TULARIN >

Headline

Kolom

Cheers

Human

Politik

09 September 2019

Polemik KPAI dan PB Djarum: Kepentingan Anak atau Sponsor?

Di luar dugaan, cuitan saya di twitter @zoelfick seputar polemik PB Djarum dengan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dan Lentera Anak, meramaikan jagat internet. Terutama konten berisikan tangkap layar terkait sponsorship dalam kegiatan KPAI dan Lentera Anak. 
Postingan itu saya unggah per hari Minggu 9 September 2019. Setelah lebih dulu saya unggah catatan pribadi dalam bentuk utas seputar pengalaman beberapa kali meliput Audisi Beasiswa PB Djarum. 
Cuitan berbentuk utas terkait pengalaman meliput audisi ini, lumayan mendapatkan sambutan publik. Sedikitnya, ada 900-an retweet untuk utas tersebut, dan mendapatkan impresi tidak kurang dari 108.585 orang. 
Namun lagi-lagi, satu unggahan terkait penyandang dana atas kegiatan KPAI dan Lentera Anak jauh lebih mendapatkan perhatian publik. Pasalnya, unggahan ini justru mendapatkan retweet hingga 7.503 kali, di samping terdapat 2.493 likes, setidaknya saat saya menulis artikel ini. 
Tentu saja, jumlah impresi pun mencapai 464.714 orang, di samping engagements terbangun tidak kurang dari 84.869. 
Apa yang saya tangkap dari sini adalah persoalan antara KPAI-Lentera Anak dengan PB Djarum, memang sedang sangat menyita perhatian publik. Sederhananya bisa dibilang, KPAI sedang salah memilih lawan. Sebab, publik akhirnya bersuara dan justru menentang mereka. 
Menariknya, mereka yang bersuara dan memilih membela PB Djarum pun tak sedikit adalah kalangan yang menentang rokok. Fenomena ini bisa ditangkap sebagai petunjuk bahwa tak sedikit juga penentang rokok yang memilih proporsional dalam melihat persoalan. 
Kenapa perlu saya singgung respons dari kelompok penentang rokok? Tidak lain, karena saat mengulik akar persoalan dan isu yang ditiupkan KPAI adalah persoalan rokok. 
Mengembalikan lagi pada unggahan terkait pendana di balik gebrakan KPAI-Lentera Anak, pasalnya  kedua lembaga ini ternyata diketahui mendapatkan sponsor yang sama, Bloomberg. Ini bisa ditelusuri lewat kata kunci Bloomberg Initiative to Reduce Tobacco Use. 
Di sanalah akan dapat ditemukan lembaga mana saja yang mendapatkan dana dari Bloomberg.
Sebenarnya tidak masalah. Terlebih kampanye yang diadakan dari dana tersebut memiliki muatan kepentingan publik untuk bisa menciptakan lingkungan bebas rokok. 
Kampanye itu sendiri, menurut laman Badan Kesehatan Dunia (WHO), memang ditujukan untuk membantu mengurangi penggunaan tembakau di negara-negara dengan pendapatan menengah ke bawah.
"The Bloomberg Initiative to reduce tobacco use is funding activities to promote freedom from smoking and reduce tobacco use in low- and middle-income countries, with special emphasis in Bangladesh, China, India, Indonesia, Russian Federation but also in other high-burden countries such as Brazil, Egypt, Mexico, Pakistan, Philippines, Poland, Thailand, Turkey, Ukraine, Vietnam," tulis laman who.int.
Persoalannya hanyalah sasaran yang diambil oleh pihak KPAI-Lentera Anak. Pasalnya, mereka terkesan menganggap sama saja antara PB Djarum, Djarum Foundation, dan PT Djarum. Inilah yang belakangan memunculkan polemik.
Belum lagi beredar surat yang lengkap dengan stempel KPAI berikut tanda tangan a.n Dr. Susanto, MA sebagai Ketua KPAI.
Tak pelak hal itu kian memantik protes dari publik dan meramaikan media sosial. Sebab, surat itu sendiri berisikan kalimat yang di-bold bahwa KPAI meminta Pimpinan Djarum Foundation untuk menghentikan kegiatan Audisi Badminton Djarum Foundation. 
Lagi-lagi, dalih yang digunakan oleh pihak KPAI dalam surat tersebut adalah melindungi anak dari segala eksploitasi industri rokok. 

Jadi, jika akhirnya Direktur Program Bakti Olahraga Djarum Foundation Yoppy Rosiman, menegaskan Sabtu lalu, bahwa pihaknya menghentikan audisi tersebut per 2020, tampaknya punya korelasi dengan surat itu sendiri.
Inilah yang menuai kecaman publik terhadap KPAI. 
Pasalnya, publik cenderung melihat bahwa PT Djarum dan Djarum Foundation adalah dua institusi yang berbeda, terlepas berasal dari rahim yang sama. Jika disederhanakan, kalau masalahnya adalah rokok, semestinya KPAI langsung saja bertarung dengan perusahaan rokok itu sendiri. Toh, yang bekerja di perusahaan rokok tersebut adalah para buruh yang sudah dewasa, bukan anak-anak. 
Sementara saat mereka menyerang Djarum Foundation, justru mereka menyerang impian ribuan atau bahkan jutaan anak-anak. Sebab mereka punya mimpi untuk dapat meraih tempat sebagai bintang dunia, seperti nama-nama sekelas Lilyana Natsir sampai dengan Kevin Sanjaja Sukamuljo. 
Sejauh ini, mau tidak mau mesti diakui, belum ada institusi seperti Djarum Foundation yang bersedia mengeluarkan biaya hingga memberikan pendampingan kepada anak-anak agar bisa mendapatkan jembatan untuk cita-cita mereka. Tidak cuma menjembatani, tetapi mereka juga sudah membuktikan diri bahwa mereka mampu mewujudkan impian tersebut.
Terlepas berbagai dalih, namun dengan berbagai bukti tersebut dan suara publik, KPAI dan juga Lentera Anak sudah sepantasnya melakukan refleksi ulang; mereka bekerja sepenuhnya untuk anak-anak atau sekadar membuat sponsor tersenyum saja?***
Penulis: Zulfikar Akbar 



  





07 September 2019

Demi "Kemerdekaan" Papua, Ibu Kota Negara Memang Perlu Dipindahkan



Setiap orang boleh menanggapi macam-macam terkait rencana pemindahan ibu kota negara ke Kalimantan Timur (Kaltim), termasuk pendapat negatif bahwa hal itu hanya untuk menghambur-hamburkan uang yang sebanyak Rp 466 triliun.

Namun menurut saya, salah satu misi pemerintah, dalam hal ini diwakili oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) memindahkan ibu kota dari Jakarta ke Kaltim yakni untuk mempercepat proses "kemerdekaan" wilayah Papua dan sekitarnya.

Presiden Jokowi sengaja mendekatkan kantornya ke wilayah Timur Indonesia supaya warga yang ada di sana segera "merdeka".

Tentu sebagian ada yang mengira istilah "merdeka" di sini adalah terpisahnya Papua dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) untuk menjadi sebuah negara.

Akan tetapi sebagian lain lagi mengira sama seperti apa yang saya maksud, yaitu bukan merdeka untuk jadi sebuah negara, makanya pada istilah merdeka saya bubuhkan tanda kutip.

Kemerdekaan Papua tidak dalam arti memisahkan diri dari NKRI, melainkan lebih kepada kebebasan untuk mengembangkan potensi wilayah, membangun sumber daya manusia, dan meningkatkan harkat derajat warga.

Saya tidak sependapat dengan sebagian orang yang 'mengompori' warga dan tokoh Papua agar memisahkan diri dari ikatan kebersamaan sebagai saudara-saudari sebangsa dan setanah air. Saya tidak yakin dengan begitu Papua akan "merdeka" sungguh-sungguh.

