktur. Sebab mau tak mau, mereka semakin bergantung pada otomatisasi Machine Learning untuk meningkatkan efisiensi dan output berdasarkan skala.

Di sisi lain, juga dapat mengurangi biaya dan downtime melalui proteksi prediktif. AI  juga merupakan perangkat yang ampuh yang memungkinkan organisasi manufaktur mempertahankan diri terhadap serangan siber yang semakin canggih.

Itu merupakan temuan  dari sebuah penelitian yang juga bagian dari “Understanding the Cybersecurity Threat Landscape in Asia Pacific: Securing the Modern Enterprise in a Digital World” yang diterbitkan pada Mei 2018.

Studi ini mengungkapkan bahwa 67% organisasi manufaktur di Asia Pasifik telah mengadopsi atau sedang mempertimbangkan pendekatan berbasis AI  untuk meningkatkan prinsip langkah keamanan mereka.

Solusi keamanan siber yang digabungkan dengan AI dan Machine Learning dapat secara mandiri mempelajari perilaku normal untuk perangkat yang terhubung di jaringan organisasi. Selain itu, juga dapat dengan cepat mengidentifikasi ancaman dunia siber dalam skala melalui deteksi anomali perilaku.

Tim keamanan siber juga dapat menerapkan aturan yang memblokir atau mengarantina perangkat yang tidak berperilaku seperti yang diharapkan sebelum mereka berpotensi merusak lingkungan.

Mesin keamanan siber bertenaga AI  ini memungkinkan organisasi manufaktur untuk mengatasi salah satu tantangan keamanan terbesar dan paling kompleks saat mereka mengintegrasikan ribuan atau bahkan jutaan perangkat IoT ke dalam teknologi informasi (TI) dan lingkungan teknologi operasional (OT).

Studi bertajuk “Understanding the Cybersecurity Threat Landscape in Asia Pacific: Securing the Modern Enterprise in a Digital World” dilakukan lewat survei yang melibatkan 1,300 responden dari 13 negara.

Studi ini juga dilakukan di Australia, China, Hong Kong, Indonesia, India, Japan, Korea, Malaysia, New Zealand, Philippines, Singapore, Taiwan and Thailand. Menyasar responden dari kalangan pebisnis dan IT yang memiliki pengaruh dalam kebijakan digital, mencakup CEO, COO, dan direktur perusahaan, sebanyak 44 persen.

Selain itu, terdapat 56 persen dari pengambil kebijakan di bidang IT termasuk CIO, CISO, dan Direktur IT.  Di samping juga ada sebanyak 29 persen dari partisipan berasal dari perusahaan skala menengah, dan 71 persen dari perusahaan skala besar.

Tentu saja, studi itu sendiri menjadi sebuah temuan penting bagi Indonesia. Sebab, perhelatan Hannover Messe bertemakan “Driver of Industrial Transformation” baru-baru ini memang dapat dikatakan tonggak sejarah baru bagi Industri di Indonesia, terutama manufaktur.

Terlebih, Indonesia pun dinobatkan sebagai salah satu negara mitra Hannover Messe 2020. Dengan begitu, Indonesia menjadi negara pertama dari ASEAN yang menjadi mitra acara manufaktur tahunan di dunia tersebut.

Dengan mandat tersebut, tak pelak Indonesia dapat menjadikannya sebagai referensi untuk selekas mungkin menjalankan transformasi menyeluruh.

Terlebih lagi, di tengah potensi besar di ranah ekonomi digital, mau tak mau Indonesia perlu memberikan perhatian serius terhadap transformasi digital. Di sanalah, ancaman terhadap keamanan siber menjadi sebuah masalah serius yang menuntut perhatian serius.*** (TIM/DBS)

Editor: Zulfikar Akbar
Sumber Foto: LinkedIn, Gasworld.com

Studi Microsoft Ungkap Masalah Keamanan Siber Asia Pasifik

Hasil studi Frost & Sullivan memberikan catatan untuk organisasi dan perusahaan manufaktur yang mengalami insiden keamanan terkait serangan siber.

Disebutkan, bahwa eksfiltrasi data dan ransomware serta eksekusi kode jarak jauh adalah masalah terbesar. Pasalnya, ancaman tersebut memiliki dampak tertinggi dan seringkali membutuhkan waktu pemulihan paling lama.

Menurut studi tersebut, eksekusi kode jarak jauh adalah ancaman unik yang dihadapi organisasi manufaktur. Di sisi lain, hal ini juga merupakan ancaman besar bagi perusahaan-perusahaan ini karena pelaku kejahatan dunia siber dapat mengakses dan mengontrol operasi mereka dari jarak jauh.

Lebih jauh lagi, tentu saja, hal ini memungkinkan pelaku kriminal mengganggu jalannya produksi dan melakukan sabotase terhadap bisnis.

