Tentang Orang-orang Kesepian


Kesepian itu unik. Terkadang ia dicari oleh sebagian orang, terkadang dikutuk oleh sebagian orang lainnya. Kamu ada di mana?

Jawab saja untuk diri masing-masing sajalah.

Dari mengenal seabrek makhluk bernama manusia, itu juga yang kusimak-simak. Mereka yang sering di keramaian merindukan suasana sepi, sedangkan yang kesepian ada yang merindukan keramaian.

Eh, jangan terlalu sering di tempat sepi juga. Populasi manusia bisa berkembang jauh daripada hari ini. Canda, Buk.

Mereka yang kesepian mencari keramaian untuk menghilangkan perasaan sepi. Akhirnya tetap saja kesepian.

Mereka yang mencari suasana sepi, berharap bisa menghilangkan segala kegelisahan yang mereka telan dari keramaian, pun akhirnya tetap saja pusing tujuh-delapan keliling.

Lalu, bijimana baiknya?

Aha, naga-naga aku berlagak jadi penasihat lagi nih. Nasihati diri sendiri saja susah minta ampun, ini malah berlagak mau jadi penasihat buat orang-orang. Oh, tidak! (Bukan oh yes, oh no! Itu identik dengan hal saru, Mas).

Baik, kamu sendiri datang ke sini dan membaca ini, apakah karena merasa kesepian, pernah merasa sepi, atau memang sedang merenung-renung ingin memilih menyendiri?

Atau, sama sepertiku, malah sering dipusingkan, sebenarnya kesepian itu yang bagaimana, sih?

Kalau boleh menerka-nerka, kesepian itu semacam perasaan kehilangan. Atau, karena ada perasaan terasing. Atau ... karena sering membiarkan diri sendiri untuk terasing dari berbagai hal?

Itu aku! Kata Duta Sheila on Seven. Kataku juga begitu.

Ya, kita sama. Kita pernah merasakan kesepian. Pernah harus menyatu dengan sepi. Pernah merasa sendiri, tanpa ada yang peduli, apa yang ada di pikiran dan hati yang kita punya ini. Dunia seperti keasikan berputar sendiri, hingga lahirlah lagu, ... sudah terlalu lama sendiri ... sudah terlalu lama asik sendiri ....

Maaf, jadi bercanda lagi.

Tapi, begitulah. Aku termasuk orang yang jarang bercanda, tetapi sering mencandai diri sendiri.

Kira-kira sederet kalimat itu sudah cukup untuk menggambarkan seperti apakah perasaan sepi itu? Menurutku sih belum.

Ada pemandangan yang mungkin tidak pernah kamu alami, atau bisa jadi sedang kamu alami. Ketika kamu merasa ada jarak dengan sekeliling. Ada semacam kesulitan untuk membaur. Ada kesulitan untuk menyatu. Kamu seperti terpental dari sebuah pusaran di mana berkali-kali kamu terlempar ke sana, dan kamu terlontar lagi ke luar, dan begitu seterusnya.

Ketika kau melangkahkan kaki, kau berusaha untuk memberikan senyum kepada dunia, kepada siapa saja yang kautemui, namun di sekeliling seperti merasa tak ada yang sedang tersenyum.

Itu bukan karena kau tidak tersenyum. Bukan juga karena orang-orang tak mampu untuk melihat sebuah senyum. Tapi, terkadang, terlalu terbiasa dengan kesendirian, kau pun lupa bagaimana memberikan senyum, setidaknya untuk diri sendiri.

Lantaran semakin asing memberikan senyum kepada diri sendiri, lalu kau ingin memberikan senyum itu kepada orang-orang. Takkan terasa. Sebab orang-orang tidak melihat senyum itu. Ketika kau merasa tersenyum, itu hanya perasaanmu saja seolah sedang tersenyum, sedangkan orang-orang lebih menangkap bahwa ada duka yang kausimpan dan kautelan sendiri.

Hebat!

Ya, adalah sebuah kehebatan ketika ada seseorang mampu menyimpan hingga menelan sebuah kepahitan. Tidak membagi kepada siapa-siapa. Mereka memilih untuk menelan sendiri.

Bahkan, banyak orang yang bahkan semakin dihargai ketika ada kepahitan ditelan sendiri, namun ia berusaha memberikan yang manis kepada dunia. Emang ada yang begitu?

Banyak. Mereka terpukul, ditendang oleh hidup, dihajar oleh kenyataan, dan sempat bikin mereka hampir tak berkutik. Namun mereka menelan itu dengan tenang. Lalu mereka mengawali dengan senyum, dan pelan-pelan mereka bangun.

Mereka bangun dengan membawa sebuah cita-cita, bahwa ketika kehidupan pernah memberikan pukulan terburuk kepada mereka, justru mereka berpikir bagaimana memberikan yang terbaik untuk dunia.

Mereka lalu dikenang sebagai para pahlawan. Mereka dikenang sebagai orang-orang hebat. Garisbawahi, bukan berlagak hebat.