Jika ada orang-orang tertentu yang berkehendak mempercepat pemisahan Papua, saya menilai tujuannya buruk. Mereka hanya akan menambah penderitaan dan penjajahan terhadap Papua.

Misalnya oleh salah seorang tokoh pergerakan asal Papua yang kini sudah menjadi warga negara Inggris, Benny Wenda. Saya tidak menangkap sedikit pun niat baiknya terhadap tanah kelahirannya.

Seandainya Benny Wenda ingin membebaskan saudara-saudarinya di Papua dari 'penjajahan' yang dia maksud, mestinya tidak melarikan diri ke negara lain, kemudian menetap di sana dalam waktu lama.

Persoalan hukum yang sempat membelit Benny tidak jadi alasan baginya meninggalkan tanah air. Dia harus 'gentleman' menghadapinya, sama seperti yang dicontohkan oleh Nelson Mandela di Afrika Selatan. Benny wajib menjalani proses hukum jika memang terbukti bermasalah.

Ditambah lagi keinginan politisi senior Partai Amanat Nasional (PAN) Amien Rais yang meminta pemerintah membatalkan rencana pemindahan ibu kota.

Saya melihat Amien hanya melihat dari satu sisi, yaitu soal kerepotan dan besarnya anggaran. Betul anggarannya cukup besar, tapi sampai kapan pemindahan ibu kota dibuat terkatung-katung?

Bukankah perencanaannya sudah dibuat secara matang, yang salah satunya pertimbangan anggaran yang tidak mungkin digelontorkan banyak dalam waktu yang bersamaan?

Apa pula hubungan antara pemindahan ibu kota dengan penguasaan kedaulatan Indonesia oleh China atau Tiongkok?

Mengapa selalu berpikiran buruk terhadap salah satu negara raksasa di Asia itu? Bukankah Indonesia sudah pasti menyiapkan langkah proteksi agar aman dari ancaman negara luar?

Sekali lagi, mereka yang terus-menerus meneriakkan kemerdekaan Papua lewat referendum tidak punya niat baik. Pisah dari NKRI bukanlah solusi. Mayoritas masyarakat Indonesia masih menyayangi Papua.

Bahwa Papua dan wilayah sekitarnya belum terbebas dari banyak persoalan, itu adalah fakta. Tetapi solusi tepat adalah membicarakan bersama langkah apa yang baik untuk itu.

Maka tidak salah ketika saya mengatakan misi pemindahan ibu kota ke Kaltim tujuannya untuk "memerdekakan" Papua.

Dengan kantor pusat pemerintahan berada dekat di sana, sudah barang tentu Papua akan lebih diperhatikan.

Jangan ada yang menutup mata terhadap fakta bahwa selama beberapa tahun terakhir pemerintah memberi perhatian yang cukup kepada wilayah dan warga Papua.

Belakangan pembangunan (infrastruktur) di Papua gencar dilakukan, dana otonomi digelontorkan dalam jumlah banyak, pemberian 10 persen saham PT Freeport Indonesia untuk dikelola sendiri, kemudahan bagi pemuda-pemudi lokal untuk berkarya sebagai aparat sipil negara (ASN), dan seringnya Presiden Jokowi berkunjung ke sana.

Adakah presiden-presiden sebelumnya bertindak sama seperti yang dilakukan Presiden Jokowi ke Papua? Saya rasa belum pernah ada.

Bukan memuji, baru di zaman Presiden Jokowi, Papua betul-betul diperhatikan. Dan hal itu telah dimulai sepanjang ibu kota negara masih berlokasi di Jakarta.

Saya sangat menyayangkan manuver individu atau kelompok tertentu yang tampaknya menyudutkan pemerintahan Presiden Jokowi. Padahal apa yang diperbuat Jokowi sungguh mulia. Bagi beliau, warga Papua adalah 'anak emas'.

Mengapa hanya gara-gara konflik mahasiswa asal Papua dengan warga Surabaya akhirnya Presiden Jokowi yang disalahkan? Selanjutnya menghembuskan referendum? Mengapa ada yang tega berbuat brutal tak karuan? Jelas itu salah!

Saya berdoa semoga saja pemindahan ibu kota negara segera terwujud. Kalau ditanya apakah saya sepakat, jawabannya iya dan tidak. Saya sekarang tinggal di Jakarta, dan bila mau mengurus sesuatu lebih cepat, apalagi hubungannya dengan pemerintah pusat. 

Saya tidak ingin Presiden Jokowi dan jajarannya harus berkantor jauh dari tempat tinggal saya. Saya juga sebenarnya iri, daerah saya di wilayah paling Barat Indonesia bakal semakin jauh dengan ibu kota negara di banding wilayah Tengah dan Timur Indonesia.

Tapi wajib diketahui, ketidakinginan dan rasa iri saya itu lebih kepada keegoisan pribadi semata. Saya hanya mau mempertahankan kenyamanan diri sendiri.

Sama seperti mereka yang tinggal di wilayah Timur Indonesia, saya harus merasakan betapa susah dan nikmatnya berkunjung ke ibu kota (yang baru nantinya). Mereka berhak merasakan apa yang pernah saya alami. Ini untuk urusan kepentingan pribadi.

Lebih dari itu, pindahnya ibu kota akan mempercepat pembangunan yang merata, yang selama ini ternilai 'jomplang' antara Timur, Tengah, dan Barat wilayah Indonesia.

Terakhir, mari berhenti berniat buruk demi terpisahnya Papua dari NKRI. Tidak ada yang lebih buruk bagi Papua ke depan selain penderitaan dan penjajahan yang berkepanjangan.

Marilah kita bergandengan tangan dan saling bahu-membahu agar sama-sama kuat menjalani hidup yang telah dianugerahkan Tuhan.

Jika ada saudara-saudari kita yang belum maju, tugas kita adalah membantu, bukan malah 'menendang' mereka keluar.

Salam persatuan!

Foto: Presiden Joko Widodo di Kampung Kayeh, Papua (kompas.com) 

Aku, Dewi di Pulau Dewata


Pantai menjadi tempat paling mewakili segala cerita tentangku. Terkadang tenang, hingga jadi incaran banyak orang yang mencari ketenangan. Tak jarang juga mengganas, hingga banyak yang tenggelam hingga sulit untuk menepi.

Selayaknya pantai, kuakui, banyak wajah telah kuusap dengan kesejukan belaianku. Seperti halnya pantai, telah banyak tubuh kurangkul dalam hangat pasir-pasirku. Juga, sebagaimana pantai, telah banyak teriakan kepuasan hingga ketakutan di sisi tubuhku. 

Aku perempuan. Ya, aku perempuan yang jatuh cinta pada pantai, tapi mampu bikin banyak orang justru jatuh cinta kepadaku. Terkadang kubikin mereka menangis, tapi tak jarang justru aku sendiri yang terpaksa harus menangis. Terkadang kubikin mereka tertawa, tetapi sering juga aku sendiri yang justru tak bisa tertawa. 

Saat mereka menangis, gundah, resah, mereka mencariku. Sedangkan ketika aku yang menangis, gundah, atau resah, aku justru cuma bisa mencari pantai. Terkadang aku hanya duduk saja di berbagai pantai untuk menikmati suara persetubuhan air laut dengan pasir, hingga tercipta irama serupa desahan. 

Seperti halnya di pantai, terkadang dalam desahan yang tercipta dari persetubuhan air laut dan pasir, juga membawa onggokan sampah. Ya, banyak yang melempar sampah ke laut, namun sampah-sampah itu dibawa kembali oleh laut ke pantai, dan pantai menyimpannya di balik pasir. Duri-duri pun banyak tersembunyi, hingga ada juga yang tak sengaja menginjaknya. Berdarah. Teriak, hingga ada yang merutuk-rutuk tidak jelas. 

