Miya di Antara Tangis dan Bengis Jakarta


Sebenarnya ia adalah gadis tangguh. Ia petarung yang kuat, hingga kota seganas Jakarta tak membuat nyalinya ciut sama sekali. Tapi, ia pernah menghadapi situasi di mana ia mulai sering berpikir untuk bunuh diri.

Ya, ini cerita tentang selebgram. Seorang gadis, yang terbiasa ke mana-mana sendiri, dan sangat memuja kemandirian sebagai perempuan. Ini tentang Miya--sebut saja begitu.

Bukan. Ini bukan mau mengumbar tentang siapa dia dan apa saja dosa-dosanya hingga ia sempat berpikir ingin bunuh diri. Ini tentang bagaimana orang-orang yang sekilas terlihat kuat, tapi juga bisa bertemu dengan titik rapuh yang hampir membuat kehidupannya runtuh.

"Aku memang terkadang merasa kehilangan. Aku kehilangan diriku sebenarnya!" Begitu katanya lewat obrolan maya.

Dia memang mengaku tidak pernah meratapi kehilangan teman atau apa saja yang pernah ada dalam hidupnya. Bahkan ia pun terbuka menunjukkan, hanya ada sedikit teman yang diyakini olehnya sangat pantas untuk disebut sebagai teman. Selebihnya? Hanya orang-orang yang pernah singgah dalam hidupnya. Lalu hilang.

Kehilangan baginya bukan untuk diratapi. Ia tak pernah menangisi kehilangan, sebenarnya. Cuma, terkadang ia merasa putus asa, ketika ia berharap untuk mendapatkan orang yang bisa ia percaya sepenuhnya, berkali-kali mencerabut kepercayaannya.

Ada kemarahan yang sesekali ia tumpahkan. Lebih sering ia diamkan. Ada luka-luka ia pendam sendiri, dan bahkan tidak pernah ia percayakan untuk diceritakan kepada siapapun.

Ia sebenarnya gadis baik. Sangat baik. Ia lebih sering memilih menghakimi dirinya daripada menghakimi orang-orang yang pernah dikenal olehnya. Ia lebih suka melihat dosa sendiri daripada melihat dosa orang-orang.

"Hmmm... lets say im a manipulative. I grew with a lot of rejection, get bullied a lot, im fat, ugly and insecure," katanya, persis saat mengawali obrolan.

Ia tidak menyebut pengalaman dan perjalanannya tumbuh sebagai seorang gadis dengan cerita pernah jadi sasaran perundungan (bully), dihina, dlsb, sebagai pemicu pikiran untuk ia bunuh diri. Ia pun menegaskan tidak terlalu memusingkan kalaupun dirinya terkadang dijauhi atau diremehkan oleh sebagian orang.

Apa yang paling diingat olehnya, bahwa dirinya adalah seorang gadis yang memiliki seorang ayah berjiwa pejuang. Inilah yang acap memberikan semangat untuknya, setiap kali merasa jatuh.

"Tapi maaf, aku tidak terlalu suka bercerita tentang kedua orang tuaku," Miya tegas, walaupun terdengar agak lirih. Di sini, aku sendiri berusaha tidak mengejar dengan pertanyaan kenapa dan ada apa di balik penolakannya bercerita tentang ini. Walaupun jika menyimak, kalau misal kudesak, mungkin ia tetap akan bercerita lebih jauh tentang ini.

Tidak. Ini bukan tentang bagaimana menguliti anak-anak muda, selebgram, sering wara-wiri di TV. Sebab aku sendiri mengejar cerita perjalanannya menghadapi tantangan hidup cuma karena meyakini, "gadis kecil" bernama Miya ini memang memiliki banyak cerita istimewa. Selain, tentu saja berharap, keinginannya untuk bunuh diri jangan sampai terjadi.

Bagiku sendiri, merasa, ia hanya merasa berang karena ia sering bertemu dengan manusia, tapi sedikit dari manusia yang bisa melihatnya sebagai manusia. Ada perasaan frustrasi yang perlahan tumbuh, tapi acap dilawan dengan kekuatannya sendiri. Semampu ia bisa.

Perasaan frustrasi yang terkadang bikin ia sama sekali tidak bisa menikmati tidur selayaknya orang-orang kebanyakan. Bahwa kini ia sudah memiliki popularitas, dan di mana-mana orang mengenalnya, tak bisa menjadi obat baginya.

"I dont even love my self at 3am. Because all i do just masturbate to put me to sleep or, selfharming!" katanya, dengan nada setengah mengumpat.

Dia berusaha memuaskan diri sendiri dengan cara sendiri. Terkadang menyakiti diri sendiri. Ya, ia melakukan ini untuk meluapkan perasaan muak atas banyak hal di sekelilingnya. "I hate human, because they are so fake. Yet, all i know when i look at the mirror ... I'm so fake until i don't even know who is the real me," katanya lagi.

I can be anyone, yet... who the fuck am I? 
Because basically, I am ‘everything’ they want to see and feel.

