Kala Suami Mesti Bergaji 30 Juta


Awalnya mau kubikin kultwit. Terpikir lagi, keseringan bikin kultwit khawatir bisa bikin banyak orang sakit pinggang, encok, pegal-pegal, dan reumatik. Halah, bingung cari alasan, jadi mengada-ada jadinya, kan?

Semua gara-gara baca twitter. Bacaan kok twitter, bukannya buku-buku tebal biar kelihatan kayak orang pinter. Eh, bukan, biar bisa bermuka tebal seperti anggota dewan terhormat Fadli Zon yang kesohor itu. Halah, bukan juga, sebab aku masih punya cita-cita supaya perutku tidak sampai berbentuk persis anggota dewan paling ngasal ini.

Ya, twitter bikin aku merenung. Mereka memperdebatkan soal gaji suami yang mestinya 30 juta per bulan. Mau nimbrung diskusikan itu, lah siapalah saya yang buat kawin saja mesti cari uang ngos-ngosan. Gaji saja saat kawin cuma kisaran empat jutaan.

Mau protes yang bikin acuan gaji 30 juta? Buat apa protes, lah memang banyak yang mampu memenuhi kebutuhan istri hingga sebesar itu, kok. Di dunia mereka, gaji segitu hal biasa. Lalu, aku yang berasal dari "dunia lain" mau mendikte dunia mereka itu? Benturan antar-planet rentan terjadi kalau ceritanya begini.

Lalu aku mau bilang apa? Bahwasanya--mirip bahasa kakek-kakek khutbah di musala, ya?--semua memang punya dunia masing-masing.

Setidaknya begitulah yang kutangkap dari salah satu buku Paulo Coelho, penulis Brasil yang bukunya paling banyak kukoleksi dengan istri. Menurut penulis yang berpengalaman dengan kehidupan uniknya itu, manusia masing-masing membangun dunianya, hidup di dunianya, dan cenderung hanya mengenal dunianya. Kecuali sebagian saja yang ingin mengenal dunia yang tidak biasa dengan kehidupannya.

Kebiasaannya, menyatukan dua dunia sering berakhir tubrukan. Sederhana, bayangkan saja jika bumi menyatu dengan matahari. Aku mungkin sudah mati sebelum sempat beristri. Panas!

Atau, coba saja menyatukan bumi dengan bulan. Iklan datang bulan takkan sempat menjadikan TV sebagai bulan-bulanan iklan. Bulan sebenarnya datang, takkan ada perempuan yang sempat mengalami datang bulan.

Apa pula ini? Kenapa tulisanku bisa sengawur ini.

Anggap saja ini sebagai salah satu akibat dari pekerjaanku hari ini, karena harus menuntaskan lebih dari 10 tulisan panjang-panjang. Walaupun istri tidak menuntut yang panjang-panjang, tetapi sebuah tulisan bisa saja mesti dibuat panjang.

Kok semakin ngawur?

Bukan. Aku bukan sedang mencari celah untuk menuduh orang-orang ngawur. Tidak juga ingin menghakimi mereka yang bercita-cita punya gaji 30 juta, atau bersuami dengan gaji sebesar itu. Namun, juga benar, tidak semua istri menuntut yang besar-besar.

Lha, istriku saja di awal kukawini, dari gaji sebulan cuma tersisa belanja hanya kisaran satu koma sekian juta saja. Sebagai suami, aku tersugesti, kalau istri mau dapat pahala mesti menerima apa adanya.

Namun makin ke sini makin terpikir juga, kalau ingin memberikan istri pahala, bukan juga membiarkannya tersiksa. Pahala apa tumbal, yang cuma menjanjikan siksa. Bukannya siksa itu cuma ada di neraka? Benar, kan?

Sampai sekarang, saat usia menuju kepala empat pun, belum juga selalu bisa mengumpulkan uang 30 juta per bulan. Inilah duniaku, sebuah dunia berisikan seorang lelaki yang sering diam-diam menyukai uang mencariku daripada aku mencari uang.

Lelaki ginian mau kauangkat jadi suami? Siap-siap saja makan hati. Untungnya istriku tergolong perempuan kuat, makanya mau dikawini lelaki ginian dan menerima dengan lapang dada.

Syukurnya, jika sebelum kawin sering mati-matian mencari uang, paling tidak belakangan mulai sering uang yang mencariku. Halah, nyombong.

Kenapa bisa terjadi begitu? Ya, karena terkadang di balik omelan istri, ia juga masih menyisipkan doa, "Ya, Tuhan. Tolong suamiku jangan gini-gini amat!" Lalu terdengarlah doanya oleh Tuhan, dan Dia pun memilihkan jalan damai, biarlah uang mencari si suami.

"Tapi, elu juga mesti mau gerak, dong!" kira-kira begitulah pesan Tuhan. Jadilah sang suami dan uang saling mencari, bertemu, dan berjodoh. Maksudnya apa ini?