Sama juga sepertiku, yang kerap menyembunyikan banyak cerita di sana. Dari bagaimana aku jatuh cinta hingga bercinta, hingga aku berpura-pura lupa segala cerita. 

"Halo, aku lagi di pantai," kataku sekali waktu di salah satu pantai di Pulau Dewata. Di sana, aku sebenarnya tidak peduli apakah benar-benar bersemayamnya para dewa, namun di sanalah aku bisa tetap diperlakukan siapa saja bak dewi.

Seperti di hari ketika aku menelepon kekasihku, maksudku, aku bisa meyakinkannya bahwa dia adalah kekasihku, sebenarnya aku tidak sendiri. Aku memiliki seseorang yang mampu memperlakukan aku benar-benar tidak ubahnya seorang dewi. Ia tidak mengajakku banyak berbasa-basi, tapi ia mampu bikin aku melayang berkali-kali. 

Ini yang tidak leluasa kudapati dari lelaki yang kusebut kekasih tadi. 

Oya, ceritaku kuawali dari sini, dan nanti akan ada banyak cerita kusambung lagi. Sementara kuakhiri di sini, untuk memperkenalkan bagaimana aku menulis cerita hidupku selayaknya buih-buih melukis di bibir pantai berpasir. 

Apakah kelak aku adalah pantai itu sendiri atau aku hanya sekadar pasir, tidaklah terlalu kupusingkan.

Sebab, apa yang paling kupentingkan adalah aku bisa bercerita, berkata-kata, menuangkan apa saja, dari tawaku dari pantai ke pub atau klub malam, atau desahanku di bibir pantai hingga ke hotel berbintang sampai hotel-hotel termurah. Tunggu sebentar, nanti aku kembali.***

Penulis: Zulfikar Akbar
Foto: Pixabay

Perguruan Tinggi Jadi Sentral Pertumbuhan Startup


Tularin.com | Tangerang - Beberapa universitas Indonesia menjadi partner Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) untuk program bertajuk Digital Talent Scholarship (DTS).

Hal itu juga disinggung oleh Menteri Kominfo Rudiantara, Jumat (6/9/2019). Saat tampil berbicara di acara Indonesia Writers Festival 2019 di Universitas Multimedia Nusantara (UMN), Tangerang, ia menyebutkan bagaimana perguruan tinggi di luar negeri pun menjadikan kampus sebagai pusat pertumbuhan startup.

"Salah satu ekosistem tumbuhnya startup itu adalah universitas, perguruan tinggi," kata Rudiantara. "Di mana-mana di dunia begitu."

Terkait program DTS sendiri, menurutnya, menjadi salah satu contoh pertumbuhan ekosistem startup di Indonesia. Maka itu pemerintah melalui Kemkominfo menggandeng beberapa universitas ternama sebagai partner.

Menurutnya, sejauh ini sudah ribuan alumni lahir dari program tersebut. "Program DTS telah melahirkan ribuan alumni, diharapkan menjadi salah satu wujud pertumbuhan startup di kalangan milenial," Rudiantara menambahkan.

Ia juga menunjukkan bagaimana negara-negara lain bekerja sama dengan pihak kampus untuk menciptakan ekosistem atau talenta milenial. Sebut saja Universitas Stanford hingga ke kampus-kampus di India dan Tiongkok.

"Di Tiongkok, bukan hanya perguruan tinggi, tapi ekosistem inkubator, akselerator, dan lain sebagainya," ia memberikan contoh.

Rudiantara juga menegaskan bahwa startup memang lebih merepresentasikan koperasi, bukan korporasi. "Karena startup itu pada umumnya berpikir kolaborasi, memanfaatkan ekosistem," ujar dia. "Startup tidak seperti tukang bakso yang melakukan A sampai Z sendiri."

Lebih lanjut ia juga menjelaskan kenapa koperasi lebih meyakinkan untuk startup dibandingkan korporasi.

"Kalau korporasi itu juga pendekatannya adalah kuat-kuatan modal. Sedangkan startup lebih kepada koperasi, kerjasama. Kolaborasi memanfaatkan ekosistem," ia menggarisbawahi. "Jadi, tidak semuanya dilakukan oleh Kominfo, justru yang dilakukan orang lain itu menjadi bagian ekosistem kita." (Ed)

Editor: Zulfikar Akbar

01 September 2019

Praja 2019 Buktikan Koperasi Bisa Selaras dengan Era Teknologi Informasi


Jakarta | Tularin.com - Apakah Anda masih merasa asing dengan istilah ini? Istilah-istilah itu adalah Internet of Things (IoT) dan Artificial Inteligence (AI). Bagi kalangan milenial, kedua istilah ini sama sekali tidak asing lagi. Setidaknya inilah yang tertangkap dari paparan Chairman Multi Inti Sarana (MIS) Group Tedy Agustiansjah, Rabu (28/8/2019) lalu.

Itu juga yang diungkapkan dalam acara Peluncuran PRAJA 2019 di JW Marriot, saat itu. Tak terkecuali di dunia koperasi. Pasalnya, koperasi dinilai telah menunjukkan gejala peningkatan kualitas yang luar biasa berkat kerja sama dari berbagai pihak.

Tercatat, berkat reformasi total koperasi, sejauh ini telah berhasil meningkatkan PDB Koperasi terhadap PDB Nasional. Bila tahun 2014 PDB Koperasi hanya 1,71%, pada tahun 2018 sudah meningkat menjadi 5,1%.

Tak hanya itu, melainkan juga dibuktikan lagi dengan berkembangnya koperasi-koperasi besar yang memiliki usaha dan mutu layanan yang lebih baik. Bahkan tak sedikit yang telah mendapatkan apresiasi dari organisasi dunia.

Menurut Teddy, fenomena ini menjadi inspirasi bagi bangsa Indonesia, bahwa koperasi bisa hidup di dalam perekonomian modern yang sarat teknologi.

Saat ini isu revolusi industri 4.0 menuntut setiap badan usaha untuk mampu mengikuti perkembangan. Revolusi terjadi dengan fokus pada Internet of Things (IoT) dan Artificial Intellegence (AI).

Alasan itulah sehingga dinilai saat ini diperlukan gebrakan untuk mendorong kalangan milenial memberikan terobosan baru di dunia koperasi dan bisnis model yang memanfaatkan teknologi untuk mengembangkan usaha ke depannya.

“Kami percaya bahwa koperasi akan selalu menjadi pilar ekonomi bangsa Indonesia. Bahkan, saat ini terasa sangat relevan dengan esensi bisnis zaman now, yaitu Ekonomi Kolaborasi," Tedy menjelaskan. "Oleh karena itu, menjadi sangat strategis untuk bisa memahami dan menempatkan koperasi dalam konteks tantangan kekinian dengan melakukan transformasi organisasi."

Sekretaris Kementerian Koperasi dan UKM RI Prof. Dr. Rully Indrawan pun menegaskan bahwa koperasi saat ini tengah berada dalam fase menghadapi tantangan untuk melakukan reposisi.
Sosok yang juga Ketua Dewan Juri PRAJA 2019 ini menggarisbawahi, bahwa fase ini menjadi sangat penting sebagai persiapan berikutnya menghadapi tantangan reinkarnasi eksistensi organisasi koperasi.

Menurut Prof. Rully, koperasi tidak lagi hanya bercirikan berbentuk badan hukum koperasi. "Namun harus dikembangkan dalam spirit kolaborasi yang menjadi pondasi perubahan model bisnis yang sedang terjadi saat ini: Ekonomi Kolaborasi," katanya, menjelaskan.

Ia juga menegaskan bahwa memanfaatkan teknologi digital adalah model bisnis kekinian yang banyak dilakukan oleh kalangan milenial.

Tak ketinggalan, Chief Information Officer MIS Multi Inti Digital Bisnis (MDB) Subhan Novianda mengingatkan juga arahan Presiden Joko Widodo yang mendorong kegiatan perekonomian berbasis teknologi (digital economic).