Lagi-lagi ada kemarahan yang acap ia pilih untuk diluapkan terhadap diri sendiri. Ia berusaha menutupi titik lemahnya sebagai manusia, dari semacam perasaan tidak tega hingga merasa tidak mampu untuk melukai siapa-siapa. Kecuali melukai diri sendiri.

Ada benang merah yang terketemukan, kenapa ia acap digelayuti pikiran untuk berhenti saja meneruskan hidup. Sebab, ia juga mengaku tidak menemukan alasan terlalu banyak untuk menciptakan kesan hebat. "Uang. Cuma uang yang membantuku selama ini teryakinkan dan semangat untuk melanjutkan hidup."

Ia berusaha menyederhanakan alasannya buat menjelaskan apa motivasi yang kini tersisa untuk ia meneruskan hidup. Di benakku berkelebat, gadis kecil ini sejatinya memang hebat. Ia punya perasaan dan nalar sama hebatnya. Sayangnya, memang tercium kenyataan bahwa ia belum menemukan tangan yang tepat dan mampu menggenggamnya dengan cengkeraman yang juga tepat.

Ia bukan gadis yang gemar untuk dikekang. Ia juga bukan gadis yang benar-benar kuat untuk selalu disakiti oleh siapa saja. Walaupun, di depan banyak orang, ia acap memilih memperlihatkan wajah sebagai seorang gadis yang kuat, tegas, mandiri, dan tak ingin bergantung kepada siapa-siapa.

Well, kalimat-kalimat terakhir tadi hanyalah sederet kata-kata yang tumpah ruah di kepalaku, seraya terus berhati-hati menggali; apa yang memicunya hingga acap dibayangi keinginan untuk bunuh diri?

Ia cukup dikenal. Apa saja kreativitasnya sudah mendapatkan banyak pengakuan. Namun ini juga yang membuat pikiranku sendiri yang digelayuti rasa penasaran, semakin larut dalam rasa penasaran.

Di sela-sela obrolan, kualihkan sejenak ke musik.
"Spending my time
Watching the days go by
Feeling so small, I stare at the wall
Hoping that you think of me too
I'm spending my time
I try to call but I don't know what to tell you
I leave a kiss on your answering machine
Oh, help me please, is there someone who can make me
Wake up from this dream?"

Musik bagiku memang membantu untuk menetralkan pikiran. Suara vokalis Roxette yang kuputar lumayan membantuku untuk bisa lebih menghayati isi pikiran lawan bicara. Seorang selebgram. Seorang gadis yang acap menyembunyikan tangis, dan seakan punya misi sinis membuat siapa saja yang pernah memusuhinya kelak meringis.

Tidak, sih. Itu dugaanku saja. Sebab saat menggali pikirannya lebih dalam lagi, lebih terasa bagaimana gadis yang sekilas ingin menantang dunia dengan wajah bengis ini memiliki kepekaan perasaan cukup baik.

Kenapa bisa kubilang begini? Sebab ia juga bercerita bagaimana ketika kehidupan, keadaan di sekelilingnya yang justru bengis, ia sendiri berusaha tetap memperlihatkan sikap manis. "Aku bisa menunjukkan karakterku seperti bagaimana aku mau dan seperti apa aku ingin orang melihatku!" kata Miya lebih jauh lagi.

Aku sempat menduga-duga, apakah karena ia sering bermain karakter sehingga kemudian "merasa hilang" dan kian terasing dengan sisi aslinya? Bergegas kutepis. Sebab ia lebih mengetahui kehidupannya, melebihi apa yang bisa dijangkau pikiran analitisku.

"I know how to make them love me.  Everytime he looks at me, i just know it."

“Oh lets be a good listener”
“Oh, I get it. He loves submissive woman”
“She talks like a white girl, lets be a white girl”
“He listens to Ramones? Okay, im a punk lady now!"

Ia terus bercerita tentang bagaimana ia kerap bermain peran. Ia memainkan peran bagaimana yang diyakininya akan membuat siapa yang sedang didekatnya ingin melihatnya. Dari sana, ia perlahan semakin jauh dengan dirinya sendiri. Ah, ini hanya dugaanku saja.

Di sisi lain, sembari terus menggali pikiran gadis kecil bernama Miya ini, aku sendiri menekankan ke pikiran sendiri, "Aku bukan ingin mengulitimu. Aku cuma ingin mendalami apa yang tertanam di pikiranmu." Ya, menggali kepribadian orang lain butuh ketulusan.

Ia sendiri mengakui, bahwa ia jarang menemukan ketulusan itu. Bukan tidak sama sekali, hanya jarang. Maka itu, dari sekian banyak teman pun, hanya satu orang saja yang diyakini betul-betul menempel kuat di pikiran dan hatinya. Ya, Tisa, nama temannya itu. Sebut saja begitu.

