Pesan Penting dari Orang Tidak Penting


Entah sengaja atau tidak, Anda sudah berada di depan tulisan ini. Bisa jadi sekadar penasaran, "Mau bilang apa lagi nih makhluk satu ini?"

Tidak ada yang serius-serius amat. Walaupun bentuk mukaku sering jadi sasaran ledekan istri, "Air mukamu terlalu serius ..." walaupun tiap kali diledek begini, sering berakhir pada kemampuanku dalam melakukan sesuatu yang lain yang lebih serius. Apa itu? Sudahlah, jangan ditebak-tebak, dan aku juga sedang tidak ingin tebak-tebakan.

Sebab tebak-tebakan itu sendiri terlalu melelahkan.

Kok bisa bisa urusan tebak-menebak bisa jadi melelahkan? Lha, iyalah. Dulu, aku pernah jadi perjaka yang terlalu banyak tebak-menebak, siapa yang bakalan mau jadi pacar, dan siapa yang mau jadi istri. Itu melelahkan.

Tapi, nggilani-nya, banyak juga yang sibuk tebak-menebak begini. Bisa jadi, kamu yang lagi ngebaca tulisan tidak penting ini pun pernah menebak gituan. Tul?

Kita, eh jangan kita, aku saja mungkin, sering terlalu sibuk mikirin yang tidak penting. Pikiran tersita untuk banyak hal yang tidak penting.

Bukan berarti yang tidak penting itu benar-benar tidak penting, sih. Toh, gara-gara terbiasa memikirkan hal yang tidak penting tadi, membawaku pada sebuah titik penting tidak penting sesuatu dipikirkan berujung pada status kita sebagai orang penting atau tidak penting.

Jangan salah tafsir, walaupun yang kutulis ini tidak main comot ayat dari kitab suci.

Maksudku begini, bicara penting tidak penting tadi ada kaitannya, lho, dengan mental dan isi kepala kita juga. Dan, ini tidak ada kaitan dengan uban, lho, ya. Ini urusan mental, atau mungkin lebih dekat dengan karakter.

Banyak orang yang merasa penting padahal yang dilakukannya tidak ada yang benar-benar penting. Apa yang ia bicarakan pun sering tidak penting. Apalagi yang ia pikirkan, bisa jadi memang cuma urusan-urusan tidak penting. Curigaku, jangan-jangan aku masuk kategori makhluk ginian. 

Maka itu, tiap kali bertemu orang-orang penting, yang berkelebat di benakku adalah seberapa pentingkah orang sepertiku? Atau seberapa penting dia buatku? 

Ya, walaupun berkelebatnya tanda tanya itu seringnya muncul diam-diam saja. Kadang-kadang ada orang penting yang bisa bersikap hingga membuat makhluk-makhluk sepertiku ikutan merasa penting. Ada juga orang penting yang cuma menegaskan bahwa cuma dia saja yang penting.

Nah, di depan dua orang penting begitu, mana yang sebenarnya betul-betul penting? Yang pertama, seringkali adalah orang penting yang sudah berhasil keluar dari perasaan bahwa dialah yang paling penting. Percayalah, orang begini bisa menjadi teman baik untukmu.

Bertemu orang-orang begitu, Anda bisa dibuat lupa bahwa dia itu adalah orang penting. Dia pun bisa bikin Anda tidak larut ke dalam perasaan minder yang sering menghinggapi orang-orang tidak penting macam kita ini.

Terpenting lagi, ia bisa bikin Anda teryakinkan, bahwa memang yang paling penting adalah berpikir pada apa yang benar-benar penting, dan melakukan hal-hal yang penting. Juga tidak kalah penting, belajar untuk tidak melulu mementingkan diri sendiri.

Percaya tidak percaya, akhirnya mana orang yang benar-benar penting memang pada kemampuan menetralkan atau menghilangkan kebiasaan mementingkan diri sendiri. 

Percaya tidak, orang-orang yang acap dikutuk dalam sejarah hanyalah orang-orang yang terlalu mementingkan dirinya sendiri. Ia ingin kaya sendiri, lalu korupsi, memperkaya diri dengan harta yang bukan haknya, dan melupakan kepentingan orang yang lebih banyak. Inilah yang bikin dia tidak penting. Betul tidak?

Nah orang disebut tadi memang menjadi kebalikan dari orang tidak penting yang acap menunjukkan dirinya paling penting. Apa yang paling dipentingkannya adalah kepentingannya. Kamu masih mau bilang makhluk begini sebagai orang penting? Bisa jadi hidupmu jauh lebih penting daripada orang ginian. 

Kenapa aku bisa bilang begitu, dalam beberapa kali berkesempatan bertemu orang-orang penting, di sinilah aku melihat bagaimana sebenarnya orang-orang penting.


Terkadang, ada orang yang sekilas tidak terlihat sebagai orang penting, namun ketika mengajak dia berbicara, melihat apa yang dibicarakan, sangat terlihat bahwa orang ini memiliki sesuatu yang penting yang sedang ia perjuangkan.

Bisa jadi ia memperjuangkan orang-orang yang terzalimi. Bisa pula ia adalah orang yang sudah mendedikasikan dirinya untuk memperjuangkan orang-orang miskin. Atau, bukan tidak mungkin ia sudah mewakafkan hidupnya untuk membela orang-orang lemah, atau bahkan membela kehidupan hewan yang terancam punah.

Orang-orang penting begini, dari yang sering kudapati, sangat pantang mementingkan dirinya sendiri.

Maka itu orang-orang tidak penting sepertiku bisa belajar bagaimana pelan-pelan tidak cuma mementingkan diri sendiri.