Menurut Subhan, arahan tersebut harus dijawab dengan mengubah paradigma bisnis jika koperasi masih ingin bertahan dan eksis di era digital.

Persaingan bisnis bagaimanapun telah bergeser menjadi kemitraan bisnis, di mana peluang bisnis digarap melalui kemitraan yang mengedepankan value chain.

“Koperasi di era industri 4.0 harus memiliki website atau aplikasi yang memudahkan anggota dan pengurusnya saling berhubungan. Pelayanan kepada anggotanya dilakukan secara online. Pembelian barang, peminjaman, cek SHU, dan sebagainya saatnya dipermudah dengan layanan online,” sebut Subroto, anggota Dewan Juri PRAJA 2019.

Selaras dengan Subroto, Subhan mengatakan bahwa MDB mengembangkan aplikasi finansial bagi koperasi secara online bernama coopRASI. Melalui aplikasi ini anggota dapat melihat simpanan, pinjaman, hingga Sisa Hasil Usaha (SHU) melalui smartphone. Diharapkan dengan aplikasi ini operasional koperasi dapat dilakukan secara digital dan praktis.

Berbagai kisah sukses koperasi dan kewirausahaan telah bermunculan dari berbagai penjuru Tanah Air. Lebih dari 400 karya jurnalistik pernah terkumpul dari puluhan media massa di Indonesia melalui ajang kompetisi PRAJA 2018 yang diinisiasi oleh Multi Inti Sarana Group (MIS Group), sebuah kelompok usaha yang juga memiliki komitmen mendorong tumbuhnya koperasi digital di Indonesia.

Kini kompetisi PRAJA 2019 hadir kembali untuk menjadi jendela informasi dan inspirasi gerakan perkoperasian di Indonesia dalam merespons proses transformasi ekonomi di Indonesia; yang ditandai oleh ketersediaan infrastruktur yang baik serta semangat transparansi pemerintahan yang semakin kuat dalam mentransformasi etos kerja bangsa Indonesia melalui revolusi mental agar kualitas dan kemampuan anak bangsa bisa sejajar bahkan lebih dari negara lain.

“PRAJA 2019 menyuguhkan sisi bisnis positif koperasi yang selama ini luput dari pengamatan masyarakat. Bagi generasi milenial, koperasi bisa menjadi alternatif terhadap penumbuhan iklim bisnis yang baru karena basisnya sudah lebih dulu tumbuh di tengah mereka, yaitu kekuatan komunitas,” jelas Irsyad Muchtar, Pakar Koperasi yang juga anggota Dewan Juri PRAJA 2019.

Pada ajang kompetisi PRAJA 2019 terdapat lima kategori yang dikompetisikan, yaitu Karya Tulis Jurnalistik, Karya Foto Jurnalistik, Karya Video Kreatif, Karya Tulis Blog, dan Ide Bisnis Koperasi.

Karya yang diikutsertakan harus sudah dipublikasikan di media massa dan/atau media sosial peserta selama periode 1 November 2018 hingga 20 Oktober 2019. Pendaftaran dan pengiriman karya dimulai sejak 28 Agustus sampai dengan 22 Oktober 2019 melalui microsite praja2019.multiintisarana.com. Total hadiah mencapai 204 juta rupiah.

Pemenang kompetisi PRAJA 2019 akan diumumkan melalui akun media sosial PRAJA 2019, yaitu Instagram @praja.misgroup, Twitter @prajamisgroup, dan Facebook PRAJA MIS GROUP, serta website multiintisarana.com. Malam Penganugerahan PRAJA 2019 akan diadakan pada tanggal 28 November 2019 di The Sultan Hotel Jakarta dan akan disebarkan melalui situs web multiintisarana.com dan media sosial PRAJA MIS Group.***


Sorotan Khusus
Dewan Juri PRAJA 2019 terdiri dari:

Prof. Dr. Rully Indrawan – Sekretaris Kementerian Koperasi & Usaha Kecil dan Menengah RI
Asnil Bambani – Ketua AJI Jakarta & Redaktur Tabloid Kontan
Hariyanto Boejl – Kepala Divisi Foto dan Artistik Media Indonesia
Irsyad Muchtar – Pakar Koperasi & Pemred Majalah Peluang
Ita Luthfia – Head of Corporate & Marketing Communication MIS Group
M Kh. Rachman – Pakar Koperasi dan Kewirausahaan & CMO Sygma Innovation
Saptono Soemardjo – Senior Photo Editor ANTARA
Sheila Timothy – Produser Film, Pendiri Lifelike Pictures
Subroto – Redaktur Pelaksana Republika


05 Agustus 2019

Menelusuri Bisnis Properti di Sayap Kampus UI

Satu kata, "terbaik" kerap menjadi inspirasi bagi banyak orang. Tak terkecuali di ranah properti, Universitas Indonesia yang merupakan salah satu kampus terbaik di Tanah Air, mengilhami salah satu pengembang untuk mendirikan hunian yang berangkat dari inspirasi tersebut.

Berada di apartemen Grand Taman Melati Margonda 2 (GTM Margonda 2), hampir bisa dipastikan akan melemparkan Anda pada keyakinan; betul juga, kata terbaik takkan sekadar menjadi kata-kata. Ya, ketika ia tak berhenti di sana, namun mengalir ke dalam konsep dan karya yang selaras dengannya.

GTM Margonda 2 adalah salah satu bukti dari keselarasan tersebut. Mereka tidak hanya menerapkan konsep hunian sebagaimana apartemen umumnya. Namun ada sentuhan yang khas, selaras dengan pasar yang mereka kejar, yakni kalangan terpelajar.

Tampaknya mereka sangat menyadari bahwa kalangan terpelajar memiliki taste tersendiri, tak terkecuali dalam memilih hunian. Maka itu, dari pintu masuk, lobby, sampai dengan atmosfer diciptakan lewat tata letak, dekorasi, dan pilihan warna tiap bagian bangunan memiliki banyak sentuhan seni dengan karakter yang kuat.

Artistik, homey, dan kental taste anak muda, akan sangat terasa dari bangunan yang berada persis di seberang Stasiun Universitas Indonesia tersebut.

Jika Anda ke lokasi dengan menggunakan Commuter Line dari arah Jakarta, maka apartemen tersebut persis bersitatap dengan titik di mana Anda menapak kali pertama setelah turun dari gerbong kereta. Sedangkan jika Anda berada di lantai atas apartemen ini, maka kehijauan yang menjadi pemandangan khas Universitas Indonesia dapat Anda nikmati.

Mesti diakui, posisi di mana apartemen tersebut berdiri memang sangat strategis. Maka itu, tidak berlebihan jika melihat brosur-brosur penawaran apartemen tersebut, akan ditemukan empat hal yang ditawarkan kepada calon pembeli; berlokasi tepat di gerbang Kota Depok, dekat dengan kampus universitas ternama, dekat dengan pusat perbelanjaan, dekat dengan sarana transportasi umum.

Saya pribadi, saat berada di sini sempat bermatematika sendiri, "Pastilah harga yang mesti dibayar untuk pembebasan tanah apartemen ini sangat tinggi, nih!"

Ya, gimana nggak, posisi apartemen ini persis di sisi jalan raya dan berhadapan langsung dengan Universitas Indonesia yang sepanjang masa memang menjadi kampus paling diburu di dunia pendidikan. Belum lagi dengan kemudahan akses ke mana-mana, menjadi kelebihan sendiri dan ini memang sering jadi acuan bagi siapa saja yang ingin mendapatkan hunian yang nyaman.

