Surga Bukan di Bawah Kaki Bapak


Sejak kecil, yang dijejali ke kepalaku dan (mungkin) juga ke kepalamu adalah surga berada di bawah telapak kaki ibu. Bukan di bawah telapak kaki bapak. 

Sejujurnya ini juga yang membuatku tidak berani untuk merendahkan perempuan.

Sayangnya hingga hari ini, ketika waktu sudah berada di titik bukan lagi sekadar modern tapi sudah post-modern alias pascamodern, sebenarnya tetap gitu-gitu saja. Laki-laki tetap saja ingin diakui berada di atas perempuan.

Keinginan tetap di atas perempuan ini bukan sekadar cerita di masa lalu. Bahkan remaja saja yang masih pacaran, yang cowok ingin diposisikan punya hak lebih besar dibandingkan ceweknya. Ia akan merasa gengsi, tengsin, kalau sampai terlihat lemah di depan sang cewek.

Jika perlu dikeluarkanlah satu-dua kutipan dari sumber bau-bau agama. Harapannya sama sekali bukan untuk menemukan kebenaran. Cuma ingin pembenaran saja.

Itu baru abege yang katanya belum cukup matang pikiran, emosi, hingga pengalaman. Padahal kalau dilihat-lihat lagi lebih jauh, kalangan dewasa yang sering memuji diri sebagai kalangan berpikiran matang, juga beremosi matang, dan kaya pengalaman pun tidak jauh beda.

Ya, tidak jauh beda dalam melihat perempuan. Diam-diam atau bahkan terang-terangan, perempuan dianggap makhluk kelas dua. Entah karena alasan bahwa dalam beberapa agama diceritakan kalau Adam sebagai bapak manusia lebih dulu diciptakan dibandingkan Hawa. Entahlah.

Bisa jadi, iya, benar karena anggapan demikian. Dikuatkan lagi dengan dikte-dikte bahwa yang muda mesti menghormati yang tua. Cuma diperintahkan untuk menghormati, tanpa ada alasan kenapa perlu menghormati.

Apakah itu juga ada kaitan dengan pandangan bahwa memang Adam "lebih tua" dibandingkan Adam, sehingga dengan dikte begitu maka laki-laki pantas lebih dihormati dibandingkan perempuan? Bisa jadi. Setidaknya, dugaanku begitu.

Laki-laki kan terkenal tricky, dan untuk menjadi manusia penuh trik dan intrik tak perlu nalar yang gimana-gimana banget, cukup mengandalkan insting purba saja. Aku lelaki, aku mesti lebih dihormati. Jadilah itu memenuhi alam pikiran laki-laki. Di sini perempuan pun terkadang dipaksa atau terpaksa harus menerima itu.

Kalau suami dibantah oleh istri, ancamannya neraka. Kalau istri menolak ajakan suami, maka katanya dosa. Bagaimana dosa-dosa suami, nyaris sama sekali tidak terlalu ditonjolkan. Jadilah laki-laki banyak yang memilih menikmati dispesialkan oleh dunia.

Nah! Apakah karena ini sehingga mereka yang berpendidikan atau tidak berpendidikan, masih ada saja laki-laki yang menuntut atau bahkan memaksa dirinya mesti lebih dihormati dibandingkan perempuan?

Jangan iyakan dulu. Cukup Anda lihatlah bagaimana mereka yang katanya berpendidikan tinggi hingga tingkat doktoral, apakah sudah cukup baik dalam menghormati perempuan dan menempatkan perempuan di posisi semestinya? Anda cukup jawab sendiri saja. Nanti saya bicara lagi, eh. (Foto: IDN Times)

Surga Bukan di Bawah Kaki Bapak Surga Bukan di Bawah Kaki Bapak Reviewed by Zulfikar Akbar on Januari 04, 2019 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.