Antara Habib dan Sekadar Mengaku Habib

Habib Jindan yang sepantasnya jadi teladan - Foto: Islami.co
Awalnya, soal ini kusinggung di laman facebook saja. Hanya catatan kecil tentang bagaimana aku melihat tentang tren Habib, atau Habib yang menjadi tren.
Pasalnya, ada kegelisahan juga yang membuncah di pikiranku, lantaran di sekeliling ada kecenderungan asalkan seseorang rajin membawa-bawa gelar Habib ke mana-mana, maka bukan saja ia dihormati, namun tak sedikit yang bahkan disembah-sembah.
Bikin gelisah. Kenapa? Sebab ketika sudah begitu, ada kecenderungan bahwa ketika seseorang rajin menyebut dirinya Habib, membawa trah Habib, diyakini semua dibicarakan dan dilakukannya adalah benar. Jika sudah begini, tentu saja tak bisa benar-benar dibilang benar.
Sebab, seorang yang mulia takkan menyebut dirinya mulia. Seseorang yang terhormat takkan meminta orang untuk menghormatinya hingga membawa-bawa nama keluarga, masa lalu, atau menyombongkan diri ke mana-mana bahwa saya keturunan si pulan. Jika sudah begitu, tentu saja terasa sangat ganjil.
Apalagi belakangan makin populer saja orang-orang yang membanggakan diri sebagai Habib. Sementara yang mereka tampilkan adalah ceramah-ceramah penuh hasutan, kebencian, kemarahan, dan celaan demi celaan, yang sangat dan sangat tidak mendidik. 
Jika pikiran-pikiran suci anak-anak dan remaja diakrabkan dengan orang-orang begini, bisa jadi Prabowo benar: negeri ini bisa saja punah. Namun Prabowo sendiri dan kalangannya pun tampaknya justru merasa nyaman dan diuntungkan dengan keberadaan "habib-habiban" semacam itu. Sebab merekalah yang selama ini terdepan menyuarakan kebencian kepada pemerintah dengan fitnah bermacam-macam, dari tuduhan PKI hingga banci.
Jika orang-orang semacam ini dijadikan rujukan dalam beragama, sulit membayangkan negeri yang pernah terkenal sangat santun ini akan tetap santun. Terlebih lagi ketika salah satu yang juga acap tampil membanggakan diri sebagai Habib, Bahar Smith, memamerkan perilaku barbar, brutal, menganiaya anak-anak karena kesalahan yang hanya dihakimi olehnya sendiri, dengan hukuman yang ia putuskan sendiri: memukuli dan menendang hingga berdarah-darah.
Perilaku itu dipamerkan di depan santri-santrinya yang notabene masih muda-muda, dan juga banyak yang masih terhitung anak-anak. Keteladanan apa yang bisa diambil dari Habib semacam ini? 
Maka itu, sebagai Muslim yang notabene mengagumi Nabi Muhammad, datuknya para Habib, saya lebih tertarik kepada Habib yang lebih menunjukkan kehabibannya ke dalam perilaku. 
Ada Quraish Shihab sebagai contoh, yang merupakan seorang Habib, menguasai ilmu yang sangat sakral, tafsir Alquran, namun beliau bahkan menolak membawa-bawa nama trah.
Bahar Smith saat memamerkan perilaku barbar di depan santri - Foto: Warta Kota

Pilihan sikap beliau itu karena tidak ingin disanjung berlebihan karena khawatir ujub, riya, dlsb. Saat beliau difitnah dan dituduh Syiah, beliau memilih kalem, tenang, dan menanggapi dengan tenang.
Kehabiban bagi beliau adalah sebuah amanah besar yang beliau jaga dengan jiwa besar. Tidak pernah beliau mempertontonkan kemarahan, kebencian, atau memantik amarah umat.
Inilah salah satu Habib yang semestinya sangat pantas dikagumi dan diteladani. Ilmunya mengalir di lidah dan tindak-tanduknya. Ilmu menyatu utuh dengan tubuh dan ruh.
Melihat wajahnya saja membuat kita merasakan kesejukan wajah Nabi, kakek beliau.
Sebab, beliau tahu, Nabi datang sebagai pencerah, bukan amarah. Pembawa rahmat, bukan laknat. Kecerdasan, bukan keculasan. Itulah yang beliau alirkan lewat segala tutur kata dan tindakannya, karena ia tak ingin mencoreng nama sang Nabi.
Sekarang, begitu banyak yang membawa-bawa trah Habib, siapa yang mau kita pilih jadi teladan? Apakah yang menularkan cinta, atau yang menebar benci? Apakah yang menebar cahaya pengetahuan, atau yang menyebar kegelapan pada hati dan pikiran?
Habib yang benar akan membawa kebenaran dengan cara benar: keteladanan, kebaikan, inspirasi menjadi lebih baik.
Sementara yang sekadar membawa-bawa nama Habib seringnya hanya menebar amarah, kebencian, hasutan, kegelisahan, ketakutan, dan hawa-hawa buruk.
Nabi membawa kebaikan, iblis membawa kejahatan. Hati-hati, iblis tidak bisa meniru Nabi, tapi ia bisa menyaru seolah keturunan Nabi.
Carilah keteladanan dari keturunan Nabi yang sebenarnya, yang bisa menunjukkan kebaikan lewat pikiran, perkataan, dan sikap mereka yang menyemangati untuk menebar kebaikan ke seluruh alam hingga semua orang dari suku apa saja, keturunan siapa saja, bahkan beragama apa saja makin terilhami untuk menebar kebaikan.***
Antara Habib dan Sekadar Mengaku Habib Antara Habib dan Sekadar Mengaku Habib Reviewed by Zulfikar Akbar on Desember 20, 2018 Rating: 5
Posting Komentar
Diberdayakan oleh Blogger.