Kejelian memilih posisi dan lokasi ini sekilas sangat dapat dimaklumi. Pasalnya kehadiran apartemen ini tidak lepas dari nama besar pengembang sekelas PT Adhi Persada Properti (APP). Sementara APP sendiri adalah anak perusahaan Adhi Karya (Persero) Tbk, yang punya sejarah panjang di ranah properti di Tanah Air.

Belum lagi riwayat yang menunjukkan bahwa APP sendiri pun sebelumnya sudah menorehkan prestasi tersendiri di dunia pengembang. Pasalnya, mereka sudah menancapkan kukunya di berbagai kawasan di Indonesia.

Sebagai catatan, APP juga tercatat pernah jadi pengembang untuk berbagai apartemen dekat kampus. Bagi Anda di Jawa Barat, misalnya, apartemen Taman Melati Jatinangor menjadi salah satu bukti hasil kerja perusahaan tersebut.

Tak terkecuali di Yogyakarta, pun terdapat Taman Melati Yogyakarta Sinduadi, yang berada dekat dengan Universitas Gajah Mada.

Begitu juga di Surabaya, pun terdapat MERR yang berada di dekat Univesitas Airlangga (Unair).

Di sisi lain, GTM Margonda 2 sebagai apartemen teranyar mereka dirikan dan pasarkan kali ini adalah hasil pengembangan dari apartemen sebelumnya, GTM Margonda 1, yang juga berada di lokasi bersisian.

Sebelumnya, GTM Margonda 1 mencatat kesuksesan tersendiri. Terbukti, dua tower yang mereka bangun tersebut, seluruhnya terjual. Maka itu, optimisme ini juga yang membuat mereka berani mengembangkan apartemen dengan gaya tersendiri, dengan inovasi yang dipastikan lebih baik.
Salah satu spot di GTM 2
Nuansa dan sensasi eksklusif  sekaligus aman yang mereka tawarkan, di samping berbagai pilihan kamar pun tersedia, membuat GTM Margonda 2 punya kemampuan "menggoda" yang berbeda.

Belum lagi karena di dalamnya pun terdapat student center yang dikemas dengan nuansa dan sentuhan seni yang mampu membuat siapa saja betah.

Selain itu, juga terdapat berbagai fasilitas untuk olahraga, diskusi, dan berbagai hal yang dapat menjawab kebutuhan kalangan milenial.

Tampaknya dapat dimaklumi jika berkaca pada GTM Margonda 1, selama ini yang paling banyak mengincar hunian tersebut berasal dari kalangan menengah ke atas di seputar Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek).

"Memang, ada sih dari luar Jawa, seperti dari Sumatra atau bahkan Kalimantan, yang juga mengincar hunian ini. Namun sejauh ini, bisa dibilang, sebagian besar pembeli kami berasal dari Jabodetabek," kata Project Director GTM 2 Elvira Wigati.

Saya pribadi cuma terpikir, semestinya dari luar Jabodetabek pun memiliki gairah berinvestasi yang juga tinggi. Sebab, saat melihat dan mendengar seputar apartemen ini, di benak saya cuma terpikir, hunian ini dapat menjadi sasaran investasi paling tepat. Pasalnya, meskipun membutuhkan uang dalam jumlah besar untuk mendapatkan hunian ini, namun hampir bisa dipastikan dapat membawa keuntungan besar.

Terlebih untuk hunian seperti ini, saya pribadi meyakini takkan hanya jadi buruan kalangan "om-om" yang ingin punya hunian baik untuk anak-anaknya yang menempuh pendidikan di kampus sekelas UI. Namun, kalangan milenial pun saya yakini dapat saja berinvestasi untuk hunian di sini.

"Emang milenial punya duit?" Lha, jangan salah, tak sedikit kalangan milenial hari ini yang memiliki penghasilan yang jauh di atas orang tua mereka sendiri!

Maka itu, menyimak sentuhan seni arsitektur dan berbagai kelebihan ditawarkan apartemen ini, tampaknya tempat ini dapat saja menjadi sasaran kalangan muda yang ingin berinvestasi tanpa menunggu cuan dari orang tua.*

(Sumber Foto: BCC/Monica, Yayat, Deny)


16 Juli 2019

Meramal Dunia Sains: Ke Masa Depan atau Masa Lalu?


Dunia kedokteran ke depan akan lebih banyak bergantung di tangan fisikawan ketimbang ahli biologi. Bahkan ahli biologi pun, mau tidak mau, harus memperdalam pengetahuannya tentang fisika. Dengan catatan, kalau ingin menukik lebih dalam ke biologi molekuler.

Kemajuan teknologi bukan dihasilkan dengan pengulangan pendapat-pendapat lama, tapi karena adanya bedes-bedes yang berani mengajukan pendapat-pendapat baru.

Pengulangan pendapat-pendapat lama tidak akan mengantar kita pada kemajuan, tidak hanya jalan di tempat, mungkin malah kembali kembali ke zaman lampau.

Nah, seberapa berani kita bertanya tanpa dikungkung oleh batasan-batasan yang kita buat sendiri? Dan, seberapa dalam kita berani menjawabnya?

Biologimolekuler misalnya, meskipun dasarnya juga biologi, tapi perspektifnya sama sekali baru. Ia  lahir dari inovasi--bid'ah, bahasa arabnya

Dengan biologimolekuler, yang maju pesat 50 tahun terakhir ini, genetika bisa mengungkap bagaimana cara gen mewariskan informasi dari generasi ke generasi

Bahkan biologimolekuler sangat "berjasa" mendorong teori seleksi alam Darwin jadi lebih superior

Kajian genetika menunjukkan hal ini. Tanpa biologimolekuler mustahil kita bisa menguak, bagaimana penguasa-penguasa genetik yang bersemayam dalam inti sel mengatur kehidupan kita. Selain, juga untuk masuk ke dunia biologi molekuler akan mustahil tanpa ilmu fisika yang lebih dalam

Di setiap sel organisme, tidak terkecuali manusia, terdapat inti sel yg disebut nukleus. Di dalam nukleus terdapat seperangkat genom.

Dalam genom inilah "gerombolan" gen-gen yang mahakuasa (dan sejauh ini mereka immortal) mengatur kehidupan tiap individu organisme.

Seperti pada organisme lain, Homo Sapiens punya genom yang terdiri dari sepasang kromosom , kecuali pada sperma dan sel telur,  hanya punya separuh pasangan.

Kecuali pada sel darah merah, di dalamnya tak ada genom, karena sel darah merah tidak mempunyai nukleus (inti sel).

Pada bedes sapiens setiap genomnya terdapat 23 pasang kromosom. Di setiap kromosomnya ada ribuan gen yang didalamnya berisikan instruksi-instruksi genetik.

Informasi yang berada dalam gen pada dasarnya merupakan  instruksi "petunjuk pelaksanaan" dan "petunjuk teknis" membuat suatu protein.

Istilah mutasi, awalnya digunakan untuk menggambarkan semua perubahan acak. Di era genetika  mutakhir seperti sekarang, definisinya jadi lebih jelas.

Mutasi tak hanya merujuk pada kondisi yang disebabkan "kesalahan kecil" tehadap DNA. Melainkan, bisa juga keseluruhan kromosom hilang atau tergandakan.

Mutasi yang berupa "kesalahan" besar, akan menghasilkan perubahan besar pada cara-cara sel bekerja, sehingga sangat berbeda dengan sel induknya.

Tapi mutasi yang terlalu besar akan bersifat lethal, keturunan yang dihasilkan tidak bisa bertahan hidup. Setiap kodon (kode genetik; red) dibentuk oleh 3 dari 4 basa yang  ada. Mutasi bisa terjadi di setiap kodon.

Secara umum mutasi tidak membahayakan hidup organisme, asalkan tidak terlalu besar persentasenya. Kalau terlalu besar, ya itu tadi, lethal alias matilah keturunan yang dihasilkan.