Dilaporkan, karena organisasi manufaktur memiliki jadwal yang ketat dan tenggat waktu yang sempit, serangan ransomware di mana pelaku kejahatan siber mengenkripsi file untuk membatasi akses pengguna hingga tebusan dibayarkan, hal ini dapat juga menyebabkan waktu henti produksi (downtime) dan hilangnya kepercayaan pelanggan.

Kenny Yeo, Industry Principal, Cyber Security, Frost & Sullivan membeberkan persoalan tersebut. Menurutnya, frekuensi dan tingkat keparahan serangan siber yang menargetkan organisasi manufaktur telah meningkat secara signifikan. Terutama, dalam beberapa tahun terakhir.

Menurut Kenny, ini mempertegas kebutuhan untuk melindungi volume data yang terus tumbuh, yang dihasilkan oleh dan diperuntukkan bagi organisasi manufaktur.

“Dengan mengintegrasikan keamanan ke dalam setiap proses digital dan perangkat fisik, organisasi manufaktur tidak hanya dapat mengurangi hilangnya kekayaan intelektual (IP) dan data pelanggan tetapi juga meminimalkan waktu henti (downtime) serta biaya perbaikan akibat dari serangan siber,” Kenny menegaskan.

Dengan kondisi seperti itu, perusahaan manufaktur tidak hanya kehilangan waktu dan sumber daya dalam menghadapi dampak serangan. Namun lebih jauh dari itu, seluruh rantai pasokan juga akan terganggu.

Studi bertajuk “Understanding the Cybersecurity Threat Landscape in Asia Pacific: Securing the Modern Enterprise in a Digital World” dilakukan lewat survei yang melibatkan 1,300 responden dari 13 negara.

Studi ini juga dilakukan di Australia, China, Hong Kong, Indonesia, India, Japan, Korea, Malaysia, New Zealand, Philippines, Singapore, Taiwan and Thailand. Menyasar responden dari kalangan pebisnis dan IT yang memiliki pengaruh dalam kebijakan digital, mencakup CEO, COO, dan direktur perusahaan, sebanyak 44 persen.

Selain itu, terdapat 56 persen dari pengambil kebijakan di bidang IT termasuk CIO, CISO, dan Direktur IT.  Di samping juga ada sebanyak 29 persen dari partisipan berasal dari perusahaan skala menengah, dan 71 persen dari perusahaan skala besar.

Namun studi tersebut tak hanya menyorot ancaman eksternal. Penelitian ini juga mengungkap beberapa celah keamanan keamanan siber utama dalam organisasi manufaktur.

Lingkungan keamanan yang kompleks menghambat waktu pemulihan: Bertentangan dengan anggapan umum bahwa lebih banyak solusi keamanan akan mengarah pada efisiensi yang lebih besar, portofolio besar solusi keamanan siber mungkin bukan pendekatan yang baik untuk meningkatkan keamanan siber.

Kompleksitas mengelola portofolio besar solusi keamanan siber dapat menyebabkan waktu pemulihan yang lebih lama dari serangan siber.

Studi ini menunjukkan bahwa hampir tiga dari lima (57%) organisasi manufaktur dengan 26 hingga 50 solusi keamanan siber membutuhkan lebih dari sehari untuk pulih dari serangan siber.

Sebaliknya, hanya 26% organisasi dengan kurang dari 10 solusi yang membutuhkan waktu lebih dari satu hari untuk pulih. Bahkan, 35% dari mereka berhasil pulih dari insiden keamanan dalam waktu satu jam.

Sudut pandang taktis tradisional terhadap keamanan siber
Terlepas dari meningkatnya kecanggihan dan dampak serangan siber, studi ini mengungkapkan bahwa mayoritas responden (41%) memiliki pandangan taktis tentang keamanan siber – “hanya” untuk melindungi organisasi dari serangan siber. Sementara hanya satu dari lima responden (19%) yang melihat keamanan siber sebagai pembeda bisnis dan enabler untuk transformasi digital.

Keamanan sebagai evaluasi: Jika keamanan siber tidak dipandang sebagai enabler untuk transformasi digital, hal itu akan merusak kemampuan organisasi manufaktur untuk membangun proyek digital yang sedari awal dirancang untuk keamanan (secure-by-design), yang mengarah pada peningkatan kerentanan dan risiko.

Studi ini mengungkapkan bahwa hanya 26% organisasi manufaktur yang pernah mengalami ancaman siber mempertimbangkan penggunaan strategi keamanan siber sebelum memulai transformasi digital. Responden lainnya berpikir tentang keamanan siber hanya setelah dimulainya proyek transformasi digital mereka atau tidak berpikir tentang keamanan siber ama sekali.

Menurut laporan pihak Microsoft, temuan ini adalah bagian dari “Understanding the Cybersecurity Threat Landscape in Asia Pacific: Securing the Modern Enterprise in a Digital World”  yang diterbitkan pada Mei 2018.*** (TIM)

Editor: Zulfikar Akbar




Photos

Dunia

Metropolitan

Sport

Refleksi

© Copyright 2019 TULARIN | All Right Reserved