Nah, di sini ada pengalaman bagaimana aku berusaha keras untuk melawan kebiasaan mementingkan diri sendiri. Itu persis ketika menjelang pernikahan, dan sedang butuh uang dalam jumlah besar.

Uang sebesar itu harus ada dalam hitungan 24 jam. Pusing.

Mau minta pinjam ke teman-teman, gengsi. Tiap kali muncul pikiran, mungkin si pulan bisa membantu, langsung keluar pikiran yang membantah, "Bisa jadi masalahnya lebih berat daripada masalahku, ngapain kutambahi lagi bebannya."

Ya, sudah.

Di tengah situasi teramat pusing karena kebutuhan mendesak begitu, datang seorang kerabat yang mengaku sedang sangat kesusahan.

Di benakku sempat muncul semacam pikiran sinis. "Lha, aku sendiri lagi pusing berat begini, ini malah ada lagi yang minta bantu!"

Untungnya cuma berkelebat di benak saja. Di dalam kepalaku saja. Soalnya, orang yang meminta bantu hanya meminta bantuan lewat SMS, di zaman pesan singkat itu masih cukup populer.

Beberapa menit larut dalam ngedumel karena merasa ganjil. Ada-ada saja, ini aku sendiri sedang kesusahan ada saja orang yang mengadukan kesusahannya, bukannya dapat bantuan malah datang orang minta bantu.

Beruntung, entah kebetulan sedang ada malaikat di dekatku. Atau, entah memang malaikat sebenarnya dekat dengan orang kesusahan. Alhasil muncul pikiran, "Kesusahanku jelas lebih besar. Sedangkan kesusahan orang yang minta bantu itu jauh lebih kecil."

Lha, iya, dia cuma minta bantu untuk diberikan pinjaman supaya bisa membayar kontrakannya. Sedangkan di kontrakan itu ada anak dan istrinya.

Tadi sempat sinis, tiba-tiba terbayanglah bagaimana keadaan keluarganya jika sampai terusir dari kontrakannya. Terlepas kesusahan yang sedang menderaku, aku tahu, uang yang ada di kantongku lebih dari cukup untuk membantunya.

Akhirnya, aku memutuskan untuk melawan perasaan mementingkan diri sendiri. Meskipun tadi sempat berpikir bahwa masalahku jauh lebih penting, akhirnya melunak, dan berusaha melihat bahwa masalahnya justru lebih penting.

Benar. Masalahnya lebih penting, karena kepentingannya adalah kepentingan bukan hanya untuk dia saja, tetapi juga untuk anak dan istrinya sekaligus. Ada banyak nyawa di sana, nyawa anak istrinya. Itu jauh lebih penting, hingga pikiranku yang awalnya mengira masalahku jauh lebih penting jadi berubah. Tegas melihat, masalahnya jauh lebih penting untuk dibereskan.

Akhirnya, dompet yang tadi tersembunyi rapat, enggan terbuka, akhirnya kubiarkan menganga. Kukeluarkan sebagian isinya. kumasukkan ke dalam amplop, kuminta ia ke lokasi dekat kantor, dan kuberikan kepadanya.

Lega. Bukan karena merasa dermawan. Bukan.

Namun karena keberhasilan mengalahkan kebiasaan hanya mementingkan diri sendiri. Apalagi memang, mendidik diri sendiri itu berat. Membiasakan sesuatu yang baik buat orang itu berat.

Ndilalah, dari sana juga aku tersadarkan bahwa cara Tuhan membantu itu unik. Dia membantu dengan "meminta" menyelesaikan dulu masalah orang lain daripada sibuk dengan masalah diri sendiri. Setelah kubantu kerabat tadi, bantuan untukku pun datang tanpa perlu meminta-minta.

Seorang teman yang kini sudah meninggal dunia--semoga ia mendapatkan limpahan kebaikan di alam sana--datang.

"Hei, ngelamun aja lo! Udah mau kawin juga masih aja masam gitu muka lo! Ketawa dong, senyum dikit cukuplah."

"Gua tahu, lo lagi kesulitan kan? Lo gengsian buat minta bantu kan? Nih, gue punya duit, lu pake saja. Lu bayar kapan saja lo mau!"

Hanya ada jarak hitungan jam antara bantuanku kepada orang lain, dengan bantuan orang lain lagi untukku. Kaget.

Masalahku pun selesai. Utang lunak yang diberikan teman tadi pun bisa kutuntaskan tepat waktu, walaupun harus mencicil.

Ya, semesta itu bekerja dengan cara yang tidak biasa. Ia bekerja dengan cara yang tidak diduga. Kalau kamu sekarang sedang susah, cobalah sedikit turunkan ego, jangan merasa paling susah. Cobalah lihat sekeliling, dan bantu siapa yang bisa kaubantu.

Siapa tahu, kaubisa menemukan jalan keluar dari masalahmu bukan karena kau sudah minta bantuan ke sana kemari, tapi karena kau sudah memilih lebih dulu membantu kesusahan orang lain. Siapa tahu, kan?

Jadi, urusan "orang penting" tadi bukanlah urusan seberapa banyak orang penting yang kita kenal. Bisa jadi, kamu adalah orang penting, karena kamu sudah membantu orang dalam masalah yang sangat penting. Jadi, jadilah orang penting tanpa melulu mementingkan diri sendiri.***
(Sumber Gambar: Vemale.com, headsupguys.org).








Pesan Penting dari Orang Tidak Penting Pesan Penting dari Orang Tidak Penting Reviewed by Zulfikar Akbar on Januari 15, 2019 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.