Sebagai contoh, pada Homo Sapiens mutasi yang terjadi umumnya mencapai 100 kodon tiap generasi, sedangkan pada genom manusia ada kira-kira satu miliar kodon.

Maka itu pengaruh mutasi pada setiap generasi umumnya tidak banyak. Kalau terlalu banyak mutasi bisa merupakan kesalahan yang mematikan.

Jadi, ya, jangan mengkhayal ada bedes mutant bisa jadi X-men

Ya nggak gitu juga cara maen mutasi jaenaaaal!

Ada beberapa pengecualian yang perlu diperhatikan:

1. Tidak semua gen terdapat dalam kromosom utama, sebagian kecil berada di mitochondria

2. Tidak semua gen disusun DNA, bbrp adlh RNA contoh:virus. 

3. Tidak semua gen adalah resep untuk protein, ada yang ditranskrip jadi RNA saja.

4. Tidak smua reaksi dikatalisasi oleh protein, sebagian oleh RNA.

5. Tidak semua protein berasal dari gen tunggal, ada yang gabungan beberapa buah gen.

6. Tidak semua DNA mengekspresikan gen. Kebanyakan hanyalah urutan yang acak/berulang tanpa aturan dan tidak pernah ditranskrip, disebut junk DNA.

Tapi, mutasi pun bukanlah satu-satunya sumber sifat baru dalam biologis. Perkawinan faktor-faktor yang sudah ada sama produktifnya dengan penggantian faktor-faktor baru.

Populasi secara keseluruhan adalah sumber variasi sifat-sifat biologis yang tidak ada habisnya, meski seandainya (ini seandainya) tidak ada mutasi.

Tanpa mutasi pun, penyusunan kembali genotip (faktor-faktor genetika) yang berjalan dengan bantuan reproduksi seksual, merupakan sumber varian-varian baru.

Nah, sejauh ini kajian biologi molekuler genetika telah banyak membantu menjelaskan detail terkait seleksi alam pada teori evolusi Suhu Darwin. Ya sudah, gitu aja.***

Penulis: Dr Roslan Yusni (Ryu Hasan) Sp. BS
Editor: Zulfikar Akbar

15 Juli 2019

Jokowi dalam Lukisan Tangan Cefi sang Buruh Pabrik


Sebuah lukisan berlatar hitam dan putih menjadi perbincangan di media sosial. Lukisan tersebut bergambar Presiden Joko Widodo dengan ekspresi serius, lengkap dengan tatapan tajam. Lukisan itulah yang ingin diberikan oleh Cefi Purnama, seniman di balik lukisan dengan guratan kuat tersebut.

Cefi berterus terang, bahwa lukisannya tersebut dibuat olehnya hanya di sela-sela pekerjaan utamanya sebagai seorang buruh pabrik. Alhasil, butuh waktu hingga tiga pekan hingga lukisan ini selesai. 

Awalnya, menurut pengakuan pria beranak tiga dan berdomisili di Sepatan, Tangerang tersebut, lukisan ini memang dibuat untuk ia koleksi sendiri. Namun setelah dipikir-pikir, ia ingin juga dapat menghadiahkan lukisan tersebut kepada Presiden Jokowi sendiri.

Sebab, bagi dia, adalah sebuah kebanggaan besar dirinya sebagai seorang buruh pabrik jika hasil karyanya bisa berada di tangan pemimpin yang ia kagumi. 

"Ya, saya sangat mengagumi beliau. Saya suka dengan kepribadian beliau yang sederhana dan merakyat," kata dia, sekaligus menegaskan alasan kenapa dirinya mengidolakan sosok yang kini akan memimpin Indonesia untuk kali kedua. 

Menurut dia, kepribadian itulah yang membuatnya kagum sekaligus merasakan ada keteladanan yang bisa ia ambil sebagai rakyat biasa. Maka itu, tiga pekan ia habiskan untuk melukis wajah close up Jokowi, ia tidak merasakan beban. Sebab, gurat demi gurat lukisan itu ia alirkan di atas kertas brief card berukuran 60x80 cm ini dengan segenap perasaannya, karena dorongan kekaguman kuat terhadap Jokowi.

Cefi menuangkan imajinasinya dan keahliannya hanya dengan menggunakan pensil arang dan juga bubuk oyan yang biasa digunakan sebagai pewarna pernis.

"Jadi, begitu pulang dari kerjaan--di pabrik--saya manfaatkan untuk melukis beliau," katanya. Meskipun kesehariannya dilelahkan dengan pekerjaan di pabrik, namun kelelahan itu tidak lantas membuatnya juga lelah untuk melukis dan melukis hingga lukisan itu pun finis menjelang akhir tahun lalu.

Saat ditanya kenapa baru sekarang ia ingin memberikan lukisan yang dituntaskannya pada tahun lalu itu? Cefi yang mengaku sudah belajar melukis sejak Sekolah Dasar ini ingin supaya lukisan tersebut dapat menjadi hadiah kemenangan bagi Presiden Jokowi. Maka itu, setelah memastikan Jokowi menang, ia lantas ingin menepati janjinya tersebut.

Maka itu, lewat akun media sosial twitter, @cefipurnama, ia mengunggah hasil karyanya tersebut. 

Di cuitannya itu juga ia menuliskan keinginannya agar bisa memberikan buah tangannya itu kepada orang nomor satu di Tanah Air tersebut.

"Ingin rasanya saya bisa memberikan lukisan saya ini langsung kepada beliau (Jokowi), dan bisa bertemu langsung dengan beliau. Sebagai rasa bangga saya terhadap beliau. Meski hanya lukisan sederhana, tapi (kesempatan bisa memberikan langsung kepada beliau) sangat berarti buat saya," tulisnya di akun twitternya.

Cefi sendiri kini sudah berusia 37 tahun. Sehari-hari masih berkutat dengan pekerjaannya sebagai buruh pabrik. Sekaligus, ia juga mengisi waktunya dengan melukis. Jika ada pesanan untuk melukis, maka ia terbiasa menggarap lukisan pesanan itu kala waktu liburan atau sepulang dari pekerjaannya di pabrik.

Maka itu, dalam menyelesaikan lukisan ini, Cefi membutuhkan waktu hingga tiga pekan. Lumayan menguras tenaga, namun ia menikmati itu lantaran ia sendiri melihat bagaimana pemimpin yang ia kagumi tersebut pun adalah figur yang gigih bekerja tanpa lelah. 

Baginya, lukisan itu sangat bermakna karena di sana tidak hanya ia mencurahkan nilai keringatnya sebagai rakyat yang bekerja sebagai buruh pabrik. Di sana juga ia menuangkan perasaan cintanya kepada sosok Jokowi yang baginya adalah inspirasi untuk tidak berhenti bekerja keras. 

Terlebih ia sendiri memiliki tiga orang anak, dan menyimpan harapan agar anak-anaknya tersebut kelak menjadi anak yang memiliki semangat berpikir baik seperti pemimpin dikagumi sang ayah. Cita-cita itu juga yang ingin disampaikan lewat lukisan yang ingin sekali dapat ia berikan langsung kepada Presiden Jokowi. 

Tentu saja, untuk sebuah hasil keringat sang buruh pabrik yang memiliki bakat lukis istimewa ini, sangat pantas didoakan bisa mendapatkan cita-citanya. Ya, cita-cita seorang rakyat, yang ingin bersua pemimpin yang dikaguminya. Semoga.***

Penulis: Zulfikar Akbar

13 Juli 2019

Kenapa Jokowi Dikagumi?