Mereka sama sekali tidak berlagak hebat. Sebab mereka memutuskan menelan sebuah kepahitan itu karena pilihan sadar mereka, dan mereka sudah sangat memahami sejauh mana kekuatan mereka menelan semua kepahitan. Menerima setiap pukulan.

Lah kamu?

Kita itu mirip. Terkadang di depan orang-orang berlagak tegar, tabah, kuat, tangguh, dan sebagainya. Sementara di belakang orang-orang, kita meringis, meratapi kesendirian, menangisi kesepian, atau memaki-maki diri sendiri.

Kamu pernah begitu?

Sudah, kalaupun kamu jawab, berikan jawaban itu kepada diri sendiri saja. Bukan untukku, apalagi untuk istriku. Eh, apa lagi ini?

Pray that your loneliness may spur you into finding something to live for great enough to die for. Kata-kata itu, katanya, kata Dag Hammarskjold. Ya, sejatinya tak apa-apa dengan kesepian atau kesendirian. Namun pastikan, kamu menemukan sesuatu yang cukup berharga kalaupun kamu kelak mati untuknya.

Sekali lagi, itu bukan kataku, tetapi kata peraih Nobel Perdamaian asal Swedia, yang kusebut namanya di atas. Kalaupun kau merasa kata-kata itu menggurui, itu bukan aku, tapi dia!

Lha, terus buat apa pula kusinggung-singgung lagi kata-katanya? Ya, ini semua gara-gara orang-orang sekelilingku dan ... karena aku sendiri pun pernah kesepian seperti kamu, kok.

Ya, ini mulai agak serius, saya pun sering menghadapi orang-orang yang meratapi kesendirian. Menghadapi banyak orang yang kesepian. Jadi, yang ingin kubilang di sini, sebenarnya pendek saja, bahwa kesepian tidak sepenuhnya buruk, pun kesepian bukanlah pilihan terbaik.

Nikmati saja kesendirian untuk beberapa lama saja. Cukup sebentar. Jangan tenggelam di sana.

Lagi, itu bukan kataku. Itu cuma kata-kata yang tergerak dari ungkapan Jodi Picoult, penulis asal Amerika Serikat.

Ia pernah mengajak untuk merenung tentang orang-orang yang sering merasa kesepian. Kesendirian.

"If you meet a loner, no matter what they tell you, it's not because they enjoy solitude. It's because they have tried to blend into the world before and people continue to disappoint them!" gitu, kata dia.

Memeluk. Ya, kita tidak bisa memeluk semua orang secara fisik. Sebab mereka yang kesendirian, kesepian, bisa jadi sedang ada di dunia yang kita tidak tahu.

Itu terbetik di kepalaku. Merenung-renung ulang saat aku sendiri pun nyaris "terbunuh" oleh kesendirian. Ya, kesendirian memang dapat saja membunuh, ketika dalam kesendirian justru hanya menyeret pikiran pada bayangan-bayangan buruk tentang hidup. Jika pikiran hanya diseret untuk melihat gelapnya malam saja dan tidak yakin bahwa nanti pagi matahari akan tetap kembali.

Aku memelukmu dari sini. Dari sederet kata dengan sekian kalimat yang sempat kutulis, ketika Jakarta mulai beranjak malam, dan waktu sudah mengajakku untuk pulang. Di sana ada anak dan istri yang menyambutku pulang.

Tapi, bukan begitu. Kita yang mungkin hari ini tak lagi merasa sepi atau kesepian, bisa jadi pernah kesepian, atau kalau belum, bisa jadi kelak akan tenggelam dalam kesepian.

Peluk mereka yang sedang diselimuti rasa sepi tadi. Mungkin tidak bisa kauberikan tangan, berikanlah apa yang bisa meyakinkan mereka, bahwa mereka tidak benar-benar sendiri.

Banyak yang masih membutuhkan mereka. Banyak yang menginginkan mereka. Dan, banyak yang siap mencintai mereka. Ya, jika mereka tak lagi menutup diri rapat-rapat, entah pada pikiran baru, atau sudut-sudut lain dari hidup yang selama ini belum mereka jelajahi. Pegang tangan mereka, ajaklah ke sana.

Ya, aku juga melakukan itu. Lewat apa yang kutuliskan di sini. Buatmu, buat siapa saja, yang mungkin masih merasa sepi. Jangan dibunuh sepi. Keluarlah dari kesepian, untuk melihat hidup yang sebenarnya. Juga, untuk meyakinkan lagi, bahwa kamu masih hidup, teman.

Sepanjang masih hidup, masih ada saja kesempatan untuk menjadi lebih baik, memberikan lebih baik, dan merasakan hidup yang lebih baik.

Jangan lupa. Walaupun kaubaca ini saat malam, jangan ratapi gelap, karena matahari juga akan kembali esok pagi.

Ah, kok aku tiba-tiba jadi sok romantis gini, sih? Sudah, ya. Istri sudah memanggil. Eh!




Tentang Orang-orang Kesepian Tentang Orang-orang Kesepian Reviewed by Zulfikar Akbar on Januari 30, 2019 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.