Uang juga urusan jodoh. Kalau sudah punya jodoh, masih butuh berjodoh juga dengan uang. Sebab berjodoh tanpa uang, hingga mengimani rumah tangga cukup dengan cinta, tak bisa dikatakan sepenuhnya jodoh. Bisa jadi itu percampuran antara jodoh dan bodoh.

Ya, pernah sih punya tetangga yang suaminya pulang cuma untuk bikin anak. Begitu anak-anaknya sudah banyak, urusan tanggung jawab dilempar kepada istri. Lha, yang begini kok tidak memilih pensiun saja jadi lelaki.

Ini agak serius.

Bagiku pribadi dengan jam terbang pacaran lebih tinggi daripada berumah tangga, apa yang kupelajari memang lelaki pun harus banyak-banyak belajar memahami istri. Aduh, kok paragraf ini malah seakan membuka aib sendiri. Ah, tidak juga, ya? Aib itu masih terbayar dengan pesan, supaya lelaki mau memahami istri.

Maksudku begini, urusan hitung-hitungan biarlah jadi urusan istri. Begitu uang ada, banyak, berkembang biak, biarlah dia yang menunjukkan kemampuan berhitung. Suami cukuplah mencari dan mencari, asal jangan mencari istri lagi.

Nah, urusan seberapa besar, daripada mengeluhkan standar berapa besar idealnya, tetap saja lebih baik mencari uang sebesar-besarnya. Lha, kalau tidak sampai 30 juta per bulan, gimana, Mas? Ya sudah, rezeki sudah diatur, gitu kata orang-orang tua.

Artinya, ya tidak perlu kemaruk. Cukup memastikan sudah berusaha semaksimal mungkin mencari dengan cara sebaik mungkin dan dengan jumlah sebanyak mungkin. Ini bukan kemaruk, tetapi berusaha keras, dan inilah yang membahagiakan istri. Sebab di sana ia bisa melihat bahwa lelaki yang telah dipercaya olehnya untuk menjadi pendamping tetap berusaha maksimal memberikan yang terbaik.

Bukankah cerita pernikahan bukan sekadar cerita bagaimana mencari, tetapi juga bagaimana memberi. Nah, paragraf ini agak sedikit berbau "Golden Ways"-nya Pak Mario, ya?

Serius.
Tadi baru sekadar agak serius. Ini serius.
Pernikahan adalah keseriusan. Bagaimana seorang lelaki menunjukkan keseriusan ingin memperistri seorang perempuan. Keseriusan itu pula mestinya dapat ditunjukkan setelah berhasil memperistrinya.

Kualitas seorang lelaki itu dapat diukur dari keseriusan itu. Seperti halnya seorang istri mau menerima seorang lelaki menjadi suaminya, karena melihat adanya keseriusan. Ia serius ingin membahagiakan, ingin memberikan yang terbaik, dan serius untuk terus membawa banyak hal yang lebih baik dan lebih baik.

Ini serius. Bukan pada bentuk muka yang dibuat-buat seolah paling serius. Tetapi, ini kaitannya dengan bentuk isi kepala, seserius apa ia mencari cara untuk bisa memberi yang lebih baik, dengan keseriusan yang lebih baik.

Taruhlah saat mengajak nikah, seorang lelaki hanya memasang wajah serius agar benar-benar terlihat serius. Paling tidak, setelah menikah jangan ada lagi yang dibuat-buat ketika ia harus menghadapi banyak hal serius dan bahkan sangat serius.

Lalu, hubungan seluruh tulisan ngalor-ngidul ini dengan perdebatan 30 juta di twitter tadi apa, Mas?

Aku berusaha berpikir positif saja, bahwa itu sebagai ajakan baik untuk lelaki bisa melihat hari ini dengan kacamata hari, atau dengan sudut pandang hari ini.

Itu adalah ajakan dari kalangan perempuan supaya suami tidak terjebak sudut pandang terlalu "bau sinetron" bahwa lelaki baik itu adalah lelaki susah saja, karena biasanya bintang sinetron banyak bercerita secara dramatis tentang kesusahan.

Itu adalah ajakan untuk melihat realitas hari ini. Dunia sedang tidak berputar di masa lalu, tapi ia sedang berputar pada porosnya dan di ruang waktu saat ini.

Bahwa di masa lalu istri nrimo saja saat kuberikan uang hanya kisaran 4 jutaan, lalu hari ini berpuas diri hanya karena bisa memberikan lebih baik, tidak juga. Apalagi sampai membandingkan dengan masa lajang yang dengan uang sedikit cukup untuk berbulan-bulan, lha tidak juga.

Hari ini mesti dilihat sebagai hari ini. Jika Anda hari ini sudah memiliki anak dan istri, jangan sampai Anda membuat standar yang sama ketika Anda masih hidup sendiri. Ini sudah terlihat serius tidak?***



Kala Suami Mesti Bergaji 30 Juta Kala Suami Mesti Bergaji 30 Juta Reviewed by Zulfikar Akbar on Januari 14, 2019 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.