Sosok bapak beranak tiga ini mungkin tidak setampan mantan pacarmu, Mbak. Ia juga tidak sekekar suamimu, Bu.
Jokowi yang acap dilecehkan dengan panggilan sebagai "Jae" hingga "Ngaciro" pun bukan orang yang gemar memamerkan mata melotot dan urat leher menegang.
Bahkan saat ia tahu sebagian rakyatnya melecehkannya, istrinya, anaknya, sampai ibunya, ia hanya menatap dengan mata teduhnya. "Mereka semua tetap saudara satu bangsa dengan saya," katanya, lirih.
Ya, dia sama sekali tidak tertarik untuk unjuk kuasa. Tidak mentang-mentang, "Gue orang nomor satu di negara ini!" Tidak! Ia tidak begitu.
Ia meneladani Muhammad, pembawa ajaran Islam yang saat dilempari tahi unta pun masih mendoakan dengan kebaikan. Baginya, memimpin adalah memberi teladan.
Sebagai manusia, ia bisa merasakan sedih, kecewa, dan terluka. Sudah berpikir keras, bekerja keras, masih saja diremehkan dan dilecehkan.
Bahkan, ada saja yang menganggap orang yang cuma bisa menjual nama besar keluarga dan--bisa dibilang-- belum menunjukkan kerja apa-apa sebagai orang lebih baik sebagai penggantinya.
Ada saja yang memilih memuja orang yang baru sekadar lihai bicara, baginya tidak apa-apa. Ia tetap memilih berbicara dengan apa adanya, seadanya, dan menolak mengada-ada. Baginya ada yang jauh lebih penting daripada sekadar lihai berbicara, yakni bagaimana bisa lihai bekerja.
Ia tahu, negerinya pernah dimuncrati ludah banyak pemimpin yang lihai bicara saja. Maka itu, ia memilih tidak perlu lagi memamerkan gaya pemimpin yang mengandalkan mulut, tapi benar-benar mengandalkan keringat.
Ia paham, bahwa yang perlu ditularkan kepada rakyatnya bukan lagi sekadar bicara. Sebab, satu rumah saja takkan bisa terbangun hanya dengan mulut saja, apalagi membangun sebuah negara.
Ia mengerti, untuk bisa membangun sesuatu membutuhkan pikiran yang tepat, yang bisa dikerjakan, dan bisa diukur, hingga bisa direalisasikan. Terlalu banyak berkata-kata hanya akan mengurangi kesempatan bekerja. Maka kalaupun ia berbicara, maka yang ia bicarakan adalah bagaimana bekerja.
Sebab, ia memaklumi, di negerinya banyak yang polos mencerna makna cerita dongeng pengantar tidur; ada candi yang semalam langsung jadi, atau perahu raksasa yang bisa selesai sebelum subuh. Alhasil, banyak yang melupakan arti keringat, makna kerja, dan bagaimana melihat jelas sebuah proses.
Banyak yang memilih mencibir, melecehkan, menghina karena ia tidak bisa menyulap negeri ini menjadi "raksasa" hanya dalam semalam. Ia memilih bekerja dalam cibiran hingga hinaan.
Tidak mudah. Jangankan membangun negara, tukang bangunan saja takkan mudah bekerja jika pemilik rumah selalu saja merecoki dan terlalu banyak bicara. Bisa jadi, mereka akan memilih mengambil cangkul dan melempar ke muka orangnya, "Sudah! Kaubangun saja sendiri! Mulutmu lebih besar daripada upahku!"
Tidak. Ia justru tidak begitu.
Ia cuma meminta supaya orang-orang di negaranya, jika ingin memberikan kritik, silakan. Berikan kritikan sesuai porsinya.
Masalahnya, mereka menghina dirinya sampai ibunya juga diklaim sebagai kritikan. Padahal, ibunya sama sekali tidak bermewah-mewah meskipun anaknya seorang presiden.
Mereka juga menghina anak-anaknya. Padahal, jangankan memanfaatkan fasilitas negara dan kekuasaan bapaknya, mereka lebih memilih jualan kopi, martabak, hingga pisang goreng.
Mereka berdalih bahwa itu adalah kritik. Entah bagaimana isi kepala mereka, dan siapa yang mengisi begitu ke dalam kepala mereka.
Syukurlah orang-orang berkepala aneh itu tidak sampai terlalu banyak. Jika mereka paling banyak menghuni negeri ini, bisa jadi kekuasaan hanya jatuh ke tangan orang yang punya isi kepala sama dengan mereka.
Tuhan masih menyelamatkan negeri ini dari kepala-kepala yang berisi pandangan bahwa pemimpin adalah yang cukup dengan lihai bicara saja. Pemimpin cukup dengan berbadan gagah saja.
Tidak. Tuhan mengatur semuanya. Lewat kehadiran seorang Jokowi yang kerap dihina dan dicaci maki, Dia memberi pesan: "Mau menjadi bangsa besar takkan cukup hanya dengan mulut besar. Mau jadi negara besar, tidak cukup dengan sesumbar. Negaramu butuh pemimpin yang lebih mampu menunjukkan kerja daripada bicara!"
Syukurnya, negeri ini masih lebih banyak yang lebih menghargai kerja daripada sekadar bicara. Maka kenapa, pemimpin yang mau bekerja, bisa menunjukkan hasil kerja, lebih dipercayakan untuk menangani negeri ini.
Sebab, bekerja membutuhkan lebih banyak tenaga. Butuh pikiran yang benar-benar terlatih baik. Butuh otot-otot yang kuat. Butuh konsentrasi yang teruji.
Mereka yang terbiasa bekerja terbiasa mengasah tenaga. Dengan begitu, mereka membuat negara bebas dari perasaan lemah.
Mereka yang terbiasa bekerja, terbiasa melatih pikiran untuk melihat apa yang sudah dilakukan dan apa yang akan dilakukan, agar semakin baik daripada apa yang pernah dilakukan.
Dengan begitu, otak mereka pun terlatih untuk berfungsi lebih baik. Teruji untuk menyelaraskan apa yang dipikirkan dengan apa yang bisa dilakukan.
Mereka yang terbiasa melatih ototnya untuk bekerja, membentuk otot-otot itu semakin kuat. Dari sanalah mereka menguatkan "otot-otot" sebuah bangsa, hingga bisa bertarung dengan kepala tegak di panggung dunia.
Dengan bekerja juga mereka berlatih bagaimana berkonsentrasi. Semakin rajin mereka bekerja, semakin baik mereka mengasah konsentrasi; fokus pada apa saja yang penting, yang benar-benar bisa menghasilkan sesuatu.
Mereka yang terlatih berkonsentrasi takkan gemar menciptakan keributan. Mereka seperti akar-akar pepohonan besar, menegakkan pohon-pohon dengan kekuatan akar yang tersembunyi di balik tanah. Kala ada hujan besar hingga banjir dan badai, justru membuat akar-akar itu semakin menguat agar pohon-pohon tetap berdiri di tempat.
Semakin akrab negeri ini dengan budaya kerja, semakin jauh dari ribut-ribut. Sebab, mereka akan terpacu hanya fokus pada apa yang bisa dikerjakan. Terlebih di negara sebesar ini, ada banyak hal yang bisa dikerjakan, dan selalu bisa melihat apa yang mesti dikerjakan. Mereka akan jauh dari keluhan bisa bekerja di mana dan mengerjakan apa. Sebab mereka sendiri sudah terbiasa bekerja hingga menciptakan pekerjaan.
Semangat itu yang juga ditunjukkan anak-anaknya Kahyang yang bahkan gagal jadi aparat sipil negara. Gibran dan Kaesang yang dengan gembira bekerja sebagai tukang martabak dan tukang pisang.
Sebab, bekerja bukanlah aji mumpung. Bekerja bukanlah kebiasaan mengandalkan tangan orang lain; melainkan apa yang bisa dikerjakan tangan sendiri.
Jadi, siapa yang selama ini lebih banyak memilih dan mendukung Jokowi tetap berkuasa bukanlah orang yang gila kekuasaan. Mereka adalah orang-orang yang percaya, negara ini hanya akan benar-benar besar di tangan orang yang mau bekerja. Bukan bicara saja.
Kenapa Jokowi dikagumi oleh mereka? Karena ia mau bekerja, menyatu dengan rakyat yang mau bekerja. Ia mengagumi keringat, dan gemar bersentuhan langsung dengan tangan-tangan yang akrab dengan bekerja.
Sebab ia percaya, tangan-tangan itulah yang akan bersamanya membangun tapak, dinding, hingga atap negeri ini agar bebas dari ancaman hujan kebodohan, bebas dari terjangan badai kemiskinan.
Bahwa masih ada yang memilih mengeluh, meratap, dan menyalahkan nasib buruk seolah kesalahan orang lain, itu adalah pilihan mereka yang tidak ingin melihat ke dalam diri sendiri. Meskipun, kitab suci saja menegaskan, takkan ada yang bisa mengubah nasib seseorang, kecuali ia mengubah dengan tangan sendiri. Ya, tangan-tangan cekatan itu akan berjabat erat dengan sesama tangan yang terbiasa bekerja. Sebab tangan-tangan itulah yang akan saling menguatkan, bukan melemahkan.
Dalam beberapa kesempatanku berjabat tangan langsung dengan Jokowi, aku bisa merasakan tangan yang lembut namun cukup kokoh. Inilah tangan yang meyakinkanku, bahwa tangan ini bukanlah tangan orang-orang manja.
Saat orang manja melamun kenapa orang bisa lebih baik, orang yang bekerja menolak lamunan kecuali membiasakan berpikir dan bekerja saja dengan segala yang ia bisa.
Inilah nilai dari Revolusi Mental yang selama ini kudapat sepanjang berdiri di barisan anak bangsa yang acap dilecehkan sebagai "kecebong" hingga "IQ 200 sekolam". Nilai tentang bagaimana bekerja selaras dengan masa, zaman, dan kondisi kekinian. Bukan nilai yang hanya mengajak meratap dan mengeluhkan masa lalu dan takut masa depan. Nilai ini mengajak belajar dari masa lalu, mensyukuri hari ini, dan optimistis melihat masa depan.
Kemauan belajar, mental yang selalu bersyukur, hingga optimisme, memberikan banyak tenaga untuk kembali bekerja dan bekerja. Seraya berharap kelak negara ini pun dikagumi dunia, dan tak lagi diremehkan dengan status sebagai "negara dunia ketiga" sebab akhirnya bisa menjadi bagian negara kelas satu di pentas dunia.* (Zulfikar Akbar)