Di benakku sendiri berkelebat lagi pikiran, dari sekian banyak tantangan yang kauhadapi di kota seperti Jakarta, kauhanya memercayakan satu orang teman? Well, tidak apa-apa. Walaupun pikiranku sebagai lelaki, cenderung berpikir butuh lebih banyak pikiran untuk berbagi dan menguatkan. Ya, kalau akhirnya sepakat bahwa arti teman adalah para utusan Tuhan yang sejatinya ada untuk menguatkan, bukan melemahkan.

Menguatkan itupun membutuhkan tenaga; tangan, pikiran, dlsb. Semakin besar tantangan, semestinya lebih banyak tenaga yang bisa dikumpulkan. Bahwa ada tenaga yang bisa menghancurkan, tetapi toh ada banyak juga tenaga yang bisa dirangkul untuk membangun sesuatu. Miya, sejatinya sudah memiliki ini. Ia sudah mampu menempatkan siapa di mana, dan siapa mesti dipercayakan apa.

Miya adalah gadis kecil--aku suka menyebutnya begini karena ia memang mungil dan memang sejatinya baik. Aku membayangkan gadis kecil ini bisa menjadi pemberontak yang menghantam apa saja untuk bisa menaklukkan apa saja, tetapi bukan untuk menghancurkan dirinya sendiri.

Kecenderungan selama ini, jika mendalami bagaimana ia menerjemahkan perjalanan hidupnya, ia belum sepenuhnya bisa mengarahkan pikirannya pada orang-orang baik yang ada di sekelilingnya. Bukan kesalahannya, tetapi karena memang ada kesalahan dari sekian banyak orang yang pernah singgah ke dalam hidupnya, yang cuma memberikan bekas berupa luka, pengkhianatan, penghinaan, dan membuatnya terpukul.

Apa yang terlintas di benakku, semestinya ia memutuskan ring-ring pertemanan tidak penting. Ia memang kuat, tetapi semestinya berada di lingkaran yang semakin menguatkannya. Bukan yang yang mengisap habis tenaga dan pikirannya. Tapi, lagi-lagi, kalimat-kalimat ini pun hanya bergelayut begitu saja di pikiranku, dan sama sekali tak ingin menceramahinya.

Sebab, dari yang kupahami dari mendalami begitu banyak orang, kalaupun ia terluka, justru ia sendirilah yang paling mampu mengobati luka itu. Entah di pikirannya, atau mungkin di hatinya. Ke mana mata pikiran dan mata hatinya tertuju, maka ke sanalah ia melangkahkan takdirnya sendiri. Bukan karena ceramah siapa-siapa. Maka itu, saat mendalami ceritanya, kuhindari menceramahinya.

Mungkin, beberapa hari ke depan, aku akan menggali lagi, kenapa dan ada apa di balik perjalanan hidup seorang gadis bernama Miya tadi. Sebab, aku sendiri masih harus lebih dalam lagi merenung-renung ulang setelah sekian ceritanya terasa sebagai pelajaran sangat berharga.

Ya, gadis kecil ini adalah perempuan berharga. Maka kenapa, saat ia bercerita tentang lukanya pun bisa berubah menjadi sebuah pelajaran berharga. Kupikir, akan berharga bagi siapa saja perempuan, atau juga lelaki, untuk lebih peka dalam melihat siapa saja di sekitar mereka.

Miya adalah selebgram terkenal. Ia hanya membutuhkan waktu untuk kembali memperkenalkan diri kepada dirinya sendiri. Mungkin jika kelak ia masih mau berbagi cerita, ada banyak hal lagi yang bisa kutulis tentangnya. Sebab, ia mampu memperlihatkan bahwa hidup itu memang berharga, walaupun kenyataan acap memperlihatkan kepadanya tidak semua orang mampu menghargai hal-hal berharga di pikiran gadis kecil ini.

Bukan. Ia tidak benar-benar gadis kecil. Ia adalah perempuan yang sejatinya hebat dan memang kuat. Namun aku sendiri harus melihatnya sebagai gadis kecil, karena bagaimanapun ia memiliki banyak kelucuan dan hal menyenangkan selayaknya gadis-gadis kecil yang gemar berlarian dan tertawa. Sebenar-benar tertawa dengan mulut terbuka, hingga terbuka sebuah keyakinan bahwa ada banyak hal menyenangkan dan membahagiakan dalam hidup.

Bahwa ada yang hilang dan ada yang pergi, bisa jadi karena memang yang ingin ditakdirkan Tuhan kepada gadis kecil ini hanya tersisa yang terbaik saja. Kukira begitu.

Baik. Kapan-kapan kuceritakan lagi tentangnya. Tentang kelebihan dan kekuatannya sebagai perempuan. Ya, kalau nanti ia sudah bersumpah takkan pernah membiarkan lagi pikiran bunuh diri memeluknya. Sebab semestinya ia dipeluk oleh kegembiraan, hingga tak ada celah lagi untuk matanya mengalirkan air saat berlama-lama di kamar mandinya.***





Miya di Antara Tangis dan Bengis Jakarta Miya di Antara Tangis dan Bengis Jakarta Reviewed by Zulfikar Akbar on Maret 13, 2019 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.