04 Juli 2019

Menteri Milenial Jokowi-Ma'ruf Amin, Bukan Sebatas Usia Muda


Pelantikan presiden dan wakil presiden terpilih (Joko Widodo dan Ma'ruf Amin) baru akan dilakukan pada 20 Oktober mendatang, tapi sudah banyak berseliweran prediksi, opini dan harapan terkait siapa saja yang bakal diangkat menjadi menteri untuk duduk di kabinet pemerintahan. 
Padahal Jokowi dan Ma'ruf Amin belum mengungkap apa-apa tentang hal itu secara jelas. Bahwa pada suatu kesempatan Jokowi pernah membongkar sedikit rahasia, memang benar. Jokowi sempat mengaku akan mengisi kabinet pemerintahannya dengan anak-anak muda.
"Ya, bisa saja ada menteri umur 20-25 tahun, kenapa tidak?," ujar Jokowi.
Dari pengakuan Jokowi inilah akhirnya muncul beragam terkaan, baik dalam bentuk tulisan maupun lisan tentang sosok-sosok yang dianggap layak. 
Misalnya ada yang menyebut nama Agus Harimurti Yudhoyono (Komandan Kogasma Partai Demokrat), Grace Natalie (Ketua Umum PSI), Tsamara Amany (Ketua DPP PSI), Bahlil Lahadalia (Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia/ HIPMI), hingga Angela Herliani Tanoesoedibjo (puteri pertama Hary Tanoesoedibjo, Ketua Umum Partai Perindo).
Ya tentu para penutur atau penulis yang menggadang-gadang beberapa nama di atas punya alasan. Apa pun alasannya tidak masalah karena di baliknya terkandung harapan, yang barangkali jika sampai ke telinga Jokowi dan Ma'ruf Amin, hal itu bisa jadi bahan pertimbangan.
Umpamanya di samping berusia masih muda, orang-orang tersebut juga dinilai sudah berpendidikan tinggi, memiliki jabatan penting di partai politik, punya perusahaan atau semacamnya, mantan tim sukses, memiliki pengaruh besar di masyarakat, dan sebagainya.
Pertanyaannya, cukupkah beberapa pertimbangan di atas sebagai modal bagi seorang calon menteri? Apa sebenarnya kriteria yang diharapkan Jokowi?
"Saya sampaikan bolak-balik, mampu mengeksekusi program-program yang ada, kemampuan eksekutor yang paling penting. Memiliki kemampuan manajerial yang baik, seperti mengelola sebuah ekonomi, baik ekonomi makro, kemampuan ekonomi daerah, maupun semuanya. Ya, yang lain memiliki integritas, memiliki kapabilitas yang baik," kata Jokowi.
Ringkasnya, kriteria yang dimaksud Jokowi adalah memiliki kemampuan untuk mengeksekusi program secara tepat dan cepat, memiliki kemampuan manajerial, berusia dan berjiwa muda.
Poin terakhir penting, karena tidak semua orang yang berusia muda sudah pasti berjiwa muda pula. Di era globalisasi saat ini, seorang menteri wajib punya karakter optimis, dinamis, fleksibel dan adaptif terhadap perubahan zaman. 
Betul bahwa sekian pertimbangan sebelumnya penting, tapi itu tidak cukup. Bekal pendidikan tinggi serta pengalaman di dunia politik dan bisnis belum cukup jadi modal dalam mengelola pemerintahan. 
Ada banyak orang menyandang gelar macam-macam, namun belum tentu bisa bekerja. Belum lagi yang punya usaha level besar, tapi kepekaan dan jiwa sosialnya lemah. Selanjutnya ada juga politisi kelas kakap, akan tetapi susah diajak bekerjasama.
Mengelola pemerintahan tidak sama dengan mengelola bisnis dan partai politik. Bidang pemerintahan itu penuh pengabdian dan pelayanan. Di sana tidak perlu ada pamer gelar, tawar-menawar kepentingan, atau tarik-menarik kekuasaan.
Yang menjadi fokus pelayanan pemerintah yakni bagaimana supaya negeri ini aman, nyaman, adil dan sejahtera. Seluruh rakyatlah yang dipikirkan, bukan kelompok atau golongan tertentu.
Maka ketika dalam wawancara khusus bersama Harian Kompas (Selasa, 2 Juli 2019), Jokowi menegaskan bahwa beliau tidak peduli dengan yang namanya label, status dan jabatan politik para calon menterinya.
Jokowi tidak mempermasalahkan apakah para calon menterinya berlatar belakang bidang politik atau tidak. Yang penting bagi beliau adalah para menterinya nanti profesional, dan itu bisa berasal dari kader partai politik serta kalangan (profesional) biasa.
"Kabinet diisi oleh orang ahli di bidangnya. Jangan sampai dibeda-bedakan ini dari profesional dan ini dari (partai) politik, jangan seperti itulah, karena banyak juga politisi yang profesional," kata Jokowi.
Tentu selain muda (usia dan jiwa) dan profesional, para calon menteri Jokowi-Ma'ruf Amin ke depan harus sederhana dan bijaksana, mengapa? Karena mereka akan sekaligus menjadi pemimpin di kementeriannya masing-masing.
Para menteri wajib menjadi teladan yang baik bagi seluruh jajaran staf dan karyawan, dari atas hingga ke bawah.
***
Gambar: merdeka.com

Photos

Dunia

Metropolitan

Sport

Refleksi

© Copyright 2019 TULARIN | All Right Reserved